Cupu Fake

Cupu Fake
23,kencan pertama



Hari sudah malam, langit sudah berganti menjadi gelap namun langit malam ini terlihat begitu indah, bagaimana tidak di langit yang gelap ini begitu banyak bintang-bintang yang berserakan di tambah ada bulan yang begitu bulat sempurna menemani para bintang nya.


Seakan-akan suasana malam ini ikut berbahagia karena sekarang adalah kencan pertama Dinda dan bastian sebagai sepasang kekasih, begitu juga dengan Sherly dan Daniel.


Dinda sudah siap dengan dress hitam pendek nya, rambut yang ia biarkan tergerai, ia juga memakai make up yang natural, ia hanya menggunakan lipbalm dan juga bedak saja.


Dinda sudah berada di luar rumah menunggu kedatangan Bastian, tak perlu lama menunggu akhirnya Bastian sampai.


Dinda menghampiri Bastian yang sudah menunggunya di depan mobil.


"Silahkan masuk tuan putri ku, " ucap Bastian lembut sambil tersenyum, dan membukakan pintu mobilnya untuk Dinda.


"Apaan sih lebay tau gak, " balas Dinda sambil tersenyum malu,ia pun masuk kedalam mobil Bastian.


Bastian pun ikut masuk ke dalam mobilnya, saat Bastian sudah masuk, ia langsung memasangkan sabuk pengaman milik pada Dinda.


"Makasih, " ucap Dinda sambil tersenyum dan mengusap halus pundak Bastian.


"Iya sayang, " balas Bastian.


Bastian menyalakan mesin mobilnya, setelah itu ia mulai memajukan mobilnya.


"Mau kemana sih?" tanya Dinda sambil melihat ke arah jendela, memperhatikan jalan dan juga mobil yang berlalu-lalang.


"Yah liatin aja nanti, aku ajak kamu kemana, " balas Bastian sambil tetap fokus pada jalan.


"Iya iya aku gak bakal nanya mau kemana deh, " jawab Dinda sambil berbalik menatap Bastian yang tengah fokus menyetir.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di sebuah pasar malam.


"Kok kesini sih?" tanya dinDindada heran, sambil menatap Bastian.


"Gini yah sayang, kalau misalkan kita makan di cafe itu biasa aja tau gak, mending dinner nya di sini lebih seru tau," Jawa Bastian sambil turun dari mobilnya, dan di ikuti oleh Dinda yang juga turun dari mobil Bastian.


"iya juga sih lebih seru, tapi kamu bisa bilang dari awal kan, jadinya aku gak bakalan pakai dress," ucap Dinda sambil memperhatikan sekitar.


"Gak papa ah, ke sana yuk, " Bastian pun menunjuk salah satu pedagang permen kapas.


"Yuk, " Dinda sangat semangat menuju ke penjual itu, pasalnya ia sangat suka permen kapas.


Dinda dan Bastian berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan menuju ke penjual permen kapas tersebut.


"Pak satu berapaan? " tanya Bastian.


"10 ribu mas, " jawab penjual nya.


Bastian pun mengeluarkan uangnya dan membelikan permen tersebut, untuk Dinda.


"Nih," Bastian memberikan nya pada Dinda, yang seperti nya Dinda sudah tidak sabar dengan permen nya.


Dengan sangat berantusias Dinda memakan permen itu.


"Biasa aja kali makannya, " ucap Bastian yang melihat Dinda memakan permen nya dengan terburu-buru.


"Biarin, " balas Dinda dengan mulut yang masih penuh, dan tidak perduli pada ucapan Bastian.


Bastian tersenyum melihat tingkah lucu Dinda yang tidak malu menjadi dirinya sendiri.


"Naik ke sana yuk? " ajak Bastian sambil menunjuk wahana Kincir angin.


Dinda menatap bastian sambil tersenyum konyol, "gak,takut, " ucapnya yang sudah selesai memakan permen nya.


"Kan ada aku yang, " Bastian membujuk Dinda.


"Tapi, aku takut serius deh, " balas Dinda.


"Bas aku gak mau takut, " rengek Dinda, sambil menampilkan wajah takutnya.


"Sayang tenang aja, " Bastian merangkul pundak Dinda, untuk menenangkan rasa takutnya.


"Iya deh, tapi nanti temenin aku naik itu yah, " dengan pasrah akhirnya Dinda pun menyetujui keinginan Bastian, namun dengan satu sarat yaitu Bastian harus menemaninya naik komedi putar.


"Iyah," tanpa berpikir panjang Bastian pun menyetujui keinginan kekasihnya itu, pikirnya cuman naik komedi putar mah gampang.


Bastian dan Dinda sudah berada di dalam kincir angin tersebut, namun belum juga di jalankan Dinda sudah panik duluan, ia tidak berani membuka matanya, dan tangannya kini memegang erat tangan Bastian.


"Ya ampun sayang, disini indah loh kamu bukan aja matanya, " ucap Bastian mencoba menenangkan Dinda, dan bilang kalau ini tidak sebegitu menakutkan.


"Aku gak mau, " balas Dinda sambil menggeleng kan kepalanya, juga mencoba meredamkan kepanikan nya.


"Beneran deh , dari sini kita bisa lihat indah nya kota di malam hari, " bujuk Bastian sambil mengusap tangannya Dinda yang sudah mulai mendingin karena ketakutan.


"Bener nih? " balas Dinda sambil mencoba membuka matanya perlahan-lahan.


"Nah tenang aja gak usah takut, " ucap Bastian sambil merangkul Dinda, dan menunjukkan berbagai bangunan yang bisa ia lihat dari sana.


"Iya sih indah tapi tetep aja aku takut, " Dinda susah membuka matanya, yah walaupun ia masih takut dengan ketinggian.


"Gitu dong pacar aku kan pemberani, " ucap Bastian sambil menatap indah wajah Dinda dan tersenyum manis.


"Ah Bas, jangan senyum mulu nanti aku diabetes loh, " canda Dinda sambil tertawa kecil.


Setelah lumayan agak lama, mereka turun dari wahana itu, Dinda dan Bastian berjalan menuju wahana komedi putar.


"kamu yakin mau naik itu?" sebenarnya Bastian tidak ingin naik wahana itu karena menurut nya wahana itu untuk anak kecil.


"Katanya tadi Iyah, " kesal Dinda sambil cemberut, bukannya tadi Bastian sudah setuju dengan syarat nya.


"Iya oke, Iyah jangan cemberut napa, " balas Bastian sambil mencubit pipi Dinda gemas.


Dinda kembali tersenyum dan menarik tangan Bastian menuju komedi putar tersebut, dan dengan terpaksa juga Bastian menyetujui keinginan Dinda, yang pasti nya itu akan membuat ke gagahan nya menurun dimata orang yang melihatnya.


Setelah selesai menaiki komedi putar Dinda dan Bastian tengah duduk di bangku yang berada di pinggir lapangan, mereka sedang beristirahat sejenak.


"Yang kamu laper gak?" tanya Bastian.


"Laper sih."


"Ya udah kamu tunggu di sini yah aku cari makan dulu, "Bastian pun meninggalkan Dinda sendirian di sana.


Bastian berjalan menuju ke tukang martabak telor sama tukang jus, setelah selesai membeli makanan Bastian kembali ke arah Dinda namun ada hal yang aneh yang membuat Bastian bertanya-tanya.


Dinda malah sedang menangis tersedu-sedu, dengan cepat Bastian pun berlari menuju ke arah Dinda.


"Kamu kenapa sayang? " tanya Bastian khawatir.


Namun tak ada jawaban dari Dinda, ia malah langsung memeluk erat tubuh Bastian sambil tetap menangis, lalu Bastian pun membalas pelukannya, dan mengelus-ngelus punggung Dinda.


"Kamu kenapa sih? ada yang nyakitin kamu? " Bastian melepas pelukan Dinda, dan Bastian langsung menatap Dinda dengan tatapan cemas.


"hiks hiks, t-tadi m-mantan k-ku d-datang, " ucap Dinda sambil masih menangis.


"Dia ngomong apa sama kamu? dia nyakitin kamu? ngomong dinda kamu di apain? biar aku kasih dia pelajaran, " ucap Bastian dengan nada tinggi, Bastian benar-benar sangat marah, kali ini.


Saat Bastian akan pergi dan mencari mantan Dinda, ia malah di tahan oleh Dinda.


"Jangan, jangan sekarang, " lirik Dinda dengan suara serak nya karena sudah nangis.