Cupu Fake

Cupu Fake
13,klub



Author POV


Sementara itu di sekolah Arwana, baru saja membunyikan bel tanda pulang dan semua murid berhamburan keluar kelas menuju ke parkiran, begitu pula dengan lintang dan Daniel, mereka berdua tengah berjalan melewati koridor kelas 10 untuk ke parkiran.


Namun langkah mereka mendadak terhenti saat keempat wanita berlarian ke arahnya.


"Nil pulang bareng yuk! " ajak wanita yang menghampiri nya barusan, yang tak lain adalah Della.


"Gak, " ketus Daniel.


Namun tiba-tiba Sherly keluar dari kelas nya, dan melihat Daniel dan Lintang sedang bersama para wanita murahan itu, membuat Sherly berdecak muak.


Sherly akan berjalan melewati mereka, sebenarnya ia malas bertemu dengan Della dan kawan kawan nya itu, namun tidak ada jalan lain untuk ke parkiran selain lewat sana.


Sherly pun melangkahkan kakinya dengan terpaksa, namun hal yang tak terduga.


Saat Sherly akan melewati mereka tiba-tiba tangan Daniel merangkul pundak nya, dan membuat Sherly mematung di tempat dan refleks membuat mukanya memerah.


Sedangkan Della yang melihat kejadian itu mulai kesal, awalnya Daniel melakukan itu hanya untuk membuat ia berhenti di kejar-kejar Della, tidak ada niat apapun, apalagi ia tidak tau kalau Sherly menyukainya juga.


"Gue pulang ama Sherly, dan asal lu tau gue hari ini bawa motor jadi cuman bisa bawa satu orang, " ketus Daniel sambil meninggalkan Della yang masih menatapnya.


"what the ****," teriak Della frustasi, sambil berdengus kesal.


"Syukurin, " ketus Lintang yang juga meninggalkan mereka, sambil tertawa puas.


Daniel dan Sherly sedang berada di parkiran sekolah, Daniel pun melepas rangkulannya.


"Lu bawa mobil gak?" tanya Daniel datar.


"Gk, " balas Sherly yang tengah menundukkan kepalanya karena malu kini mukanya tengah memerah, ia tidak mau Daniel tau kalau wajahnya tengah merah karena perlakuan Daniel.


"Ya udah naik! " balas Daniel sambil memberikan satu helm nya pada Sherly.


Perasaan Sherly tidak usah di tanya lagi bagaimana nya yah, sudah pasti tengah terbang bagaimana tidak orang yang selama ini ia kagumi secara tiba-tiba menawari dirinya untuk pulang bareng, padahal dulu bertatap muka saja tidak pernah.


"Sherly ngapain bengong lu gak minta gue buat pasangin helm nya juga kan? "ucap Daniel yang membuat Sherly tersadar dari lamunannya dan refleks mengambil dan memakai helm itu dengan ekpresi datar.


Sementara itu di sisi lain Dinda tengah bersedih, lebih tepatnya ikut bersedih dengan apa yang terjadi pada Bastian.


Ia yang baru sampai di rumahnya langsung masuk dengan berjalan tanpa gairah bahkan saat ibunya memanggil pun ia tidak mendengar nya.


"Din kamu kenapa? "tanya Adistya.


Namun Dinda seperti nya tidak mendengar ucapan ibunya ia terus saja melanjutkan langkah nya menuju kamar.


Setelah Dinda sampai di kamarnya ia langsung menidurkan badannya menghadap langit, dengan tidak sadar air mata Dinda mengalir begitu saja.


Dinda mengganti posisi tidurnya menjadi tengkurap.


Saat ia memaksakan dirinya untuk tidur namun itu tidak bisa tidur itu malah membuat kepalanya pusing, ia pun turun dari kasurnya dan pergi ke bawah tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.


Saat ia sampai di meja makan ia mengambil gelas yang berisi air dan meminumnya, kini hatinya semakin tidak tenang ia takut kalau Bastian akan melakukan hal yang bodoh, ketika sedang sedih, Ia jadi menyesal karena telah meninggalkan Bastian.


"Sayang kamu belum ganti baju? "tanya Adisty.


"Entar ah males, " jawab Dinda dengan nada datar, dan wajah tanpa ekpresi.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Adisty sembari membelai halus rambut Adinda, karena ia tau kalau anaknya sedang tidak baik-baik saja.


"Gak papa kok mah, " lirih Dinda sambil menggeleng kan kepalanya.


Namun kalian taukan orang tua itu bisa tau kalau kita sedang tidak baik baik saja, tapi seperti adisty mengerti kalau sekarang anak perempuan nya itu sedang tidak ingin bercerita padanya.


Adisty pun mengecup kening Adinda sebelum meninggal kan Adinda sendiri, ia juga tau kini putri nya itu tengah ingin sendirian.


Namun tiba-tiba ada seseorang yang menelponnya, namun saat ia melihat siapa yang menelpon nya itu adalah nomor yang ia tidak kenal.


Dinda pun mengangkat telpon tersebut, dengan malas.


"Halo maaf siapa yah?" tanya Dinda.


"Maaf mbak apa mbak kenal sama orang yang namanya Bastian? " ucap seseorang yang berada di sebrang telpon itu.


"iya memangnya kenapa? " balas Dinda masih dengan nada malasnya.


"Ini mbak saya nelpon Mba karena sekarang temen mba tengah berada di klub dia minun terlalu banyak alkohol deh kayaknya, jadi dia gak sadar gitu mba, saya gak tau harus nelpon siapa eh pas liat HP nya ada no mba paling atas ya udah saya telpon aja soalnya mau saya anterin saya kan gak tau alamat nya," jelas nya.


Adinda pun langsung memutuskan sambungan telponnya dan mengambil kunci mobil ia berlari keluar rumah sampai sangking terburu-burunya ia sampai menabrak Lintang yang akan masuk ke rumah.


"aduh dek mau kemana sih buru buru amat? " tanya Lintang, sambil memegang perutnya yang sakit karena bertabrakan dengan Dinda.


"Kak ikut gue yuk? "balas Dinda panik.


"Kita ke klub."


"Ngapain ke klub mau mabok-mabokan? enggak boleh kamu masih kecil lagian kamu gak akan kuat kalau minum, " Lintang malah menceramahi Dinda.


"Apaan sih kak, siapa yang mau minum? tadi ada seseorang yang nelpon aku katanya Bastian lagi di klub dia minum terlalu banyak alkohol sampai dia gak sadarkan diri. " jelas Dinda.


Tanpa berpikir panjang Lintang pun menyetujui ucapan Dinda, dan pergi ikut bersama Dinda.


Setelah sampai di klub Dinda dan Lintang pun berlarian mencari sosok Bastian, yang akhirnya mereka temukan tengah tertidur di salah satu meja di sana.