
Author POV
Sementara itu di sisi lain ada yang tengah berbunga-bunga, siapa lagi kalau bukan Sherly ia sangat senang karena bisa berada di dekat Daniel, yah walaupun hanya bisa menatapnya.
"Kak ini di simpan dimana yah? " tanya Sherly yang sedang membawa nampan yang penuh dengan minuman, dengan rasa gugup yang amat besar.
"Taro di sana aja! " balas Daniel sambil menunjuk meja.
"Ok, "Sherly pun segera menaruh minuman tersebut, lalu setelah itu ia berjalan menuju Daniel yang sudah duduk di teras villa bersama Rere.
"Kak boleh duduk di sini gak?"
"Boleh duduk aja, " balas Daniel sambil melirik ke arah Sherly yah walaupun hanya beberapa detik.
Namun tiba-tiba mereka bertiga melirik pada seseorang yang baru datang.
"Sini Din biar gue yang bawa, " kekeh Bastian yang tengah mengejar Adinda yang membawa piring besar berisi sosis dan juga BBQ yang telah mereka bakar tadi.
"Gak usah, " sinis Adinda yang semakin mempercepat jalannya.
Lalu ia langsung menaruh piring itu di meja dengan sangat keras, setelah itu ia berjalan menuju tempat Daniel.
"Kenapa lu din? " tanya Daniel yang keheranan melihat tingkah adik nya itu.
"Tau gak kak temen kakak yang ini tuh yah beneran gak bisa di rem yah mulutnya, bikin gendang kepala gue mau pecah tau gak, " sinis Adinda yang langsung berdiri di depan Daniel sambil menghentak-hentakan kakinya ke tanah.
Sedangkan Daniel hanya bisa tertawa kecil melihat adik perempuan nya bertingkah seperti anak kecil.
"Apaan sih kak? malah ketawa lagi, " Adinda pun semakin kesal dengan kakaknya yang malah bereaksi seperti itu.
Namun saat ia akan pergi tangan dia di tahan oleh seseorang, "Gue minta maaf deh, " ucap Bastian sambil menatapnya penuh penghayatan.
Entah ada apa, Adinda malah di buat mematung sambil berbalik menatapnya, saat bastian memegang tangan Adinda itu malah seperti ada aliran listrik yang mengalir ke seluruh tubuh nya, dan membuat jantung nya kini tak stabil.
Saat mereka tengah bertatapan "Cie jangan pada berantem nanti malah pada suka hayoh," goda Sherly sambil tertawa, dan membuat mereka sadar dari lamunannya, Bastian pun dengan refleksi melepas tangan Adinda.
Dan mereka bertiga pun kembali tertawa melihat kelakuan dua orang tersebut.
Adinda di buat semakin kesal oleh mereka, dan akhirnya ia beranjak pergi ke sebuah bangku yang berada agak jauh dari mereka, dia duduk di sana sendirian sambil masih memajukan bibir nya karena kesal.
Tak lama kemudian Rian dan Lintang pun datang dengan membawa beberapa ranting pohon.
"Ngapain lu ada di sini dek sendiri lagi?" tanya Lintang yang melintas di depan Adinda.
"Tang, gue duluan yah berat nih, " ucap Rian sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Tau tuh mereka nyebelin tau gak, " sinis Adinda.
"Ya udah lu tau kan mereka pasti bercanda," Lintang pun mengelus lembut puncak rambut panjang Adinda yang begitu lembut dan wangi.
"Kak tau gak aku rindu banget ama nenek, " lirih Adinda sambil memeluk Lintang.
"Udah gak usah sedih-sedihan, kita ke sana yuk, " ajak Lintang sembari melepaskan pelukannya.
Mereka pun berjalan menuju pada yang lainnya sambil bergandengan tangan.
"Din maafin gue napah! " Daniel pun menghampiri Adinda yang tengah berdiri.
"Gak, adik gue gak boleh di sentuh, " sinis Lintang pada Daniel yang akan menyentuh rambut Adinda.
Adinda pun tersenyum kecil melihat kedua kakaknya itu, Lintang membawa Adinda menuju tempat di mana ia akan membuat api unggun nya kecil.
Setelah mereka membuat api unggun kini mereka tengah bernyanyi dan mengitari api unggun itu dengan tawa.
Ia tengah duduk di teras villa, dengan menggunakan baju tidur dan tak lupa memakai jaket karena udara di sana sangat, dingin apalagi ini sudah tengah malam. Entah kenapa Dinda merasa tiba-tiba rindu dengan neneknya sampai ia tidak bisa tidur, ia tengah merasakan suasana malam yang begitu sunyi.
Namun ternyata Bastian pun belum tidur, ia tak sengaja melihat Dinda tengah duduk di luar, lalu ia menghampiri Adinda dengan membawa dua gelas air hangat untuk nya dan juga untuk Adinda.
Setelah sampai di luar ia menaruh gelas tersebut di meja, ia langsung duduk di kursi di samping Adinda.
Adinda pun terkejut melihat ada Bastian di samping nya yang kini tengah memandangnya.
"Ngapain lu kesini?" ketus Adinda yang kembali mengalihkan pandangan nya.
"Gak, barusan gue mau bawa minun terus gak sengaja deh liat lo lagi sendirian di sini jadi gue pengen nemenin loh aja, " balasnya sembari menyenderkan kepala.
"Ngapain lu mau nemenin gue?"
"Karena gue mau aja, lagian gue juga gak bisa tidur. "
Hening, tak ada obrolan di antara keduanya mereka berdua tengah terjebak dengan pikirannya masing-masing.
"Lu, " ucapnya berbarengan sambil saling menunjuk dan menatap, membuat mata mereka bertemu.
"Lu aja duluan, " ucap Adinda sambil kembali menatap ke depan.
"Lu pernah gak rindu ama seseorang sampai lu mikirin dia terus," ucapnya sambil kembali menyenderkan kepalanya ke senderan kursi.
"Pernah, buktinya saat ini gue lagi rindu ama seseorang sampai-sampai gue gak bisa tidur," balasnya sambil tetap menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Ternyata sama, cuman bedanya mungkin kalau lu rindu sama seseorang yang lu sayang, tapi kalau gue rindu a
sama seseorang yang gue benci, dan entah kenapa gue mesti rindu sama dia, kan brengsek memang. "
"emang siapa orang yang lu rindu? terus emang bisa kalau kita benci terus malah jadi rindu? " ucap Adinda yang kini penasaran dengan orang yang bastian maksud.
"Bokap gue, " balasnya dengan santai.
"Kenapa lu benci ama bokap lu? " Adinda menatap wajah Bastian.
Dan begitu pula dengan Bastian, keduanya kembali saling bertatapan.
"Ah kenapa ni orang kalau di liat dari deket ternyata ganteng banget, apa kata gue barusan ganteng ah gak, gak jadi, " batin Adinda.
"Kenapa kok gue ngerasa ni orang mirip sama siapa yah? kok gue lupa," batin Bastian.
Setelah beberapa detik pertatapan kini mereka memalingkan tatapannya ke arah depan dengan berbarengan.
Merekapun kembali ke dalam keheningan, rasanya mereka sama-sama kembali canggung.
"Oh iya Bas, lu itu sepupu si Rere?" tanya Adinda, mengalihkan pembicaraan.
"Iyah emangnya kenapa? "
"Gak, lu deket banget ama dia? "
"Enggak juga, dia itu kalau gue denger denger sih adalah salah satu siswa perempuan yang di takutin ama adik kelas, soalnya dia katanya suka bully orang gitu, tapi gue sendiri sih belum pernah liat dia ngebully orang. "
Adinda pun ber oh ria sambil mengangguk ngangguk.
"Ya udah gue ke kamar dulu yah, " pamit Adinda, yah walaupun dia pengen tau dengan alasan kenapa Bastian sangat membenci ayahnya tapi menurut nya ini bukan saat yang tepat, ia gak mau bertanya, dia mau Bastian sendiri yang jelasin nya tanpa ada paksaan, dia juga melihat banyak kesedihan dan ke kecewaan di mata Bastian.
Karena seseorang memang bisa menyembunyikan luka dengan senyuman namun tidak dengan tatapan, selalu terpapar kesedihan di matanya.
Sinar bulan telah tergantikan dengan matahari yang begitu indah, jam telah menunjukkan pukul 07;00 pas dan semua yang ada di villa telah bangun mereka telah bersiap-siap untuk pulang.