Cupu Fake

Cupu Fake
8,rencana ke puncak



Author POV


Waktu telah menunjukkan pukul 8 pas, sedangkan Sherly dan Adinda belum juga bangun mereka masih tertidur, walaupun cahaya matahari telah masuk ke kamar melewati cela-cela jendela.


"Din bangun udah siang! " teriak Adisty dari balik pintu kamar, Adinda pun perlahan-lahan membuka matanya dan duduk sambil mengucek matanya.


Lalu ia juga membangunkan Sherly "Sher bangun udah siang!" Adinda menggoyang-goyang kan tubuh Sherly.


"Udah bangun belum? " Adisty kembali berteriak namun kali ini sembari mengetuk ngetuk pintu kamar.


"Udah mah, " balas Adinda sambil turun dari kasurnya dan membuka gorden kamar, disusul oleh Sherly yang juga bangun, sambil merentangkan tangannya.


"Din gue kekamar mandi duluan yah, " ucap Sherly yang langsung pergi ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Adinda.


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti baju mereka pun turun menuju meja makan.


"Mah kakak pada kemana? " tanya Adinda yang kini berada di tangga rumah.


"Kamu gak liat ini jam berapa? " Adisty malah bertanya kembali pada Adinda, Adinda telah duduk bersama Sherly.


"Jam setengah 9 mah, " ucap Adinda.


"Kamu taukan kalau libur sekolah jam segini mereka masih dimana? "


"Joging mah, "balas Adinda yang kini telah memakan sarapannya.


"Itu kamu tau."


Setelah Sherly dan Adinda selesai sarapan merekapun menonton TV di ruang keluarga.


Sementara itu Bastian kini sedang joging bersama dengan Daniel dan juga Lintang, di lapangan deket komplek perumahan Bastian.


"Bas lu mau ikut kita nongkrong gak?" tanya Lintang yang kini mereka tengah beristirahat di pinggir lapangan sembari memengang botol minuman.


"Eh boleh tuh, tapi pinjem baju yah soalnya gue males balik dulu? " balas Bastian.


"Ok" ucap Lintang sebelum meminum minuman yang ia pegang sedari tadi.


"Pulang yuk, " ketus Daniel yang sedari tadi kerjaannya hanya diam saja, Daniel telah beranjak dari duduknya dan meninggalkan mereka yang tengah asik mengobrol.


"Yelleh malah di tinggalin lagi, tungguin napa," sinis Lintang yang langsung berlari mensejajarkan langkah nya dengan Daniel dan di susul juga oleh Bastian.


Setelah sampai di depan rumah Lintang dan Daniel merekapun masuk dan menuju ruang keluarga, namun Tiba-tiba.


"Lu, "ucap Bastian dan Adinda sambil saling menunjuk, sementara mereka yang melihat hanya bisa saling tatap dan bergeleng geleng.


"Lu udah kenal ama adek gue? "tanya Lintang yang memecah keheningan sambil memukul pundak Bastian perlahan.


"Jadi di-dia a-adek loh?" balas bastian dengan terbata-bata.


Saat Lintang akan membalas pertanyaan Bastian ia keduluan oleh Daniel "Iya, " Daniel pun beranjak meninggalkan mereka berdua yang tengah berdiri dan menuju Adinda, kini Daniel duduk di samping Adinda dan juga Sherly.


Namun Sherly tengah menundukkan kepalanya karena mukanya mulai memerah, mungkin karena terlalu bahagia ia bisa sedekat itu dengan Daniel.


"Ngapain tu bocah di bawa kesini?" batin Adinda, kini ia memalingkan pandangan nya menuju TV kembali.


"Gini aja deh kan besok masih libur sekolah yah, gimana kalau kita nanti sore Ke puncak terus kita nginep nya di villa tante gue, "usul Lintang.


"Boleh juga tuh, lagian bete di rumah terus mh kali kali refresing, " balas Bastian yang menyetujui usulan Lintang.


"Kalau kalian gimana? "sambung Lintang, yang tengah menatap satu persatu, sambil menaik turunkan alis nya.


"Kalau aku mah gimana dinda ajalah kak, " balas Sherly.


"Ya udah Din gimana ikut gak? " tanya Lintang.


"Boleh deh, " balas Adinda sambil tetap fokus melihat TV.


"Lu Nil? "tanya Bastian.


"Ok"balas Daniel acuh.


"Ok jadi nanti jam 3 sore kumpul di sini yah, " ucap Lintang.


"Ya udah gue pulang dulu kan jadinya nanti mainnya," Bastian pun meninggalkan rumah itu.


"Din kita jadi gak ke mall? " tanya Sherly.


"Din ngapain lu berpenampilan kayak gini kan ini bukan mau kesekolah? " Sherly pun keheranan melihat Adinda yang kembali berdandan nerd.


"Gak usah kepo yuk ah berangkat. "


Sesampainya di mall.


"Din gue mau kesana tuh beli jaket."


"Yuk."


"Hey, "teriak seseorang yang membuat Sherly dan Adinda terdiam di tempat, mereka mencari asal suara tersebut, dan mereka mendapati Bastian yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Sherly bukannya lo tadi dirumah Dinda adiknya Daniel kan? kok lu sekarang ama dia sih? " tanya Bastian keheranan.


"Em anu kan tadi aku ceritanya mau pulang dulu buat acara nanti tapi kayaknya aku mau ke mall dulu, eh ketemu dia deh, jadi daripada sendiri mending bareng aja, " balas Sherly sambil setengah mati menutupi kegugupan nya.


Bastian pun ber oh ria.


"Terus dia mau ikut juga kesana? "tanya Bastian yang sambil berbalik menatap Adinda yang sedang tertunduk.


"Ikut kemana? " balas Adinda sambil mengangkat kepalanya melihat Bastian.


"Oh jadi Sherly belum ngomong ama lu, jadi nanti sore kita mau ke puncak. "


"Ah enggak ah kak. "


"Kenapa? "


"Gak kenapa-napa, males aja. "


"Oh iya kita barengan aja belanjaannya, bolehkan? " tanya Bastian.


"Ngapain si ni anak mau ngikutin mulu, " batin Adinda.


"Boleh kok kak, " balas Sherly, sambil tersenyum kikuk.


Merekapun melanjutkan perjalan nya, namun tiba-tiba ponsel milik Sherly berbunyi.


"Din, aku akan tlpn dulu yah? " Sherly meninggalkan mereka berdua.


Adinda dan Bastian menghentikan langkah nya dan berniat menunggu Sherly mengangkat tlpn, setelah 5 menit Sherly pun kembali.


"Em, Din gue harus pulang sekarang gimana dong? nyokap gue nyuruh jemput dia katanya" ucap Sherly yang mengangkat telpon.


"Ya udah gak papah," ucap Adinda pasrah, yang awalnya ia tidak mau berjalan berdua dengan Bastian.


"Ya udah Din, kak aku pergi dulu yah, " Sherly pun berlari menuju pintu keluar.


Dan tersisa mereka berdua, mereka kembali melanjutkan langkah nya, rasanya masih sangat canggung di antara keduanya untuk memulai pembicaraan.


"Kak, kaka gak malu apa jalan berdua sama aku?" tanya Adinda yang membuat Bastian menghentikan langkah nya dan berbalik menatap Adinda.


"Din gak usah ungkit-ungkit masalah itu yah, gue bener-bener ngerasa bersalah ama lu, " balas Bastian.


"Ta-" saat Adinda akan membalas ucapan Bastian, Bastian malah menutup mulut Adinda dengan satu tangan nya.


"Sekarang gue sadar, kalau ternyata seseorang terlihat cantik itu bukan karena dari wajahnya namun dari hatinya, " sambung Bastian sambil melepaskan tangannya dari mulut Adinda.


Adinda dibuat mematung olehnya, Dinda memegang bibirnya, dan bertanya-tanya kenapa Bastian bisa bersikap semanis itu, gumamnya dalam hati sembari memukul keningnya sendiri, dan kembali mengejar Bastian yang telah meninggalkan nya.


Setelah mereka selesai berbelanja, merekapun keluar dari mall tersebut.


"Din lu beneran gak mau ikut? "Bastian pun kembali bertanya seperti itu.


"Iya kak aku beneran gak bisa lain kali aja. "


"Ya udah mau gue anterin lu pulang gak?"


"Gak usah kak, ya udah aku pergi dulu yah, " balas Adinda yang langsung saja pergi meninggalkan Bastian, Adinda berlari menuju mobil, dan ia langsung masuk kedalam mobil.


"Kenapa lagi coba? " ucapnya sembari melihat mukanya yang kini telah memerah karena sikap Bastian yang tiba-tiba manis padanya.


"Gak mungkin ini gak mungkin, masa gue harus suka ama cowok brengsek itu sih hanya karena dia bersikap manis, " Adinda pun frustasi sembari mengacak-ngacak rambutnya, dan memajukan mobilnya.