
Kalian sudah sadar, baguslah !” ujar Vesty.
“Aaaahhhhh, badak....badak...pergi kau !” teriak Bob seperti orang yang sedang kesurupan.
Serlyne mencoba untuk menenangkan Bob dengan terus-menerus memanggil namanya dan memberitahunya bahwa pelatihan tersebut sudah berakhir, tapi Bob tetap saja berteriak tak karuan. Tak lama kemudian, sebuah kepalan tinju dilayangkan ke pipi Bob dan akhirnya Bob pun berhenti berteriak karena pukulan yang amat keras maka diapun pingsan lagi. Ternyata yang meninjunya adalah si ahli tinju Candy. Vesty dan Serlyne pun hanya bengong saja menatap Bob yang terkapar di lantai dan kemudian mengganti tatapan mereka ke arah Candy.
“Kenapa? Saya berniat membantu kalian. Tuh! dia diam kan. Ayo, makan!” Candy berkata dengan cueknya.
“Aduhh! kakiku sakit semua, dari pagi sampai sore lari-lari, sembunyi dan lari-lari terus,” keluh Serlyne.
“Bukan hanya kamu kali yang kakinya sakit luar biasa, kamu lihat mereka semua.” Candy berkata sambil memandang ke arah para tahanan lainnya yang sedang memijat kaki mereka masing-masing.
“Kamu lihat, makanan apa ini ? sayur hijau dengan nasi doang, gak ada daging sedikitpun !” Serlyne mengeluh lagi.
“Oh ya, Vesty. Waktu itu kamu bilang “prajurit berbadan kuda”, padahal yang saya lihat adalah prajurit biasa yang sedang menaiki kuda lho,” ujar Candy dengan herannya.
“Iya, itu memang prajurit berbadan kuda kok, punyamu juga sama…berbadan kuda kok,” ujar Vesty.
“Tidak kok, saya tidak melihat prajurit berbadan kuda di sana. Apakah kamu mengalami halusinasi?”
( Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kemampuanku?) ujar Vesty dalam hatinya.
“Mu…mungkin saja saya memang berhalusinasi karena saking tegangnya,” ujar Vesty.
“Iya, pasti itu. Tidak mungkin ada makhluk seperti itu, mana ada orang berbadan kuda di dunia ini?” ujar Serlyne.
“Eitt, jangan salah…makhluk seperti itu dulu memang ada kok, dia disebut dengan “Centaur”. Kata orang-orang sih itu makhluk mitos, tapi kakekku dulu waktu beliau masih kecil pernah melihatnya di sebuah hutan. Tapi zaman sekarang kata orang-orang sih gak mungkin ada lagi, kata mereka keberadaan “Centaur” sudah dianggap punah.” Ujar Bob dengan seriusnya.
“Ternyata kamu berpengetahuan juga, biasanya kan suka ngomong yang gak penting,” ejek Serlyne.
“Kamu baru tahu sekarang ya, saya sebenarnya memiliki kecerdasan yang luarrr biasa lho,” ujar Bob dengan bangganya.
“Itu pasti halusinasi kamu saja Vesty. Buktinya saya dan Bob juga terhanyut dalam halusinasi, bisa melihat badak tapi kalian gak bisa melihatnya,” ujar Serlyne sambil melahap makanannya.
Sedangkan Vesty hanya terdiam saja mendengarkan perkataan teman-temannya tersebut.
*********
( Di dalam istana )
“Brave, besok kamu harus siap-siap untuk ke tempat pelatihan,” ujar Ratu Lotus.
“Iya, Bunda....saya tahu.” Pangeran Brave menjawabnya dengan wajahnya yang datar.
“Ok, sekarang sudah malam, tidurlah! Besok pagi-pagi para pengawal akan mengantarmu ke tempat pelatihan tersebut.” Ratu Lotus berkata sambil memegang pundak Pangeran Brave.
Kemudian Pangeran Brave pun pergi meninggalkan ruangan Ratu Lotus, dia berjalan-jalan di koridor istana dan sejenak dia berdiri diam di depan jendela dengan wajahnya yang diam-diam memancarkan senyuman yang sudah sangat lama sekali tidak ia pancarkan. Sebenarnya dalam hati Pangeran Brave sudah berbunga-bunga, akhirnya dia memiliki kesempatan untuk keluar dari istana.
“Akhirnya saya bisa keluar.” Pangeran Brave dengan senangnya berkata dalam hati.
Esok paginya, Pangeran Brave dikawal oleh para pengawalnya menaiki kendaraan menuju ke tempat pelatihan tersebut. Ternyata tempat tersebut sama dengan tempat pelatihan “para tahanan”, yaitu di hutan luas yang dikelilingi oleh pepohonan yang lebat.
“Hanya saya sendiri yang menerima pelatihan di sini?” Pangeran Brave bertanya kepada pengawal pribadinya.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang tidak asing baginya.
“Aiii!!! kenapa saya harus latihan bersama bocah ingusan itu?” keluh Pangeran Sam sambil ngoceh sambil berjalan ke arah Pangeran Brave.
Seketika itu juga wajah Brave berubah menjadi jutek setelah mengetahui bahwa dia akan ikut pelatihan bersama kakaknya itu.
“Kamu gak usah bermuka jutek gitu dehhhh, kamu kira saya mau ikut latihan denganmu ? Saya dipaksa sama Bunda ok?” ketus Pangeran Sam.
“Sial sekali saya harus menerima pelatihan ini bersamamu, bla.....bla....bla.......” ujar Pangeran Sam.
Pangeran Brave hanya berjalan menjauhinya sebelum Pangeran Sam menyelesaikan perkataannya.
“Heiii, gak sopan ya kau! Saya ini kakakmu, berani-beraninya kamu cuekin saya, Woiiiii?” Pangeran Sam berteriak kepada Pangeran Brave.
Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.
“Hello! Pangeran-pangeran yang tercinta, latihan pertama ini akan melatih kalian apa yang namanya “Ketelitian dan Kecepatan”. Pertama-tama kalian akan ditempatkan di belakang garis merah sana, setelah itu “pelatihan” akan dimulai. Pada saat kalian mendengar bunyi terompet, itu pertanda bahwa kalian harus lari sekencang-kencang mungkin, kenapa ? Karena jika kalian tidak lari secepat mungkin, maka kalian akan terus tersiksa oleh keletihan yang luar biasa, jangan ketinggalan ! Kalian harus terus lari sampai kalian menemukan kotak berwarna biru, setelah itu bukalah kotak tersebut, di dalamnya ada satu barang dan hubungkan barang tersebut dengan si pemilik terompet, dan si pemilik terompet harus menerimanya dan buktikan kepada kami bahwa dia sudah menerimanya. Jika terdengar suara dari pemilik terompet, maka pelatihan tersebut pun akan berakhir. Selamat berjuang !”
“Terompet? Pemilik terompet?” Pangeran Brave dengan seriusnya bergumam dalam hati.
“Gampang amattt, woiii.....gak ada latihan yang lebih sulit dan yang menantang ya....ini sih membuang-buang waktu saya, hahaha…” Pangeran Sam berteriak dengan sombongnya.
Seketika itu juga terdengar suara gemuruh langkah kaki yang suaranya terdengar makin jelas dan makin dekat menghampiri mereka.
“ Hahahahaha,,,si anak ingusan itu pasti langsung berlari ketika mendengar suara ini.” Pangeran Sam bergumam dalam hati sambil tersenyum sinis ke arah Brave.
Ternyata Pangeran Brave sama sekali tidak lari, dia masih tetap tenang berdiri di garis merah tersebut, begitupun juga dengan Pangeran Sam.
“Waduhh, ternyata anak ingusan ini diam-diam menghanyutkan, gak sebodoh yang saya kira.” Pangeran Sam bergumam lagi dalam hatinya.
Tak lama kemudian, terdengarlah bunyi yang ditunggu-tunggu oleh mereka berdua.....pott..pott..pottt.....suara terompet yang nyaring dan jernih terdengar sangat jelas. Setelah mereka berdua mendengarnya, merekapun dengan cepatnya berlari, seolah-olah mereka sedang mengikuti lomba lari. Tak lama kemudian 2 orang prajurit berkuda berlari mendahului mereka berdua. Di saat itu juga mereka berdua paham bahwa mereka harus mengikuti prajurit berkuda tersebut. Pangeran Brave mengikuti prajurit berkuda putih sedangkan Pangeran Sam mengikuti prajurit berkuda hitam. Kedua prajurit berkuda itu berlari ke arah lain, satunya ke arah kiri dan satunya lagi ke arah kanan. Pangeran Brave pun spontan mengikuti prajurit berkuda putih ke arah kiri, sedangkan Pangeran Sam karena terlalu fokus melihat Pangeran Brave berlari ke arah lain, dia pun kehilangan jejak prajurit berkuda hitam tersebut. Kemudian Pangeran Sam tiba-tiba saja kembali lagi ke titik awal.
“Siall! Saya kembali lagi ke awal, kurang ajar...kurang ajar.... !” Pangeran Sam saking kesalnya hingga menghentakkan kakinya beberapa kali.
“Tak boleh! Saya tidak boleh membiarkan anak ingusan itu berhasil lebih duluan daripada saya, saya gak bisa terima itu.” Sam bergumam dalam hatinya dengan gelisah.
Tak lama kemudian suara terompet terdengar lagi..pott...pott....
“Ayo, kemari kau prajurit hitam, akan saya kejar kau di manapun itu.” Pangeran Sam berkata dengan gayanya yang menantang prajurit berkuda.
Setelah itu, Pangeran Sam pun dengan fokusnya mengejar prajurit berkuda hitam tersebut. Sedangkan Pangeran Brave yang sudah ngos-ngosan terus saja berlari mengejar prajurit berkuda putih tersebut. Tak lama kemudian prajurit berkuda putih itu berhenti di suatu tempat, begitu pula dengan Pangeran Brave yang juga menghentikan langkah kakinya.
“Hos...hos....ak....akhirnya berhenti kau, capek bangettt !” Pangeran Brave berkata sambil ngos-ngosan.
Setelah dia membuka kotak biru tersebut, dia hanya menemukan sehelai bulu angsa berwarna putih.
“Apaan ini ?” Seketika itu Pangeran Brave pun melirik ke arah prajurit berkuda itu dan ia pun memberikan bulu angsa itu kepada prajurit tersebut.
“Ini, ambil dan tolong bersuara bilang bahwa kamu sudah menerimanya,” perintah Pangeran Brave.
Prajurit tersebut hanya menjulurkan tangannya dan menerima bulu angsa tersebut, dia hanya berdiri diam saja tanpa berkata sepatah kata pun dengan wajahnya yang datar (tanpa ekspresi).
“Heii, cepatlah bersuara!” ketus Pangeran Brave.
Bagaimanapun Pangeran Brave memerintahnya, prajurit tersebut tetap saja tak berkata apapun.
Sedangkan Pangeran Sam yang sudah berhasil menemukan kotak biru tersebut terbengong sejenak sambil memegang sehelai bulu angsa berwarna hitam yang ia temukan di dalam kotak biru tersebut.
“Ini untukmu kawanku,” Pangeran Sam berkata sambil menjulurkan tangannya ke arah prajurit berkuda hitam tersebut.
Pangeran Sam hanya berdiri diam saja menunggu prajurit tersebut mengatakan sesuatu. Tapi tetap saja prajurit tersebut tidak mengatakan sepatah katapun.
“Kenapa kamu hanya memandangiku saja? Ayolah…bukan saatnya terkagum-kagum dengan ketampananku…katakanlah sesuatu dan akhiri pelatihan yang membosankan ini.”
Prajurit berkuda hitam tersebut tetap saja memandangi Pangeran Sam sambil tersenyum memamerkan giginya yang putih berkilau tanpa berkata apapun.
“Ja..jangan-jangan…kamu bisu?” ujar Pangeran Sam.
“Waduuhh…Bagaimana caranya dia mengeluarkan suara dengan menggunakan benda ini, dia kan bisu?” Pangeran Sam berkata sambil mengerutkan dahinya.
“Aha~!” Tiba-tiba saja Sam mendapatkan idenya untuk membuat prajurit berkuda tersebut mengeluarkan suaranya.
“Pokoknya asalkan kamu bersuara kan ?”
“Sorry kawan.” Setelah Pangeran Sam meminta maaf, dia pun memukul keras paha prajurit berkuda tersebut, tapi tetap saja prajurit tersebut hanya tersenyum memamerkan giginya yang putih dan tidak berteriak kesakitan.
Pangeran Sam lagi dan lagi memukul-mukul badan prajurit berkuda tersebut, hasilnya tetap saja sama, seolah-olah prajurit tersebut sama sekali tidak merasa kesakitan.
“Bussyeetttt! Kamu ini orang atau badak sih ? Kok gak merasa sakit, sial....malah tangan saya yang jadi sakit dan memar!”
Seketika itu dia melihat ada beberapa batang kayu berserakan di tanah, Pangeran Sam pun mengambilnya dan mulai mengayunkan ke arah prajurit tersebut.
“Kawan, benar-benar sorry!” Paakkkkk......( suara kayu patah ). Batang pohon yang dia ayunkan ke badan prajurit tersebut pun langsung patah dan Pangeran Sam hanya bisa terbengong-bengong dengan matanya yang terbelalak.
“Gileee....terbuat dari apa badanmu kawan?”
Sedangkan Pangeran Brave masih saja memikirkan cara agar bisa menyelesaikan pelatihan tersebut.
Hari sudah malam, mereka berdua telah menggunakan berbagai macam cara, tapi tetap saja tidak berhasil.
“Aaahhhg, saya gak ada ide lagi...dasar bulu angsa sialan!” Pangeran Sam mengeluh sambil membuang bulu angsa hitam yang dia pegang tersebut.
Bulu angsa yang ia buang terbang mengikuti arah angin yang perlahan-lahan menuntun bulu angsa tersebut ke arah prajurit berkuda hitam tersebut dan bulu angsa yang terbang melayang itu sekilas melewati area lubang hidung si prajurit berkuda hitam tersebut dan tak lama kemudian.....
“Haaachiuuuuuuuu.......” suara bersin yang menggelegar sekejap menghidupkan suasana malam di hutan yang sunyi senyap, hewan-hewan yang tadinya tidur pulas pun menjadi terbangun dengan mata terbelalak. Pangeran Sam dan Pangeran Brave pun juga ikut terkejut mendengar suara bersin tersebut.
“Waduh, kawanku...bersinnya yang kira-kira dong, untung jantung saya sehat, kalau gak orang-orang istana akan mengira saya mati mendadak karena pelatihan ini!”
Seketika itu juga terdengar suara dari kejauhan.
“Selamat, Pangeran Sam telah menyelesaikan pelatihan ini.”
Pangeran Sam yang mendengarnya langsung kaget dan bingung.
“Ha? Saya telah menyelesaikan pelatihan ini? Kok bisa?” Pangeran Sam bertanya-tanya dalam hatinya.
“Amazing, barusan saya baru dapat kejutan bersin dari kamu, sekarang saya dapat kejutan yang lebih WOW lagi bahwa saya telah .........” Pangeran Sam tiba-tiba menghentikan omongannya karena Pangeran Sam mulai sadar kenapa dia dinyatakan berhasil dalam menyelesaikan pelatihan tersebut.
“Ohhhh, bersin ! Bersin kamulah yang telah menyampaikan informasi bahwa kamu telah menerima bulu angsa tadi, iya kan? Hahahahaha....terus? Apa hubungan bersin kamu dengan bulu angsa? Bulu angsa hitam yang saya buang juga entah kemana?”
“ Hahahahaha......Bodoh amatlah…pokoknya kamu bersin di waktu yang sangat tepat, eh bukan....harusnya kamu dari awal langsung bersin saja, supaya bisa lebih cepat menyelesaikan pelatihan ini.”
Sedangkan Pangeran Brave yang telah mendengar pemberitahuan tersebut menjadi sangat tidak senang dan terheran-heran bagaimana caranya Pangeran Sam menyelesaikan pelatihan tersebut.
“Tidak mungkin! Mana mungkin dia bisa begitu cerdik untuk menyelesaikan pelatihan ini.” Ujar Brave dengan kesalnya.
Tak lama kemudian para pengawal pribadi mereka masing-masing menjemput mereka pulang ke tempat peristirahatan, di saat itu juga Pangeran Brave berpapasan dengan Pangeran Sam dan Pangeran Sam pun langsung tersenyum sinis seolah-olah memberikan kode kepada Pangeran Brave bahwa dia sangatlah cerdik dan hebat dalam menyelesaikan pelatihan tersebut.
“Hahahaha,,,saya yakin pasti tidak ada satupun yang bisa memikirkan ide cerdik seperti apa yang saya lakukan tadi, iya kan ? hahahaha…” Pangeran Sam berkata dengan sombongnya, padahal dalam hatinya masih berpikir kenapa tiba-tiba prajurit berkuda tersebut bisa bersin dan apa hubungannya dengan bulu angsa, dia sampai sekarangpun masih menyimpan banyak tanda tanya di dalam pikirannya.
“Oh ya Brave, pasti kamu sangat kaget! Memang dalam Istana kamu terkenal dengan otak cerdik, tapi sekarang mau tak mau kamu harus mengakui kehebatan saya. Yah…mau gimana lagi! siapa suruh saya begitu cerdik. Hahahahaha ……” Pangeran Sam terus melanjutkan ketawanya sambil berjalan menjauhi Pangeran Brave.
“ Dasar idiot,” ketus Pangeran Brave.
“Tuanku, janganlah marah! Pangeran Sam pasti berhasil karena sebuah keberuntungan saja, bukan karena dia cerdik baru bisa menyelesaikannya,” ujar pengawal pribadinya menghibur Pangeran Brave.
“Saya tidak marah, saya hanya heran dan penasaran cara apa yang dia gunakan untuk menyelesaikan pelatihan tadi?”
“Tanya saja ke Pangeran Sam, Tuanku.”
“Kamu pertama kali kerja di Istana ya ? Kamu gak tahu, bagi siapa yang membocorkan cara penyelesaian pelatihan, maka akan terkena kutukan, begitu pula dengan orang yang bertanya, dia juga tidak akan luput dari kutukan. Kamu ingin saya kena kutukan ya?” Pangeran Brave berkata sambil memandang tajam ke arah pengawal pribadinya.
“Maaf, maaf, Tuanku…..bu..bukan itu maksudku, saya benar-benar tidak tahu akan hal itu.”
Pangeran Brave pun hanya bisa meninggalkan tempat pelatihan tersebut dengan kesalnya.
***** Bersambung *****