Cupu Fake

Cupu Fake
9,puncak part 1



Dinda POV


Waktu telah menunjukkan pukul 02:30 sementara aku masih mempersiapkan barang-barang untuk pergi ke puncak, kalian tau kan kalau jadi perempuan itu harus banyak banget barang-barang yang di bawanya, walaupun itu hanya menginap satu malam saja.


Saat aku sibuk membereskan baju dan barang yang lainnya kedalam ransel tiba-tiba kak Lintang masuk ke kamar dengan tiba-tiba.


"Din buruan napa! " titah nya sambil berdiri di ambang pintu.


"Bentar napa sih, " sinis ku,aku heran ni kakak yang satu gak tau sopan santun banget masuk ke kamar tanpa izin.


"Ya udah buruan, udah di tunggu tuh di bawah, oh iya tadi juga kakak udah ijin sama mamah, " balas Kak Lintang sambil meninggalkan kamar.


Aku telah selesai membereskan barang-barang, aku segera turun dari kamar menuju ke tempat yang kak Lintang maksud, aku hanya menggunakan baju kaos berwarna putih lengan panjang dan untuk bawahan nya aku menggunakan celana jeans, aku pikir tidak perlu berpakaian yang mewah.


Setelah aku keluar rumah ternyata benar saja di sana sudah ada kak Lintang, kak Daniel, Rian, Bastian, Sherly dan juga seorang wanita yang tak aku kenal, namun kini wanita itu tengah mengobrol dengan kak Lintang dari cara mereka mengobrol nya seperti nya mereka lumayan dekat.


Aku di kaget kan oleh Sherly yang kini sudah ada di hadapan ku, sambil menatap kak Lintang juga.


"Din lu satu mobil ama siapa? " tanya Sherly yang berhasil mengagetkan ku.


Aku beralih menatap Sherly, "sama kak Lintang," balas ku yang kembali melirik ke arah kak Lintang yang masih mengobrol sambil tertawa kecil.


"Din kamu kenal ama dia? " tunjuk Sherly menggunakan matanya.


"Gak" jawab ku sambil menggeleng dan menatap Sherly.


"Dia itu temen satu kelas kak Daniel yang katanya suka sama kak Lintang, terus dia di ajak ikut ke puncak sama kak Bastian, soalnya mereka sepupuan namanya Rere, " jelas Sherly yang juga tidak melepas tatapannya ke arah mereka berdua.


Aku pun ber oh ria, dan berjalan menuju tempat kak Lintang dan wanita itu, mereka masih asik saja mengobrol.


"Kak berangkat yuk," tanpa memperdulikan Jawab kak Lintang aku langsung saja masuk ke dalam mobilnya sambil mengajak Sherly untuk masuk, aku dan Sherly duduk di bangku belakang sedangkan di depan kak Lintang bersama si Rere itu.


Sementara di mobil kak Daniel di tempati oleh Rian dan juga Bastian, di perjalanan aku tak tau kenapa rasanya ada yang aneh dari diri Rere ini, namun ya sudah lah aku tidak peduli, aku berbalik menatap keluar jendela memperhatikan mobil yang berlalu lalang.


Setelah perjalanan yang cukup jauh akhirnya sampailah kita di bogor di villa tante Tiara, kami semua turun dari mobil, dan menghirup aroma yang sangat sejuk berbeda dengan di jakarta yang penuh dengan asap kendaraan.


Kami pun langsung melihat-lihat ke sekeliling villa, tempat nya luas, nyaman, indah, dan juga sejuk. Setelah selesai melihat-lihat kami semua pun masuk ke dalam villanya.


Lalu aku mengajak Sherly untuk ke kamar yang akan aku tempati nanti, setelah berada di kamar itu aku dan Sherly langsung membereskan tempat tidur nya dan juga menaruh ransel sambil membuka isi ranselku dan membereskannya juga.


Jujur yah sedari tadi aku sama sekali tidak mengobrol dengan kak Lintang, yah kalau gak ngomong nya sama kak Daniel sih itu wajar yah kan dia itu pendiem, tapi kan kalau kak Lintang. Ah sudahlah itu tidak penting.


"Din si Rere tidur di sini yah soal nya kalau sendiri katanya takut? " lagi-lagi kak Lintang masuk tanpa izin, dan tanpa mengetuk pintu, membuat ku kaget dan kesal saja.


"Ok, " jawab ku malas, Rere menghampiri ku, sementara kak Lintang ia langsung bergegas pergi.


"Hai, kenalin nama gue Rere, " ucapnya sambil tersenyum dan menyodorkan tangan nya ke arah ku.


"Gue Dinda," aku membalas uluran tangannya, lalu aku sempat menatapnya sekilas, sebelum akhirnya kembali melanjutkan aktivitas ku, yah sejujurnya aku malas satu kamar dengannya, sepertinya wanita ini tak sebaik yang kak Lintang kira.


Waktu telah menunjukkan pukul 05;30 aku dan Sherly yang telah selesai membereskan kamar pun langsung mencari keberadaan yang lainnya, ternyata mereka tengah berada di luar seperti nya mereka tengah menikmati senja.


Aku dan Sherly langsung menghampiri mereka, di susul oleh Rere, setelah sampai di sana aku langsung mendudukkan Sherly tepat di samping kak Daniel, lalu aku duduk di samping Sherly sementara Rere ia terus saja menguntit kak Lintang.


"Udah selesai beres beresnya? " tanya kak Daniel pada Sherly.


"U-udah k-kok kak, " balas Sherly dengan gugup, itu benar-benar membuatku tidak tahan untuk tersenyum.


Kak Daniel kembali menatap langit yang sudah hampir gelap.


Saat aku tak sengaja melirik Bastian ternyata ia juga tengah menatapku sambil tersenyum, aku kembali memalingkan pandangan ku ke arah langit karena malu, siang telah berganti menjadi malam, sinar matahari telah tergantikan oleh sinar bulan.


"Hey nanti malam kita buat acara bakar-bakar sama api unggun kecil kecilan yuk? " usul kak Lintang kini kami semua menatapnya, dan menyetujui usulannya.


"Ok karena kalian setuju, gue bakal susun siapa siapa yang nyiapin ini sama itu, biar cepet beresnya, Bas lu sama si Dinda yang manggang sosis sama BBQ yah-" saat kak Lintang akan meneruskan ucapannya aku langsung memotongnya.


"Gak, gue gak mau sama dia ihh, " ucap ku tak setuju sambil menunjuk Bastian, entah kenapa yah bawaannya tuh kesel aja kalau deket sama dia.


"Gak bisa di ganggu gugat, " kekeh kak Lintang, sambil menatapku tajam.


akhirnya aku pasrah, terserah kak Lintang saja lah.


"Terus gue sama Rian biar yang nyari ranting-ranting, terus sisanya kalian di sini bikinin minumannya, " sambung kak Lintang.


Aku tengah kesal dengan keputusan kak Lintang, bagaimana tidak coba, masa aku harus sama si Bastian sih.


Setelah perencanaan itu selesai akhirnya mereka bersiap pada tugasnya masing-masing, walaupun aku tidak mau tapi bagaimana lagi. Aku tengah menyiapkan barang-barang yang akan aku gunakan bersama Bastian.


Sementara yang lain sibuk dengan tugasnya masing-masing.


"Din," panggil Bastian.


"Hm, "ucap ku singkat, aku benar-benar malas bicara padanya.


"Din," panggil lagi.


"Apaan sih? ganggu aja, " ucap ku sambil berbalik menatapnya tajam, namun saat aku berbalik menatapnya ternyata jarak kita sangat dekat bahkan hembusan nafas nya aku bisa merasakan, kita bertatapan kira-kira 10 detik setelah aku sadar aku kembali berbalik dan membakar sosis nya.


Namun entah kenapa kini jantung ku terasa berdetak sangat kencang entah kenapa aku juga tidak tau.


"Din ternyata kalau di lihat dari jarak sedekat itu lu makin cantik aja, " bisik Bastian tepat di telinga ku.


aku tak tau harus menjawab apa, entah mengapa tiba-tiba mulut ku terasa terkunci begitu saja, aku tak memperdulikan ucapannya aku masih fokus dengan apa yang aku bakar saat ini, tapi kenapa aku merasa bahagia ketika ia bilang kalau aku cantik.


"Din jangan galak napa. "


"Adinda kenapa sih diem aja?"


"Din nanti gue jadi juragan kacang loh, lu kacangin mulu mh."


Sumpah yah ni anak bawel amat , bikin gue naek pita aja.


"Lu bisa diem gak! " sinis ku sambil tetap fokus membulak balikan sosis dan BBQ.


"Gak."


"Dasar nyebelin, "gumam ku pelan.