
“Apa? Pelatihan ketiga adalah berenang? Apakah kalian sedang bercanda?” Pangeran Brave berkata dengan kesalnya.
“Tidak bercanda Tuanku. Memang benar berenang.”
“Apa susahnya berenang? Toh saya memang sudah bisa berenang kok.”
Karena Pangeran Sam dan Pangeran Brave adalah keturunan bangsawan dari Istana, maka mereka sejak kecil memang sudah diajarkan untuk berenang, apalagi di Istana memang sudah disediakan kolam renang yang besar dan mewah bagi para bangsawan di sana.
“Oleh karena itu Pangeran Sam dan Anda tidak usah menjalani penilaian, intinya yang berenang ini bukanlah pelatihan ketiga, melainkan itu adalah penilaian doang.”
“Penilaian ? Jadi itu bukan pelatihan ketiga yang sesungguhnya?”
“Benar, Tuanku…Jadi Anda tidak usah kesal.”
“Lalu? Saya ngapain di sini?”
“Emmm….Menikmati hidup saja, Tuanku.”
Pangeran Brave yang mendengar perkataan pengawal pribadinya itu pun langsung melototinya.
“Lalu? Para tahanan lainnya? Juga tidak ikut penilaian? Mereka semua pasti dah bisa berenang kali! ”
“Tidak Tuanku, mereka semuanya tidak bisa berenang, mereka dari kecil tidak diperbolehkan keluar dari zona mereka, setahu saya mereka tidak pernah tahu apa rasanya berenang.”
“Kenapa tidak boleh keluar dari zona? ”
“Takutnya ada beberapa dari mereka yang akan kabur, Tuanku.”
“Emang apa hukumannya jika ada yang melanggarnya ? ”
“Saya dengar sih, katanya satu keluarga akan dibunuh.”
“Apa ? ??” Pangeran Brave berkata dengan kerasnya.
“Sssttt, Jangan keras-keras, Tuanku.”
“Gak salah? Begitu parahnya sampai-sampai harus melibatkan keluarga.”
Pangeran Brave yang mendengarnya terdiam seketika, dia tidak percaya bahwa peraturan yang dibuat oleh Ayahnya itu bisa begitu sadisnya.
“Mumpung saya hari ini lagi santai, saya ingin melihat penilaian para tahanan tersebut. Boleh kan?”
“Ha? I..i..itu tidak diperbolehkan, Tuanku.”
“Sudah saya duga, kenapa gak diperbolehkan? Apa salahnya jika saya pergi melihat penilaian mereka?” kesal Pangeran Brave.
“Saya hanya mematuhi peraturan dari Istana, Tuanku..Harap Anda maklum.”
“Lagian, penilaiannya sudah lewat, Tuanku. Mereka sudah menjalankannya kemarin.”
“Huh, menyebalkan!” Pangeran Brave langsung pergi meninggalkan pengawal pribadinya sendirian.
“Anda mau ke mana, Tuanku?”
Pengawal pribadinya pun langsung mengikuti Pangeran Brave.
“Memboosaannnkaannnnn….” Pangeran Sam berjalan di luar sambil menggerutu.
“Kenapa sih pelatihan ketiga begitu tak penting, cuiihhh…berenang…Itu gak susah kaliii.”
“Tapi bagi para tahanan lainnya itu tidak gampang, Tuanku.”
“Ng ? Emangnya mereka semua gak bisa berenang?”
“Mereka dari kecil tidak pernah diajarkan berenang, Tuanku.”
“Hmmmm…Kasihan sekali…Oh ya, bagaimana hasil penilaiannya?”
“Saya masih belum dapat informasinya, Tuanku.”
“Tapi yang saya dengar jika ada yang gagal, maka akan dikenakan hukuman, Tuanku.”
“Apa hukumannya ? ”
“Kalau itu sih saya juga kurang tahu, Tuanku.”
“Ah, dasar payah…informasinya gak lengkap gitu.”
“Oh, maaf Tuanku,”
“Jadi pelatihan ke 3 itu seperti apa?”
“Oh maaf Tuanku, saya belum tahu itu,”
“Dari tadi bilang maaf maaf melulu. Tunggu apa lagi, sana cari informasinya,”
“Baik, Tuanku,”
********
“Hei, kawan-kawan…saya dengar mereka yang telah gagal berenang akan dikenakan hukuman hari ini.” Bob memanggil Vesty, Candy dan Serlyne.
“Apa hukumannya? ” Serlyne dengan penasarannya bertanya.
“Oh kalau itu sih saya tidak tahu,” ujar Bob.
“Saya harap hukumannya tidak berat, kasihan mereka.”
“Kita pergi lihat saja.” ujar Candy sambil menarik tangan Vesty mengajaknya keluar.
“Emangnya kamu tahu kapan mereka akan dihukum?” Bob bertanya kepada Candy.
“Kalian gak lihat di ruangan ini cuma kita berempat doang, yang lainnya pasti sudah ke tempat di mana mereka akan dihukum,” ujar Serlyne sambil berjalan keluar.
Vesty yang sudah berjalan keluar langsung teringat akan suatu hal.
( Flashback )
Malam hari pada saat penilaian selesai, Vesty diam-diam tengah malam sendirian pergi ke tepi laut dan dia memanggil The Best. Tak lama kemudian The Best yang mendengar panggilannya pun langsung muncul ke permukaan laut.
“Kamu memanggilku, ada apa, sayangku?”
“Saya merasa tidak tenang, seharusnya saya juga harus ikut dihukum, tapi karena saya dibantu oleh kalian maka saya dikira bisa berenang dan terlepas dari hukuman yang seharusnya saya jalani. Saya merasa seperti pengecut.” Vesty berkata dengan sedihnya.
“Siapa bilang kamu pengecut? Toh bukan kamu yang minta pertolongan ke kami kok, saya yang menawarkan bantuan kepada kamu dan kamu hanya menerima bantuan dari kami, itu saja…itu bukan namanya pengecut.”
“Apakah saya harus mengaku bahwa saya sebenarnya tidak bisa berenang?”
“Tidak bolehhhh!” Tiba-tiba terdengar teriakan dari kejauhan dan itu tak lain adalah Benny.
“Kamu tidak boleh mengakunya.”
“Kenapa?”
“Emangnya kalau kamu mengaku gak bisa berenang, terus kamu mau bilang apa untuk menjelaskan bahwa kamu bisa terapung di permukaan laut bagaikan orang yang bisa berenang! Kamu mau ngomong bahwa lumba-lumbalah yang menopang kamu hingga kamu bisa terapung di atas permukaan laut, gitu ?” ketus Benny.
“Itu sama saja mencelakakan blur, manusia-manusia yang jahat pasti akan menangkapnya.”
“Kamu tega melihat lumba-lumba tersebut menjadi sial karena perbuatan bodohmu itu?”
Vesty yang mendengarkan perkataan Benny langsung mengurungkan niatnya tersebut.
“Heiii,…” Candy memanggil sambil menggoyang-goyangkan pundaknya Vesty.
“Kamu lagi pikirkan apa sih, kami dah beberapa kali berbicara padamu malah gak digubris.”
“O..ohhh…Ta..tadi kepala saya terasa pusing, jadi gak fokus.”
“Coba kalian lihat di sana, ramai sekali.” Bob berkata sambil menunjuk ke arah di mana banyaknya orang yang berkerumunan di sana.
“Ayo, ke sana, saya rasa itu tempat hukuman bagi mereka yang tadi tidak bisa berenang.” Candy berkata sambil berlari ke arah tempat tersebut.
“Hei, apa yang kalian lihat ?” Bob menghampiri dan bertanya kepada salah satu tahanan yang berkerumunan di sana.
“Mereka yang gagal dipanggil masuk ke dalam ruangan sana, saya juga gak tahu hukuman apa yang akan mereka hadapi.” ucapnya.
“Moga saja tidak berat,” ujar Vesty.
Tak lama kemudian, mereka langsung bubar dari kerumunan mereka. Mereka bubar karena salah satu prajurit bertopeng keluar dari ruangan tersebut dan mengusir para tahanan yang berkerumunan di luar tersebut.
“Sana, pergi! Apa yang kalian lihat, bagi siapa yang masih berkerumunan di sini, maka dia juga akan ikut dihukum.”
Para tahanan yang mendengarnya pun langsung membubarkan diri. Pada saat Bob dan teman-teman lainnya juga ikut membubarkan diri, Vesty masih berdiri di sana dengan tatapan matanya yang sayu ditambah perasaan bersalah, dalam hatinya berkata bahwa seharusnya dia juga ikut dihukum karena dia sama sekali tidak bisa berenang. Ketika itu juga, salah satu prajurit bertopeng yang melihat Vesty masih berdiri di sana langsung membentaknya.
“Heii, kamu tuli ya atau kamu memang ingin dihukum?”
“Vesty, kamu ngapain….Ayo cepat pergi!” Serlyne berkata sambil menarik tangan Vesty.
Vesty masih tetap berdiri di sana dengan tatapan matanya yang sangat sedih. Candy dan Bob yang melihatnya langsung menarik paksa Vesty dan meninggalkan tempat tersebut.
“Apa yang sedang kamu lakukan, Vesty.” Candy memarahi Vesty.
“Se..sebenarnya saya…” Vesty dengan emosionalnya berkata.
“Apa?” Bob dan Serlyne dengan penasarannya bertanya.
“Gak…gak ada apa-apa. Mungkin karena tadi kepala saya pusing, lagi tidak enak badan. Maaf, saya ingin sendirian dulu.” Vesty berkata sambil pergi meninggalkan mereka bertiga.
“Entahlah, mungkin saja dia lagi tidak enak badan.” Serlyne juga ikut mengerutkan dahinya.
Candy tidak mengatakan apa-apa, dia hanya terdiam melihat Vesty yang sedang pergi menjauhi mereka, terlihat bayangan punggung Vesty memberikan isyarat bahwa dia sedang terhanyut dalam kesedihan.
“Vesty, vesty…” Terdengar suara kecil mungil yang sedang memanggil Vesty.
Ternyata itu adalah suara dari seekor lebah yang terbang melintasi Vesty.
“Oh, haiii…Bebe….Dah lama tidak lihat kamu.” Vesty menyapanya dengan senyumnya yang terlihat kaku.
“Kamu lagi pikirkan apa Vesty? Dari tadi tatapan matamu kosong gitu.”
“Oh, gak ada apa-apa…Kamu cari saya ada hal apa?”
“Tidak ada hal apa-apa kok, saya hanya ingin bertemu dan ngobrol denganmu saja.”
“Saya merasa saya adalah pecundang.”
“Pecundang? Kenapa kamu bilang seperti itu?”
“Saya membohongi semua orang, saya bohong bahwa saya bisa berenang. Padahal saya sama sekali tidak bisa berenang.”
“Berbohong? Terus bagaimana caranya kamu lulus dalam penilaian tersebut?”
“Saya dibantu oleh seekor lumba-lumba. Dia menopang tubuh saya dari bawah seolah-olah saya bisa berenang.”
“Itu bukan namanya pecundang, anggap saja kamu itu sedang beruntung, tidak usah terlalu memikirkannya, temanku.”
“Saya sudah mencoba untuk tidak memikirkan hal itu, tapi setiap kali saya melihat mereka yang akan menerima hukuman, hati saya merasa tidak nyaman dan sesak. Harusnya saya juga dihukum sama seperti mereka.”
“Kamu beda dengan mereka, Vesty. Kamu tidak boleh terjadi apa-apa, itu sebabnya ada hewan yang memberikan pertolongan kepadamu.”
“Beda? Apa bedanya saya dengan mereka?”
“Saya tanya, emang ada orang yang bisa berbicara dengan hewan? Yang bisa mengerti bahasa hewan apapun dan bisa berkomunikasi dengan hewan apapun?”
“Ada, saya bisa.” Vesty dengan polosnya berkata sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Itu makanya kenapa saya bilang kamu itu beda.”
Tiba-tiba Vesty mendengar suara obrolan dari atas pohon yang tak jauh darinya.
“Ayo, kita ke laut.” Salah satu burung camar yang bertengger di atas pohon berbicara kepada salah satu burung camar lainnya yang terlihat lebih gemuk.
“Ngapain ke sana, saya barusan dari laut, suruh saya balik lagi ke sana? Ogah aahh, capek.” Burung camar gemuk menolak ajakan temannya.
“Kata teman-teman ada beberapa masusia yang sedang melakukan pelatihan renang lagi di laut.”
“Apa enaknya melihat mereka berenang sana berenang sini, sampai di sana hanya mendengar mereka sedang kecipak kecipuk kecipak kecipuk, berisikkkk sekaliii, lebih baik saya santai-santai aja di sini.”
“Ayolah, sungguh membosankan hanya bertengger di sini saja, lagian kalau kita ke laut kan bisa cari ikan lagi, dapat makanan lagi loh…kan kamu doyan makan, ayolahhh!”
“Apanya yang dapat makanan, mereka kecipak kecipuk kecipak kecipuk dah cukup mengagetkan ikan-ikan yang sedang berenang ke permukaan air, mana bisa mendapatkan makanan, huhhh!”
“Ya udah, dari tadi alasannya karena suara kecipak kecipuk kecipak kecipuk melulu, bodoh ahhh…saya pergi sendiri aja.”
“Tunggu sebentarrr!” Vesty memanggil dengan suara yang keras.
“Nggg? Siapa itu?” Burung camar yang gemuk menoleh mencari asal dari suara tersebut.
Vesty pun kemudian melambai-lambaikan tangannya ke arah 2 ekor burung camar yang bertengger di atas pohon tersebut.
“Apa yang mereka bicarakan Vesty, sampai-sampai kamu memanggil mereka begitu keras.” Bebe dengan herannya bertanya kepada Vesty.
“Dia bilang ada manusia yang melakukan pelatihan lagi di laut, saya rasa itu merupakan hukuman bagi mereka, makanya saya ingin tanya lebih jelas lagi.”
“Apa saya salah dengar tadi ? Kayaknya ada yang bilang tunggu sebentar.”
“Iya, saya juga mendengarnya dan manusia yang ada di bawah situ sedang melambai-lambaikan tangannya sambil memandang saya loh.” ujar burung camar yang gemuk tersebut.
“Mungkin saja teman kita yang memanggil pada saat ia terbang melintasi kita.”
“Heiiii, yang panggil kalian itu saya, saya yang bilang tunggu sebentar.”
Setelah mendengar suara Vesty, kedua burung camar tersebut pun saling pandang dengan mata terbelalak.
“Oh my goddd, ada manusia yang bisa mengerti bahasa kita.” Burung camar yang kurus dengan kagetnya berkata.
“Apakah kalian bisa terbang turun ke sini? Ada hal yang ingin saya tanyakan kepada kalian.”
“Untuk apa kami menuruti perkataanmu? Jangan-jangan itu jebakan, kamu ingin menangkap kami kan?” Burung camar kurus dengan curiganya berkata.
“Iya, betul itu. Manusia tidak bisa dipercaya,” ujar burung camar yang gemuk tersebut.
“Oh gak kok…. Saya benar-benar cuma ingin menanyakan sesuatu kepada kalian.” Vesty berkata sambil menaikkan volume suaranya.
“Ya udah, kita begini aja ngomongnya, kenapa mesti harus kami turun ke sana.”
“Kalau kalian gak turun, saya harus pakai teriak ngomongnya, gak nyaman jadinya.”
“Bagaimana kami tahu kamu manusia jahat atau baik?” Burung camar yang kurus masih menaruh curiga ke Vesty.
“Iya, betul itu.” Burung camar yang gemuk ikut mengiyakan perkataan temannya itu.
Tiba-tiba saja sekelompok burung camar beterbangan melintasi kedua burung camar tersebut.
“Bodoh ah, saya harus pergi sekarang. Ehh kamu jangan begitu gampangnya termakan oleh omongan manusia itu ya. Jangan dengarkan perkataannya, tahu!” Burung camar yang kurus menegaskan kembali kepada temannya.
“Iya iya…saya tahu itu..emangnya saya sebodoh itu ya, tenang saja.”
Burung camar yang kurus tersebut pun langsung terbang pergi meninggalkan temannya sendiri di pohon tersebut.
“Heii, kamu yang chubby bolehkah turun ke sini?”
“Siapa yang chubby? Enak saja, ini namanya sehat tahu!” Burung camar yang gemuk tersinggung oleh perkataan Vesty.
“Ok, sorry maksudku sobatku yang sehat turun ke sini dong.”
“Kamu kira saya akan menuruti perkataanmu ? Jangan mimpi kaleeee..”
Tiba-tiba saja Vesty melihat dari kejauhan ada seekor burung elang besar yang terbang mengarah ke pohon di mana burung camar tersebut bertengger.
“Hati-hati, ada elang di belakangmu.” Vesty berteriak sambil menunjuk ke arah di mana elang tersebut berada. Burung camar yang melihatnya langsung sembunyi masuk ke dalam lubang batang pohon dan akhirnya dia selamat dari bahaya tersebut.
“Elang tersebut sudah terbang menjauh, keluarlah!”
Burung camar yang gemuk tersebut menjulurkan kepalanya terlebih dahulu dan menerawang sekitarnya, setelah dia merasa aman, barulah dia keluar dari lubang pohon tersebut.
“Kamu menyelamatkan nyawaku, terima kasih.” ujarnya dengan matanya yang berbinar.
“Iya, saya telah menyelamatkan nyawamu, tapi dengan ucapan terima kasih saja gak cukup bagiku.”
“Jadi apa maumu?”
Vesty pun langsung menggunakan jari telunjuknya untuk menyuruhnya terbang ke arahnya dengan tersenyum nakal.
“Ok..ok baiklah, saya turun sekarang,” ujar burung camar tersebut dan terbang turun ke arah Vesty berada.
“Jika ada seseorang yang dibantu oleh seseorang, maka orang yang ditolong tersebut harus melakukan apa?”
“Bilang terima kasih dan saya sudah mengucapkannya tadi,” ujar burung camar gemuk tersebut dengan polosnya.
“Itu kalau saya tanya mengucapkan apa…saya bilang harus “melakukan” apa, bukan “mengucapkan” apa,” ujar Vesty.
Setelah mendengar perkataan Vesty, burung camar tersebut langsung terbang ke suatu tempat.
“Heii, mau ke mana kamu?” teriak Vesty.
“Saya rasa dia kabur Vesty,” ujar Bebe.
Tak lama kemudian burung camar tersebut balik lagi sambil membawakan seekor ikan segar di paruhnya.
“Apa ini?” tanya Vesty keheranan.
“Ini ikan, masa kamu gak tahu, gak pernah lihat ikan ya!”
“Saya tahu itu ikan, maksudku untuk apa kamu memberikanku seekor ikan ?”
“Sebagai tanda terima kasih, kan kamu tanya harus “melakukan” apa kan? Saya hanyalah seekor burung camar, cuma inilah yang bisa saya lakukan untukmu,”
“Yang saya butuhkan adalah balas budimu kepada saya, bukan ikan ini,” keluh Vesty.
“Ya iya, beginilah caranya saya membalas budimu,” ujarnya dengan polos.
“Saya gak mau ikan, saya mau kamu melakukan satu hal untukku,” tegas Vesty.
“Oh, gak mau ikan toh. Ya udah !” ujar burung camar yang langsung menelan ikan yang dibawanya tadi.
“Apa yang harus saya lakukan untukmu ?” ujar burung camar tersebut.
Vesty pun langsung tersenyum kecil setelah mendengar perkataan burung camar tersebut. Vesty pun langsung memberitahukan hal apa yang harus burung camar tersebut lakukan. Setelah itu, burung camar tersebut pun langsung terbang meninggalkan Vesty.
“Vesty, kenapa kamu tiba-tiba memanggil burung gendut itu ke sini? Emangnya apa yang mereka berdua katakan tadi di atas pohon?” Bebe dengan penasarannya bertanya kepada Vesty.
***** Bersambung ****