Darklady

Darklady
Kemampuan yang Unik



( 15 tahun kemudian )


“Vesty, kamu di mana ? Cepatlah pulang, sudah saatnya makan, Vestyyyyyyy…,” teriak sang ibu ( Warmy ) ke arah hutan di belakang kebun buahnya.


Vesty dari kejauhan mendengar suara ibunya memanggil-manggil namanya.


“Waduh, sampai sini dulu ya kita mainnya. Saya dipanggil ibu untuk pulang sekarang, jika saya tidak segera pulang, saya bisa dihukum habis-habisan ntar..Byeee,” ujarnya kepada monyet-monyet dan tupai yang ada di hutan tersebut.


Seketika itu juga Vesty merasakan ada sesuatu yang sedang memandanginya dan dia dengan spontannya menoleh ke belakang. Pada saat dia menoleh ke belakang, dia tidak melihat apapun di sana. Vesty pun langsung berlari ke arah jalan pulang ke rumahnya.


“Ibuuuu, kan saya dah bilang, saya agak malam pulangnya, kenapa teriak-teriak panggil saya terus ?”


“Kamu itu anak perempuan, sendirian pergi ke hutan itu sangat bahaya, lagian kamu ke hutan main apa sih ?” keluh sang ayah.


“Jangan-jangan kamu ke hutan untuk bertemu dengan seorang anak laki-laki kencan ya ?”


“Iya, kok mama tahu !”


“Apa? kamu itu masih kecil, berani-beraninya dah main pacaran ? ” berkata sambil siap-siap mengambil rotan.


“Aduuuhhh ibuuuu, kok ibu bisa berpikir seperti itu sihhh, saya kan belum selesai ngomong. Maksud saya “bergaul” dengan si Tom & Jessa, mereka sangat baik, mereka adalah teman baik saya. Lagipula menurut anak seumuran saya “kencan” itu maksudnya “ bergaul ” yang berarti “ berteman ”, gak salah kan ?” dengan nakalnya menjawab sang ibu.


“Tom & Jessa ? siapa itu ?” Warmy dan Collin berkata secara serentak sambil saling memandang.


“Anak tetangga gak ada yang namanya Tom & Jessa ? Jangan kira kamu bisa membodohi ayah dan ibumu ya! Cepat ngomong sejujurnya kamu ke hutan ngapain ?” geram sang Ibu.


“Saya gak bohong, Tom & Jessa benar-benar ada, mereka teman saya. Mereka bukan manusia, mereka berdua adalah monyet.” Vesty menjawab dengan polosnya.


“Lalu? kamu ngobrol dengan mereka ?” Sang ibu bertanya dengan kesabarannya yang hampir berada di ujung tanduk.


“Kami adalah teman baik, saya sering ngobrol dengan mereka. Saya kan dari dulu pernah bilang bahwa saya bisa bicara dengan binatang apapun, ayah ibu yang gak percaya sih !”


“Ohhh gitu, kalian ngobrol tentang apa ?” Sang ayah dengan agak kesalnya bertanya.


“Oh kami ngobrolnya buanyaaak sekali, biasanya kami saling curhat, ngobrol tentang orangtua masing-masing, yang lucunya kata mereka orangtua mereka juga reseh dan cerewet, sama seperti ayah dan ibu, dan juga bla….bla….bla….” Vesty dengan nonstopnya ngomong.


Ayah dan ibunya hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan kesalnya, tiba-tiba saja terdengar “ VESTYYYYYYYY,,,,!!!!!” teriakan ayah dan ibunya begitu dahsyat hingga mengagetkan burung-burung yang bertengger di pepohonan dan begitu pula dengan Vesty, dia pun juga kaget sampai diam membeku.


Karena telah membuat orangtuanya kesal, Vesty diberi hukuman memetik buah apel sampai 50 buah.


“Saya gak bohong kok, kenapa gak percaya sama saya sih, saya benar- benar bisa ngomong dengan binatang apapun kok!” keluh Vesty sambil menaiki tangga yang bersandar di batang pohon apel.


Tiba-tiba terdengar suara imut yang memanggilnya.


“Vesty, vesty….!” seekor lebah terbang ke hadapannya.


“Hai, lebah imut. Ada apa ?” menyapa sambil memetik apel


“Hai, nama saya Bebe. Saya butuh bantuanmu ? ” dengan paniknya ia berkata.


“Ada apa ? bilang saja !” bertanya dengan penasaran.


“Ada 2 manusia jahat yang ingin merampas sarang madu kami, mereka tidak hanya merampas sarang madu kami, mereka juga menyemprotkan sejenis gas ke arah teman-teman saya, beberapa dari teman kami ada yang pingsan, ada juga yang sampai mati. Selain itu mereka juga memasang perangkap untuk menangkap trenggiling, katanya mau dibunuh untuk diambil sisiknya. Ku mohon tolong lah kami, hik hik hik….” Ujar Bebe sambil terisak-isak.


“Kurang ajar ! keterlaluan sekali, tapiii….saya hanyalah seorang gadis kecil, saya bisa bantu apa ?”


“Vesty, kami semua tahu akan kemampuanmu dalam berkomunikasi dengan dunia satwa, kamu bisa menggunakan kemampuanmu ini untuk menolong kami.”


Tiba-tiba saja Vesty menemukan cara untuk menolong lebah-lebah malang tersebut. Dia langsung turun dari tangga.


“Ayo Babe, kita hajar mereka..” ujar Vesty dengan penuh keberanian.


“Nama saya bukan Babe, nama saya Bebe…” protes lebah mungil tersebut.


“Oh iya sorry, Ayo Bebe!”


Vesty langsung berlari masuk ke dalam hutan, dengan kemampuan unik yang dimilikinya, dia memanggil hewan-hewan besar yang sangat akrab dengan dia, yaitu gajah.


“Heetttttt ( suara gajah ),….” setelah Vesty berteriak layaknya seperti suara gajah-gajah lainnya, seketika itu para gajah dewasa pun berjalan menghampiri Vesty.


“Ada apa nak ?” secara lembut sang gajah betina bertanya kepada Vesty.


“Saya perlu bantuan kalian, ku mohon !”


**********


“Hahaha, kita telah berhasil menangkap 10 ekor trenggiling, kita akan menjadi kaya kalau kita tangkap puluhan ekor lagi.”


“Betul itu, hahaha. Ayo ! kita pasang perangkap lagi di sebelah sana.”


Tak lama kemudian, mereka mendengar suara teriakan gajah. Heeetttttt …….


“Hei, kau dengar itu ? itu bukannya suara gajah?”


“Kamu ini penakut sekali sih? Namanya di hutan, ya iyalah ada gajah, itu makanya kenapa kita perlu bawa senapan. Tenang saja, kan kita ada bawa senapan, jika mereka mendekat, kita tinggal tembak saja, kan beres udah !” dengan sombongnya menunjukkan senapannya.


“Betul juga ya, hahaha….oiii, gajah-gajah sialan, kami gak takut. ”


Tiba-tiba saja dari atas pohon terjunlah seekor monyet ke pundak salah satu dari mereka berdua yang sedang membawa senapan. Seketika itu juga si monyet langsung dengan cepatnya merampas satu-satunya senapan mereka dan melompat kembali ke atas pohon.


“Monyet sialannnn, kembalikan senapan saya !” Geram si pemilik senapan tersebut.


Sang monyet dengan nakalnya menertawakan mereka sambil mengarahkan pantatnya dan menggoyangkannya ke arah 2 manusia jahat tersebut.


“Kurang ajaaaarrrr !” Akan saya bunuh kau !”


“Ga…ga..gaj….!” Salah satu temannya mengeluarkan suara yang terpatah-patah sambil menepuk punggung temannya yang sedang marah menatapi sang monyet.


“Ada apa sih ? Ngomong apa sih kau !” dengan kesalnya menoleh ke belakang.


Dua orang jahat tersebut berdiri mematung dengan wajahnya yang pucat pasi dan seketika itu mereka langsung pontang-panting melarikan diri, yang satunya berlari sambil kencing di celana, mereka lari terbirit-birit sambil dikejar oleh para gajah yang besar dan kuat tersebut.


“Apakah kalian tidak apa-apa ?” Vesty bertanya kepada para trenggiling sambil membebaskan mereka dari jaring perangkap tersebut.


Para trenggiling pun dengan serentaknya mengucapkan terima kasih kepada Vesty.


“Terima kasih atas bantuan kalian, oh, ya..mereka berdua……?” Vesty berkata kepada para gajah.


“Tenang saja Vesty, kamu sudah memohon kami untuk tidak membunuh 2 manusia jahat tersebut, tentu saja kami akan pegang janji kami, paling-paling mereka akan diberi pelajaran oleh kawan-kawanku, tapi tidak sampai merenggut nyawa mereka. Setidaknya mereka harus diberi pelajaran, agar mereka tidak berani balik lagi ke sini untuk melakukan kejahatan lagi.” Sang gajah jantan menjelaskannya kepada Vesty.


“Terima kasih banyak !” .


Vesty masih tetap melambaikan tangan ke arah para gajah yang berjalan menjauhi dirinya, seketika itu suara imut menghampirinya.


“Vesty, terima kasih banyak, kamu sudah menyelamatkan kami semua. Jika suatu saat nanti kamu perlu bantuan kami, kami akan siap membantu kamu, temanku.” Perkataan lebah diikuti dengan anggukan kepala dari para trenggiling yang barusan saja diselamatkan oleh Vesty.


“Jangan sungkan, teman-temanku…….Aduhhhhhhh! ( sambil menepuk jidatnya ), saya akan dibunuh oleh ayah dan ibu, byeeeee!” Berpamitan sambil berlari cepat ke kebun apel.


“Apakah kita terlalu keras terhadap Vesty ?” Warmy bertanya kepada suaminya.


“Kita harus tegas dalam mendidik dia, kamu jangan lupa 3 bulan lagi usianya akan genap 15 tahun. Kita harus mengajari dia bagaimana cara hidup mandiri dan bertanggung jawab.”


“Menurutmu apakah kita sangat jahat, telah menukarkan dia, membuat dia harus menjalani kehidupan seperti ini ?”


“Waktu itu kita juga dalam keadaan terpaksa, anggap aja ini adalah sebuah takdir, yang penting setelah Vesty pulang kita harus memberitahukan dia tentang pelatihan keras yang harus dia jalani itu, agar dia bisa siap batin untuk menghadapinya.”


Tiba-tiba sang ibu menangis dan berkata : “Saya rindu dengan putra kita, bagaimana kehidupannya sekarang ? Bagaimana tampangnya ? Sifatnya ? Saya ingin tahu !”


“Saya yakin dia akan hidup dengan baik, kita harus yakin bahwa putra kita bernasib baik, janganlah khawatir.” Collin berkata sambil menahan air mata dan merangkul istrinya.


******


( Di kediaman istana Raja Drovil )


Setelah 15 tahun lamanya, putra palsu Ratu Lotus tumbuh menjadi anak yang sangat dingin, itu dikarenakan dia dari kecil diajarkan oleh ibunya untuk tidak mempercayai siapapun yang ada di istana. Meskipun dia bukanlah anak kandungnya, Ratu Lotus tetap menyayanginya layaknya anak kandungnya sendiri. Putranya diberi nama Brave, dia dari kecil dilarang oleh ibunya untuk bergaul dengan siapapun demi keselamatannya.


Dalam peraturan di pulau Silence, anak-anak dari rakyat jelata saat menginjak usia 15 tahun wajib untuk meninggalkan orangtua mereka masing-masing untuk menerima pelatihan keras, begitu pula dengan anak-anak keturunan Sang Raja di istana, tetapi mereka tidak mesti harus di umur 15 tahun ( boleh diundur hingga mereka berumur 18 tahun ). Mereka anak-anak bangsawan wajib menerima pelatihan khusus, tetapi pelatihan khusus tersebut bukanlah pelatihan yang menyiksa, melainkan pelatihan yang santai dan nyaman tidak sama seperti “ pelatihan keras ” yang harus dialami oleh anak-anak dari rakyat jelata. Pelatihan khusus yang dimaksud terbagi menjadi 2 jalur, yang satu untuk laki-laki dan satunya untuk perempuan. Untuk laki-laki harus menjalani pelatihan khusus seperti : pelatihan fisik, keberanian dan pendidikan, sedangkan yang untuk perempuan hanya disuruh untuk menguasai pendidikan saja. Tentu saja pelatihan bagi anak laki-laki di istana harus lebih berat daripada yang perempuan, karena suatu saat nanti mereka akan menjadi pemimpin di generasi berikutnya, oleh karena itulah mereka harus dibimbing menjadi laki-laki yang kuat, berani dan bijak. Anak laki-laki di istana akan dilatih secara khusus dan tentunya tidak ada kata “ penyiksaan ” bagi siapa yang belum bisa mengikuti pelatihan dengan baik, lain ceritanya dengan pelatihan keras yang ditujukan kepada anak-anak dari rakyat jelata, mereka akan dikenakan hukuman bagi siapa yang malas, yang lemah dan yang penakut, biasanya mereka yang telah berumur 15 tahun akan dilatih terus secara keras agar mereka bisa menjadi lebih berani dan tangguh. Dan bagi mereka yang bukan dari kalangan bangsawan disebut sebagai “para tahanan”.


“Ibu, ayah…..saya dah pulang .” Vesty berjalan masuk sambil memikul 1 keranjang besar penuh dengan 50 apel.


“ Kenapa lama sekali ? Kamu sambil main ya?” keluh sang ibu.


“Oh gak gak kok….ada beberapa apel yang busuk, jadi saya tadi sambil petik sambil periksa, makanya lama,” ujar Vesty sambil menyeka keringatnya.


“Vesty, ada hal yang ingin ayah sampaikan ke kamu, ayo ikut ayah keluar sebentar,” berbicara sambil melirik istrinya yang mulai cemas.


Setelah Vesty mendengarnya, Vesty berbicara dalam hatinya ( Waduhh, mampuslah saya, apakah saya dibawa keluar untuk dimarahi habis-habisan ?)


Ayahnya dan Vesty berjalan sampai ke kebun mereka, ayahnya hanya terus berjalan tanpa ngomong sepatah katapun, sedangkan Vesty hanya melihat ayahnya berjalan terus tanpa mengatakan sepatah katapun, itu membuat Vesty semakin takut dan cemas. Seketika itu, ayahnya mulai membalikkan badannya menoleh dan menatap Vesty. Vesty hanya bisa berdiri diam membeku, bagaikan terdakwa yang akan segera dihakimi oleh sang hakim.


“Vesty”


“Iiiiii…iya, ayah ” menjawab dengan gugupnya sampai mengeluarkan keringat dingin.


“Tenang Vesty, ayah suruh kamu keluar bukan untuk memarahimu, lagian untuk hal apa saya memarahimu?”


“Ayah hanya ingin kasih tahu kamu tentang peraturan yang ditetapkan oleh Raja kita. Setiap anak penduduk sini setelah menginjak usia 15 tahun, dia harus menerima pelatihan keras dan setelah dia berumur 20 tahun, maka………,” tiba-tiba saja perkataannya dipotong oleh Vesty.


“Maka hidup atau matipun tergantung hasil dari pelatihannya selama 5 tahun, iya kan ?” Vesty berkata dengan tenangnya.


“ Ke..kenapa kamu bisa tahu ? Dan kamu sama sekali tidak terkejut mendengar hal ini.”


dengan herannya ayahnya berkata.


“Ayah, sebenarnya saya sudah mengetahui akan peraturan ini.”


“Siapa yang memberitahumu ?” Sang Ayah bertanya dengan herannya.


“Teman-temanku di hutan, yaa..mungkin saja ayah menganggap saya berbohong lagi, tapi saya benar-benar tahu hal ini dari Tom & Jessa teman-teman baikku.”


“Saya kira mereka bercanda denganku, ternyata ini semua adalah benar,” ujar Vesty.


“Ayah, jangan cemas, saya akan mempersiapkan mentalku untuk menerima pelatihan keras itu.”


Sang ayah yang melihat ekspresi wajah Vesty yang tenang pun hanya bisa diam melongo tanpa berkata apapun.


Beberapa jam kemudian Collin balik ke rumah. Sang istri langsung menarik tangan suaminya dan berkata : “Apakah Vesty nangis? marah ? terkejut? Sang suami hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa bilang apapun.”


“Eh, jawablah !” ujar Warmy sambil menggoyangkan lengan sang suami.


“Dia ternyata sudah tahu akan hal ini, dia sama sekali gak terkejut.”


“Ha? sudah tahu? siapa yang memberitahunya?”


“Katanya Tom & Jerry yang kasih tahu.”


“Tom dan Jessa Ayah! Bukan Tom & Jerry!” Vesty memperbaiki ucapan sang ayah dari kejauhan.


“Tom & Jessa ??? Heiii…mau ke mana kamu Vesty ?” teriak sang Ibu.


“Dia minta izin untuk pergi ke hutan lagi, dia mau menemui kedua sahabatnya. Istriku apakah Vesty benar-benar bisa berkomunikasi dengan hewan ?”


“Setahu saya memang monyet itu cerdas, jadi gak heran kalau ada manusia yang berteman dengan monyet. Tapi….kalau bilang bisa ngomong dengan hewan, itu gak mungkin suamiku, mana mungkin manusia bisa ngobrol dengan hewan, mau pakai bahasa apa coba ?”


“Iya juga sih, trus gimana caranya monyet-monyet itu memberitahukan peraturan tersebut kepada Vesty ?” Warmy dan Collin terheran-heran sambil menggaruk-garuk kepala mereka sendiri.


***** Bersambung *****