
( Esok paginya )
Seperti biasanya, terdengar suara tongkat besi yang gaduh, tang…tang…tang….tanda alarm bangun untuk para tahanan. Setelah itu, mereka semua pun dibawa ke suatu tempat.
Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.
“Selamat datang! Hari ini adalah pelatihan kedua kalian, kemarin adalah hari kalian berkenalan dengan “Tamu Spesial ” kalian masing-masing dan hari inilah kalian akan melawan “Tamu Spesial” kalian, tunjukkanlah “Keberanian” kalian dengan melawan “Tamu Spesial” yang telah kalian pilih sendiri. Ingat! Yang menang akan mendapatkan hadiah, yang kalah akan mendapatkan hukuman. Selamat berjuang!”
“Tamu spesial? Yang kita pilih masing-masing? Apa itu ?” Serlyne komat-kamit sambil mengerutkan dahinya.
“Jangan-jangan …….Tamu spesial yang dia maksud adalah binatang terakhir yang membuat kita ketakutan itu.” Candy berkata sambil memandang Vesty.
“Aaaa…..aapa??? Bi….bi…..natang terakhir ? Yang di dalam halusinasi kita yang kemarin itu?” Bob seketika langsung mengeluarkan keringat dingin sambil melihat Vesty yang perlahan-lahan menganggukkan kepalanya.
Seketika itu juga para tahanan yang ada di sana mulai berbisik-bisik gak karuan sehingga menyebabkan suasana menjadi tegang.
“Berarti saya harus melawan ular? Ha? ” ujar Serlyne yang merasa sangat syok.
“Dan kita harus melawan tawon-tawon yang menjengkelkan itu.?” keluh Candy sambil menatap Vesty.
“Heiii…kalian masih mending kali, setidaknya kalau ular ya kalian bisa pakai batulah, kayulah untuk menghantamnya, sedangkan lebah ataupun tawon kalian bisa juga menggunakan api untuk mengusirnya. Kalau saya? Tamu spesial saya itu MACAN TUTUL lho! Itu ya sebelum saya ambil batu maupun kayu pun saya akan langsung diterkamnya dan lebih sadisnya dimakan olehnya. Menurut kalian sekarang yang harusnya ketakutan itu siapa ?” Bob dengan emosinya berkata karena masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa “Tamu Spesial” yang dipilihnya adalah si macan tutul binatang yang dikenal sangat buas.
“Ular dihantam pakai batu? Tawon diusir pakai api? Helloooo…kamu kira kami bertiga pesulap apa, bisa langsung menghasilkan batu dan api?” Serlyne dengan jengkelnya berkata kepada Bob.
“Setidaknya kalian tidak akan diterkam kan?”
“Sekali-kali kamu coba dipatuk ular dan disengat tawon, mau gak? Supaya kamu tahu rasanya juga sama dengan diterkam macan, sama-sama rasa KEMATIAN,” ketus Candy yang juga ikut kesal mendengar perkataan Bob.
“Sudahlah, sekarang bukan saatnya untuk bertengkar. Sekarang kita harus memikirkan cara agar bisa selamat dari “Tamu Spesial” itu.” ujar Vesty sambil memandang ketiga temannya tersebut.
Tak lama kemudian pasukan bertopeng langsung datang mengawal para tahanan, mereka satu persatu dikawal dan dikurung ke dalam suatu ruangan berkaca. Vesty dan teman-teman lainnya juga dikawal dan dikurung ke dalam suatu ruangan berkaca. Setiap tahanan dikurung ke dalam satu ruangan yang berbeda-beda, di mana ruangan tersebut disekat oleh kaca menjadi 2 bagian ruangan. Satu bagiannya adalah tempat di mana salah satu tahanan ditempatkan dan satu bagian ruangannya lagi adalah tempat di mana “Tamu Spesial” mereka ditempatkan. Serlyne harus berhadapan dengan ular yang disekat oleh sebuah kaca. Karena “Tamu Spesial” Serlyne adalah ular, maka ruangan yang dia masuki disekat terbagi menjadi bagian atas dan bawah. Serlyne ditempatkan di bagian atas dan bagian bawahnya terdapat ratusan ular berbisa yang sedang mendesis tiada hentinya. Serlyne bisa melihat dengan jelas ratusan ular berbisa yang mendesis tepat di bawah kakinya itu disekat oleh sebuah lapisan kaca yang transparan. Walaupun itu sudah disekat oleh kaca, Serlyne tetap saja takut sampai-sampai dia tidak berani duduk maupun bergerak karena dia takut jika dia banyak bergerak bisa membuat kaca yang dipijaknya menjadi retak dan bisa mengakibatkan dia jatuh ke dalam lautan ular berbisa tersebut. Serlyne hanya bisa diam berdiri mematung di dalam ruangan kaca tersebut.
Sedangkan Candy dikurung ke dalam satu ruangan di mana ruangan tersebut juga disekat menjadi 2 bagian, ruangan sebelah kiri dan sebelah kanan. Ruangan sebelah kiri lebih sempit dibandingkan ruangan sebelah kanan. Candy dikurung ke dalam ruangan sebelah kiri yang sangat sempit dan ruangan sebelah kanan yang lebih luas tersebut dipenuhi oleh jutaan tawon pembunuh yang mengeluarkan suara weng…weng…yang begitu berisik sekali. Candy yang sangat takut dengan lebah maupun tawon tersebut mau tak mau harus menahan suara tawon-tawon tersebut dengan cara menutup telinganya dengan kedua tangannya. Selanjutnya, Bob dimasukkan ke dalam satu ruangan yang sekelilingnya disekat oleh kaca, sehingga hanya tertinggal satu bagian ruangan kecil tepat berada di tengah-tengah ruangan tersebut. Jika dilihat dari atas, maka ruangan yang ditempati oleh Bob itu menyerupai donat, ibaratnya Bob ditempatkan di tengah-tengah lubang donat dan sekelilingnya dikelilingi oleh dinding berlapis kaca. Bob masuk melalui pintu atas dan dikurung ke dalam ruangan tersebut, Bob dikelilingi oleh lapisan kaca yang melingkarinya, di dalamnya terdapat 3 ekor macan tutul yang tidak hanya ganas tetapi juga mengeluarkan ekspresi wajah yang menakutkan seolah-olah ingin menerkam Bob. Meskipun para macan tutul tersebut dibatasi oleh sebuah lapisan kaca yang mengelilingi Bob, dia tetap saja sangat ketakutan, apalagi jika kaca pembatas tersebut tidak kuat dan tiba-tiba saja retak dan pecah, maka tamatlah riwayat hidupnya. Vesty dikurung ke dalam satu ruangan yang sama persis dengan Candy, karena dia dianggap takut dengan lebah, maka “Tamu Spesial” yang dikurung bersamaan dengannya adalah Tawon, sama dengan Candy.
Seketika itu juga tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan lagi, dia berkata: “Kalian harus melawan ketakutan kalian dengan cara bertahan di dalam sana selama 2 hari penuh, tenang saja kalian akan tetap diberikan makanan dari kami. Bagi kalian yang ingin menyerah tidak dapat “melawan” ketakutan kalian sendiri, maka kalian bisa memberikan ketukan ke arah ruangan kaca tersebut tanda bahwa kalian menyerah. Ingat! Jika kalian mengetuknya, itu berarti kalian menyerah dan itu berarti kalian telah kalah dan harus menerima hukuman yang akan kami berikan kepada bagi siapa yang sudah menyerah tersebut. Selain itu, bagi siapa yang berhasil bertahan selama 3 hari penuh, maka dia akan dinyatakan berhasil. Selamat berjuang!”
“Apaaa? Ti…tiga hari?” keluh Bob yang mulai frustasi sambil melihat tutul di sekelilingnya yang mengaum memandangi Bob, seolah-olah mereka sudah tidak sabar lagi untuk menyantap Bob.
“Ka..kaca ini kuat gak sih, kalau gak kuat tiba-tiba retak dan pecah, ya langsung mampuslah saya!” Bob mulai komat-kamit gak jelas sambil memegangi kaca penyekat tersebut.
“Aauuuummmm…aummmm..” Tiba-tiba saja Bob yang sedang memegang kaca penyekat tersebut langsung terkaget-kaget karena auman macan tutul tersebut.
Bob melihat beberapa dari macan tutul tersebut ada yang sangat agresif, sampai-sampai mendobrak beberapa kali ke arahnya tersebut dengan kerasnya. Bob yang awalnya mengira akan aman karena adanya kaca penyekat, menjadi mulai gak tenang, khawatir dan ragu akan keamanan kaca penyekat tersebut. Berkali-kali Bob mencoba untuk tidak menghiraukan auman macan tutul tersebut, tetapi Bob tetap saja bisa mendengarkan auman macan-macan tutul tersebut dan bisa merasakan amarah serta keinginan macan-macan tutul itu untuk menyantapnya.
Sedangkan Vesty yang disalah prediksikan bahwa dia takut pada tawon malahan terlihat santai dan enjoy di dalam ruangan kaca tersebut.
“Gadis itu tidak terlihat ketakutan, dia sangat tenang sekali!” ujar salah satu tawon yang berada di samping Vesty.
“Hai, bagaimana kalau kita ngobrol supaya saya tidak bosan di sini selama 3 hari,” ujar Vesty sambil tersenyum.
“Wow, kamu bisa mengerti bahasa kami?” Salah satu tawon bertanya kepada Vesty yang terlihat enjoy di dalam ruangan tersebut.
“Iya, saya bisa berbicara dengan binatang apapun?”
“Kenapa bukan lebah yang mereka utus?” tanya Vesty.
“Karena kami lebih buas dari lebah, makanya mereka ( prajurit bertopeng ) memilih kami. Kami bisa berkali-kali menyengat manusia sampai tewas, sedangkan lebah hanya bisa menyengat 1 kali dan setelah itu lebah tersebut akan mati. Kalau kami tidak, karena kami memang serangga yang ahli dalam menyengat orang.”
“Ohhh, ternyata begitu.”
“Sebenarnya kami tergolong serangga yang mematikan dan tidak bersahabat, tapi kamu mengeluarkan energi yang lain dengan manusia lainnya, kamu memancarkan energi yang membuat binatang yang awalnya bersifat agresif menjadi jinak seketika.”
“Oh ya ? Energi apa yang kamu rasakan dari saya?”
“Saya juga tak tahu mau gimana ngomongnya, pokoknya semacam energi yang istimewa. Kamu coba lihat, bandingkan suasana sini dengan suasana yang ada di sebelahmu, ruangan itu sama dengan kita kan ?”
“Iya benar, sebelah saya ada teman saya Candy.”
“Kamu dengar itu……weng ….weng….” Terdengar suara yang amat berisik dari sebelah ruangan Vesty.
“Ya, saya mendengarnya..mereka tawon-tawon sedang marah dan ingin sekali menyerang temanku.”
“Dan kamu lihat di sini para teman-temanku tidak berisik sama sekali, seolah-olah mereka sama sekali tidak terusik oleh keberadaanmu di sini. Itulah mengapa saya bilang kamu mempunyai semacam energi yang tidak dimiliki oleh manusia-manusia lainnya.”
Sedangkan Candy masih berusaha menahan diri untuk tidak menyerah dengan cara menutup kedua telinganya agar tidak merasa terganggu oleh suara tawon-tawon yang terbang di sampingnya itu. Kebanyakan di antara mereka semua berhasil bertahan sampai satu hari.
Di hari kedua, tiba-tiba saja kaca pembatas di tiap-tiap ruangan para tahanan mulai retak. Candy yang menyadarinya mulai panik, dia takut kaca pembatas tersebut akan benar-benar pecah dan dia tidak bisa membayangkan jika ada jutaan tawon yang akan menyengat tubuhnya. Tapi Candy dan lainnya masih berusaha untuk tetap tenang.
Setelah menjelang tengah malam, tiba-tiba saja terdengar bunyi ..krak…krak…. retakan tersebut makin menjadi-jadi seolah-olah dalam hitungan detik kaca penyekat tersebut akan pecah semua. Karena retakan tersebut makin parah, Candy pun akhirnya tidak bisa tenang lagi dan dia pun langsung menepuk-nepuk kaca penyekat dengan sangat kerasnya tanda bahwa dia sudah menyerah dan minta dikeluarkan dari ruangan kaca tersebut. Setelah itu disusul oleh Serlyne yang juga menepuk-nepuk kaca penyekat sambil menangis.
“Ada apa ini, kok retakan kacanya makin parah, jika benar-benar pecah kacanya, matilah aku disantap oleh macan-macan tutul ini. Saya masih harus bertahan sampai besok malam baru dinyatakan berhasil, gak bisa…gak bisa….bisa gila saya…harus keluar …harus keluar sekarang!” Bob menjadi pucat pasi seketika.
Setelah itu Bob pun akhirnya memutuskan untuk menyerah. Pada saat ia ingin menepuk-nepuk kaca penyekat tersebut sebagai tanda bahwa dia menyerah, dia pun mengurungkan niatnya untuk menepuk kaca tersebut dikarenakan kaca-kaca tersebut sudah sangat retak, dia takut jika ia menepuk kaca tersebut, maka kaca tersebut akan langsung pecah seketika. Oleh karena itu, dia pun memberi isyarat dengan cara melambai-lambaikan tangan ke arah salah satu prajurit bertopeng sebagai tanda bahwa dia menyerah. Salah satu pasukan bertopeng yang melihatnya tidak menggubrisnya karena sudah dijelaskan secara jelas bahwa jika ingin menyerah maka harus menepuk-nepuk kaca ruangan tersebut.
“Oh my goddd….saya sudah melambai-lambaikan tangan dengan sangat jelas, masih gak ngerti ya hah?”
Tiba-tiba saja terdengar lagi krak..krak…dengan diikutsertakan suara auman dari macan-macan tutul tersebut hingga membuat Bob menjadi semakin panik dan takut.
“Keluarkan saya dari sini, cepattttt…saya mau keluar….ini kaca dah pada retak, gak mungkin saya tepuk-tepuk lagi, kalau saya tepuk lagi takutnya yang saya tepuk itu bukanlah kaca penyekat ini melainkan adalah wajahnya macan tutul yang mau menyantapku iniiii…pleaseeee….keluarkan saya.”
Bagaimanapun Bob berteriak meminta bantuan kepada pengawas bertopeng tersebut, tetap saja tidak digubrisnya. Seketika itu juga Bob akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri untuk menepuk-nepuk kaca penyekat itu, pada saat dia hendak menepuk kaca penyekat tersebut, tiba-tiba saja salah satu macan tutul mengarahkan wajahnya yang garang ke arah Bob sehingga Bob yang awalnya sudah memberanikan diri untuk menepuk kaca menjadi kaget setengah mati hingga rohnya hampir melayang keluar dari jiwanya.
“Kamu lihat itu, Vesty masih bisa tersenyum di dalam sana? Apakah dia sedang menyanyi? Mulutnya seperti sedang komat-kamit gak jelas.” Candy bertanya kepada Serlyne yang berdiri di sampingnya.
“Apakah Vesty saking stresnya sampai gila?” ujar Serlyne.
Para tahanan lainnya yang sudah menyerah juga ikut menyaksikan mereka berdua dari luar ruangan kaca.
“Dibandingkan dengan Bob, “Tamu Spesial” Vesty bukanlah apa-apa.” Serlyne berbicara berbisik-bisik ke Candy.
“Berarti maksud kamu tawon gak menakutkan? Coba kalau kamu dikelilingi oleh tawon-tawon pembunuh tersebut dan disengat oleh jutaan tawon, gak mati?”
“Bukan itu maksudku, saya tahu kalau disengat oleh tawon maupun lebah akibatnya pasti juga bisa fatal dan bisa mengakibatkan kematian, tapi setidaknya kan kalau disengat mati oleh tawon jazadnya masih utuh, ya…paling-paling jasadnya penuh dengan bentolan karena disengat, sedangkan yang punya Bob…..itu macan tutul lho! Bayangkan kalau diterkam olehnya, sudah mati jasadnya gak utuh lagi, itu lebih mengerikan tahu, hihhh!”
“Hmmm….benar juga sih! Tapi saya gak habis pikir, Vesty kelihatannya sama sekali tidak takut tuh!” ujar Candy.
“Tapi Bob dia sedang ngapain tuh, dia hanya duduk bersilang membelakangi kita, kita sama sekali tidak bisa melihat wajahnya gimana. Apakah dia baik-baik saja?” Serlyne mulai merasakan ada yang aneh dengan Bob.
“Jangan-jangan dia pingsan di dalam sana.” Candy mulai curiga dan seketika itu juga Serlyne dan Candy saling memandang, seolah-olah kecurigaan Candy itu mungkin saja benar.
“Mungkin saja kamu benar Candy, soalnya dia sedikitpun tidak bergerak. Apakah kita perlu kasih tahu ke salah satu pengawal bertopeng tersebut?”
“Kayaknya tidak perlu.”
“Mengapa ?”
“Kamu lihat, setiap ruangan kaca di luarnya pasti ada satu pengawas bertopeng yang bertugas mengawasi masing-masing ruangan kaca. Kamu lihat ada 2 pengawas bertopeng di sana, yang satunya mengawasi Vesty dan satunya lagi sedang mengawasi Bob, jadi tidak mungkin dia tidak tahu bahwa Bob pingsan atau tidak, iya kan? ” Candy menjawabnya dengan yakin.
“Iya sih, tapi itu saya yakin pasti Bob sedang pingsan itu.” Ujar Serlyne dengan yakinnya.
Saya rasa pengawasnya tahu bahwa dia itu pingsan, tapi peraturan tetaplah peraturan.”
“Ng?? Maksudmu apa ? ”
“Kamu lupa kenapa kita bisa berada di sini sekarang ? ”
“Karena kita menyerah kan ?” Serlyne dengan bingungnya menjawab.
“Trus bagaimana cara kita menyerah?” Candy memberikan pertanyaan lagi kepada Serlyne.
“Menepuk kaca pembatas kan ? OHhhhhhh….ya….saya ngerti, maksudmu para tahanan tetap harus menaati peraturan, tanpa peduli para tahanan itu dalam keadaan gimana tetap saja harus menepuk-nepuk kaca pembatas tersebut jika ingin menyerah.”
“Jadi bagaimanakah nasib mereka berdua, saya sangat khawatir.” Serlyne mulai gelisah.
“Yang perlu kita khawatirkan kayaknya hanya seorang saja deh ! Kamu lihat Vesty, dia sama sekali tidak terlihat takut maupun panik.”
“Jadi yang perlu kita cemaskan adalah ……?” ujar Serlyne.
“Bobbb.” Candy dan Serlyne dengan serentaknya menjawab.
Beberapa saat kemudian, salah satu prajurit bertopeng meniup terompet sebagai tanda bahwa pelatihan sudah selesai. Kaca pembatas tersebut tidak pecah sama sekali, ternyata itu memang sudah diatur agar kaca pembatas di tiap-tiap ruangan memberikan efek retak untuk menguji “Keberanian” para tahanan. Vesty pun dinyatakan berhasil menjalankan pelatihan keduanya tersebut, sedangkan Bob yang masih pingsan digotong keluar oleh salah satu pengawasnya.
Tak lama kemudian, Bob pun mulai perlahan-lahan membuka matanya. Saat matanya terbuka, dia sudah berada di dalam ruangannya sendiri.
“Ke..kenapa saya ada di sini ?”
“Kamu tadi pagi baru saja dikeluarkan dari ruangan kaca, kamu pingsan sampai waktu penahanan sudah selesai.” Salah satu tahanan pria menjelaskan kepada Bob.
“Saya? Pingsan? Sampai waktu penahanan selesai? Ha…hahahaha…Berarti saya memenangkan pelatihan ini dong, iya kan?”
“Tidak kok, kamu tetap dinyatakan gagal.”
“Ha? Kok gagal? Kan saya berhasil bertahan sampai akhir.” Bob mulai terlihat kesal.
“Bro, kamu memang bertahan sampai akhir, tapi kamu itu dalam keadaan pingsan lho…bukan dalam keadaan sadar.” Salah satu tahanan memberikan penjelasan lagi kepada Bob.
“Berarti kita semua tidak ada yang berhasil melawan “Tamu Spesial” tersebut dong.”
“Ada satu tahanan yang berhasil, dia adalah salah satu dari tahanan cewek.”
“Siapa dia ?” Bob bertanya dengan penasaran.
“Saya gak tahu namanya, tapi kayaknya dia adalah salah satu temanmu deh.”
“Siapa “Tamu Spesialnya” ?”
“Tawon.”
“Apaaaa….? Oh my godddd….ini gak adillll….ya iyalah dia bisa menang, “Tamu Spesialnya” hanya tawon doang, kalau saya ? Macan tutul lho, macan tutul brooooooo….Sialan !” keluh si Bob.
“Daripada kamu ngomel-ngomel, lebih baik kamu berdoa untuk nasib kita semua ntar siang.”
“Berdoa ? Emang kenapa ? Ntar siang ada apa lagi ?”
“Kamu lupa ya, kita semua sekarang gagal melawan “Tamu Spesial” kita masing-masing, ntar siang adalah hari hukuman kita.”
Setelah mendengarnya, Bob yang awalnya ngoceh-ngoceh terus itu langsung terdiam saja bagaikan terkena sambaran petir.
***** Bersambung *****