
Senin pagi pukul 6 pas, di sekolah Arwana masih sepi karena masuk sekolah itu pukul 7, dan di sana hanya ada beberapa siswa/siswi yang sudah datang.
Dan ternyata Dinda sudah berada di kelasnya, dengan beberapa orang lainnya, namun sepertinya Sherly belum datang, membuat Dinda berdiam sendiri di bangku, ia menyenderkan tubuh nya ke senderan kursi sambil menatap kosong ke atap.
"Din" teriak Sherly yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Ya ampun kaget gue, " kaget Dinda yang refleks membuat dia duduk dengan tegap.
"Kelapangan yuk mau upacara tuh, "ajak Sherly yang di jawab anggukan oleh Dinda.
Mereka berdua pun berjalan kelapangan upacara untuk mengikuti upacara bendera yang selalu di adakan setiap hari senin.
Setelah selesai mengikuti upacara, merekapun di persilahkan untuk menuju ke kelas nya masing-masing, dan tadi saat upacara ada pengumuman, kalau hari ini jam di kosongkan karena guru ada rapat, memang akhir-akhir ini sering sekali ada rapat, soalnya di sekolah Arwana akan di adakan acara untuk memperingati ulang tahun sekolah, kayak manusia aja ulang taun biarin lah yah suka-suka kepala sekolahnya dah.
Dan acara itu akan di laksanakan pada hari Kamis depan.
"Din kantin yuk? " ajak Sherly.
"Gk ah males kalau mau ke kantin sendiri aja yah, " balas Dinda yang langsung menundukkan kepalanya ke atas meja dan tangan yang ia jadikan bantalan Kepala nya.
"Ya udah gue ke kantin, " Sherly langsung pergi meninggalkan Dinda.
Entah kenapa hari ini rasanya Dinda merasa malas untuk kemana-mana, ia hanya ingin berdiam diri saja, namun tiba-tiba suasana di kelas mendadak hening, sampai membuat Dinda keheranan soalnya tadi itu kelas sangat ramai.
Namun saat Dinda akan mengangkat kan kepalanya ia di kaget kan oleh seseorang yang menggebrak meja nya dengan keras.
Dan membuat Dinda refleks menatap ke empat wanita yang kini berada di hadapannya, dengan tatapan horor.
"Ngapain lu natap kita kaya gitu? kaget lu? " ucap salah satu wanita, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda.
Sedangkan Dinda hanya bisa terdiam, dan ternyata di antara ke empat orang itu salah satunya adalah Rere.
"Ikut gue! " Rere menarik paksa tangan Dinda untuk mengikuti nya, sementara yang ada di sana hanya bisa menonton kejadian itu karena mereka takut untuk menolong Dinda, soalnya ke empat orang itu adalah geng yang terkenal sering membully orang lain.
Ketua di geng itu adalah Della, sedangkan yang lainnya bernama Rere, Maya dan Linna.
Mereka membawa Dinda ke gudang sekolah, tempat yang sepi.
Mereka melepaskan tangan Dinda sambil mendorongnya ke tembok, Dinda pun meringis kesakitan sambil memegang tangannya.
"Bagus yah kita berempat berusaha keras ngejar Daniel dan teman temannya selama dua taun, sedangkan lu cewek cupu bisa sedekat itu sama mereka hanya dalam waktu beberapa hari aja, " bentak Della sambil mengangkat dagu Dinda dengan keras.
"Lu tau gak? kita udah berusaha dengan keras, sedangkan lu dengan mudahnya deketin mereka, " sinis Della sembari melepaskan tangan yang ada di dagu Dinda dengan kasar, sambil tersenyum sinis.
Dinda sudah tak bisa menahan lagi air matanya, ia menangis bukan karena sedih dirinya di hina melainkan seluruh tubuhnya kini sakit.
"Ngomong napa bisu luh? "bentak Rere sambil mengguyurkan sebotol air ke tubuh Dinda yang tengah duduk sambil menunduk.
"Lu tau gak gue berusaha keras deketin Daniel, namun ternyata nihil, dan akhirnya gue menyerah mendekati Daniel, dan gue berpindah deketin lintang, dan ternyata dia mudah juga gue luluhin hatinya, tapi gue liat lu suka satu mobil sama lintang, jadi gue gak bisa tinggal diam, " sambung Rere.
"Lu punya kaca gak? lu itu gak pantes buat mereka ngerti, nih gue kasih kaca buat lu, " balas Della sambil melemparkan kaca ke depan Dinda.
Sedangkan Dinda tengah menahan amarahnya yang sudah naik pita.
"Dengerin gue yah anak cupu! jangan berani-berani deketin mereka, kita berempat udah susah payah deketin mereka, lu tau gak kalau kita bisa deketin mereka hidup kita itu terjamin tau gak, udah pada ganteng, populer banyak duit lagi, kita gak bakal ngelepasin mereka ingat, " ancam Rere sambil tersenyum kemenangan.
"Udah lah kalian itu jangan terlalu keterlaluan ama dia kasian udah kedinginan kayanya, " ucap Maya yang tidak tega melihat Dinda yang sudah menggigil ke dinginan.
"Apaan sih lu? " sinis Della yang tidak suka dengan ucapan Maya.
"Iya apa yang dikatain si Maya ada benernya juga tau, " balas Linna.
"Kalian sebenarnya berada di pihak siapa sih?" sinis Rere yang kini menatap Maya dan Linna.
"Bukan kaya gitu maksud kita, kita cuman kasihan aja, "
Sementara di sisi lain Sherly dan Bastian tengah kebingungan mencari Dinda, sedang kan Lintang, Rian, dan Daniel tengah bermain basket, dan seperti nya Sherly dan Bastian tidak ingin mengganggu mereka.
Dan mereka ingat kalau Della selalu membawa mangsanya ke gudang sekolah, akhirnya mereka bergegas berlarian ke gudang sekolah.
Saat mereka sampai di gudang sekolah ternyata benar saja Della dan yang lainnya tengah berada di sana dengan keadaan Dinda yang terduduk dan basah.
Bastian berlari ke arah Dinda dan membantu Dinda untuk berdiri, Bastian berbalik menatap ke arah ke empat wanita yang tadi dengan tatapan yang sangat tajam, rahangnya mulai menegas dan tatapan mata hazel nya yang membuat ke empat wanita itu ketakutan.
Sedangkan Sherly tengah memeluk erat Dinda.
"Ngapain lu?" teriak Bastian, yang membuat ke empat wanita itu kaget.
"Ngomong dong lu apain dia? bisu lu semua?" Bastian pun kembali berteriak.
Rere mencoba mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk menjawab ucapan Bastian.
"Se istimewa apa sih dia buat lu? " sambung Rere.
Sebelum menjawab ucapan Rere Bastian tersenyum namun itu bukan lagi senyum manis yang biasa ia tampilkan, tapi melainkan ia malah tersenyum yang membuat keempatnya merinding ketakutan.
"Awalnya gue emang gak tau se istimewa apa dia, tapi gue juga penasaran kenapa Daniel dan Lintang bisa sepeduli itu ama dia, akhirnya gue cari tau itu, ternyata emang dia sangat istimewa," balas Bastian.
Namun Dinda yang mendengar ucapan itu, tanpa sadar tersenyum ia merasa ucapan Bastian itu membuat dirinya sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Gue ingetin lagi ama kalian semua berani kalian ganggu dia lu berurusan ama gue, " bentak Bastian membuat keempatnya berlari keluar gudang sambil berdecak kesal.
Bastian berbalik menatap Dinda yang matanya sudah sembab lalu ia menghampiri nya dan memberikan jaketnya ke Dinda, Bastian merangkul Dinda, ia membawa Dinda keluar dari sana di ikuti oleh Sherly yang juga keluar dari sana.
Saat mereka melewati koridor banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, dengan berbagai tanggapan, begitu pula dengan yang sedang bermain basket di lapangan dan saat Daniel Lintang, dan Rian melihatnya mereka langsung berlari menghampiri Dinda, Sherly dan Bastian yang seperti nya menuju ke kantin sekolah.
Setelah sampai di kantin Bastian mendudukkan Dinda, di samping Sherly.
"Bentar yah gue ambilin minum, lu pasti haus abis nangis, " Bastian pergi menuju ke penjaga kantin untuk membeli minuman.
Dinda sudah semakin tenang, namun saat Bastian merangkul nya entah apa yang ia rasakan seperti ada sesuatu yang aneh di hatinya, dan kini jantung nya kembali berdetak sangat kencang karena perlakuan manis bastian padanya.
"Din kenapa bisa kaya gini sih? " tanya Sherly yang sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ternyata gue tau sekarang, siapa si Rere dan teman temannya itu, " balas Dinda dengan suara agak serak karena habis nangis.
"Emang nya siapa? "
"Ternyata mereka ngedeketin kakak kakak gue itu hanya karena mereka pengen uangnya doang. "
"Yang bener luh? " Sherly pun keheranan mendengar ucapan Dinda.
"Terus kenapa lu gak lawan mereka bukannya lu kan jago silat, udah punya sabuk hitam lagi"
"Sabuk hitam pala lu peang, silat aja gak bisa gimana mau punya sabuk hitam. "
"Dinda lu kenapa? lu di jahatin lagi sama si Bastian, mana orang nya biar gue abisin tu anak, " ketus Lintang yang baru datang, di ikuti oleh Daniel dan Rian, yah walaupun kak Daniel terlihat santai, tapi seperti nya ia tetap khawatir pada Dinda.
Bastian yang baru datang sambil membawa dua botol air mineral langsung di hadang oleh Lintang.
"Lu apain lagi dia? " sinis Lintang sambil memegang kerah Bastian.
"Apaan sih lu kampret bukan gue? " b astian pun langsung melepas paksa tangan Lintang dan langsung memberikan dua botol minuman itu pada Dinda dan Sherly.
"Minum tuh! "
Sherly dan Dinda pun mengangguk perlahan.
"Terus kalau bukan lu siapa? " tanya Rian.
Namun saat Bastian akan membuka mulutnya ia di tahan oleh Dinda.
"Pokoknya bukan kak Bastian," balas Dinda sebelum minum.
"Terus siapa? " tanya Rian penasaran.
"Nanti juga kalian tau kok, tapi nanti kalau udah waktu nya. "
"Ih nyebelin deh, tapi lu gak papa kan Din? " khawatir Lintang.
"Aku gak papa kok kak. "
"Lu mau pulang? " akhirnya Daniel mengeluarkan suaranya.
"Enggak ah. "
"Tapi itu lu basah nanti masuk angin, " balas Daniel dengan lembut membuat semua yang berada di sana kaget, namun tidak dengan Sherly dan Lintang karena ia tau kalau itu adalah rasa sayang antara adik dan kakak.
"Sejak kapan lu peduli ama orang Nil? " tanya Rian yang juga keheranan, sambil menepuk pundak Daniel.
"Sejak barusan, " sinis Daniel.
"Ya udah aku pulang deh tapi aku gak mau sama kak Daniel mau nya sama kak Bastian boleh kan ?" mohon Dinda pada Bastian.
"Yuk" Bastian langsung menarik tangan Dinda dan berjalan tanpa berpamitan pada yang lain nya.
Mereka hanya bisa menggeleng kan kepalanya.
Entah mengapa rasanya b astian selalu tenang jika di dekat Dinda ia bahkan suka lupa sama masalah yang tengah ia hadapi jika di dekat nya, ia juga berpikir mungkin Lintang dan Daniel pun merasakan hal yang sama makannya Dinda sangat spesial bagi mereka.