
Author POV
Sudah waktu nya istirahat dan semua murid sudah berlarian keluar kelas, begitu pula dengan Dinda dan Sherly. Mereka tengah berjalan menuju kantin.
"Sherly kamu ke kantin duluan aja yah, aku mau ke kak Lintang dulu, " ucap Dinda sambil berjalan meninggalkan Sherly.
"Ya udah, aku ke kantin dulu yah, " Sherly pun kembali berjalan menuju kantin sendirian.
Dinda tengah celingak-celinguk mencari Lintang, namun saat ia sudah menemukan Lintang, tenyata Lintang sedang bercanda ria dengan Rere berduaan di Koridor depan kelas 10, membuat Dinda yang melihat itu memdadak mual.
Ia mengurungkan niat nya untuk bicara pada Lintang, kini ia berjalan kembali mencari kakak yang satunya.
Dan benar saja sekarang Daniel tengah sibuk bermain game di kelasnya, saat Dinda masuk ke kelas Daniel, banyak sekali yang menatapnya jijik namun Dinda tidak peduli dengan tatapan mereka pasalnya itu sudah biasa bagi dia.
"Kak Daniel? " panggil Dinda
namun bukan cuman Daniel saja yang menengok melainkan semua orang yang ada di kelas nya ikut melirik Dinda.
"Apa, " sahut Daniel, sambil berdiri dan memasukan HP nya ke dalam saku celana.
"Ngapain sih lu cupu manggil-manggil pacar gue, " sewot Della sambil menghampiri Dinda, dan berdiri di depan Dinda.
"Gak papa kok, cuman ada perlu aja, " balas Dinda yang kini tengah berdiri di depan pintu dan menatap ke arah Della tanpa rasa takut.
"Lu tuh-" ucapan Della terpotong oleh Daniel yang kini sudah ada di samping nya.
"Lu bukan pacar gue, " tegas Daniel sambil menarik tangan Dinda pergi dari sana.
Dinda memeletkan lidahnya ke arah Della dan juga tersenyum kemenangan.
"Ihhh Daniel lu kenapa sih?" kesal Della sambil menghentak-hentakan kakinya ke lantai sebelum akhirnya kembali masuk ke kelas.
"Mau apa sih Din?" tanya Daniel datar tanpa ekpresi.
"Kak aku mau bicara sama kakak ke taman yuk kak, " Dinda pun mengajak Daniel ke taman belakang sekolah.
Setelah mereka sampai merekapun duduk di bangku taman.
"Kenapa sih gak biasanya? " Daniel pun keheranan, kenapa tiba-tiba Dinda mengajaknya bertemu, padahal kalau di ajak ke kantin bareng saja suka agak susah.
"Gini kak, semalam kak Bastian nembak aku. "
"Terus lu Terima? " tanya Daniel sambil menatap muka adiknya dengan tatapan selidik.
"Belum kak, aku bingung? "
"Kenapa mesti bingung? tinggal bilang iya apa susahnya, mau kakak wakilin? "
"Kak aku mau jujur aja deh ama dia."
"Bagus dong, kenapa harus bingung? " ucap Daniel yang kini menyederkan badannya di senderan kursi dan menatap ke arah depan.
"Ih aku bingung lah kak, aku harus mulai dari mana coba jelasinnya? aku juga gak mau dia marah sama aku kak, " tegas Dinda.
"Ya coba dulu lah, siapa tau dia ngerti permasalahan luh? "
"Iya kak, aku akan coba, aku gak tau kalau akhirnya akan serumit ini aku juga gak bakalan ngelakuin ini kalau tau akan kaya gini," lirih Dinda, Dinda menundukkan kepalanya sambil memegang kepala nya.
"Aku gak papa kok kak, " mata Dinda sudah mulai betkaca-kaca.
"Din lu gak usah nginget-nginget masalah yang dulu, mereka gak pantas lu tangisin tau gak, " Daniel mencoba menenangkan Dinda dengan memeluk adiknya tersebut.
"Aku cuman masih gak habis pikir aja kak, aku udah anggap mereka lebih dari sekedar sahabat kak, mereka sahabatan sama aku udah dari kecil kak, jadi mereka manfaatin aku udah lama kak, apalagi wulan rebut Adit dari aku kak, " kini Dinda menangis di pangkuan Daniel.
Daniel pun tidak peduli kalau sekarang kemeja sekolah nya di penuhi air mata adiknya, yang penting untuknya saat ini adalah Dinda tenang.
Namun tanpa mereka sadari, Bastian melihat kejadian itu, namun yang di sayangkan, Bastian hanya melihat ketika Daniel memeluk Dinda, ia tidak melihat itu dari awal.
Bastian pun tersenyum miris, "Udah gue duga, kalau misalnya mereka memang punya hubungan lebih dari teman, gue tau Daniel gak pernah deket sama seorang wanita kalau wanita itu gak istimewa dalam hidupnya."
Bastian berjalan meninggalkan tempat itu, ia berjalan menuju atap sekolah, karena menurut nya hanya tempat itulah yang bisa sedikit menenangkan perasaan nya saat ini.
Saat sudah sampai di atap sekolah ia langsung memukul tembok sangat keras, membuat tangannya sedikit mengeluarkan darah, namun ketika sedang marah luka tidak akan terlalu terasa sakit, karena amarahnya sangat besar lebih besar dari lukanya saat ini.
"Kenapa? kenapa gue harus suka sama dia? " teriak Bastian sambil mengacak-acak rambut nya frustasi.
"Udah cukup masalah keluarga gue yang bikin gue hancur, kenapa sekarang harus di tambah sama masalah temen ama cewek yang gue suka lagi sih?" ia menjatuhkan dirinya ke lantai.
"Kenapa Tuhan? kenapa gue harus suka kenapa sih kenapa? " teriak Bastian sambil kembali bagun dan memukul tembok yang ada di sampingnya.
Sementara itu Dinda kini tengah mencari-cari Bastian, ia sudah siap untuk menceritakan semuanya.
"Kak liat kak Bastian gak? " tanya Dinda, pada Lintang yang masih asik ngobrol dari tadi sama Rere.
"Ngapain sih lu nyari-nyari si Bastian" sinis Rere, yang merasa terganggu dengan kehadiran Dinda.
"Apaan sih? gak boleh gitu tau" tegas Lintang pada Rere.
"Tau tuh, tadi sih gue liat si Bastian ke arah atap sekolah, tapi kok keliatan nya dia kaya yang marah deh, " sambung Lintang
"Oh ya udah makasih ya kak," Dinda pun kembali melanjutkan langkah nya namun ia berbalik terlebih dahulu," Oh iya kak, satu hal lagi, hati-hati loh sekarang banyak banget orang yang bermuka dua, kalau menurut aku yah, orang yang bermuka dua itu harusnya di sumbangin mukanya satu sama orang yang suka cari muka, biar gak mubajir, "Dinda berbalik kembali dan melambaikan tangannya pada mereka.
"Awas lu yah, gue bakal kasih lu pelajaran, " gumam Rere dalam hati, sambil mengepalkan tangannya.
Lintang pun kebingungan dengan ucapan Dinda.
Sementara itu Dinda kini tengah berjalan di tangga menuju ke atap sekolah, setelah Dinda membuka pintu masuk ia di kaget kan dengan ke adaan Bastian saat ini.
"Kak, kakak kenapa? " teriak Dinda sambil berlari menghampiri Bastian yang sudah terduduk lesu di lantai.
"Ngapain lu ke sini? " bentak Bastian.
Dinda pun menghentikan langkah nya," Kakak kenapa sih? "
"Pergi lu dari sini! " perintah Bastian
Dinda melangkahkan kakinya perlahan-lahan menuju Bastian yang sedang di penuhi ke marahan, bastian menatap Dinda dengan nanar.
"Pergi gak lu! udah cukup keluarga gue yang ngehancurin hidup gue, dan sekarang di tambah lu juga, " bentak Bastian sambil tersenyum miris.
Dinda kembali terdiam, ia sama sekali tidak mengerti atas ucapan Bastian.