Darklady

Darklady
Ketelitian di Pulau Putih



“Kamu bisa bicara dengan hewan?” Pangeran Brave menghampiri Vesty dan bertanya kepadanya.


“Oh gak, mana mungkin saya bisa berbicara kepada hewan.”


“Lalu kenapa kamu bisa tahu beruang-beruang itu gak nyaman dengan senjata?”


“Oh, saya hanya menebak saja, saya melihat matanya melirik ke arah senjatamu terus, jadi saya merasa dia terganggu dengan senjata yang kamu pegang, makanya saya menyuruhmu untuk membuangnya.”


“Lalu kenapa kamu meniru suara beruang bagaikan orang gila?” Pangeran Brave dengan curiganya bertanya.


“I..itu namanya berbaur, saya ingin beruang tersebut merasa nyaman doang, jadi saya tiru suaranya agar dia gak merasa terancam.”


“Tapi kenapa…….


“Oh perut saya sakit sekali, saya sudah gak tahan lagi.” Vesty langsung mengalihkan pembicaraan dengan berpura-pura sakit perut.


Pangeran Brave yang melihatnya pun langsung tersenyum kecil.


“Dia sungguh orang yang unik.”


Setelah menempuh perjalanan selama 2 hari 1 malam, akhirnya sampailah mereka ke tempat tujuan mereka. Tim merah duluan sampai ke tempat tersebut, tak lama kemudian, tim putih dan tim hijau pun menyusul. Vesty pun langsung berdiri tidak sabar untuk bertemu dengan Serlyne dan Candy, dalam hatinya dia berharap Serlyne dan Candy bisa kembali dengan selamat. Beberapa saat kemudian, terdengar suara panggilan dari kejauhan.


“Vestyyyy…” Terlihat Serlyne melambai-lambaikan tangannya ke arah Vesty sambil tersenyum lebar.


“Serlyneee…” Vesty pun dengan senangnya berlari menghampiri Serlyne.


Mereka berdua langsung berpelukan dan tak lama kemudian, Candy pun memanggil mereka berdua.


“Heiii, rayakan bersamaku juga dong.” Candy dengan senangnya berkata.


Vesty dan Serlyne yang melihatnya pun langsung berlari ke arah Candy dan pergi memeluknya dengan girang.


“Candy, bagaimana caranya tim kalian berhasil menyelesaikan misi kalian selama seminggu ini?” Vesty bertanya dengan penasarannya.


“Oh, setelah kami sampai di pulau putih tersebut, di sana terdapat banyak sekali pohon putih dan terdapat batu cahaya putih yang menempel di tiap-tiap batang pohon. Pohon-pohon tersebut berjumlah 1000 batang.”


“Darimana kamu tahu itu berjumlah 1000 batang?” Vesty dengan penasarannya bertanya kepada Candy.


“Di sana terdapat papan kayu yang bertulis “ 1 harapan dalam 1000 pilihan”, makanya kami tahu itu berjumlah 1000. Setelah itu, kami melihat adanya cermin tinggi yang tertancap di atas tanah putih di tengah-tengah hutan tersebut. Pada saat itu juga, saya berjalan menghampirinya dan berdiri di depan cermin tersebut. Waktu itu, saya melihat diri sendiri terlihat sangat berbeda dalam pantulan cermin tersebut.”


“Beda? Maksudnya?” Serlyne dengan penasarannya bertanya.


“Rambut saya menjadi berwarna putih dan kulit saya menjadi warna coklat, semua anggota yang berdiri di depan cermin tersebut juga mengalami hal yang sama. Mereka terlihat berbeda dengan wujud aslinya, ada yang berubah menjadi pendek dan gendut, ada yang wajahnya sama sekali berubah tidak mirip dengan wajah aslinya.”


“Lalu?” Serlyne masih dengan penasarannya bertanya.


“Saya langsung memprediksi bahwa itu mungkin adalah petunjuk untuk menemukan batu cahaya putih yang asli. Kami langsung saling diskusi bahwa kami harus mendapatkan batu cahaya putih yang bentuknya beda dengan yang lainnya. Setelah itu, kami pun berpencar untuk mengecek satu-persatu batu cahaya putih yang tertempel di batang pohon-pohon putih tersebut. Kami pun menandakan pohon yang sudah diperiksa dengan pisau kecil, menyayatnya dengan pisau kecil agar kami tidak 2 kali mengecek pohon yang sama. Tapi, ketika salah satu tim kami mencabut salah satu batu cahaya putih tersebut, tiba-tiba saja pohon-pohon yang ada di sana secara otomatis bergeser sehingga posisi pohon-pohon tersebut menjadi berbeda dan batu cahaya putih yang dicabut tersebut menjadi rapuh dan hancur seketika. Di saat itu juga, kami baru menyadari bahwa jika kami mencabut batu cahaya yang salah, maka pohon-pohon tersebut pun akan langsung bergeser sehingga pohon yang sudah diperiksa dengan yang belum diperiksa akan berbaur menjadi satu. Sontak hal tersebut menjadi kendala bagi kami untuk memeriksanya lagi. Kami memeriksanya lagi satu persatu sampai tengah malam, tapi hasilnya tetap nihil, semua batu cahaya putih tersebut memiliki bentuk yang sama percis, tidak ada bentuk yang beda dengan satu sama lainnya, itu tentu saja membuat kami depresi dan kesal. Tapi kami tidak putus asa begitu saja, kami terus memeriksa hingga berhari-hari. Di hari ke-6 pada saat saya mulai memeriksanya lagi, saya baru sadar bahwa di tengah -tengah batu cahaya putih tersebut memantulkan wajah saya sendiri pada saat saya berdiri pas di depannya, itu bagaikan cermin. Spontan saya pun teringat akan maksud dari cermin tinggi tadi, saya langsung berpikir bahwa mungkin batu cahaya yang perlu kita cari adalah mencari pantulan wajah yang tidak sama dengan wajah asli sendiri. Tapi setelah saya mengecek satu persatu batu cahaya putih tersebut, pantulan wajah saya di tiap batu semuanya sama, tidak ada yang beda. Keadaan semakin menjadi sulit karena tiba-tiba saja muncul kabut yang sontak membuat pandangan kami menjadi terganggu. Mata kami semua menjadi berair dan merah karena kami sudah mengeceknya berhari-hari. Oleh karena itu, kami pun beristirahat sejenak dan melanjutkan pencarian di esok paginya.”


“Lalu terakhirnya bagaimana kalian berhasil menemukannya?” Serlyne bertanya lagi.


“Itu karena berkat salah satu anggota kami dengan paniknya berlari ke arah kami dan menanyakan sesuatu, dia mengatakan bahwa mata kami semua kok sudah kembali normal tidak merah lagi dan dia mengatakan bahwa matanya masih merah dan menjadi sangat bengkak. Kami pun langsung kaget ketika dia berkata seperti itu dan saya pun berkata padanya bahwa matanya sama dengan kita semua sudah kembali normal, sama sekali tidak merah dan tidak bengkak. Setelah itu saya bertanya kepadanya mengapa kamu bisa berpikiran bahwa matamu masih merah dan menjadi bengkak, dia pun menjawabnya bahwa saat dia bangun tidur dia secara tidak sengaja memandang ke arah salah satu batu cahaya putih dan di pantulan tersebut menampakkan matanya yang tampak sangat merah dan bengkak. Dia bilang merahnya sangat menakutkan, makanya dia langsung berlari ke arah kami dan ingin melihat apakah mata kami mengalami gejala yang sama seperti dia menjadi merah pekat dan bengkak. Setelah itu saya pun langsung menyuruhnya mengantarkan saya ke batu cahaya putih tersebut. Karena tadi dia hanya iseng untuk mengecek matanya, dia tidak ingat lagi letak posisi batu tersebut. Tapi kami tidak putus asa, setidaknya dia masih ingat posisi di mana dia tidur.”


“Maksudmu?” ujar Serlyne dengan herannya.


“Dia bilang sekali bangun dia langsung mengecek matanya di salah satu batu tersebut. Jadi intinya batu tersebut berada di sekitar tempat dia tidur tadi. Kami semua pun bekerja sama mengeceknya satu persatu untuk mencari batu cahaya putih yang memantulkan “ketidakaslian” diri kita sendiri tersebut. Akhirnya jerih payah kami terbayarkan, saya berhasil menemukannya dan langsung mencabut batu tersebut. Setelah mencabutnya, semua pohon tidak bergeser dan batu putih tersebut langsung mengeluarkan cahaya putih. Setelah itu, kapten langsung melepaskan kembang api.”


“Wow, sungguh ketelitian yang luar biasa,” ujar Serlyne


***** Bersambung *****