
“Vesty, menurutmu pelatihan kedua seperti apa ya?” ujar Serlyne dengan penasarannya.
“Tidak tahu, yang penting pasti lebih sulit daripada pelatihan yang pertama.”
“Wei, kamu gak gelisah ya…masih makan dengan lahapnya lagi!” Serlyne berkata kepada Bob.
“Justru karena besok kita mau menerima pelatihan lagi makanya saya harus makan sekenyang-kenyangnya, gak ada tenaga gimana mau bertahan dan berjuang, kamu gimana sih!” ujar Bob berkata sambil mengunyah makanannya.
“Sudahlah, gak usah banyak pikir, lebih baik cepatlah makan, ya seperti apa yang dikatakan oleh Bob, kita perlu tenaga untuk bertahan.” Candy berkata sambil memegang sendok bersiap-siap untuk makan.
“Kamu gak mau ya makanannya, sini kasih saya, sayang gak dimakan….” Bob berkata sambil melirik makanan Serlyne yang sama sekali belum disentuh.
“Saya gak ada nafsu makan, mau makan, ya makanlah sana!”
“Uhuiiiiii, dengan senang hati….” Bob berkata sambil menjulurkan tangannya untuk mengambil makanan yang ada di depan Serlyne.
Tiba-tiba saja Vesty yang melihatnya segera memukul tangan Bob dan berkata….
“Kamu tadi kan dah makan banyak, ini punya Serlyne, jangan rakus!” Vesty langsung merebut kembali makanan Serlyne yang sudah sempat diambil oleh Bob.
“Tapi kan dia sendiri yang gak mau makan, kok malah bilang saya yang rakus?”
“Sudahlah Vesty, kasih dia aja, saya memang gak ada nafsu makan.”
“Tuhhhh…..dengar gak?” Bob berkata sambil melirik makanan yang dipegang oleh Vesty.
“Serlyne, besok kita ada pelatihan yang harus kita jalani, kalau kamu gak makan, pasti kamu akan tumbang duluan sebelum menjalankannya. Jika kamu ingin bertahan, maka kamu harus makan!” ujar Vesty.
“Tumbang duluan? Bingooo, itu ide yang bagus…kalau saya sakit, maka saya tidak perlu ikut pelatihan besok, iya kan? Woww, ide yang bagus!” Serlyne berkata dengan semangatnya.
“Kamu gila ya….. kamu gak tahu, bagi siapapun yang tidak mengikuti pelatihan, tak peduli alasannya apa, akan dikenakan hukuman, akan dikurung selama 1 hari di dalam sebuah ruangan yang sempit dan gelap.” Candy menjelaskan dengan seriusnya.
“ Dikurung di tempat yang sempit dan gelap? Itu sih saya masih bisa tahan, gak apa-apa.” ujar Serlyne dengan tenangnya .
“Tanpa makan dan minum lo!” lanjut Candy menjelaskan.
“Gak apa-apa, anggap saja saya lagi diet 1 hari.”
“Dikurung bersama dengan binatang buas lo!” Candy menambahkan penjelasannya lagi.
“Gak apa-apa,,,,tunggu, apa? Binatang buas? Binatang apa?” Serlyne mulai merasa bimbang.
“Ular, laba-laba, kalajengking, lipan……”
“Stoppp!! dah cukup. Mana makanan saya, saya mau makan.” ujar Serlyne yang langsung memotong perkataan Candy.
“Ok, baiklah.” Candy berkata sambil tersenyum kecil.
“Kenapa kamu bisa mengetahuinya secara detail?” Vesty bertanya kepada Candy.
Kamu gak perlu tanya saya tahu dari mana, anggap saja saya adalah tukang informasi kalian, percaya atau gak terserah kalian,” ujar Candy dengan tenangnya.
( Esok paginya )
Tang…tang….tang…Bunyi yang sudah tidak asing lagi menggelegar ke telinga semua “para tahanan” yang masih tertidur pulas di atas ranjang.
“Bangun….bangun…saya kasih kalian 10 menit untuk siap-siap, siapa yang ketinggalan akan dikenakan hukuman, ” bentak salah satu dari prajurit bertopeng.
Para tahanan yang mendengarnya pun segera menyiapkan diri secepat mungkin. Setelah itu para prajurit bertopeng membawa mereka ke tempat pelatihan kedua dan seperti biasanya para tahanan ditutup matanya dengan menggunakan kain penutup hitam dan tangan mereka juga diikat ke belakang.
“Suara ombak laut….” Vesty berkata dalam hatinya.
“Sepertinya kita mau dibawa ke sebuah pulau.” Vesty berbisik kepada Candy yang duduk di sebelahnya.
“Darimana kamu tahu itu?” Candy dengan penasaran bertanya kepada Vesty.
Tak lama kemudian para tahanan disuruh turun dari kendaraan yang mereka tumpangi dan menyuruh mereka naik ke atas kapal menuju ke sebuah pulau. Setelah sampai ke pulau tersebut, para prajurit bertopeng langsung melepaskan kain penutup mata mereka.
“Selamat datang, para tahanan kecilku ! Hari ini bukanlah pelatihan kedua kalian, melainkan adalah hari “Perkenalan Tamu Spesial” kalian masing-masing. Perkenalan hari ini ada kaitannya dengan pelatihan kedua. Kalian akan bertemu dengan “Tamu Spesial” kalian masing-masing dan “Tamu Spesial” ini adalah pilihan kalian masing-masing. Selamat berkenalan!”
“Wow, asyikkk sekali…moga-moga aja saya dapat “Tamu Spesial” yang aduhaiii…hehehe…” ujar Bob dengan genitnya.
Tak lama kemudian, datanglah segerombolan pasukan bertopeng yang masing-masing memegang sesuatu di tangan mereka.
“Apa yang mereka pegang itu ?” Bob berbisik kepada Vesty.
“Saya juga tidak tahu.” Vesty menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
Masing-masing prajurit bertopeng memegang sebuah gelas berisi cairan berwarna biru. Kemudian, salah satu prajurit bertopeng tersebut menyuruh salah satu para tahanan untuk langsung meminumnya, para tahanan tersebut pun hanya menuruti dan meminumnya hingga habis.
Kemudian, salah satu prajurit bertopeng berjalan menuju ke arah Bob.
“Hei..hei…apa ini? Kasih tahu aku dulu, ini apa? Racun? Jus buah? Atau apa? Kalau tidak, saya gak mau meminumnya” Ujar Bob dengan paniknya.
Prajurit tersebut tidak berkata apapun, seketika itu juga datanglah 2 orang prajurit bertopeng lainnya memaksa Bob untuk meminumnya. Bob yang dipaksa minum pun tidak berdaya sama sekali karena semakin dia menolak, prajurit tersebut semakin berlaku kasar kepadanya dan menyetrumnya dengan alat setrum.
Vesty dan kawan-kawannya terkejut tidak tahu harus berbuat apa, ketika itu Vesty ingin melangkahkan kakinya maju ke depan ingin sekali menolong Bob, tapi tindakannya itu dihentikan oleh Candy.
“Jangan bertindak gegabah, ini sama sekali tidak bisa membantu Bob,” bisik Candy ke telinga Vesty.
Para tahanan yang lain pun mulai berbisik-bisik dengan satu sama lainnya sehingga membuat suasana menjadi tegang. Tiba-tiba…doooorrr ! Terdengar suara tembakan yang di arahkan ke atas langit menyebabkan suasana yang awalnya berisik menjadi sunyi senyap.
Tiba-tiba seorang pemimpin pasukan bertopeng angkat bicara.
“Jika kalian tidak bisa mematuhi peraturan yang ada dan masih saja berisik, maka kalian semua akan kami buang ke Sungai Merah, menjadikan kalian makanan bagi para buaya di sana.”
Para tahanan yang mendengarnya pun langsung tidak berani berkata apapun. Mereka semua pun hanya bisa pasrah dan harus patuh pada perintah tersebut.
Setelah itu, para tahanan satu-persatu diberikan segelas air berwarna biru tadi dan mereka dipaksa untuk meminumnya sampai habis. Rasa dari air biru tersebut sangatlah pahit dan bau amis, mereka meminumnya dengan sangat tersiksa.
Vesty mendekati Bob dan menanyakan keadaannya.
“Kamu tidak apa-apa?” ujar Vesty yang melihat Bob masih terasa kesakitan akibat setruman tadi.
“Sudah tidak apa-apa Vesty…..Untuk apa mereka memberikan kita minuman sialan ini ke kita, sudah pahit bau lagi…oekkk!” Bob berbisik bertanya kepada Candy.
“Bukannya kamu “tukang informasi” kok bisa gak tahu?” ujar Bob yang masih sempat bercanda.
Candy yang mendengarnya pun hanya diam saja tidak menghiraukannya.
“Kalian lihat itu !” Vesty menunjuk ke arah barisan paling pertama.
Tiba-tiba saja terdengar jeritan dari salah satu tahanan yang berada di barisan paling pertama.
“Tidakkkk, sana pergi kau, pergi kau …..SSSsstt..SSSSssttt…” Setelah salah satu tahanan tersebut menjerit, dia langsung melakukan gerakan aneh dengan posisi lengan mematuk bagaikan ular yang akan mematuk sambil mendesis. Setelah itu, dia langsung pingsan.
Tak lama kemudian, tahanan yang kedua pun juga ikut menjerit, tapi gerakan yang dia lakukan tidak sama dengan tahanan yang pertama. Setelah dia menjerit, dia pun melakukan gerakan aneh dengan kaki dan tangan menempel ke tanah dan mulai merayap.
“Kenapa mereka melakukan gerakan yang aneh?” Vesty berkata dengan mengerutkan dahinya.
Tak lama kemudian, Bob merasa pusing dan sekali dia menutup mata dan membuka mata kembali, tiba-tiba saja dia sudah berada di tengah-tengah hutan, di sana dia bertemu dengan seekor badak, Bob berusaha tenang untuk tidak membuat badak tersebut marah dan Bob berhasil menjauhi dirinya dari badak tersebut. Selanjutnya Bob berjalan menyusuri jalan ke arah air terjun berada, pada saat dia berjalan ke sana, tiba-tiba seekor laba-laba yang cukup besar jatuh ke atas pundaknya, sontak dia pun kaget, dia mulai melepaskan sepatunya menggunakan sepatunya untuk menyingkirkan laba-laba yang jatuh di atas pundaknya tersebut sambil mengumpat. Setelah itu dia berhasil menyingkirkan laba-laba tersebut dari pundaknya. Bob berkata dalam hatinya ( Saya harus berusaha untuk tenang dalam menghadapi binatang-binatang yang akan saya hadapi ntar, siapa tahu kalau saya bisa mengatasi semua binatang -binatang itu saya akan langsung dinyatakan sebagai orang yang berani, hahahaha). Tiba-tiba saja dari belakang terdengar suara, Bob menoleh ke belakang, ternyata di belakangnya ada seekor gorila besar yang menatapnya dengan sangar. Bob yang melihatnya pun menjadi tegang dan takut.
“Waduh, matilah saya, gimana ini?” ujar Bob dalam hatinya.
“Oh ya, gorila sama saja dengan manusia, jika saya baik-baikin, pasti dia juga akan baik dengan saya, ok….sekarang yang harus saya pikir adalah….makanan…ya, cari makanan untuknya supaya dia merasa senang dan tidak ngamuk.” Bob berpikir sambil menerawang ke segala arah melihat apakah ada buah-buahan yang bisa ia petik untuk diberikan kepada gorila tersebut.
Gorila tersebut saja menatap Bob dengan tatapan matanya yang tajam, gorila tersebut juga sekali-kali menepuk-nepuk dadanya seolah-olah dia ingin menantang Bob yang berdiri tepat di depannya itu. Tak lama kemudian, Bob melihat adanya banyak buah yang tergantung di atas pohon tepat di belakangnya.
“Ok, sahabatku….saya tahu kamu pasti lapar kan ? Kamu lihat di belakang ku ada pohon buah kan? Saya bersedia untuk melayanimu, saya bersedia memanjat ke pohon itu dan saya petik semua buah itu untukmu, gimana?” Bob berkata sambil pelan-pelan berjalan mundur bermaksud menghindari gorila tersebut.
Tiba-tiba saja pada saat Bob mulai mundur beberapa langkah, gorila tersebut marah sambil mengeluarkan suara amarahnya…wu..wu…wu…gorila tersebut marah sambil menepuk-nepuk dadanya dengan keras tanda tidak senang.
“Waduh, ok..ok….jangan marah, tenang sob…tenang..” Bob mulai mengeluarkan keringat dingin. Dalam hati dia berkata ( Apakah saya bicaranya terlalu panjang, hingga ia tidak mengerti maksudku? Tapi jika saya tidak bergerak, gimana caranya memanjat pohon buah tersebut? ).
“Ok…buah….makanan…yummy…” Bob berusaha menggunakan ucapan pendek dan dengan menggunakan bahasa tubuhnya untuk berkomunikasi dengan gorila tersebut.
Bob terus-menerus mengulangi ucapannya buah…makanan…yummy dan terakhir menunjuk ke arah tempat buah tersebut kepada gorila agar gorila tersebut mengerti bahwa Bob ingin memberikannya makanan. Tak lama kemudian, gorila tersebut mulai menenangkan dirinya dan tidak menepuk-nepuk dadanya, seolah-olah gorila tersebut mengerti apa maksud dari Bob. Bob yang melihatnya pun menjadi lega dan dia mulai memanjat pohon berbuah tersebut, tak lama kemudian Bob berhasil memetik buah-buah tersebut dan dia melemparkannya ke bawah tepat di mana gorila tersebut berdiri. Gorila yang awalnya bermuka jutek itu langsung tersenyum bahagia sambil memakan buah-buah yang dilempar Bob untuknya. Setelah itu, gorilla tersebut pergi meninggalkan Bob yang masih berada di atas pohon.
“Fiuhhh…akhirnya….hahahaha…betapa cerdasnya saya, lihat….bahkan untuk mengatasi gorila pun saya berhasil…hahaha…. .”
“Auuumm….” Tiba-tiba terdengar suara yang membuat dia menjadi merinding. Bob merasakan suara tersebut tidak jauh dari telinganya, kemudian perlahan-lahan dia menoleh ke belakang sambil memeluk batang pohon. Seketika itu tampaklah wajah macan tutul yang jaraknya beberapa cm berhadapan langsung dengan wajah Bob. Seketika itu pula Bob langsung syok dengan mulut ternganga tapi tidak bisa mengeluarkan suara jeritan dan akhirnya dia pun pingsan dan jatuh dari atas pohon, gubraaakkkkk…
Tak lama kemudian Vesty dan teman-teman lainnya melihat Bob dengan keadaan mulut ternganga tanpa ada suara jeritan dan kemudian melakukan gerakan seperti macan sambil memeluk batang pohon yang berada di dekatnya dan setelah itu dia pingsan lagi, sama seperti para tahanan lainnya, mereka pun langsung pingsan setelah melakukan gerakan-gerakan aneh tersebut.
Vesty dan teman-temannya pun juga ikut ternganga mulutnya saat melihat keadaan Bob seperti itu. Setelah itu tibalah giliran Candy, beberapa saat kemudian, dia melakukan gerakan seperti orang yang berusaha menyingkirkan serangga terbang yang bertebaran di sekitar tubuhnya dan sesekali dia terlihat kesakitan bagaikan dia disengat terus-menerus oleh sesuatu.
“Tawon atau lebah?. Dia kayaknya diserang oleh lebah atau tawon.” Vesty melihat Candy sambil menganalisanya.
Tak lama kemudian, tibalah giliran Vesty untuk meminum ramuan biru tersebut. Seketika itu juga Vesty tiba-tiba berada di tengah-tengah hutan dan hutan tersebut tidak asing baginya, itu adalah hutan di belakang rumahnya yang sering dia kunjungi untuk bertemu dengan teman-temannya Tom dan Jessa. Vesty yang menyadarinya langsung senang bukan kepalang, dia pun segera melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah tempat di mana biasanya Tom dan Jessa berada. Setelah sampai di tempat tersebut, dia pun langsung memanggil mereka dengan suara yang nyaring.
“Tommmmmm, Jessaaaaaa….. ini saya Vesty…..keluarlah…..saya sangat merindukan kalian. ” teriak Vesty memanggil sambil melepaskan senyuman lebarnya.
“Tommmmm, Jessaaaaaaa……”
Sekeras apapun dia memanggil, Tom dan Jessa tetap saja tidak muncul. Seketika itu juga Vesty yang awalnya merasa senang berubah menjadi kecewa.
“Tidak, ini bukan nyata, ini hanyalah halusinasi. Sadarlah Vesty, ini bukan kenyataan.” Vesty mulai menitikkan air matanya.
Setelah Vesty menenangkan dirinya, Vesty melanjutkan perjalanannya mengelilingi hutan tersebut. Anehnya dia tidak melihat binatang apapun yang ada di hutan tersebut. Bahkan binatang kecil seperti burung, tupai ataupun serangga lain-lainnya pun tidak kelihatan. Tak lama kemudian, Vesty melihat sebuah jalan yang tidak asing bagi dia.
“Oh ya, jalan ini adalah menuju jalan pulang, walaupun ini hanya sebuah halusinasi, setidaknya saya bisa melepaskan rindu dengan cara ini.”
Vesty mulai melangkahkan kakinya ke arah jalan menuju rumah yang dia tinggal bersama ayah dan ibunya. Tak lama kemudian, dia melihat rumahnya dari kejauhan dan dia melihat cerobong asap di rumahnya mengeluarkan asap, Vesty yang melihatnya langsung senang bukan kepalang. Dia pun langsung mempercepat langkah kakinya menuju ke rumahnya.
“Ibuuuuu, ayaahhhh….saya sudah pulang.” Vesty langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.
Vesty tidak melihat siapapun di dalam rumah tersebut, Vesty tidak henti-hentinya mencari, bahkan sampai ke kebun buah milik ayahnya pun sudah dia kelilingi tapi hasilnya tetap saja sama, tidak ada orangtuanya di sana. Akhirnya dia pun balik masuk ke dalam rumahnya, setelah dia masuk, dari luar jendela dia melihat ada 2 sosok bayangan manusia berjalan menuju ke arah hutan. Vesty hanya melihat punggung mereka, dia pun berkali-kali mengusap-usap matanya seakan-akan takut bahwa apa yang dilihatnya hanyalah sebuah halusinasi saja.
“Ibu ? Ayah ?.....” Vesty memanggil mereka sambil mengikuti ke mana mereka pergi.
Langkah kaki Vesty semakin cepat, seolah-olah dia yakin bahwa 2 orang tersebut adalah ibu dan ayahnya. Vesty tidak henti-hentinya memanggil mereka dengan suara yang begitu nyaring, tapi 2 orang tersebut tetap saja tidak menghentikan langkah kaki mereka dan juga tidak menoleh ke belakang. Semakin dekat Vesty menyusul mereka, semakin pula pandangan Vesty menjadi buyar dikarenakan tiba-tiba muncul kabut putih yang menghalangi pandangan Vesty. Vesty mengayunkan kedua tangannya untuk menyingkirkan kabut-kabut yang mulai menghalangi pandangannya tersebut. Tiba-tiba di saat itu juga Vesty dipukul oleh seseorang dari belakang dan dia pun pingsan seketika.
Setelah Vesty sudah sadar, tiba-tiba saja dia sudah tergeletak di sebuah ruangan dengan para tahanan lainnya.
“Kenapa kita berada di sini ?” Vesty bertanya sambil memegang belakang kepalanya yang masih terasa sakit akibat pukulan yang dia rasakan tadi.
“Akhirnya kamu bangun juga.” ujar Candy yang duduk di sebelah Vesty.
“Setelah kita semua melakukan gerakan aneh, kita semua langsung dibawa ke sini, tidak disangka ternyata pelatihan kali ini tidak seseram yang kita pikir, toh hanya menggunakan halusinasi doang.” Serlyne berkata dengan santainya.
“Ternyata kamu sama dengan saya ya, kamu takut dengan lebah? Tapi kamu lebih lucu dari saya deh, saking takutnya kamu dengan lebah sampai-sampai kamu memanggil ibu…ayah…gitu, kamu lucu sekali.” Candy berkata sambil tersenyum.
“Lebah? Apa maksudmu? Saya takut lebah?”
“Alaahhh…gak usah gengsi Vesty, takut ya takut…jujur saja…” Serlyne juga ikut-ikutan tersenyum mengejek Vesty.
“Tunggu, saya benar-benar tidak mengerti, lebah apaan…dalam halusinasi saya, saya sama sekali tidak bertemu dengan binatang apapun. Benarrr…saya gak bohong.” Vesty berkata dengan seriusnya.
“Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kamu menjerit dengan memanggil ibu dan ayah sambil melakukan gerakan mengayun-ayunkan tanganmu seolah-olah sedang berusaha mengusir binatang, gerakan kamu sama dengan Candy kok, hanya saja kamu tidak menunjukkan gerakan seperti disengat sesuatu seperti Candy, jadi “Tamu Spesial” kamu adalah lebah. Salah satu prajurit bertopenglah yang bilang bahwa “Tamu Spesialmu” adalah lebah.” ujar Serlyne.
Setelah Vesty mendengarnya, Vesty terheran-heran sambil memandang ke arah Candy.
“Saya tahu dari Serlyne, dia yang menceritakannya kepada saya, kamu kan duluan meminum ramuan biru tersebut sebelum Serlyne, makanya dia sempat melihat gerakanmu.”
Dalam hati Vesty berkata ( Mereka salah paham, saya mengayunkan tangan hanya untuk menyingkirkan kabut yang menghalangi pandangan mataku ).
“Oh ya, saya belum tahu kamu kalah oleh binatang apa ?” tanya Candy kepada Serlyne.
“Saya melakukan gerakan seperti ini ( tangan yang menyerupai ular yang ingin mematuk ).”
“Ohhhhhhhh, ular.” jawab Candy.
“Tapi, saya punya firasat bahwa pelatihan berikutnya pasti akan lebih rumit dari pelatihan yang pertama,” ujar Vesty dengan seriusnya.
“Hmmm, saya juga berpikir seperti itu,” ujar Candy.
***** Bersambung *****