Cupu Fake

Cupu Fake
29,ibu bastian sakit



Setelah satu bulan berlalu,ini adalah waktu kelulusan dan juga kenaikan kelas di SMA Arwana, guru mengumumkan bahwa semua murid lulus dan naik kelas, seluruh siswa-siswi tengah merayakan hari bahagia nya ini.


Begitu pula dengan kelima sahabat itu, mereka tengah tertawa lepas, dan juga tengah merayakan kelulusan Daniel dan Bastian.


Banyak sekali yang mengucapkan selamat pada Bastian dan Daniel, terutama para kaum hawa, banyak yang meminta tanda tangan pada mereka hanya sekedar untuk kenang-kenangan.


"Ah, akhirnya penderitaan masa SMA gue berakhir," teriak Bastian penuh semangat sambil merangkul Dinda.


"Iya lega gue, " ujar Daniel, sambil memasukan tangannya pada saku celana.


"Iya aku juga seneng loh kalian lulus, " ucap Dinda sambil tersenyum manis.


"Hay, " sapa Rian yang baru sampai dari kantin.


"Kemana aja luh kampret? " saut Lintang sambil memukul pundak Rian.


"Dari kantin, " Jawab Rian sambil memperlihatkan snack yang ia beli ke hadapan mereka, agar mereka percaya.


"Bagi sini, " rebut Bastian, Bastian merebut snack yang Rian bawa.


Bastian dan Daniel sudah lulus, Rian dan Lintang baru akan naik kelas 3 sementara Sherly dan Dinda naik ke kelas 2.


"Oh iya kalian mau di terusin kemana kuliahnya? " tanya Dinda sambil memakan snack Rian yang di berikan Bastian.


"Kalau aku yah sayang, aku mau tanya sama orang tua aku dulu," ucap Bastian sambil di lebay-lebay kan.


"Lebay lu Bas, " ujar Daniel sambil memukul perut Bastian pelan.


"Sakit *****, " rintis Bastian sambil memegang perutnya.


"lebay tau gak lu Bas, " ucap Rian sambil tertawa, menertawakan Bastian.


"Biarin, " acuh Bastian sambil mengadu pada Dinda.


"Uluh si sayang kenapa? " ledek Dinda sembari mengacak-acak rambut Bastian.


Bastian malah memeluk Dinda.


"Lepasin adik gue! kalian belum muhrim tau, " ucap Daniel sambil mencoba melepaskan pelukan Dinda dan Bastian.


Bastian dan Dinda melepas pelukan mereka sambil menatap wajah Daniel.


"Bilang aja mau pelukan," ledek Bastian.


"Iya yah padahal bilang aja, " balas Dinda yang juga meledek Daniel.


"Siapa bilang? " ucap Daniel malu-malu, sambil memalingkan wajahnya.


"Alah jual mahal luh, " goda Lintang sambil menaik turunkan alisnya.


"Apa luh?" ketus Daniel sambil menatap tajam lintang.


"Sherly? kakak gue tuh pengen lu peluk," sindir Dinda sambil menunjuk Daniel dengan dagunya.


"Apaan sih? "muka Sherly semakin memerah, bahkan detak jantung nya kembali berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.


"Alah gak usah pura-pura gak denger ah" ujar Rian.


"Hay, " sapa Della, dan Maya.


Mata mereka tertuju pada Maya dan Della yang menghampirinya, mereka juga mendadak terdiam.


"Ngapain lu kesini? " ketus Lintang.


"Gue kesini mau minta maaf, "lembut Della sambil menatap satu persatu wajah mereka.


"Punya rencana apa lagi sih lu?" tegas Rian.


"Udah yah, aku maafin kalian kok, " sambung Dinda, sambil menampilkan senyuman ramahnya.


"Beneran kamu mau maafin kita? " ucap Della tidak percaya, ia sudah sangat jahat dulu pada Dinda lalu Dinda dengan mudahnya memaafkan dirinya.


"Iya aku maafin kalian, asal kalian janji yah jangan jahat lagi," lembut Dinda.


Dinda memeluk Della dan Maya, lalu melepaskan nya kembali.


"Apaan sih Din? dia itu udah nyulik kamu, " kesal Daniel melihat perlakuan Dinda pada Della.


"Udah ah, kita itu harus saling memaafkan benar apa kata Dinda, Tuhan aja yang nyiptain kita suka memaafkan kesalahan kita, masa kita yang di ciptakan nya gak mau saling memaafkan, " jelas Sherly dengan lantang.


"Kita tidak akan menjadi hina bila memaafkan orang lain, " ujar Dinda.


"Iya juga si yah," ucap Bastian yang dari tadi diam saja.


"Ya udah gue maafin kalian, " sambung Bastian.


"Kita juga, tapi awas yah kalau misalkan kalian jahatin si Dinda lagi, " ucap Lintang sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Setelah mereka bersalaman, Della dan Maya bergabung dengan mereka.


Hari sudah mulai sore dan seluruh siswa Arwana pun juga di bubarkan, nanti malam ada acara di rumah Dinda untuk merayakan kelulusan dan kenaikan kelas mereka.


Della dan Maya juga di undang untuk ikut agar acaranya lebih seru.


Saat Bastian akan mengantarkan Dinda pulang, Dinda menolaknya. Alasannya takut Bastian kecapean karena malam Bastian akan ke rumahnya, jadi biarkan Dinda pulang dengan Daniel.


Bastian sudah berada di depan rumah miliknya, dengan semangat ia memasuki rumah namun saat ia akan membicarakan kelulusan nya pada ibunya, ia malah di kagetkan saat ia masuk ke kamar orang tuanya.


Ibunya tengah di periksa oleh dokter dengan ayah Bastian berada di samping ibunya, tengah menggenggam tangan istri nya itu, ia berjalan menuju mereka dan mendengarkan pembicaraan dokter.


Bastian memang sudah menerima kembali ayahnya, walau bagaimana pun mungkin ibunya memang sangat membutuhkan dia.


"Jadi gini pak, istri bapak harus cepat di berikan perawatan yang khusus, karena penyakit kanker nya sudah semakin parah, jika bapak ingin perawatan yang lebih bagus sebaiknya bapak membawa istri bapak ke luar negeri pak, " ucap dokter yang tengah mengobrol dengan ayah dan ibunya Bastian.


Tubuh Bastian yang sudah berada di dekat ibunya mendadak terdiam karena ia mendengar juga ucapan dokter itu, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Eh kamu udah pulang?" tanya ayahnya.


Namun seperti nya Bastian masih berkutat dengan pikirannya, sampai ia tidak mendengar ucapan ayahnya.


"Ya sudah pak, saya pulang dulu yah, " kini dokter tersebut keluar dari kamar itu.


"Bas, " lembut ibunya yang sudah melemah.


Saat ibunya memanggil dirinya tiba-tiba ia mendadak sadar dan kembali tertuju pada ibunya, ia langsung duduk di samping ibu nya.


"Kenapa kalian gak bilang sama aku?" ucap Bastian sambil meneteskan air mata, namun ia tetap berusaha tegar.


"Ibu dan ayah cuman gak mau ganggu kamu sayang, kita gak mau ganggu kelulusan kamu, dan sekarang kamu sudah lulus kan, jadi ini adalah waktu yang tepat," jelas ayahnya.


"Dan ayah juga akan membawa ibu ke Amerika untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, karena kalau di sini peralatan nya itu masih kurang, " sambung ayahnya.


"Dan ibu juga gak mau kamu jauh dari ibu, jadi ibu akan mengajak kamu pergi ke Amerika sama kita," ujar ibunya.


Pikiran Bastian semakin kacau ia harus pergi ke Amerika dengan ibunya, terus bagaimana dengan Dinda, ia tidak tega melihat Dinda.


Tapi ia juga harus menemani ibunya, ia mengacak-acak rambut nya frustasi ia benar-benar bingung harus apa.


Namun yang pasti ia memang akan ikut ibunya, namun ia bingung bagaimana caranya ia menjelaskan ini pada Dinda, dan kata ayahnya pun mereka akan pergi besok karena jika di nanti-nanti takut kondisi ibunya semakin memburuk.


Malam ini adalah malam Terakhir ia bersama Dinda.