
Mereka berempat sudah sampai di rumah Dinda.
"Ah capek, " ucap Dinda sambil mendudukkan tubuh nya di sofa ruang tamu.
"Lebay, " ledek Lintang yang juga duduk di sofa.
"Gue ke kamar dulu, " ketus Daniel, sambil berjalan menuju kamar nya.
"Ya udah ah aku juga ke kamar ganti baju dulu, bay sayang, " ucap Dinda yang kembali bangun dan pergi menuju kamar.
"Sama pacarnya aja nih, " ledek Lintang sambil cemberut.
"Iya,iya, bay kakak ku yang ganteng, " lebay Dinda sambil tertawa, dan Dinda pun kembali melanjutkan perjalannya menuju kamar.
"Duduk! ngapain malah bengong?" suruh Lintang yang melihat Bastian, masih berdiri melihat Dinda yang sudah mulai menjauh dari pandangan nya.
"Hah, " saut bastian.
"Malah hah, duduk ****! " ketus Lintang.
"Oh iya lupa, " jawab Bastian sambil tersenyum kikuk.
Merekapun duduk berdampingan di sofa sambil menonton film.
Setelah beberapa menit, akhirnya Dinda dan Daniel turun dari tangga berbarengan, Dinda yang saat itu hanya menggunakan kaos polos warna putih lengan pendek dan juga memakai celana pendek, sambil rambut yang ia kuncir kuda.
Membuatnya semakin cantik. Begitu pun dengan Daniel yang menggunakan kaos hitam polos lengan panjang, dan juga menggunakan celana pendek.
Sedangkan dua orang laki-laki yang menonton TV mereka masih menggunakan seragam sekolah, Lintang memang orangnya kadang pemalas.
Daniel dan Dinda menghampiri mereka, Daniel duduk di sofa yang satunya, sedangkan Dinda duduk di tengah-tengah antara Bastian dan Lintang.
"Kak mamah mana? " tanya Dinda pada Lintang.
"Tau tuh, palingan juga belanja, " jawab Lintang sambil mengangkat bahunya, tanda tidak tau.
"Ke supermarket di depan yu yang," Ajak Dinda pada Bastian.
Belum juga Bastian menjawab, malah keburu kepotong oleh ucapan Lintang yang langsung menarik tangan Dinda.
"Sama gue aja, " ucap Lintang tegas.
"Apaan sih? Dinda kan maunya sama aku, " balas Bastian yang kembali melepaskan tangan Dinda yang di pegang oleh Lintang.
"Gak, sama gue, " kekeh Lintang.
"Sama gue," balas Bastian tak mau kalah.
Sementara itu Daniel tidak tertarik dengan keributan mereka, ia hanya tertarik pada film yang ia tonton saja, ia pikir itu jauh
lebih menarik daripada mereka.
"Apaan sih kalian itu ribut mulu, " geram Dinda sambil melepas kedua tangannya yang di pegang oleh Bastian dan juga Lintang, memang susah kalau punya kakak seperti Lintang ini.
"Gue pergi sama kak Daniel deh, sambil gue juga mau ngomong sesuatu sama kak Daniel, yuk kak, " Dinda langsung mengajak Daniel untuk menemaninya.
"Kemana? " tanya Daniel.
"Ke supermarket kak, " balas Dinda yang langsung menarik tangan Daniel yang sedang duduk.
"Kenapa sama abang gue lagi sih? " ketus Lintang sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Iyaa ah dasar, " sinis Bastian yang tengah menatap kepergian Dinda dan Daniel dengan bernafas kasar.
Dinda dan Daniel sudah berada di jalan menuju ke supermarket, mereka tidak perlu menggunakan mobil karena jaraknya memang sangat dekat dari rumah mereka.
"Kak? "
"Iya, " dingin Daniel.
"Kakak suka yah sama Sherly?" goda Dinda, sambil tersenyum meledek.
"Gak, " balas Daniel dingin, sambil berusaha menghindari tatapan adiknya itu.
"Ih gak seru ah kak, kak Boleh yah aku minta satu permintaan? " mohon Dinda sambil memohon pada Daniel.
"Mau apa? "
"Kakak nanti malam jalan sama Sherly yah?"
"Gak, " ketus Daniel.
"Kak Sherly itu besok ulang tahun kak, aku mohon kak, " melas Dinda.
"Gak, " kekeh Daniel.
"Kak aku mohon yah, kakak baik yah, yah, yah," ucap Dinda sambil memasang muka memelas.
Daniel yang melihat wajah adik nya itu tidak tega dan akhirnya iya mengabulkan permintaan adiknya itu.
"Iya, " dingin Daniel tanpa ekspresi sama sekali.
"Jangan kek orang gila deh, "
"Nih, " ucap Dinda sambil menyodorkan HP nya pada Daniel yang membuat langkah Daniel terhenti.
"Apa lagi?" ketus Daniel.
"Telpon Sherly nya sekarang cepetan!" perintah Dinda memaksa.
"Nanti aja. "
"Enggak aku mau nya sekarang," tegas Dinda, ia tau kalau nanti bisa saja Daniel berbohong padanya.
"Iyah, " pasrah Daniel sambil merebut kasar ponsel yang ada di lengan Dinda.
Dengan terpaksa, namun tidak bisa di pungkiri sih Daniel pun sebenarnya senang dengan tawaran Dinda, hanya saja kan gengsi Kalau ia mengabulkan permintaan Dinda tanpa memohon padanya terlebih dahulu, jadi kesannya ketauan sekali kalau ia senang bermain dengan Sherly kalau langsung menyetujui itu.
Ia sudah nelpon Sherly dengan menggunakan ponsel Dinda, tanpa harus menunggu lama akhirnya telpon pun di angkat oleh Sherly.
"Hallo ada apa ya Din nelpon?" tanya Sherly.
"Em a-anu S-sherly n-nanti malam s-sibuk gak, "gugup Daniel, ini baru pertama kalinya ia akan mengajak seorang wanita main selain Dinda.
Sementara itu Dinda hanya terseyum kecil melihat tingkah kakak nya yang kini tengah gugup.
"Kak Daniel, oh gak kok ada apa yah? " Sherly semakin kebingungan rupanya.
"Nanti malam main yuk? nanti gue jemput, " ucap Daniel sambil mencoba menahan kegugupan nya.
"Oh iya kak Boleh," balas Sherly tak menyangka, kalau saja mereka tau Sherly sekarang lebih gugup daripada Daniel.
Daniel langsung mematikan sambungan nya, dan langsung memberikan ponsel ya pada Dinda, sebelum akhirnya nya kembali melanjutkan langkah nya ke supermarket meninggalkan Dinda, tanpa berbicara lagi pada Dinda.
"Ya ampun ni abang gue gengsi amat dah, suka ma ya tinggal bilang napa, " gumam Dinda sambil tersenyum, ia pun kembali mengejar Daniel dan mensejajarkan langkah nya dengan Daniel.
Setelah puas belanja makanan kini mereka pun pulang ke rumah, sesampainya di rumah ia langsung menyimpan makanannya yang ia beli tadi ke meja sofa, sementara Bastian dan Lintang seperti nya berada di kamar Lintang sedang main game.
"Kak ke atas yuk? ke kamar kak Lintang, " ajak Dinda.
"Yuk, " Daniel pun menyetujui ucapan Dinda ia berjalan menuju kamar Lintang sambil membawa beberapa kantung plastik yang berisi makanan ringan.
Setelah sampai di kamar Lintang mereka langsung masuk ke kamarnya ternyata benar Lintang dan Bastian tengah bermain game di sini.
"Nih, " ucap Lintang sambil melemparkan kantong kresek ke pada mereka berdua.
"Biasa aja kali, " ketus Lintang yang masih fokus pada game nya.
Daniel pun duduk di kasur Lintang sambil memainkan ponselnya, sementara Dinda kini duduk di dekat Bastian, sambil membuka makanan ringan yang tadi di lempar kan Daniel.
"Suapin, " Manja Bastian sambil membuka mulutnya lebar.
"Ya udah aa, " Dinda pun menyuapi Bastian dengan sama lebay nya.
"Ke bocah aja, " ketus Lintang, yang merasa mereka terlalu lebay dan alay.
"Bilang aja mau di suapain," ketus Dinda sambil memakan, makanan tersebut.
"Emang iya, " jawab Lintang, sambil nyengir.
"Ya udah a, " namun saat Dinda akan menyuapi Lintang Bastian malah memakan makanan yang ada di tangan Dinda.
"Up sorry gue pikir buat gue," ucap Bastian sambil tersenyum.
Dinda pun ikut tertawa.
"Nyebelin, " ketus Lintang sambil cemberut, dan kembali memfokuskan matanya pada game.
"Jangan marah dong?" goda Dinda sambil menarik tangan Lintang.
"Bodo, " sinis Lintang acuh.
"Ya udah aku suapin lagi deh," rayu Dinda.
"Gak, " ketus Lintang.
"Gitu aja marah lu, " ledek Bastian.
"Biarin, " dingin Lintang.
Sementara itu Daniel tengah senyum-senyum sendirian, karena dia tengah mengechat Sherly.
"Eh bentar, itu abang gue kenapa gila? " ucap Lintang yang menyadari kalau Daniel tengah senyum-senyum memperhatikan ponsel nya.
Bastian dan Dinda pun beralih menatap ke arah Daniel.
"Kayaknya lagi jatuh cinta deh, " balas Dinda.
"Ya Allah akhirnya abang gue gak homo," teriak Lintang, dan membuat Daniel menatap tajam pada mereka bertiga, tatapan Daniel itu sangat menakutkan sampai membuat mereka yang menatapnya kembali berbalik menatap layar TV, sambil pura-pura sibuk dengan aktivitas nya masing masing.
Daniel kembali fokus pada layar HP nya.