Cupu Fake

Cupu Fake
32,ditinggalkan



selamat membaca😍😘


Hari sudah pagi, Dinda dari semalam tidak bisa tidur ia juga sudah mencoba untuk memejamkan matanya, namun tetap tidak mau tertidur.


Ini baru pukul 7 sedangkan ke Bandara nanti pukul 8, jadi Dinda sekarang tengah bersiap-siap terlebih dahulu.


Daniel, Lintang, Sherly, Maya, Rian, dan Della juga akan ikut ke bandara, mereka juga sedih Ketika mendengar ibunya Bastian sakit, apalagi sakitnya separah itu.


Dinda akan berangkat dengan Daniel, Lintang dan juga Sherly, sedangkan yang lainnya menggunakan mobil Rian.


Dinda sedang memakan sepotong roti di meja makan dengan tatapan kosong.


"Woy kenapa lu? " ucap Lintang mengagetkan Dinda, namun rupanya Dinda hanya menatapnya datar.


"Bisa diem gak kak, nanti roti ku loncat dari tangan ku gimana?" balas Dinda sinis.


Lintang duduk di samping Dinda,


" makannya jangan ngelamun mulu, nanti kesambet," ucap Lintang sembari mengambil roti.


"Kan setannya juga ada di sini, gak mungkin kesambet," balas Diana sambil memutar bola matanya malas.


"Yeh, bilang gue setan lagi, " balas Lintang tak Terima.


"Biarin, " acuh Dinda.


Setelah selesai sarapan Dinda pergi ke kamar nya untuk bersiap-siap, setelah mandi ia menggantikan pakaian menggunakan kaos berwarna merah panjang, lalu menggunakan rok hitam pendek, tak lupa ia juga menggunakan sepatu sneakers berwarna hitam.


Ia juga merias dirinya, yah walaupun hanya menggunakan liptint dan juga bedak bayi.


Dinda berjalan keluar kamar, Dinda juga sudah di tunggu oleh Sherly di ruangan tamu, rupanya Sherly sudah datang duluan.


Dinda menghampiri Sherly dan duduk di samping nya, menunggu kedua kakak nya yang masih belum juga keluar.


"Ih pada kemana sih? lama amat, gue aja yang cewek udah siap, " kesal Dinda yang melihat kakaknya belum.


"Sabar napa, " saut Sherly sambil tersenyum.


"Lama, " sinis Dinda sambil menyenderkan badannya pada senderan kursi.


Tak lama kemudian Daniel datang di susul oleh Lintang.


"Yuk berangkat?" ajak Daniel.


"Lama, " ketus Dinda sambil berdiri dan berjalan ke mobil mendahului mereka.


"Tu anak kenapa? " tanya Lintang sambil melihat kepergian Dinda.


"Biasa lagi sensi, kan mau di tinggalin, " balas Daniel.


"Ya udah yuk ah, " ucap Lintang yang juga berjalan keluar, di susul oleh Daniel dan Sherly sembari bergandengan tangan.


Lintang duduk di bangku pengemudi, sedangkan Dinda sudah berada dari tadi di sana tepatnya di samping Lintang.


Di susul oleh Daniel dan Sherly yang duduk di bangku belakang.


Setelah semuanya masuk, Lintang langsung menjalankan mobilnya.


Mereka sudah sampai di bandara, mereka turun dari mobil, dan mereka pun segera mencari dimana Bastian.


Mereka berlari ke sana ke mari, mencari dimana Bastian, sampai akhirnya mereka menemukan Bastian dan juga orang tuanya.


Dengan cepat Dinda berjalan menghampiri Bastian, Bastian yang sudah melihat kedatangan Dinda langsung menghampiri nya.


Dinda memeluk erat Bastian, begitu pula dengan Bastian.


Dinda melepaskan pelukannya, dan langsung menghampiri ibunya Bastian.


"Halo tante, " sapa Dinda sambil menunduk, memberi hormat.


"Oh jadi kamu pacarnya Bastian?" balas ibunya Bastian sambil tersenyum ramah.


"Iya tante, " ucap Dinda tersenyum ramah.


"Maafin tante ya nak? " ucap ibunya dengan raut wajah bersedih.


"Maaf? Maaf untuk apa yah tante? " tanya Dinda kebingungan.


"Iya tante minta maaf udah jauhin kalian, " ucap ibunya Bastian lembut.


"Ah tidak papa tante, aku mengerti kok, " jawab dinda tersenyum.


"Hay tante,Om," sapa Lintang, Daniel dan juga Sherly, mereka juga menghampiri orang tua Bastian.


"Kalian teman nya Bastian? " tanya ibunya Bastian.


"Iya tante, " jawab ketiganya serentak.


"Ya udah sana, kalian pamitan dulu tuh di sana," suruh ayah Bastian.


"Ya udah yuk, " ajak Bastian sambil merangkul Dinda, dan berjalan ketempat yang agak sepi, di ikuti pula oleh, Lintang, Daniel dan juga Sherly.


Setelah mereka sampai di sana, Rian dan yang lainnya pun sampai di sana.


Bastian tengah mengucap salam perpisahan dengan teman-temannya, setelah selesai mengucapkan salam perpisahan dengan temannya kini ia meminta waktu untuk berdua dengan Dinda.


Bastian mengajak Dinda mengobrol berdua.


"Din hari ini aku pergi yah?" ucap Bastian lembut, sambil memandang Dinda.


"Iya yang, kamu pergi aja. "


"Aku janji setelah aku pulang dari Amerika, aku akan langsung menikahi mu, " janji Bastian.


"Iya, aku percaya, " ucap Dinda,Bastian langsung memeluk erat tubuh Dinda membuat ia semakin enggan meninggalkan Dinda.


Namun Dinda melepaskan pelukannya, "Sudahlah yang, kamu kan sebentar lagi berangkat, nanti ketinggalan loh. "


"Aku sayang kamu, " ucap Bastian lirih sambil mencium kening Dinda, dengan menjijikkan kakinya Dinda membalas ciuman Bastian di keningnya.


Dinda dan Bastian kembali berjalan menuju teman-temannya, dan setelah itu ia kembali ke orang tuanya.


Dan tak lepas-lepasnya Dinda memegang tangan Bastian.


"Udah mau berangkat tuh Bas? " ajak Ayah Bastian.


Sebelum pergi Bastian melirik ke arah Dinda terlebih dahulu, dan melepaskan genggaman Dinda, namun lagi-lagi ia kembali mencium kening Dinda, setelah itu ia berjalan menjauh dari Dinda.


Dinda tersenyum melepaskan Bastian pergi, walau hatinya sebenarnya sangat rapuh melihat itu, Lintang langsung mengelus punggung Dinda mencoba menenangkan Dinda.


Setelah Bastian sudah tidak bisa di lihat lagi, baru lah air matanya jatuh, tapi ia langsung menghapus nya, Lintang memeluk Dinda.


"Udah yah jangan nangis, kau harus percaya sama Bastian, karena hanya itulah yang bisa menjaga hubungan mu agar tetap baik, " ucap Lintang sambil melepaskan pelukannya, dan mengajak Dinda untuk pulang.


Di dalam mobil Dinda tak bersuara, mereka pun menatap kasian pada Dinda, Dinda hanya bisa memandang mobil yang berlalu lalang di jalanan.


"Bas, sebenarnya aku sangat benci menunggu, namun saat menunggu itu berhubungan dengan mu, entah kenapa aku menjadi suka menunggu," gumamnya dalam hati sambil tersenyum.