Darklady

Darklady
Apa yang Telah Terjadi dengan Mereka?



“Kamu tadi tidak kedengaran ya? Ohhh, mungkin karena pohonnya terlalu tinggi jadi kamu gak kedengaran.”


“Gak, kayaknya saya bukannya gak kedengaran, tapi saya gak ngerti apa yang kalian bicarakan tadi.”


“Ngg? Maksudnya?”


“Saya dari tadi hanya mendengar kalian mengeluarkan suara nyeyet..nyeyet... itu saja. Saya kira kamu lagi meniru suara mereka.”


“Ha? Suara nyeyet..nyeyet…? Saya dari tadi pakai bahasa yang sama dengan saya omongin sekarang kok.”


“Iya, saya dengarnya suara nyeyet..nyeyet kok. Ngapain saya bohong kepada kamu.”


“Kok, bisa begitu?”


“Mungkin karena spesies kami beda, jadi saya gak ngerti bahasa burung camar.”


Vesty yang mendengar perkataan lebah langsung teringat kejadian dulu.


( Flashback ).


“Tommmm…Jessaaa….Di mana kalian, saya membawakan banyak buah apel untuk kalian?” Vesty memanggil dengan suara yang nyaring.


“Berisikkkk sekaliii, heiii monyet sialannnn bisa diam gak, anak-anak saya sedang tidur, suaramu mengganggu sekali!” Tiba-tiba seekor tupai keluar dari sarangnya dari atas pohon.


“Saya bukan monyet, saya manusia.” Vesty tersinggung dengan perkataan tupai kecil tersebut.


“Ternyata manusia, makanya jangan teriak-teriak kayak monyet di tengah hutan, huh!”


“Vesty, vesty, vesty…” Bebe berkali-kali memanggil Vesty sambil terbang mengelilingi wajahnya Vesty.


“Oh, pantesan…..” Tiba-tiba saja Vesty berkata sambil menepuk kedua tangannya, sontak gerakan Vesty membuat Bebe menjadi kaget seketika.


“Apa yang kamu pikirkan, Vesty?”


“Oh, gak kok…ok saya pergi dulu ya, jam segini teman-teman saya pasti lagi mencari saya. Bye….” Vesty pun berkata sambil pergi meninggalkan Bebe.


“E..eiii…Kamu masih belum kasih tahu saya apa yang kalian bicarakan tadi.”


“Lain kali akan saya kasih tahu ya. Byeeee.” ujar Vesty sambil berlari.


( Berarti hewan lain tidak akan tahu apa yang saya bicarakan kepada hewan lain, kecuali kalau hewan itu spesiesnya sama ) Vesty berjalan sambil menganalisisnya dalam hati. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang dan sontak itu membuat Vesty kaget seketika.


“Heiii, dari mana saja sih kamu?” Serlyne dengan kesalnya berkata.


“Aduhhh, kamu kagetin saya saja.”


“Akhir-akhir ini kamu sering melamun sih, apa sih yang kamu pikirkan?”


“Ohh, nggak kok…saya mana ada melamun.”


“Dari tadi saya ada di belakangmu tahu dan sudah berapa kali saya memanggilmu tapi tak digubris olehmu, makanya saya pakai pukul aja. Itu bukan namanya melamun?”


“Ah..ohh.…itu Candy dan Bob…yuk kita ke sana.” Vesty mencoba mengalihkan pembicaraannya.


Serlyne yang melihatnya pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena hari sudah mulai gelap, maka mereka semua pun pergi beristirahat.


Esok paginya seperti biasa terdengar suara pukulan tongkat besi yang membangunkan para tahanan. Para tahanan yang mendengarnya pun langsung bangun dan bersiap-siap untuk berbaris menunggu perintah dari prajurit bertopeng. Pada saat para tahanan sudah pada siap untuk berbaris, mereka melihat beberapa dari para tahanan yang gagal dalam pelatihan berenang berdiri tepat di hadapan mereka.


“Mereka adalah yang beruntung dari 10 orang yang gagal menjalankan misi mereka. Kalian bisa lihat sendiri yang lolos dari hukuman hanya 5 orang, sisanya tidak berguna lagi.” ujar salah satu prajurit bertopeng tersebut.


Para tahanan yang mendengarnya pun langsung terdiam dan kaget, mereka merasakan ketakutan yang luar biasa pada wajah dari 5 orang yang berdiri di depan mereka. Salah satu dari 5 orang tersebut adalah gadis yang hampir tenggelam ( yang pernah diselamatkan oleh Vesty ), dari raut wajah mereka berlima masih terlihat sangat pucat. Tidak ada yang tahu hukuman apa yang dialami oleh 5 orang tersebut hingga masih terlihat shock dan ketakutan . Vesty yang melihatnya pun langsung tidak tahan dan mengangkat tangannya.


“Di mana 5 orang lainnya? Apa yang terjadi dengan mereka?” Vesty dengan lantangnya bertanya.


“Kalian tidak ada hak untuk bertanya.” Salah satu prajurit bertopeng membentak Vesty.


“Apa yang terjadi dengan mereka?” Vesty terus saja bertanya dengan lantangnya.


“Ves, kamu sudah gila…diamlah ” Candy berbisik mencegah Vesty.


“Saya ngomong sekali lagi, tidak ada hak untuk bertanya! ”


“Apa yang kalian lakukan kepada mereka?” Vesty masih tetap saja bertanya dengan lantang dan dengan emosionalnya.


“Oh my god…Vesty, ku mohon diamlah!” Serlyne juga ikutan mencegahnya.


Tiba-tiba saja salah satu prajurit bertopeng lainnya berjalan menghampiri Vesty dan memukulnya dengan keras. Bukkk…Sebuah kepalan tinju yang keras melayang ke arah perut Vesty, semua yang melihatnya langsung histeris. Vesty langsung terjongkok menahan sakit akibat pukulan keras yang diterimanya itu. Serlyne yang melihatnya hanya bisa shock sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Heiii, dia itu adalah perempuan, bagaimana bisa kamu memukul seorang gadis seperti ini?” ujar Bob dengan emosinya.


Tak lama kemudian, Bob juga dipukul..bukk…bukkk..hingga dia terkapar ke tanah.


Setelah ia memukul Bob, prajurit bertopeng tersebut langsung menghampiri Vesty.


“Kalau kamu bertanya lagi, bukan perutmu yang saya tinju, berikutnya wajahmu lah yang akan saya tinju hingga gak berbentuk, ngerti?” Prajurit tersebut mengancamnya sambil menjambak rambut Vesty.


Vesty yang merasa kesakitan hanya bisa melototi prajurit bertopeng tersebut dengan tatapan matanya yang penuh dengan amarah. Setelah itu prajurit tersebut langsung melepaskan jambakannya dengan kasar. Candy dan Serlyne yang melihatnya langsung memapah Vesty dan Bob.


“Betapa bodohnya kamu, ngapain kamu pakai tanya segala.” Candy memapahnya sambil memarahinya.


“Sorry Bob.” Vesty berkata kepada Bob yang sedang menahan sakit.


“Ingat! Siapa lagi yang tak tahu diri seenaknya bertanya, maka akibatnya akan sama dengan tahanan bodoh itu, ngerti!”


“Yess, sir! ” Para tahanan yang ketakutan menjawab dengan serentak.


“Besok adalah pelatihan kalian yang ke-4. Siapkan mental untuk menghadapinya. Kalian berdua dihukum, kumpulkan ranting pohon sebanyak-banyaknya, sekarang bergegas ke hutan untuk mencarinya,” ujar prajurit tersebut yang langsung pergi meninggalkan para tahanan yang masih berbaris di luar sana.


Vesty dan Bob langsung dikawal masuk ke dalam hutan dan mereka pun mulai mencari ranting pohon sebanyak-banyaknya.


“Apakah kamu baik-baik saja?” ujar Bob.


“Ya! Sorry saya telah melibatkanmu. Bagaimana denganmu? Apakah masih terasa sakit ?” ujar Vesty yang penuh rasa sesal.


“Sorry apanya?! Kita kan teman dan pukulan banci tadi sama sekali gak kuat, buktinya saya masih hidup kok.”


Vesty langsung tersenyum mendengar candaan Bob dan mereka pun melanjutkan pencariannya untuk menemukan ranting-ranting pohon. Vesty berjalan-jalan sambil melihat sekelilingnya dan berjalan ke tempat sepi hingga hanya dia seorang diri di sana. Setelah itu, dia pun mulai memanggil burung camar yang ia temui kemarin. Pada saat Vesty memanggil-manggil, beberapa ekor burung camar pun terbang menghampirinya.


“Kamu memanggil kami? Kok kamu bisa ngomong bahasa kami?” ujar salah satu burung camar betina tersebut.


“Apakah kalian kenal seekor burung camar yang sangat gendut? Saya ingin menemuinya.”


“Gemuk ? Ohhh, si Malas itu ya.”


“Malas? Saya gak tahu julukannya apa, yang penting dia itu sangat gemuk dan bulat.”


“Saya rasa yang kamu maksud adalah Filo, di antara spesies kami cuma dia yang bertubuh gemuk dan bulat,” ujar salah satu burung camar betina tersebut.


“Namanya Filo?”


“Iya, nama saya Lexi, mereka berdua adalah adik saya, nama mereka, Lexa dan Lexo. Namamu siapa?”


“Vesty, oh ya…Apakah kalian tahu Si Fi…Fi apa ? ”


“Filo.” Burung camar terkecil Lexo menjawabnya.


“Iya, Filo sekarang ada di mana, apakah kalian tahu?”


“Paling-paling di laut, jam segini kami para burung camar pada ke laut untuk mencari ikan.” Lexi menjawab pertanyaan Vesty.


“Jika kalian ada melihatnya bisakah bantu saya untuk memberitahu dia bahwa ada seorang gadis kecil yang sedang menunggunya di dalam hutan?”


“Ok, akan kami bantu.”


“Terima kasih banyak.”


Para burung camar tersebut pun langsung terbang pergi meninggalkan Vesty dan mulai terbang ke arah laut tempat di mana mereka akan pergi.


“Hei, itu bukannya si gendut.” Lexo menemukan burung camar yang gemuk tersebut.


“Iya, itu dia di sana kak.” Lexa menunjuk ke arah di mana Filo berada.


“Heiiii, Gendut… ”


“Saya bukan gendut, saya ini namanya sehat, tahu!” kesal Filo.


“Ada seorang gadis kecil yang ingin menemuimu, dia sekarang ada di tengah hutan menunggu kedatanganmu.” Ujar Lexi.


“Nggg? Gadis kecil?” Filo berkata sambil berpikir-pikir.


“Oohhh, gadis itu….Oh my god…Saya jadi lupa harus menemuinya….Okk..segera saya ke sana, hehehehe…” Filo langsung terbang ke arah hutan.


“Kayaknya gadis kecil tersebut adalah teman baiknya, lihat dia saking senangnya langsung terbang ke arah hutan.” Ujar Lexo.


Setelah mendengar perkataan adiknya, raut wajah Lexi langsung menjadi masam.


Tak lama kemudian, Filo mendengar suara yang memanggil namanya, Filo…Filo….


“Aha, di situ kau berada, saya dataaanggggg…” Filo langsung mendarat ke arah Vesty dengan cepatnya bagaikan panah yang sedang meluncur ke bawah tanah.


“Tugas yang saya berikan padamu mana?” ujar Vesty tergesa-gesa.


“Ohhh, itu…saya sudah pantau kemarin, mereka disuruh berlatih berenang dulu di laut, terus pagi ini mereka dibawa ke sebuah bendungan air yang berwarna merah pekat. Di sana mereka disuruh berenang lagi dengan cara yang sadis.”


“Sadis? Maksudmu?”


“Mereka dipaksa berlatih dengan cara yang ekstrim, saya lihat ada banyak ekor buaya di dalam benungan air tersebut.”


“Ha? Buaya? Jadi sisa 5 orang tersebut dimakan oleh buaya?”


“Saya tidak melihat mereka diterkam oleh buaya kok, lagian warna airnya juga berwarna merah pekat.”


“Lalu buaya di sana untuk apa?”


“Itu untuk menakuti mereka.”


“Menakuti mereka? Caranya?”


“Para buaya di sana masing-masing disiapkan 10 ekor, nah tiap buaya ekornya diikat oleh tali yang kuat. Mereka mengikat tali tersebut ke sebuah tiang kokoh. 10 tahanan tersebut diberi kesempatan untuk berlatih berenang lagi. Mereka diberi waktu untuk berenang ke tepi sebelum tali yang diikatkan ke buaya itu dilepaskan……”


“Terusss? Kok berhenti?”


“Terus, karena ada yang berteriak..Heiiii, di situ ada banyak ikan…..Jadi saya langsung terbang pergi ke arah di mana ada banyaknya ikan berada.” Ujar Filo yang tiba-tiba menurunkan volume suaranya menjadi kecil.


“Yang saya lihat hanya sampai di sana doang, selanjutnya saya gak tahu deh, ehh..hehe.”


Vesty yang mendengarnya pun hanya mengelus-elus dadanya.


“Berarti sekarang kita impas ya, saya gak ada hutang budi lagi denganmu loh.” ujar Filo.


“Kamu boleh pergi sekarang.”


Setelah itu Filo pun terbang menjauh.


Vesty masih saja penasaran akan nasib 5 tahanan lainnya yang masih belum diketahui keberadaannya. Tak lama kemudian, Vesty pun mendengar suara terompet yang terdengar tidak asing dan itu tidak lain adalah tanda bahwa dia dan Bob harus segera balik ke markas. Vesty pun langsung bergegas ke arah di mana suara terompet itu berada.


“Heiii, ini sebagian ranting untukmu.” Bob berbisik ke arah Vesty.


“Gak usah, ngapain?” Vesty menolaknya dengan lembut.


“Kamu lihat.” Bob berkata sambil menggunakan tatapan matanya tertuju kepada ranting-ranting kayu yang dipeluk oleh Vesty.


Di saat itulah Vesty baru menyadari bahwa ranting yang ia peluk hanya 3 batang saja dan untung saja tidak ada prajurit yang menyadarinya. Setelah itu, Bob pun menyodorkan beberapa batang ranting kayu ke Vesty.


“Oh, terima kasih dan maaf ya.”


“Letakkan ranting-ranting kayu di sana.” Salah satu prajurit bertopeng berkata sambil menunjuk ke arah keranjang besar.


“Besok adalah pelatihan kalian yang ke-4, siapkan diri kita baik-baik.” ujar Bob.


“Kita lihat saja besok.” Vesty berkata dengan ekspresi wajahnya yang serius.


Setelah itu, mereka pun balik ke tempat mereka masing-masing. Pada saat Vesty berbaring di atas kasurnya, dia tiba-tiba teringat akan nasib 5 orang yang tak diketahui keberadaannya tersebut.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka?” ujar Vesty dalam hatinya.


***** Bersambung *****