Darklady

Darklady
Keberanian Dalam "3 Hari"



“Selamat pagi Tuanku, sekarang Anda akan memasuki suatu ruangan kaca di mana kalian akan bertemu secara langsung dengan “tamu spesial” kalian masing-masing.”


“Kami diberi berapa kali kesempatan untuk mengalahkan “tamu spesial” tersebut?” Pangeran Sam bertanya kepada pimpinan prajurit bertopeng tersebut.


“Cuma sekali, Tuanku. Kalian akan dimasukkan ke dalam suatu ruangan kaca di mana “tamu spesial” kalian masing-masing juga akan berada di satu ruangan yang sama dengan Anda.”


“Ha? Satu ruangan yang sama? Kalau dikurung dalam satu ruangan yang sama, gimana kami bisa melarikan diri?” ujar Pangeran Sam.


“Apakah kami diberikan senjata sebagai alat perlindungan?” Pangeran Brave bertanya kepada pimpinan prajurit bertopeng.


“Tak ada, Tuanku.”


“ Gilaaa, trus kalau binatang itu menyerang kita gimana?” Pangeran Sam juga bertanya.


“Tenang Tuanku, ruangan kaca tersebut sudah terbagi menjadi 2 bagian, kalian dengan “tamu spesial” akan disekat dengan kaca tebal.”


“Ha? Jadi gitu saja, sama sekali gak ada tantangannya, bukannya kalian bilang untuk mengalahkannya….kok disekat dengan kaca….gimana mengalahkannya?” Pangeran Brave dengan heran dan bingungnya bertanya.


“Kamu gak mau disekat ya, ya udah sana kamu sendiri aja yang bertarung sono….sok berani,” ujar Pangeran Sam.


“Tuanku, karena ini adalah pelatihan kedua level 1, maka perlu disekat dengan kaca, tujuan kurungan ini adalah untuk melatih mental “keberanian” saja. Jika kalian berhasil menjalaninya, maka kalian akan dianggap berani.”


“Berapa lama kami akan dikurung dalam ruangan kaca tersebut?”


“Selama 3 hari, Tuanku.”


“Yang benar saja, latihan mental apaan, toh disekat…sedikitpun tidak menegangkan..huh !” kesal pangeran Brave.


“Ee..ehhhh….dasar anak ingusan belagu amat sih.”


“Tuanku, jika kalian tidak tahan lagi, kalian boleh menyerah dengan cara menepuk 3 kali ke kaca ruangan kalian masing-masing, para pengawas yang melihatnya akan langsung mengeluarkan kalian dari sana. Tapi sekali kalian mengetuk kaca ruangan tersebut, maka kalian akan dinyatakan gagal.”


“Saya gak akan menyerah. Toh sudah disekat, takut dan tidak tahan dengan apa coba?” Pangeran Sam berkata dengan sombongnya.


Setelah mereka paham akan pelatihan tersebut, mereka berdua pun mulai memasuki ruangan kaca tersebut. Pangeran Sam masuk ke dalam ruangan kaca di mana dalam ruangan terdapat ribuan ekor kalajengking yang disekat antara bagian atas dan bawah, bagian atasnya adalah tempat di mana ribuan kalajengking itu berada, sedangkan bagian bawahnya adalah tempat di mana pangeran Sam berada.


“Cuma begini doang?” ujar Pangeran Sam dengan sombongnya.


“Itu semua adalah kelajengking paling beracun di dunia, Tuanku.” Salah satu pengawal pribadi menjelaskan kepada Pangeran Sam.


Pangeran Sam yang mendengarnya menjadi was-was.


“Bussyyyettt…banyak amat kalajengkingnya….Ini kaca aman gak sih!” Pangeran Sam berkata sambil mengetok pelan kaca di ruangannya tersebut.


“Tuanku, Anda harus cepat masuk..waktunya sudah dimulai.”


“Kamu belum jawab saya, ini kaca aman gak ”


Pimpinan prajurit bertopeng tidak menjawabnya, dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk mendorong paksa pangeran Sam agar masuk ke dalam ruangan kaca tersebut. Anak buahnya pun langsung dengan paksa mendorong pangeran Sam masuk ke dalamnya. Sedangkan pangeran Brave masuk ke dalam ruangan kaca tersebut dengan santainya, ruangan kaca yang dia tempati sama dengan Bob, di mana ruangan kaca tersebut disekat bagian kiri dan kanan, bagian kanannya terdapat 3 ekor macan tutul salju dengan wajah garangnya yang sedang menatap Pangeran Brave.


Awalnya pangeran Sam sangatlah khawatir, karena di atasnya terdapat ribuan kalajengking dengan jenisnya yang berbeda-beda dan sangat beracun, tapi seiringnya waktu berjalan, Pangeran Sam mulai merasa tenang, karena dia sudah hampir berada dalam ruangan selama 12 jam dan selama itu tidak terjadi hal apapun.


“Haha…apa yang perlu di khawatirkan…kan ada kaca di atasnya, tinggal 1 hari lagi maka saya akan merdeka. Daripada melihat mereka merayap-rayap, lebih baik saya berbaring dan tidur ahhh.”


Tok..tok..tok…Terdengar ketukan dari luar, salah satu pengawal mengantarkan makan malam untuk pangeran Sam.


“Uhuiiii…akhirnya makanan telah datang, saatnya nikmati dulu ah.”


Sedangkan pangeran Brave tidak memakan makanannya, dia terus saja menatap macan tutul salju tersebut. Dia memperhatikan gerak-gerik macan tutul salju tersebut. Tiba-tiba saja, kruukkkk…. tanda alarm lapar berbunyi dari perut Pangeran Brave dan dia pun akhirnya memakan makan malamnya sambil memperhatikan macan tutul tersebut.


“Hoaamm, membosankannnn,” keluh Pangeran Brave.


Setelah dia makan, lama-lama dia mulai memejamkan matanya dan tertidur pulas. Tak lama kemudian, dia mendengar bunyi aneh, kraak…kraakk…tiba-tiba saja kaca ruangan yang disekat tersebut retak. Begitu pula dengan ruangan kaca pangeran Sam, perlahan-lahan kaca ruangan tersebut retak satu persatu.


“Ee…eiiii, ada apa ini? Kok kacanya tiba-tiba retak begitu, sialan ya kalian, makanya tadi saya tanya ini kaca aman gak, eh malahan gak digubris.” ujar Pangeran Sam yang mulai panik.


Meskipun Pangeran Brave terlihat tenang-tenang saja, tapi dalam hatinya sangatlah panik, dia berusaha untuk terlihat tenang agar dia bisa memikirkan cara untuk mengatasinya.


“Tidak ! Saya tidak boleh menyerah, pelatihan yang pertama sudah dimenangkan oleh dia, saya gak boleh kalah lagi, saya harus tetap tenang, toh kacanya masih utuh tidak pecah, itu cuma retak doang…..tidak akan terjadi apa-apa…iya, tetap tenang.” Ujar Pangeran Brave berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, suara retak tersebut semakin menjadi-jadi dan retakan menjadi semakin banyak, Pangeran Sam yang melihatnya mulai sangat panik, dia hampir saja mau mengetuk kaca ruangan tersebut sebagai tanda bahwa dia mau menyerah, namun dia mengurungkan niatnya karena dia melihat Pangeran Brave tidak merasa panik dan terlihat tenang di sana.


“Tidak ! Saya tidak boleh menyerah sekarang, saya sudah kalah karena “tamu spesial” saya tidak sekeren punya anak ingusan itu. Saya harus tetap bertahan !”


Pangeran Brave masih tetap bertahan di dalam ruangan kaca tersebut, pangeran Brave berusaha tenang sambil memikirkan cara untuk mengatasi 3 ekor macan tutul salju tersebut jikalau kaca ruangan tersebut benar-benar pecah. Sedangkan pangeran Sam, dia terus saja memandang ke atas karena dia takut kaca di atasnya tersebut tiba-tiba akan pecah dan dia harus ditimpa oleh ribuan ekor kalajengking yang beracun.


“Waduuhhhh, gimana ini? Kok saya rasa kacanya makin lama makin retak, seolah-olah dalam hitungan detik akan pecah kacanya. Aduuhhhh…sialan anak ingusan itu kok belum menyerah sih? Kalau dia menyerah sekarang kan saya bisa langsung keluar, setidaknya dia yang duluan menyerah, huh…dasar.” Pangeran Sam mengeluh sambil melirik ruangan kaca pangeran Sam yang ada di sebelah kirinya.


“Menurutmu, siapa yang akan keluar duluan?” Pengawal pribadi Sam bertanya kepada pengawal pribadi Brave.


“Mau saya jujur? Kamu jangan tersinggung ya.”


“Saya tahu kok jawabanmu, Pangeran Sam kan? Karena saya juga berpikir begitu.”


“Kenapa kamu gak dukung Tuanmu sendiri ?”


“Bukannya saya gak mau dukung, itu memang kenyataannya, kamu lihat deh bentar lagi juga dia akan tepuk kacanya, saya sangat memahaminya…percayalah padaku.”


Tak lama kemudian, pangeran Sam benar-benar menepuk kaca ruangan tersebut berkali-kali, tanda dia menyerah.


“Tuh, kan?” Pengawal pribadi Sam berkata sambil melirik pengawal pribadi pangeran Brave.


“Sialll, itu bentar lagi akan retak, dari tadi di telinga saya terngiang bunyi kraakk krakkk, itu horror banget,” keluh pangeran Sam.


Pangeran Brave masih berada di dalam ruangan kacanya tersebut, terlihat dia duduk sambil mengamati retak kaca yang ada di sekelilingnya. Pada saat dia mau menyentuh kaca yang sudah retak tersebut, macan tutul salju yang ada di dalamnya menatapnya dalam-dalam dan mengaum dengan ganasnya, sontak hal tersebut membuat pangeran Brave menjadi kaget seketika, hingga tidak jadi untuk menyentuh kaca yang retak tersebut.


“Saya sudah berapa lama di dalam ruangan kaca tersebut?” Pangeran Sam bertanya kepada pengawal pribadinya.


“Sudah hampir 48 jam, Tuanku.”


“72 jam, Tuanku.”


“ Siallll, tinggal 1 hari lagi…tapi itu benar-benar sudah mau retak, gilaaa…kalau kacanya memang benar-benar pecah, habislah saya sudah!”


Pengawal pribadinya yang mendengarnya pun hanya mengangguk-angguk kepalanya saja tanpa mengatakan apapun.


“Eii, maksudmu apa? Kok gak ada respons, cuma angguk-angguk kepala doang sih! Dalam hati kamu menertawakan saya ya?”


“Tidak Tuanku, saya mana berani…dalam hati saya bersyukur Tuanku sudah keluar dari sana, takutnya terjadi sesuatu dengan Anda, Tuanku.”


“Ohhhhh…jadi dari awal kamu memang berharap saya menyerah duluan, gitu?”


“Bukan itu maksudku, Tuanku. Itu makanya saya gak ngomong apa-apa, ngomong ini salah, ngomong itu salah…intinya serba sa…..” Belum selesai dia ngomong, dia melihat pangeran Sam sedang menatapinya dengan tatapan matanya yang mematikan.


Seketika itu juga pengawal pribadinya langsung menggunakan telapak tangannya untuk menutup mulutnya sendiri. Pangeran Sam yang melihatnya pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah ruangan kaca di mana pangeran Brave berada.


( Setelah 22 jam kemudian )


“Anak ingusan itu sudah tidak mau hidup lagi ya…ini sudah 22 jam lebih lho! Dan jangan-jangan 2 jam lagi kaca ruangan tersebut benar-benar akan pecah. Heiii…kalian akan membiarkannya terus berada di dalam?”


“Apakah Anda mengkhawatirkannya, Tuanku ?” Pengawal pribadinya berkata dengan nada mengejek.


“Apaan? Ini bukan khawatir…saya hanya gak mau dia berhasil.”


Pengawal pribadi pangeran Sam yang mendengarnya pun hanya mengangguk-angguk kecil sambil tersenyum kecil. Sedangkan pengawal pribadi Brave terlihat sekali dia sedang panik dan khawatir akan nasib Pangeran Brave yang masih di dalam ruangan kaca tersebut.


“Masih berapa lama ini ? Seluruh kaca di ruangan ini sudah pada retak, ini gak lama lagi akan pecah.” Pangeran Brave mulai panik.


Tiba-tiba saja, macan tutul salju tersebut menyerang ke arah pangeran Brave dengan mengarahkan mulutnya yang terbuka lebar-lebar ke arah kaca ruangan tepat di depan pangeran Brave. Pangeran Brave yang melihatnya mulai deg-degan, dalam benaknya masih belum terpikirkan cara untuk menghadapi hewan buas tersebut jikalau kaca sekat tersebut benar-benar pecah. Tak lama kemudian, kraakk….kraakkk…bunyi retakan menjadi semakin nyaring, pangeran Brave yang mendengarnya berusaha untuk berani bertahan, tapi semakin dia bertahan di dalam sana, bunyi retakan tersebut semakin nyaring seolah-olah menandakan bahwa kaca ruangan tersebut bentar lagi akan pecah. Setelah sekian lama pangeran Brave bertahan di dalam sana, pangeran Brave akhirnya pun menyerah, dia langsung menepuk ringan kaca ruangan tersebut berkali-kali. Pada saat dia mengetuk kaca ruangan tersebut, Pangeran Sam yang melihatnya pun langsung merasa lega, Pangeran Sam lega bukan karena dia senang Pangeran Brave gagal, melainkan lega karena pangeran Brave bisa keluar dari sana dan tidak terjadi apa-apa dengannya. Pengawal pribadi pangeran Sam yang melihat ekspresi Tuannya pun langsung tersenyum kecil, dia tahu bahwa walaupun dia terus saja menjelekkan Pangeran Brave, tapi dalam hatinya dia sangat peduli dengan adiknya itu. Tak lama saat Pangeran Brave keluar dari ruangan kaca tersebut, kaca penyekat dari ruangan pangeran Brave dan pangeran Sam tersebut benar-benar retak dan pecah. Sontak kejadian tersebut membuat pengawal-pengawal pribadi Pangeran Sam dan Brave menjadi kaget seketika. Kedua pengawal pribadi tersebut hanya bisa saling pandang dengan kagetnya.


“Wow, itu benar-benar pecah? ” Pangeran Sam sangat tercengang.


“Jadi, pelatihan saya yang kedua gagal?” Pangeran Brave dengan muramnya bertanya kepada pemimpin prajurit di sana.


“Benar, Tuanku.”


“Alaahhhh….Mana mungkin ada orang yang bisa memenangkan tantangan keberanian seperti itu, tidak mungkin!” Pangeran Sam berkata dengan nada yang mengejek.


“Ada, Tuanku.” Pemimpin prajurit menjawabnya dengan santai.


“Siapa dia?” Pangeran Brave langsung membelalakkan matanya.


“Ha ? Serius ? Benar-benar ada yang berhasil melewatinya ? Siapa tuh ?” Pangeran Sam juga ikut membelalakkan matanya.


“Maaf, Tuanku….Saya tidak boleh bilang siapa itu.”


“Kenapa gak boleh?” Pangeran Brave bertanya dengan kesalnya.


“Iya, betul…kenapa gak boleh kasih tahu ke kami? Emangnya kenapa ?”


“Itu sudah peraturan dari istana, Tuanku.”


“Di sini bukan istana, kamu tenang saja, tidak akan ada yang tahu bahwa kamu kasih tahu ke kami.” Pangeran Brave terus bertanya.


“Iya, benar..kamu tenang saja.”


Setelah mendengar perkataan mereka, pemimpin prajurit tersebut langsung melirik ke arah pengawal pribadi Pangeran Sam dan Pangeran Brave.


“Kamu tenang saja, mereka berdua akan tutup mulut juga kok, iya kan?” Pangeran Sam berkata sambil melirik ke arah pengawal pribadinya sambil memainkan matanya sebagai kode untuk memberitahunya agar bisa mengiyakan perkataan yang ia lontarkan tadi.


“Ohhh..i..iya, kami akan tutup mulut.”


“Maaf, Tuanku. Saya benar-benar tidak boleh membocorkannya.”


“Sudah dibilang tadi, kami akan tutup mulut kok…Pangeran Brave sudah memintamu untuk mengatakannya, berani amat kamu tidak mau mendengarkan perintah pangeran Brave!” Pengawal pribadi Brave dengan kesalnya mengomel.


“Maaf, Tuanku…Saya benar-benar tidak boleh membocorkannya.” Pemimpin prajurit bertopeng tersebut tetap enggan membocorkannya.


“Sudahlah, jangan persulit dia, mungkin dia memang tidak boleh mengatakannya. Ayo, kita pergi saja dari sini, saya lelah ingin beristirahat sejenak.”


“Baik, Tuanku.” Pengawal pribadi Brave langsung mengekor mengikuti pangeran Brave meninggalkan tempat tersebut.


“Saya juga lelah dan lapar nih, pergi makan aaahhh.” Pangeran Sam juga ikut meninggalkan tempat tersebut.


“Baik, Tuanku. Akan saya siapkan makan malam untuk Anda.”


“Pelatihan ketiga seperti apa?” Pangeran Brave dengan penasarannya bertanya kepada pengawal pribadinya.


“Itu saya belum tahu, Tuanku. Karena pelatihan ketiga harus tunggu “para tahanan” selesai menjalaninya dulu, baru Anda dan Pangeran Sam bisa menjalankannya.”


“Saya ada pertanyaan.”


“Apa itu, Tuanku?”


“Kenapa harus “mereka” yang duluan menjalankan pelatihan tersebut? Kenapa gak menjalankannya bersama kami ?”


“Tuanku, Anda dan pangeran Sam adalah keturunan bangsawan, tidak boleh berbaur dengan mereka, itu dilarang oleh Sang Raja, Tuanku.”


“Emang kenapa? Kenapa gak boleh, toh kita sama-sama manusia, apa bedanya?” Pangeran Brave berkata dengan nada suaranya yang terdengar agak kesal.


“Maaf, Tuanku. Saya hanya bawahan, tidak tahu alasannya apa, yang saya tahu itu memang sudah peraturan di istana.”


“Ok, akan saya tanyakan langsung ke Bunda jika saya dah pulang nanti. Gak ada gunanya tanya sama kamu!”


“Ma...maaf, Tuanku.”


***** Bersambung *****