
Mengijinkan kamu pergi jauh dari
samping ku itu sulit, namun pada
dasarnya aku hanya pacar kamu,
aku tidak punya hak melarang kamu
selamat membaca 😘😍
Mau tidak mau Bastian memang harus mengatakan itu pada pada Dinda, dengan berat hati Bastian mengajak Dinda pergi dari sana.
Ia membawa Dinda ke belakang rumah Dinda, kebetulan di sana juga ada kursi berukuran panjang, dan Bastian menyuruh Dinda duduk di sana.
Hati Dinda merasa sedikit resah, ia juga bingung kenapa Bastian mengajaknya ke sini, padahal ia bisa kan bicara langsung di sana.
Bastian menarik nafasnya dalam-dalam terlebih dahulu, lalu ia memberanikan diri menatap mata Dinda.
"Aku akan pergi," ucap nya lirih, sambil terus menatap Dinda.
Awalnya Dinda tertawa mendengar ucapan ngasal Bastian itu, ia pikir Bastian sedang bercanda.
"Maksud kamu apa? " tanya Dinda tidak paham
"Din aku minta maaf yah, " ucap nya sambil menunduk.
"Kamu kenapa sih yang? kok aneh, kamu mau pergi kemana? " Dinda semakin di buat kebingungan dengan ucapan Bastian yang selalu ia gantungkan.
"Kbuku sakit Din," ucap nya kembali, Bastian kembali menatap Dinda.
"Sakit kenapa? " Dinda membulat kan matanya, ia kaget mendengar orang tua Bastian sakit, ia memang tidak dekat dengan orang tua Bastian namun bagaimana pun itu adalah ibu dari pacarnya, jadi ia khawatir dengan kondisi nya.
"Kanker, " jawab Bastian ragu.
"Terus hubungan dengan kamu mau pergi itu apa? "
"Ayah ku bilang kalau misalkan kita rawat ibu di Indonesia, itu peralatan nya masih kurang, jadi. Mereka memutuskan untuk pindah ke Amerika, " jelasnya, dengan raut muka sedih dan sedikit kecewa.
"Terus kamu akan ikut? " tanya Dinda sedikit ragu.
"Iya, karena ibuku yang minta ia bilang untuk menemanimya, dan aku juga harus kuliah di sana katanya. "
Sebelum kembali menjawab ucapan Bastian Dinda menarik nafasnya terlebih dahulu, dadanya terasa sangat sesak.
"Kamu pergi aja! ibumu jauh lebih membutuhkan kamu di bandingkan aku, aku di sini gak papa kok, kamu juga kalau misalnya nanti udah di sana jangan mikirin aku yah, cukup ibumu saja yang kau pikirkan, aku pasti baik-baik saja di sini, " jelas Dinda sambil memegang pipi kanan Bastian.
Bastian mencium tangan milik Dinda agak lama, lalu setelah itu ia yang berbalik memegang pipi kanan Dinda.
"Tapi kamu gak papa kan? " tanya nya meyakinkan kembali.
"Aku gak papa, " ucap Dinda berbohong.
Tidak ada orang yang baik-baik saja jika di tinggalkan oleh orang yang dia cintai,
Namun disini Dinda mencoba berpikir dewasa, Bastian itu hanya kekasihnya, ia tidak bisa melarang keinginan Bastian, lagi pula kalau misalnya Bastian sayang ia tidak akan macam-macam dengan wanita lain kan di sana.
Lalu ibunya kini jauh lebih membutuhkan dia, jadi Dinda tidak punya pilihan lain, dan Dinda juga percaya kalau saja ia menolaknya, itu tidak bisa.
"Kapan kamu berangkat nya? " ucap Dinda mencoba menguatkan dirinya.
"Besok," ucap Bastian pelan.
"Boleh aku ikut ke bandara? " tanya Dinda.
"Aku pun berharap kamu ikut, " jawab Bastian sambil mencoba tersenyum pada Dinda.
"Gitu dong, kamu itu senyum, "Dinda menyenderkan kepalanya ke bahu Bastian.
"Kapan kamu ke Indonesia lagi? , " tanya Dinda.
"Aku gak tau, mungkin nanti kalau misalkan aku udah lulus kuliah," jawabnya sambil merangkul Dinda.
Mereka berdua tengah menatap indahnya langit malam, tanpa di sadari Bastian sebenarnya air mata Dinda mengalir tanpa suara.
"Yang? jangan lupa terus hubungi yah. "
"Itu pasti sayang, aku akan terus mengubungi kamu, kapan pun dan dimana pun aku berada," lebay Bastian.
"Apaan sih yang lebay tau gak," ucap Dinda sambil memukul paha Bastian dan tertawa.
"Biarin."
"Yang, udah malem loh, kamu gak mau pulang?" tanya Dinda, memang kini hari sudah malam, bahkan hampir jam 1 malam.
"Gak ah (bastian menggeleng), aku kan masih mau sama kamu, kamu ngusir aku? " canda Bastian.
"Gak aku gak ngusir, cuman nyuruh pergi aja, " balas Dinda sambil tertawa kecil.
"Apa kamu bilang?" ucap Bastian sambil menggelitik Dinda, membuat Dinda tak bisa menahan tawanya karena geli.
"Rasain tuh, " ucap Bastian sambil tertawa dan terus menggelitik Dinda.
"Udah ah, capek, " titah Dinda yang kini telah ngos-ngosan karena terlalu capek tertawa.
"Biarin, seru loh, " goda Bastian sambil menaikan satu alisnya.
"Iya kamu seru, aku capek tau gak, " ucap Dinda sambil mengerutkan dahinya.
"pacarku kok marahsih?mau di tinggal juga, bukannya sayang-sayangan ini malah marah," sindir Bastian sambil mencolek-colek pundak Dinda yang membelakangi nya.
"Biarin, pergi aja sana yang jauh, aku gak bakal kangen kok, " canda Dinda.
"Beneran nih, " tanya Bastian memastikan, yah walaupun ia tau itu hanya bercanda.
"Ya bener, " ucap Dinda tak mau kalah.
Baru saja Bastian berdiri Dinda langsung menarik nya untuk duduk kembali.
"Kh kok beneran sih? harusnya kamu itu bujuk aku tau gak, " kesal Dinda yang tadi akan di tinggalkan Bastian.
"Tadi katanya di suruh pergi. "
"Bercanda kali, " ucap Dinda sambil cemberut dan menatap Bastian.
"Emang iya, " ledek Bastian.
"Kya sayaaaaanng" manja Dinda sambil bergelayut di tangan Bastian, membuat bastian mengembangkan senyumannya.
"Iya, iya" balas Bastian.
Dinda kembali duduk dan menatap Bastian, ia merasa menjadi tidak ingin di tinggalkan oleh Bastian, begitu pula sebaliknya.
Mereka bertatapan lumayan lama, membuat mereka semakin tidak ingin saling meniggalkan kan, Bastian mendekatkan muka nya pada Dinda.
Membuat Dinda bisa merasakan nafas Bastian, hembusan angin malam menusuk tajam ke dalam tubuh mereka, suasana malam yang sepi kini semakin sepi.
Tak ada satu patah kata yang mereka ucapkan, mulut mereka memang bisa berkata baik-baik saja, namun tidak dengan mata, mereka saling menatap tidak ingin di tinggalkan, namun takdir ini yang harus mereka Terima.
Bastian semakin mendekatkan wajahnya, pertama ia mencium kening, lalu ia mencium pipi kanan dan kiri Dinda, hingga yang terakhir ia mengecup bibir Dinda, namun ia hanya menciumnya, yah namun agak lama, mereka hanya berciuman.
Setelah itu Bastian menjauhkan wajahnya, dan berdiri ia berpamitan pada Dinda karena ini sudah malam ia harus pulang.
Dinda memeluk erat tubuh Bastian sebelum pergi, begitu pula dengan Bastian ia memeluk erat tubuh kekasihnya itu.
Setelah itu kiniku Bastian melepaskan pelukannya.
"Aku pulang ya? " ucap Bastian lembut.
"Iyah."
"Jaga diri baik-baik yah," ucap Bastian sambil mengacak-acak rambut Dinda, sementara Dinda kini hanya menunduk tak berani menatap Bastian.
Saat Bastian pergi dari tempat itu, barulah Dinda mengangkat kepalanya, menatap Bastian yang sudah jauh meninggalkan nya.
Setelah ia sudah tidak bisa menatap punggung Bastian, ia sudah tidak tahan lagi menahan air matanya yang sedaru tadi ingin jatuh, ia menangis sejadi-jadinya di sana.
Tubuhnya lemas, membuat ia terjatuh ke tanah, berat rasanya jika harus di tinggal beberapa tahun oleh Bastian kekasih nya.