
Selamat membaca😍😘
Diana dengan perlahan-lahan membuka matanya, namun ia di buat terkejut dengan sosok yang kini ada di samping nya membuat ia melihat ke sekeliling ruangan itu.
"Aku belum mati kan, " tanya Dinda bingung, ia tidak percaya dengan sosok yang ada di sampingnya.
Bastian tersenyum manis menatap Dinda dengan ekspresi yang menurut Bastian lucu.
"Emang kamu kenapa sampai harus mati hari ini? aku kan belum nepatin janji aku, " balas Bastian sambil memegang pipi Dinda.
"Ini beneran?" tanya Dinda sambil menatap ke arah kakaknya dan teman temannya.
Mereka semua pun mengangguk, membuat Dinda kembali berbalik ke arah Bastian, tanpa sadar ia menjatuhkan air mata bahagia nya.
Bastian langsung memeluk tubuh mungil Dinda, yang di balas juga oleh Dinda dengan erat.
Setelah puas berpelukan Dinda melepaskan pelukannya, dengan masih mengeluarkan air matanya.
"Kamu kemana aja? hampir aja aku mau menyerah, " lirih Dinda sambil menunduk dan memainkan jarinya.
Tangan Dinda di pegang oleh Bastian, membuat Dinda mendongkrak menatap Bastian, menatap Bastian seakan meminta penjelasan pada nya.
Daniel, Sherly, Lintang dan juga Della keluar dari ruang tersebut memberi mereka waktu berdua, mereka berempat menunggu di kursi tunggu.
Sementara itu Dinda kini terus menatap Bastian, sementara Bastian menjelaskan apa yang sebenarnya nya terjadi, setelah selesai menjelaskan nya, Dinda pun mengerti dan meminta maaf pada Bastian.
Untuk semua pikiran negatif nya dulu tentang Bastian.
"Sudahlah jangan memikirkan apa yang sudah terjadi, aku sudah berada di samping mu, dan aku juga berniat untuk menikahimu secepatnya, " ucap Bastian sambil menghapus air mata Dinda.
Dinda tersenyum menatap Bastian yang seperti nya begitu serius padanya, akhirnya penantian ia selama 5 tahun ini tidak mengecewakan.
___________
Satu minggu kemudian Dinda sudah pulang dari rumah sakit, semua orang tengah sibuk menyiapkan acara pertunangan antara Bastian dan juga Dinda yang akan di adakan nanti malam.
Sementara Dinda, Bastian, Daniel, Sherly, Lintang, Della, Rian, dan juga Maya, mereka tengah berada di halaman rumah Dinda, mereka tengah melepas rindu satu sama lainnya, akhir-akhir ini mereka juga jarang kumpul.
"Gue gak nyangka adik gue udah mau tunangan aja, " cerocos Lintang sambil merangkul Dinda.
"Apaan sih kak lepasin, sekarang tuh kakak udah punya kak Della, aku juga sebentar lagi udah resmi jadi tunangan dokter tampan, " canda Dinda sambil melepas tangan Lintang di bahunya.
Membuat Lintang langsung menarik bahu Della, lalu ia rangkul Della dan menatap Dinda sinis.
"Apaan sih kamu?" ucap Della yang seperti nya malu dengan tingkah ke kanak-kanakan nya Lintang.
"Idih, kenapa marah? " ucap Lintang sambil menatap tajam Della, yang hanya di balas gelengan oleh Della.
"Sabar aja yah Kak, kakak aku emang kayak gitu dari lahir, " ucap Dinda sambil tersenyum puas.
"Ah gue juga gak nyangka sekarang lu udah mau tunangan aja, " sinis Daniel.
"Makannya kalau udah punya calon itu, langsung di pepet kalau keduluan sama orang lain gimana? " balas Bastian menakut-nakuti Daniel.
"Biarin, emang bisa gitu pacar gue berpaling dari gue yang tampan ini, " sombong Daniel, sambil merangkul Sherly.
"Anak-anak, ini tante bawakan makanan sama minuman, " ucap Adisty yang datang menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi makanan dan juga minuman.
Membuat semua orang yang sedang debat, mendongkrak melihat Adisty.
"Tante tau aja kalau kita lapar, " ucap Rian sambil membatu menurunkan makanan dari nampan yang di bawa Adisty.
"Ya iya dong, tante kan bisa meramal, " canda Adisty, yang membuat semua orang tersenyum mendengar ucapan Adisty.
"Ya sudah, makan yang banyak, tante mau masuk dulu, masih banyak kerjaan tante, " ucap Adisty sambil masuk meninggalkan mereka.
"Iya tante, " ucap mereka serentak, sambil langsung memburu makanan yang Adisty berikan.
"Ah enak nih, " ucap Rian yang masih mengunyah makanan nya.
"Abisin dulu kali nanti keselek, " ucap Maya.
"Kalau udah urusan makanan aja nomor satu," sindir Lintang.
"Biarin, " balas Rian yang masih dengan semangat memakan, makanan ringan yang di berikan Adisty.
"Jangan lupa yah nanti malam kalian datang, " ucap Dinda sedikit mengancam.
"Iya tuan putri, " ucap Sherly sambil tersenyum.
"Bagus deh, " balas Dinda sambil mengambil minum dan meminumnya sampai tandas.
"Kayak orang yang gak di kasih minum satu bulan aja lu, " sindir Lintang yang melihat Dinda minum.
"Gue gugup tau gak, " jujur Dinda.
"Ya ampun, baru aja mau tunangan udah gugup aja, " ledek Daniel.
"Yeh biarpun cuman tunangan itu sama aja bikin gue gugup, " ketus Dinda.
"Tenang dong sayang, waktunya masih beberapa jam lagi kok, kamu juga tenang aja kan ada aku di samping kamu, " ucap Bastian yang mencoba menenangkan Dinda, sambil menaruh kepala gadisnya itu di dadanya.
"Tapi tetep aja yang aku gugup, " balas Dinda sambil menatap ke atas ke arah muka Bastian.
"Tenang aja, kita ada juga di samping kamu, kita akan nemenin kamu, " ucap Della yang juga mencoba membuat dinda tidak gugup.
Dinda berbalik menatap Della, sambil tersenyum.
"Iya, lagian lebay amat, " ledek Rian, sambil masih asik makan.
"Udah ah, " ucap Sherly.
Akhirnya sebentar lagi hari yang sudah di tunggu Dinda selama lima tahun akan segera terwujud, membuat semua pengorbanan nya terbalaskan, ia sebenarnya masih tidak percaya dengan semua ini.
Ia tidak menyangka akan bertunangan dengan Bastian, apalagi jarak mereka menikah dari pertunangan nya itu hanya satu bulan.
Mereka sudah tidak mau memperlama hari bahagia, jadi mereka memutuskan untuk menikah setelah satu bulan bertunangan, itu juga tepat di hari ulang tahun Dinda.
Kini Dinda benar-benar tidak bisa menjelaskan seberapa bahagia nya ia pokoknya sangat bahagia, hari ini. Seperti hatinya tengah melayang layang di udara.