
Dinda sudah khawatir dengan kondisi Bastian saat ini, ia pun mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati Bastian, pasalnya Bastian mungkin tengah salah paham pada nya.
"Kak bangun yuk kita duduk di kursi, " ajak Dinda sambil mencoba membangun kan Bastian.
Bastian yang sudah mulai kekurangan tenaga pun akhirnya mau menuruti ke inginan Dinda.
"Ka,kakak bisa jelasin sekarang sebenarnya, kakak kenapa sih? "tanya Dinda sambil menatap Bastian.
"Harus nya gue yang nanya sama lo? " lirih Bastian masih dengan amarah yang besar.
"Ya udah kakak mau nanya apa sama aku? "
"Lu punya hubungan apa sama si Daniel? " tanya Bastian serius.
Dinda pun mulai menemukan awal mulai permasalahan nya.
"Apa jangan-jangan tadi kakak liat aku yah lagi meluk kak bastian? " tanya balik Dinda.
"Lu di tanya kenapa balik nanya sih? " ketus Bastian kesal.
"Iya kak, aku bakal jelasin sama kakak, "
"Ya udah jelasin, " tegas Bastian.
"Kak, kaka tau gak adik nya kak bastian? "
"Tau" dingin Bastian.
"Itu aku kak, " balas Dinda sambil membuka kacamata dan kepangan rambut nya, ia juga membereskan rambutnya agar rapih, tak lupa ia juga menghapus make-up di wajahnya.
"Apa? " kaget Bastian tidak percaya sambil menatap lekat-lekat muka Dinda.
"Biasa aja kali kak? " ucap Dinda sambil tersenyum manis.
"Ini apa lagi coba? " sinis Bastian.
"Aku bakal jelasin kok kenapa aku nyamar kak? " jelas Dinda.
Hampir 5 menit Dinda menceritakan masa lalu nya, amarah yang berada di dalam diri bastian sudah mulai mereda, ia paham apa yang terjadi pada Dinda.
"Kenapa gak bilang dari awal coba? " sewot Bastian, karena ia juga merasa malu karena sudah salah paham pada mereka.
"Ya ampun kak, aku cuman gak mau aku kecewa lagi, " jawab Dinda sambil tersenyum manis ke arah Bastian.
"Ternyata perasaan gue itu ada bener nya yah," ucap Bastian yang sudah mulai menampilkan senyumnya.
"Kak, aku obatin tangan kakak yah? aku mau telpon kak Lintang dulu buat bawa obat."
Bastian pun mengangguk.
"Halo, " ujar Dinda pada Lintang.
"Apa sih ganggu aja tau gak? " sinis Lintang.
"Kak ambilin kotak P3K dong di tas nya kak Daniel, " mohon Dinda.
"Ambil sendiri napa, masih punya tangan dan kaki kan, " ketus Lintang, yang seperti nya malas menuruti kemauan Dinda.
"Aku nangis nih, " ancam Dinda.
"Iya deh aku bawain, bawa ke mana? " balas Lintang masih dengan nada kesal.
"Ke atap, makasih kakak ku yang tersayang, " balas Dinda manja.
Dinda pun mematikan telponnya, dan sekarang Dinda mengambil tangan Bastian yang penuh dengan luka.
"Ngapain sih kak ngelakuin ini? ke anak kecil aja, " tanya Dinda sedikit kesal pada Bastian pasalnya kenapa ia tidak bertanya dulu gitu apa permasalahan nya, jangan kaya anak kecil gini deh, bikin khawatir aja.
"Terserah kakak deh. "
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Lintang pun datang membawa kotak P3K.
"Nih, " ketus Lintang sambil menyodorkan kotak itu pada Dinda.
"Makasih kakak, " ucap Dinda.
Namun sekarang Lintang menyadari sesuatu, penampilan Dinda sudah berubah.
"Baru sadar gue, lu udah tau dia adik gue Bas?" tanya Lintang.
"Iyah, " balas Bastian malas.
"Tangan lu kenapa tuh? " Lintang pun menunjuk luka di tangan Bastian yang tengah di obati oleh Dinda.
"Gak, gak kenapa-napa, " ucap Bastian sambil menyembunyikan lukanya.
"Kalian udah jadian? " tanya Lintang sambil mengerutkan dahi nya.
"Tau tuh tanya sama adik lu aja sendiri! mau gak dia nerima gue? " balas Bastian sambil mengangkat kan satu alisnya.
"Din lu udah Terima dia? " penasaran Lintang.
"Belum, tapi mau sih kak, " ucap Dinda pelan, namun seperti nya pendengaran Bastian itu sangat baik sampai ia mendengar ucapan Dinda.
"Ya udah kalian jadian aja, cocok kok, " ledek Lintang sambil tertawa lepas.
"Terus kenapa itu calon pacar lu sampai tangannya berdarah gitu? " sambung Lintang.
"Biasa kak dia itu cemburu sama kak Daniel, kak Bastian itu kalau cemburu kayak anak kecil yang gak di kasih permen tau gak, " balas Dinda sambil tertawa lepas, meledek Bastian.
"Gue masih denger kali, " ketus Bastian, sambil memonyong kan bibirnya.
"Ya udah mulai hari ini lu pacar gue yah? " tegas Bastian.
Dinda pun mengangguk dan memeluk Bastian, begitu pula dengan Bastian yang membalas pelukan Dinda.
"Hm, gue jadi nyamuk nih ceritanya, " ledek Lintang, sambil melipat tangannya di dada.
Merekapun melepas pelukan nya, dan tersenyum ke arah Lintang.
"Ya udah turun yuk, " ajak Lintang yang di setujui oleh Dinda dan Bastian.
Dinda sudah tidak berpenampilan cupu lagi, ia berjalan di depan bersama Bastian sambil bergandengan tangan.
"Misi, gue di depan gak kuat gue liat kalian gandengan tangan, " Lintang langsung menyalip mereka berdua, sekarang Lintang yang berjalan di depan.
Saat sudah sampai di bawah, banyak sekali pasang mata yang menatap heran pada perempuan di samping Bastian, pasalnya mereka tidak mengenal perempuan itu.
Dia siapa? cantik bener.
Mungkin murid baru.
Gila kayaknya pacarnya si Bastian, liat deh udah gandengan aja mereka.
Cantik gila.
Wah kok gue ngiri ama tu cewek.
Tapi kok mukanya kaya yang familiar**.
Dan masih banyak lagi ucapan kagum dari mereka, Dinda dan yang lainnya membelah keramaian, mereka yang sedang berlalu lalang seperti memberi jalan untuk tiga orang itu lewat.
Dengan angkuh nya Lintang dan Bastian berjalan, namun seperti nya tidak dengan Dinda, mereka menuju ke kelas Dinda untuk mengantar Dinda masuk kelas.