Darklady

Darklady
Perpisahan dan Pertemuan



“Vesty, kamu kenapa? Kamu dari tadi murung terus,” ujar Tom.


“Ternyata omongan kalian benar, maaf ya,,, dulu saya tidak percaya terhadap omongan kalian.”


“Kayaknya orangtuamu sudah memberitahumu. Tidak usah cemas, dengan kemampuan unik kamu, meskipun pada saat kamu menghadapi pelatihan keras nanti mengalami kesulitan, kamu bisa terlebih dahulu meminta bantuan kepada teman-teman satwamu, iya kan ?” Si Jessa menghibur Vesty sambil merangkulnya.


“Betul itu, saya dan Jessa sangat yakin bahwa kamu bisa bertahan di sana, kami yakin kamu bisa mengatasinya, janganlah cemas, kami senantiasa akan selalu ada untukmu sayang.”


“Terima kasih, perkataan kalian sangat mengibur hati saya. Saya cemas bukan karena “pelatihan keras” melainkan saya cemas dan sedih dengan “perpisahan”. Saya gak mau berpisah dengan orangtuaku, kebunku, terutama kalian semua teman-temanku yang ada di hutan ini,” ujar Vesty sambil menahan air mata.


“Oh, sayangku…kemarilah …..Kami juga sangat sayang kepadamu.” Jessa berkata sambil menitikkan air mata begitu pula dengan si Tom.


“Berjanjilah dengan kami, berjanji bahwa kamu di usia 20 tahun nanti akan tetap selamat dan sehat.” Tom berkata dengan menggenggam erat tangan Vesty.


Vesty hanya mengangguk-angguk sambil menitikkan air mata.


“Ada 3 hal yang ingin saya mohon kepada kalian berdua,” ujar Vesty sambil menyeka air matanya.


“Apa itu nak, akan kami kabulkan sepenuhnya.” Jessa menjawabnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.


“Yang pertama, tolong bantu saya jaga kedua orangtua saya.”


“Pasti, sayangku,” jawab si Jessa


“Kedua, kalian harus sehat menunggu saya kembali. Ketiga, kalian berdua jangan sering bertengkar ya..”


Tom & Jessa mendengarnya sambil saling memandang dan seketika itu terdengar tawa dari mereka bertiga.


Langit sudah mulai gelap, Vesty pun segera berlari pulang. Sesampai di rumahnya, Vesty melihat sang Ibu tertidur dalam keadaan duduk di atas kursi.


“Ibu, ibu….ayo, tidur di dalam kamar,” ujar Vesty sambil menggoyang pelan pundak sang ibu.


Sang ibu pun secara pelan-pelan membuka matanya dan langsung menggenggam tangan Vesty sambil berkata : “Vesty, kamu dah pulang, kamu pasti sudah lapar, ayo..sini ibu telah memasak masakan kesukaanmu.”


“Ibu, saya memang sedih, tapi yang saya sedihkan itu bukan karena pelatihan keras, melainkan saya tidak sanggup…..tidak sanggup untuk meninggalkan ibu dan ayah.” Tiba-tiba suara Vesty bergetar, ia berusaha untuk menahan tangisannya.


“Oh, anakku….putriku….apa yang harus saya lakukan…oh Tuhan…apa yang harus saya lakukan,” berkata sambil memeluk erat Vesty.


Sedangkan sang ayah hanya bersembunyi di balik pintu kamarnya sambil menahan kesedihannya dan begitu pula dengan Vesty yang menangis sekeras-kerasnya di pelukan sang ibu.


**********


( Di kediaman istana Raja Drovil )


“Putraku, sebentar lagi kamu akan menjalani “pelatihan” penting, kemarilah putraku.” Dengan lembutnya Ratu Lotus berkata.


“Kamu harus menjadi seorang putra dan pemimpin yang terbaik, kamu harus lebih hebat dibandingkan dengan kakakmu Sam. Tentunya kamu tidak mau Ratu Rose memandang rendah ibu kan ?” berkata sambil memegangi wajah Brave dan Brave hanya menggangguk-anggukkan kepalanya saja.


“Bunda, saya mau keluar menghirup udara segar, boleh kan ?”


“Baiklah, tapi jangan lama-lama ya. Hanya boleh selama 30 menit.”


“Baik, Bunda.”


“Pengawal, jagalah pangeran dengan baik-baik, jangan sampai dia terluka sedikitpun, jika putraku terluka sedikitpun, saya tidak akan memaafkan kalian semua. Ngerti ?”


“Baik, Ratu.” Semua pengawal menjawabnya dengan serentak.


“Bunda, biarkan saya pergi sendiri, saya tidak suka dikawal oleh banyak orang.” Brave berkata dengan kesalnya.


“Tidak bisa, kalau kamu mau keluar harus dikawal, jika tidak mau dikawal tidak boleh keluar. Kamu pilih yang mana ?” Ratu Lotus dengan tegasnya berkata.


“Baiklah Bunda, saya dikawal saja,” berkata dengan wajah yang pasrah.


“Ini baru namanya putraku yang patuh,” ujar Ratu Lotus.


Sementara itu, Brave berjalan-jalan santai di taman belakang istana dengan diiringi pasukan pengawal-pengawal yang ikut berjalan di belakangnya. Brave sambil jalan sambil menggerutu dalam hati ( Bagaimana caranya untuk menghindari mereka, saya sama sekali tidak nyaman dengan semua ini ).Tiba-tiba saja dia berpapasan dengan kakaknya Sam.


“Wow, begitu banyaknya pengawal yang mengawalmu, dikawal untuk kelihatan lebih hebat atau kamu sendirinya yang sangat penakut, sampai-sampai perlu dikawal oleh begitu banyaknya pengawal,” berkata sambil tertawa sinis.


Brave tidak menggubrisnya, dia hanya terus berjalan melaluinya saja. Dan hal ini tentu saja membuat Sam geram, karena dia sudah dianggap angin yang lewat.


“Kurang ajar, anak ingusan, saya ini lebih besar darimu, berani-beraninya kau mengacuhkanku,” berteriak sambil menunjuk Brave yang sudah berjalan menjauhinya.


“Tuanku, sudahlah, jangan hiraukan anak itu.” Salah satu pengawal pribadinya menenangkan Sam.


“Tuanku, kenapa anda tidak langsung saja bilang kepadanya.”


“Bilang apa?” berkata dengan kesalnya.


“Tuanku, saya tahu kamu itu sengaja cari perhatian, Anda mau berteman kan dengan Pangeran Brave?” berkata sambil menggoda Sam.


“Siapa bilang ha? Kau ya jangan sok tahu, siapa bilang saya mau berteman dengan anak ingusan gak tahu diri itu.”


“Ah, tuanku….saya sudah ikut Anda sejak Anda kecil, mana mungkin saya tidak tahu isi hati Tuan yang sebenarnya, hihihi……” Tawanya menjadi hilang ketika Sam melototinya dengan tatapan matanya yang tajam.


“Kau mau mati ya ?” Berkata sambil menginjak kaki pengawal pribadinya itu.


“Ma…ma..maaf tuanku, sa…saya mulut ember, plak…plak…saya tidak akan ngomong sembarangan lagi,” ujarnya sambil menampar mulutnya sendiri.


“Bisakah kalian semua pergi dari hadapan saya, berikan saya ruang pribadi, bisa gak?” keluh Pangeran Brave sambil memandangi para pengawal dengan kesalnya.


“Maafkan kami Tuanku…ini perintah dari Ratu Lotus, kami tidak bisa membantahnya.”


“Ok,ok…ini kalian yang memaksa saya….”


Tiba-tiba saja Brave berlari kencang tanpa menghiraukan pengawal-pengawalnya yang berjalan di belakangnya. Seketika itu juga para pengawal menjadi panik, mereka langsung mempercepat langkah kaki mereka untuk mengejar Pangeran Brave yang berlari sangat cepat tersebut.


“Tuanku, berhentilah….Anda mau ke mana? Jika Anda kenapa-napa kami akan kena hukumannya…” berkata sambil berlari kencang mengejar Brave.


“ Benar itu Tuanku, kasihanilah kami…...Kami masih ada keluarga yang harus kami jaga…….Ku mohon Tuanku…….,” ujar salah satu pengawalnya yang sudah kehilangan tenaga untuk berlari.


Brave sebenarnya tidak mau tahu akan kehidupan pengawal-pengawalnya, dia ingin sekali menutup telinganya agar tidak mendengarkan perkataan-perkataan mereka, tapi bagaimanapun juga Pangeran Brave tetap saja tidak tega jikalau para pengawalnya akan dihukum karena kelalaian mereka dalam mengawal dirinya. Seketika itu Pangeran Brave menghentikan langkah kakinya, langkah kaki yang awalnya kencang bagaikan cheetah, lama-lama menjadi pelan dan akhirnya Brave berdiri diam di suatu tempat. Sedangkan para pengawalnya sudah pada ngos-ngosan karena mengejar Pangeran Brave. Pangeran Brave memang dikenal sebagai anak yang sangat pandai dalam berlari, sehingga tidak ada satupun yang bisa mengejar Brave.


“Ngos…ngos….i …itu dia Pangeran Brave !” berkata sambil menunjuk ke arah Pangeran Brave yang sedang berdiri di suatu tempat.


Para pengawal pun langsung berjalan ke arah di mana Pangeran Brave berdiri.


“Saya ingin pulang !” Brave berkata sambil membelakangi para pengawal dengan raut wajahnya yang sedih.


Beberapa saat kemudian, Pangeran Brave berjalan menuju ke arah jalan pulang sambil dikawal oleh para pengawalnya.


**********


( Setelah 3 bulan )


“Vesty, kami baru saja mendapatkan surat panggilan dari orang Istana,” ujar sang Ibu dengan matanya yang berkaca-kaca.


“Surat ini menuliskan bahwa besok mereka akan menjemput kamu ke tempat…….” sang ibu mulai menangis.


“Istriku, kamu ini kenapa sihh, kan kita sudah janji, tidak akan menangis di hadapan Vesty kan ?”


“Ibu, ayah….Kalian jangan sedih, saya akan berusaha tegar dan kuat. Dulu ayah dan ibu bisa menghadapinya, saya sebagai putri kalian juga akan menghadapinya, percayalah kepada saya..ibu….” berkata sambil memeluk ibunya.


“Ibu, saya mau pergi ke sebuah tempat dulu.”


( Setelah tiba di hutan )


“Besok saya akan pergi, biarkan saya melihat kalian semua sebelum saya pergi !” sambil menitikkan air mata menerawang ke sekitarnya.


Seketika itu juga semua binatang yang pernah bergaul dengan Vesty menghampirinya, ada sekelompok gajah, para trenggiling, tupai-tupai dan sekelompok lebah. Satu persatu dari mereka mengucapkan salam perpisahan kepada Vesty. Setelah itu Vesty masih saja diam berdiri di tengah hutan, Vesty masih menunggu kedatangan Tom dan Jessa.


“Tommmm, Jessaaa….saya tahu kalian pasti bersembunyi di balik pohon. Saya tahu kalian tidak sanggup mengucapkan kata perpisahan ini, tapi saya tetap harus mengucapkannya kepada kalian. Jessa janganlah menangis dan Tom janganlah menahan air matamu, ntar matamu bisa sakit. Saya pasti akan kembali lagi, jagalah kesehatan kalian ……..( sambil menangis melanjutkan perkataannya ) Saya menyayangi kalian, sungguh menyayangi kalian,…bye…,” ujar Vesty terbata-bata dan berlari pulang sambil menangis.


Di saat itu juga Jessa yang sembunyi di balik pohon sudah tidak dapat mengendalikan perasaan sedihnya, air matanya pun langsung mengalir dengan derasnya dan dia pun berkata dengan suara kecil, dia menjawab “ Saya juga sangat menyayangimu, sayangku.”


Sedangkan Tom yang dari tadi berusaha menahan tangisannya langsung menangis sekeras-kerasnya. Tentu saja karena saking kerasnya tangisan mereka berdua, dari kejauhan Vesty bisa mendengarnya. Pada saat itu juga, Vesty menghentikan langkah kakinya seketika, tak lama kemudian Vesty pun melanjutkan langkah kakinya berlari menuju ke rumahnya.


Esok paginya, sebuah kendaraan besar datang dan berhenti di depan rumah Vesty, seketika itu juga seorang prajurit bertopeng membawa paksa Vesty masuk ke dalam mobil,


“Sebentar, sebentar,,kami ingin memeluknya dulu, berikan kami beberapa menit lagi, kumohon !” Sang ibu memohon kepada prajurit bertopeng tersebut.


“Tidak bisa, ayo cepat naik !” ketus salah satu prajurit bertopeng sambil mendorong paksa Vesty untuk masuk ke dalam mobil.


“Ibu, ayah….. jagalah diri kalian baik-baik.”


Sementara Sang ayah dan ibu hanya bisa melambaikan tangan ke arah kendaraan tersebut yang sudah berjalan menjauhi mereka sambil menitikkan air mata kesedihan.


“Apa yang kalian lakukan !” Vesty kaget ketika salah satu prajurit tersebut menutup mata Vesty dengan menggunakan kain tebal hitam dan juga mengikat kedua tangan Vesty ke belakang. Vesty sama sekali tidak dapat melihat apapun yang ada di sekitarnya.


“Diam dan duduk dengan tenang !” Salah satu prajurit dengan sangarnya membentak Vesty.


Vesty menjadi sangat takut, dia menggenggam tangannya sendiri berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dalam hati Vesty bergumam ( Tenang ! Tenanglah Vesty ! jangan takut, jangan panik, segalanya akan baik-baik saja ). Selama perjalanan, Vesty hanya merasakan jalan yang berliku-liku dan bergoyang-goyang. Tidak ada “tahanan” lainnya selain Vesty sendiri dalam kendaraan yang ia tumpangi tersebut. Tiba-tiba suara mesin dari kendaraan yang dia tumpangi berhenti dan terdengar suara teriakan dari prajurit.


“Turun ! Turun ! Sudah sampai !”


“Saat Vesty turun dari kendaraan tersebut, dia masih dalam keadaan mata ditutup oleh kain hitam yang tebal.


“Cepat naik !” salah satu prajurit mendorong paksa Vesty menaiki tangga.


Ternyata Vesty disuruh menaiki kapal besar, Sesudah naik ke kapal, Vesty pun dikurung ke dalam satu ruangan.


“Halo ! kamu pasti baru saja dibawa paksa tadi pagi kan ?” ujar salah satu “tahanan” yang juga seumuran dengannya.


“Apakah matamu juga ditutup seperti saya ?” Vesty bertanya dengan penasaran.


“Iya, kami semua bernasib sama sepertimu. Beberapa dari kami ada yang sudah dikurung di sini selama 3 hari hanya untuk menunggu 1 “tahanan” lagi, yaitu kamu.”


“Oh, ya ! perkenalkan, nama saya adalah Bob, kalau yang lainnya sih saya gak tahu ya, kami di sini hanya ngobrol lewat suara saja, tampang kalian bagaimana pun saya gak tahu, hehehe…” Bob berkata dengan santainya.


“Saya Vesty. Kamu kedengarannya sangat tenang, kamu gak tahu kita dikumpulkan untuk apa? kok kamu bisa sesantai ini ?” Vesty bertanya sambil mengerutkan dahinya.


“Si Bob memang begitu orangnya, dia agak sinting, kamu gak usah hiraukan dia.”


“Kamu……?”


“Nama saya adalah Serlyne, lebih baik kita terus saja ngobrol, daripada berdiam saja itu hanya membuat kita semakin takut saja.”


Seketika itu juga kapal pun mengeluarkan bunyi yang menandakan bahwa kapal akan segera berlayar.


“Wow, kamu dengar itu ? kapal akan berlayar dan…….” Bob tiba-tiba menghentikan perkataannya.


“Dan apa ? kenapa gak lanjutkan ?” ujar Vesty.


“Dan kita semua akan mati, mati karena “Pelatihan Keras.” ujar Serlyne.


“Tidak, tidak akan, aku akan bertahan dan berjuang untuk hidup,” tegas Vesty.


“Wow, saya suka sekali denganmu, Vesty.” Si Bob dengan nakalnya merespons.


“Apa?” ujar Vesty yang merasa terganggu oleh perkataan Bob.


“Oh, maksudku saya sangat suka dengan semangatmu, hehe….,” ujar Bob dengan nakalnya.


Perjalanan membutuhkan waktu yang sangat lama kira-kira hampir 2 hari lamanya dan akhirnya sampai juga mereka ke tempat “Pelatihan Keras” tersebut. Pada saat mereka diturunkan dari kapal mereka, para prajurit bertopeng langsung membuka kain penutup mata dan melepaskan ikatan tangan Vesty dan para “tahanan” lainnya. Pada saat mereka bebas dari kain penutup mata tersebut, terik matahari yang panas dan menyengat langsung menyilaukan mata mereka.


“Kamu pasti Vesty kan ? dan kamu pasti Serlyne, iya kan ? si Bob dengan pedenya berkata.


“Kamu salah! Saya Serlyne dan dia adalah Vesty…Dah salah pede lagi!”


“Maju sana !” bentak salah satu prajurit bertopeng sambil mendorong Bob untuk terus berjalan.


“Aaahhhhhh, tolongggggg !” terdengar teriakan dari kejauhan yang langsung mengagetkan para tahanan.


Mereka berjalan dan melihat sesuatu yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh mereka, mereka melihat ada seorang anak laki-laki yang digantung terbalik, kepalanya menghadap ke bawah dan yang membuat pemandangan itu mengerikan adalah di bawahnya terdapat ular-ular berbisa, selain itu jarak antara ular-ular dengan kepala anak laki-laki yang digantung itu kira-kira 1 meter. Mereka bertiga saling memandang dan mulai ketakutan. Setelah memasuki suatu bangunan, mereka dikurung dalam satu ruangan yang luas, di mana ruangan tersebut dibedakan sesuai jenis kelamin. Vesty dan Serlyne dikurung dalam ruangan yang sama, sedangkan Bob dikurung ke dalam ruangan di mana semuanya adalah laki-laki.


Setelah itu, rambut para tahanan pun digunting sampai pendek, tak peduli itu cewek maupun cowok, rambut mereka digunting dengan model rambut yang sama, yaitu model rambut cowok yang pendek. Serlyne yang sangat mencintai rambut panjangnya pun hanya bisa menangis pada saat rambutnya digunting sampai sedemikian pendeknya. Setelah rambut para tahanan digunting menjadi pendek, mereka pun dikawal ke sebuah ruangan peristirahatan mereka masing-masing.


“Ganti pakaian kalian! Kalian harus kenakan pakaian ini !” Salah satu prajurit bertopeng memberikan perintah sambil melemparkan baju tersebut ke arah para tahanan.


Setelah itu prajurit bertopeng tersebut pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.


“Pakaian apa ini ? Semuanya serba hitam ! Dah rambutku jadi jelek begini, baju pun harus pakai yang jelek pula,” keluh Serlyne sambil terisak-isak.


“Sudah masuk ke area mati, masih aja ngeluh soal baju ! Rambut digunting sampai pendek saja langsung nangis, dasar si cengeng !” Ketus salah satu cewek yang juga seruangan dengan Vesty dan Serylne.


“Apa katamu ?” Serlyne berkata dengan jengkelnya


“Hai, nama saya Vesty, siapa namamu ?”


“Candy ” Candy menjawab dengan judesnya.


“Pfff……” Serlyne menahan tawa.


“Candy ??? Nama apaan itu, orangtuamu norak sekali, mereka gak ada ide lain untuk memberikan nama lain yang lebih enak didengar ?…apa mungkin…. kamu itu anak kecil kurang makan permen, makanya namanya Candy, kasihan deh luuu ” berkata sambil melirik sinis ke arah Candy.


“Sudahlah, Serlyne………..” belum selesai Vesty berkata, tiba-tiba saja……


Buakkkkk……sebuah kepalan tinju yang keras diarahkan ke wajah Serlyne.


Setelah ditinju, Serlyne terdiam dan terkapar di lantai dengan mata terbelalak melihat Candy dengan emosinya berdiri di depannya, seakan- akan ia ingin melanjutkan tinjunya lagi ke arah wajah Serlyne. Seketika itu, Vesty pun langsung menahan Candy.


“Ha? da…darah? Berani-beraninya kamu meninju wajahku yang cantik ini.”


“Ku mohon, jangan pukul lagi, kamu juga Serlyne, gak bisa diam ya mulutmu ?” kesal Vesty.


“Tidak ada seorangpun yang boleh mengejek orangtuaku dan namaku, ngerti!”


“Maafkan dia, kumohon !”


“Saya tidak akan berhenti untuk meninjunya kalau bukan dia sendiri yang minta maaf.” berkata sambil berjalan ke arah Serlyne yang sudah mulai ketakutan.


Pada saat Candy ingin melayangkan tinjunya yang kedua ke arah Serlyne, Serlyne langsung dengan spontannya minta maaf dengan suara yang keras. Di saat itulah, akhirnya perseteruan antara mereka berdua pun mereda.


“Ngomong-ngomong, kenapa rambut kita semua digunting sampai segini pendeknya ?” ujar Vesty.


“Ini memang sudah peraturan di sini, para tahanan cewek tidak boleh memanjangkan rambutnya sebelum “misi-misi” terlaksanakan,” jawab Candy


“Misi? Misi apa?” Vesty bertanya dengan penasarannya.


***** Bersambung *****