Cupu Fake

Cupu Fake
25,di culik



Author POV


Bastian sudah berada di rumahnya, dengan kesal ia memasuki rumah, saat sudah sampai di ruang keluarga Bastian pun melihat hal yang membuat nya semakin naik darah, iya melihat ayahnya yang tengah asik nonton TV sendirian.


"Udah pulang?" tanya ayahnya Bastian, mencoba berinteraksi dengan anaknya ini.


Tanpa menjawab ucapan ayahnya, Bastian langsung saja pergi menuju ke kamarnya, dan menutup pintu dengan kasar.


Ia membanting kan tubuhnya ke atas kasur, dan mengacak-acak rambut, ia merasa gagal menjaga Dinda.


"Ahhhggggg kenapa sih? kenapa tadi gak ada gue aja coba? kenapa tadi si Adit sialan harus datang pas gue gak ada? " kesal Bastian.


"Dia ngomong apa coba sama si Dinda awas aja kalau gue ketemu sama dia gue abisin tu anak, " teriak Bastian.


Sementara itu Dinda sekarang sedang mengurung diri di kamar, di kamar ia terus memikirkan ancaman dan maksud dari perkataan Adit.


"Dek lu kenapa sih dek?" Lintang pun datang dan mengetuk pintu kamar Dinda.


"Gak gue gak papa kok kak, " jawab Dinda menyembunyikan kepanikan nya.


"Gue tau kok lu lagi gak baik-baik aja, apa jangan-jangan Bastian nyakitin lu yah? dia selingkuh? apa dia tadi marahin loh? mukulin lo apa? apa dia ninggalin lo gitu? " tanya Lintang panjang.


"Apaan sih kak? ini gak ada hubungannya yah sama Bastian," balas Dinda kesal, ia kesal kalau kakaknya ini banyak tanya sekali.


"Ta terus kenapa? " ucap Lintang yang khawatir pada Dinda.


"Ya udah deh masuk, " tegas Dinda.


"Eh ****, gimana gue masuknya coba?" kesal Lintang.


"Ya kakak tinggal buka pintunya doang, perlu di ajarin cara buka pintu, " ujar Dinda


"Eh enak aja. Gue kalau ni pintu gak di kunci gue udah masuk dari tadi, emang kalau gue masuk kamar suka izin kan kagak. "


"Oh iya gue lupa di kunci ya kak, " Dinda turun dari kasur nya dan membukakan pintu untuk Lintang.


"Kalau ni pintu gak di kunci, gue udah masuk dari tadi juga bege. "


Setelah Lintang masuk ke kamar Dinda, akhirnya Dinda menceritakan apa yang yang sebenarnya terjadi, Lintang kaget dengan apa yang ia dengar, Dinda juga meminta Lintang untuk tidak bicara pada siapapun.


**********


Hari sudah pagi, matahari sudah masuk ke dalam lubang-lubang kecil jendela kamar Dinda, membuat mata nya terbuka karena silau.


Dinda bangun sambil merentangkan tangannya, dengan senyuman ia memulai pagi ini, setelah itu ia pergi ke kamar mandi untuk mandi dan karena ini hari libur jadi Dinda berniat untuk joging menurut nya berat badan Dinda naik.


Setelah ia selesai mandi ia langsung turun ke meja makan dan mengambil air minum yang sudah di sediakan.


"Mah aku pergi joging dulu yah? " izin Dinda sambil pergi.


"Iya hati-hati yah sayang, " balas Adisty sambil melambaikan tangannya pada anak perempuan nya itu.


Dinda tengah berlari kecil menuju taman, namun entah kenapa kali ini Dinda malah berjalan pada jalan yang lain untuk menuju taman, jalan itu lumayan sepi, dengan cucuran keringat ia terus berjalan sambil mendengarkan musik di headset nya.


"Hay cantik, " goda seorang Preman yang kini mendekati Dinda.


Tubuh Dinda mulai bergetar, mukanya mulai pucat suhu tubuhnya pun mulai mendingin karena ketakutan, ia menundukkan kepalanya, ia tau kalau yang di hadapannya ini bukan tandingannya.


Ia di kepung oleh 6 orang lebih, dengan perawakan yang besar-besar.


Ia menyesal kenapa ia mengambil jalan ini, padahal jalan ini memang di kenal akan para premannya.


"Jangan diem aja dong sayang, " goda pria itu sambil tertawa puas.


"K-kalian m-mau n-ngapain? " ucap Dinda ketakutan sambil tetap menundukkan pandangannya.


"Tangkap dia, " perintah preman itu.


Para preman yang lain pun menangkap Dinda, Dinda pun tak segan mengeluarkan kemampuan nya namun naas, saat Dinda hampir mau berhasil kabur, ia malah di pukul dari belakang dengan menggunakan kayu.


Membuat Dinda kehilangan kesadarannya,


Dinda di masukan kedalam mobil.


Setelah Dinda masuk ke dalam mobil dan mobil itu pun sudah di hidupkan, ia mendapatkan kembali kesadaran nya, dengan rasa sakit yang luar biasa di kepala nya.


"Kenapa kalian culik aku? apa salah aku sama kalian coba? , " lirih Dinda sambil terus menangis karena menahan rasa pusing di kepalanya.


"Lu emang gak punya salah ama kita? tapi mungkin bos kita punya, " jawab salah satu preman.


"Tolong, tolong, " teriak Dinda, berharap akan ada orang yang mendengar dan menolong nya.


"Lo bisa diem gak? berisik tau, percuma lo teriak-teriak gak bakalan ada yang dengan juga, " bentak seorang preman yang ada di sebelah Dinda.


Dinda hanya bisa menangis di dalam mobil, dan berharap semoga Tuhan menolong nya.


Sementara itu di rumah Dinda tidak ada yang tau kalau Dinda di culik.


Lintang baru saja bangun dan langsung turun dari kamarnya menuju meja makan.


"Mah, pah, si Dinda kemana? aku cari di kamarnya kok gak ada, " tanya Lintang sambil duduk di kursi, dan mengambil sepotong roti.


"Biasa dia barusan katanya mau joging, " balas Adisty.


Lintang pun ber oh ria sambil terus memakan roti, lalu sekarang Daniel yang turun dari tangga dan langsung menuju kursinya.


"Cie yang semalam dinner, " goda Lintang sambil tertawa geli.


"Apaan sih loh? " dingin Daniel iapun sekarang mengambil satu potong roti dan langsung memakannya.


"Mah si Dinda kok gak di angkat aku telpon?" tanya Daniel.


"Palingan juga dia ke asik kan joging nya, sampai lupa waktu, " santai Adisty.


Daniel pun menganggukkan kepalanya sambil terus memakan roti, namun entah kenapa hatinya benar-benar sedang tidak tenang, pikirannya selalu tertuju pada Dinda.