
sudah tiga hari setelah kejadian malam itu, dan sudah tiga hari juga Dinda menjaga jarak dengan Bastian, karena Dinda pikir kalau Bastian sudah mulai curiga dengan dia, Dinda hanya tak ingin Bastian membenci nya jika dia tau yang sebenarnya, sejujurnya Dinda sudah memiliki perasaan pada Bastian.
Dinda berada di sekolah bersama Sherly, namun di sekolah tidak ada pembelajaran, di karena kan semua sedang sibuk mengadakan persiapan untuk acara nanti malam, yaitu acara ulang tahun sekolah.
"Bosen, " keluh Dinda sambil memutar bola matanya malas.
"Sama gue juga bosen, udah dua jam kita di sini, " balas Sherly.
"Mau keluar males, semua pada sibuk buat acara ulang tahun, lagian ni yah kaya manusia aja ada acara ulang tahun, " kesal Dinda.
Mereka hanya berdua berada di kelas, karena murid yang lain sedang sibuk dengan kesibukannya masing-masing, namun tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri mereka.
"Hay, " sapa lelaki itu sambil melambaikan tangannya.
"Hay juga kak, " balas Sherly dan Dinda serentak.
"Kalian Sherly sama Dinda kan yah? " tanya lelaki itu.
"Iya kak, emang kakak siapa yah, dan ada apa?" tanya Sherly.
"Kita kenalan aja dulu yah, karena kata pepatah kalau gak kenal maka gak sayang, " ucap lelaki itu sok dramatis.
Menurut logika gue juga mustahil kali, masa Justin bieber naksir gue, kenal aja dia sama gue kagak.
"Nama gue Rama, dan kedatangan gue kesini mau ketemu sama lu Din."
"Kenapa kakak mau ketemu aku? " tanya Dinda ke heranan.
"Jadi gini, kan nanti malam akan ada acara yah, terus band yang nanti akan Tampil di sini vokalis nya sakit," jelas Rama.
"Terus hubungannya sama aku apa kak? " balas Dinda sambil tertawa, ia rasa Rama salah orang.
"Jadi gini Din, tadi kan aku nanya-nanya siapa yang bisa nyanyi eh si Lintang sama si Daniel bilangnya kamu bisa nyanyi, jadi mau yah gantiin vokalis yang sakit, " mohon Rama sambil memasang muka memelas.
"Ngapain coba kakak gue bilang gue bisa nyanyi, kalau aja mereka ada di sini pengen gue cubit tu ginjalnya, " batin Dinda, memaki mereka.
"Enggak ah kak malu, " tolak Dinda.
"Ya elah Din gak papa kali, " ucap Sherly.
"Iya tu temen kamu juga setuju kok, " ujar Rama.
"Ya udah deh iya, " pasrah Dinda, jujur ia sangat tidak mau bernyanyi apalagi sampai di depan umum.
"Ok, nanti jam 10 ke ruang les musik yah, soalnya kita latihan dulu," Rama pun kembali meninggalkan mereka.
Waktu telah menunjukkan pukul 09:52 Dinda dan Sherly tengah berjalan menuju ruang les musik untuk latihan, Dinda di kaget kan dengan seseorang yang tengah duduk sendirian sambil mengutak-atik senar gitar, lelaki itu tak lain adalah Bastian.
"Kak Bastian," panggil Dinda sebelum mendekati Bastian.
"Ah lu Din," saut Bastian sambil menatap seseorang yang memanggilnya.
"Kakak lagi ngapain di sini? " kini Dinda sudah berada di depan Bastian, Dinda bersama Sherly.
"jangan-jangan apa kak? " balas Dinda.
"Iyah jangan-jangan kamu yang gantiin vokalis nya yah? " sambung Bastian.
"Iyh emangnya kenapa gak boleh? " kesal Dinda yang merasa di remehkan oleh Bastian.
"Emang lu bisa nyanyi?" ledek Bastian sambil memincingkan matanya.
"Ya bisa lah kak, orang aku suka nyanyi bareng kok sama kak Lintang juga kak Daniel di rumah, " ucap Dinda keceplosan, ia juga sadar kalau yang ia ucapkan salah, membuatkanya dengan susah payah menelan ludahnya sendiri.
"Lu tuh punya hubungan apa sih sama mereka? sampai segitunya amat, " kesal Bastian yang kembali beralih memainkan gitarnya, entahlah Bastian malah merasa ada rasa kecewa jika melihat atau tau Dinda bersama Lintang maupun Daniel.
Entah kenapa bastian merasa kesal jika Dinda terlalu dekat dengan Lintang dan Daniel.
"Gak ada apa-apa kok, ya emang gak boleh aku nyanyi sama mereka? " balas Dinda.
"Duduk yuk Din," Ajak Sherly yang mengajak Dinda untuk duduk di kursi samping Bastian, dan Dinda pun menyetujui nya.
"Kak? kak? ya ampun kak Bastian," panggil Dinda.
"Apaan sih? " sewot Bastian.
"Kakak kenapa sih? kakak marah? kalau kakak marah,marah sama siapa? dan kenapa? " tanya Dinda yang mulai merasa kalau Bastian tengah kesal pada seseorang, dan ia juga merasa kalau itu pada dirinya.
"Gak, " datar Bastian, tanpa melihat ke arah nya.
"Aku pikir kak Daniel doang yang bisa dingin ternyata kak Bastian juga sama," gumam Dinda pelan.
"Ya elah cemburu kali? "ledek Sherly.
"Cemburu sama siapa? " tanya Dinda.
"Entahlah."
Sementara itu Bastian tidak menggubris sama sekali obrolan mereka dia masih saja fokus dengan gitarnya.
Namun tiba-tiba yang lainnya datang, akhirnya mulailah latihan, setelah hampir satu jam mereka latihan, kini latihannya telah selesai, semua yang berada di sana terkejut mendengar suara indah milik Dinda, pasalnya mereka tidak percaya kalau seorang Dinda yang cupu ini bisa memiliki suara yang indah.
"Ok semuanya kita cukup kan saja latihannya sampai di sini, " ucap ketua dari band tersebut.
"Ok, " jawab semuanya.
Dinda dan Sherly ingin keluar dari ruangan tersebut namun, tiba-tiba dengan tidak sengaja Bastian nyelonong begitu saja mendahului mereka.
"Ih kak Bastian kenapa sih? "kesal Dinda sambil menghentak kan kaki nya ke lantai.
Bastian memang sedang dalam keadaan sensitif akhir-akhir ini, di karenakan ayahnya tinggal bersama ibunya kembali, dan juga karena berbagai hal lainnya.
"Tau ah, " malas Sherly.
Dinda dan Sherly pun beranjak pulang, tidak lupa mereka juga akan mempersiapkan diri untuk malam.