
Author POV
"Adinda kamu mau sekolah apa engga sayang? " ucap Adisty sambil mengetuk pintu kamar Adinda, dengan perlahan.
Awalnya Dinda tidak mau sekolah pasalnya ia masih ngantuk, semalam ia pulang tengah malam dari acara itu, ia juga pikir kalau misalnya anak-anak yang lainnya juga tidak akan sekolah, namun tak lama kemudian ia sadar kalau misalnya hari ini ia akan menjawab pertanyaan Bastian.
"Iya mah Dinda bangun, Dinda mau sekolah kok, " balas Dinda, sambil turun dari kasurnya.
**********
Setelah sampai di sekolah Dinda langsung mencari Sherly, yang ternyata Sherly sudah ada di kelas tengah tidur.
"Sherly bangun! " teriak Adinda sambil menggoyang-goyang kan tubuh Sherly yang tengah tidur pulas.
"Aduh apaan sih? ganggu aja deh, " Sherly pun bangun dari tidurnya.
Dinda tengah duduk di samping Sherly sambil menatap Sherly serius.
"Apaan sih? serius amat natap nya, "ujar Sherly yang merasa Dinda menatapnya dengan tatapan yang serius.
"Emang serius."
"Iya apa?"
"Lu tau gak? semalam kak bastian nembak gue, " balas Dinda sambil tersenyum manis.
"Apa? " teriak Sherly.
Dinda pun langsung menutup mulut Sherly, karena teriak itu membuat semua yang ada di kelas menatap ke arahnya, lalu tak lama kemudian mereka kembali lagi kepada aktivitas nya, karena mereka pikir itu hanya biasa saja.
"Berisik, " Dinda pun membuka kembali mulut Sherly.
"Terus lu Terima gak? " tanya Sherly pelan.
"Itu dia, gue belum Terima dia soalnya, gue pengen kasih tau dia dulu yang sebenarnya siapa gue, gue gak mau mulai hubungan dengan kebohongan, " jelas Dinda.
"Ya bagus dong, emang kenapa sih lu jadi kaya gini, kan lo belum sempat ngasih tau gue, " rupanya Sherly meminta kejelasan kenapa Dinda berpenampilan seperti ini.
"Ok."
*F*lashback.
Pagi yang indah di sekolah Bangsa, sangat indah malahan, aku berjalan melewati koridor sekolah,saat itu waktu masih pagi jadi belum terlalu banyak yang datang.
Saat itu entah ada angin apa, aku yang biasanya berangkat siang bahkan suka terlambat, hari itu aku mendadak ingin berangkat pagi, saat aku berjalan menuju kelasku.
Aku melihat ke tiga teman ku sedang bersama pacar ku, mereka tengah mengobrol, saat itu aku ingin mendengarkan obrolan mereka, aku bersembunyi di balik tembok, awalnya aku berpikir positif saja pada mereka.
"Bagus tu ATM berjalan kita jangan sampai kemana-mana, " balas Wulan, yang juga tersenyum puas.
"Iya dong sayang, " balas Adit pacar ku, sambil merangkul Wulan
Di sana mataku mulai membulat, dan amarah ku mulai menaik, aku tah habis pikir dengan mereka, teganya mereka lakuin itu hanya karena pengen dapetin uang.
Akhirnya aku menghampiri mereka dengan amarah yang masih membara.
Merekapun mendadak menghentikan obrolan nya saat melihat ku mendekati mereka, mungkin mereka pikir aku tidak mendengar ucapannya.
"U-dah b-berapa l-lama kamu di sini? " gugup Wulan karena mungkin takut ketahuan.
"Menurut lu? " ketus ku sambil menatap mereka tajam.
"Din lu pasti salah paham, ini semua gak sama, sama apa yang ada di pikiran kamu, " ucap Adit sambil memegang tanganku, namun dengan cepat aku melepaskan tangannya dengan kasar.
"Emang lu tau apa yang gue pikirin saat ini?" bentak Dinda.
"Dun gue minta maaf, " mohon Maira.
"Iya Din gue juga minta maaf, " timpa wulan dan Cici.
"Lu pikir dengan lu semua minta maaf, itu bakal ngerubah perasaan gue lagi sama lu semua, oh iya Adit mulai sekarang kita putus, aku gak butuh pacar yang tukang selingkuh," aku meninggalkan, mereka sebenarnya aku sudah tidak kuat menahan air mata ku, karena saat itu mataku mulai memanas.
"Din maafin yah, " wulan pun menahan tangan ku.
"Lepasin gue! gue gak nyangka kalian ngelakuin hal kaya gitu hanya untuk uang, " aku pun melepas paksa tanganku sambil tersenyum kecut kearah nya.
"Oh iya, " aku menghentikan langkah ku dan berbalik melihat mereka sambil mengeluarkan uang lembar pecahan 50 ribuan dari tas ku, lumayan banyak sih.
"Ini kan yang lo mau? ambil gue gak butuh itu, yang gue butuhin itu cuman sahabat yang tulus, " aku melemparkan uang itu tepat ke muka Adit.
Aku sudah tidak dapat menahan air mata ku, air mataku kini mengalir deras di pipi.
***********
"Jadi itu alasan kenapa gue ngelakuin ini? dan juga pindah sekolah ke sini? "
Sherly pun mengerti.
"Ya udah sekarang lu harus berani ngomong itu ama Bastian, Bastian juga bakal ngerti kok alasan lu, " masukan dari Sherly.
"Iya makasih yah Sherly, lu sahabat gue yang paling baik, " Dinda memeluk Sherly dengan erat.
Sherly juga membalas pelukan Dinda.