
Adinda POV
Ah rasanya hari ini aku bahagia sekali, bisa bersama Bastian, ia sedang membeli makan untuk ku, dan aku tengah menunggunya sambil mengirim pesan pada Sherly, menceritakan apa yang sekarang terjadi.
Namun saat aku mengangkat kepala, ada hal yang membuat mood ku benar benar hancur, bahkan tubuh ku mendadak bergetar.
"Hay sayang? udah lama gak ketemu, aku cari-cari kamu terus loh, " ucap seseorang yang kini berada di depanku, dan ternyata dia adalah Adit, mantan ku.
Entah kenapa tubuhku mendadak mematung, bahkan mulutku seperti kehabisan kata kata, untuk membalas ucapannya.
"Sayang aku akan terus mengingat kejadian beberapa bulan lalu, dimana kamu mempermalukan aku sayang, " ucapnya dengan nada mengerikan, membuat bulu kuduk ku merinding.
Lagi-lagi aku hanya bisa menatapnya tanpa membalas ucapannya.
"Kenapa? kamu bisu sayang? masih sendiri aja kamu di sini, balik lagi aja sama aku? aku sayang sekali sama kamu, " ucapnya dengan tersenyum miring padaku, ingin sekali aku meludah di wajahnya saat itu.
Akupun memberanikan diri untuk bicara, "Gak, aku gak sudi balik lagi sama orang murahan kaya kamu, " bentak ku, menghina nya kembali.
"Apaan sayang aku gak dengar? " balasnya sambil memegang dagu ku, lalu aku menepis tangannya dengan kasar.
"Pergi! " tegas ku sambil berdiri dan mengusirnya.
"Aku peringat kan yah sayang, aku tuh cinta sama kamu, sampai kapan pun akan tetap jatuh cinta sama kamu, kalau kamu gak bisa aku dapatkan lagi maka orang lain pun tidak akan bisa mendapatkan mu, " ancam Adit sambil pergi dan tersenyum licik.
Tubuhku mulai lemas, aku kembali duduk dan menangis, aku tau kalau misalnya Adit bicara, ia tidak pernah main-main, aku gak mau Bastian kenapa-napa.
Aku mengacak-acak rambut ku frustasi, aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa, aku gak mau Bastian kenapa-napa, karena Adit itu licik ahhhh.
Bastian berlari ke arahku, aku hanya bilang kalau ada mantanku barusan, dan aku kini sedang tidak ingin berbicara apapun lagi padanya, aku langsung mengajaknya pulang.
Aku dan Bastian sudah berada di dalam mobil, entah kenapa bayangan Adit yang mengancam ku masih terbayang di pikiranku, aku benar-benar benci orang itu.
Bastian menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah ku.
"Din kamu tuh kenapa sih?" tanya Bastian yang menghadap ke arahku dan memegang tangan ku.
"yang,aku gak bisa cerita sekarang, aku masih syok mungkin nanti kalau aku udah tenang aku akan bicara sama kamu, aku janji, " ucapku meyakinkan Bastian, bahwa aku saat ini tidak bisa bicara apapun padanya.
Aku turun dari mobil Bastian, tadinya Bastian mau mengantarkan ku ke dalam karena khawatir, namun aku menyuruhnya untuk pulang saja , dan menyakinkan dia kalau aku baik-baik saja.
Aku masuk kedalam rumah dengan muka yang aku tundukkan.
Saat aku sampai ke ruang keluarga ternyata di sana ada kak Lintang mamah dan ayah ku, Aku tidak tau kak Daniel kemana, waktu sudah pukul 9 pas.
"Sayang kamu kenapa?" tanya mamah ku yang mungkin khawatir dengan keadaan ku.
"Aku gak papa kok mah, " Jawab ku sambil terus berjalan menuju kamar.
Author POV
"Hay? kamu cantik sekali malam ini, " puji Daniel, sambil tersenyum pada Sherly, rasanya itu masih sangat kaku.
"Ah baru kali ini kak Daniel bilang aku cantik, ya Tuhan tolong jangan buat aku mati di sini karena serangan jantung yah, " batin Sherly.
"Ah kak Daniel bisa aja, " balas Sherly sambil membalas senyuman Daniel.
Makanan mereka sudah sampai, dan merekapun memakan, makanan nya dengan khidmat, tanpa berbicara, mungkin masih canggung.
"Sherly besok ada acara gak? " tanya Daniel yang kini sudah menghabiskan makannya.
"Gak ada kak, emangnya ada apa?" balas Sherly.
"Ikut makan bareng nyokap gue dan juga adik adik gue yuk, "Daniel pun memberanikan diri berbicara, karena walaupun Daniel pria, ia tidak pernah makan bersama dengan perempuan, jadi dia gugup ketika berhadapan dengan seorang wanita apalagi wanita yang dia suka.
"Ahhhh ini jantung ku udah mau keluar tolong," batin Sherly.
"Boleh kok kak, "balas Sherly, sambil menahan rasa bahagia nya, ia ingin sekali berteriak dan bilang pada orang-orang kalau ia sudah berhasil.
Benar-benar kaku, pasalnya mereka benar-benar canggung sekali jadi lah obrolan nya kaku, mereka takut salah ngomong.
"Pulang yuk? "ajak Daniel, yang di jawab anggukan oleh Sherly.
Merekapun keluar dari kafe tersebut, karena Daniel sengaja tidak membawa mobil ia ingin menikmati malam yang panjang bersama Sherly, kini mereka berjalan di jalan yang masih ramai.
Daniel memegang tangan Sherly sambil berjalan,bagaikan sebuah petir yang mengalir dari tubuh Daniel ke dalam tubuh Sherly sambil membuat Sherly benar-benar tidak bisa mengontrol jantung nya, hampir saja Sherly kehilangan nafasnya.
"Beli es krim yuk? "ajak Daniel sambil menujuk salah satu penjual es krim.
"Boleh, "balas Sherly.
Mereka sudah selesai membeli es krim dan kini tengah duduk di bangku jalan sambil menikmati es krim yang mereka beli barusan.
Sherly memang sangat suka sama es krim sama hal nya seperti Dinda, bahkan Sherly memakan es krim nya berantakan, membuat Daniel tidak sadar tersenyum melihat mulut Sherly yang di penuhi es krim.
Daniel mengeluarkan sapu tangan nya dari saku, Dan ia mengelap mulut Sherly dengan sapu tangannya.
Sherly kali ini benar-benar akan mati karena serangan jantung, Daniel bukannya membersihkan mulut Sherly ia malah bengong menatap Sherly.
Tanpa sadar mereka bertatapan sangat lama, sampai saat mereka sadar Daniel langsung memberikan sapu tangannya pada Sherly.
"Mulut lo berantakan, "ucapnya tanpa menatap Sherly, seperti nya ia salting.
Sherly pun mengambil sapu tangan yang di berikan Daniel dan mengusap mulutnya, selama beberapa menit mereka tidak berbicara, suasana menjadi semakin canggung.
"Pulang yuk? udah malam, "ajak Daniel sambil kembali menarik tanggan Sherly.