
Bastian sudah siap pergi ke rumah Dinda, ia sebenarnya tidak tau apa yang akan ia katakan pada nya, tapi bagaimana pun ia harus bicara pada Dinda.
Ia tau apa yang akan ia tanggung setelah ini, dengan lunglai ia memasuki mobilnya, dan langsung menyalakan dan menjalan kan mobilnya keluar dari halaman rumah.
Dengan hati yang resah sekarang ia sudah sampai di rumah Dinda, ia turun dari mobil, dan ternyata saat ia sampai di sana sudah terdapat banyak orang yang datang, mungkin hanya dirinya saja yang belum datang.
Ia mengumpulkan terlebih dahulu keberanian, dengan berat ia melangkah kan kakinya, memasuki halaman rumah Dinda.
Dinda yang melihat Bastian masuk langsung berlari menghampiri Bastian dan memeluknya, begitu pula dengan Bastian ia kini membalas pelukan Dinda.
"Lama Banget sih, " ucap Dinda sambil melepas pelukannya, dan langsung menarik Bastian menuju yang lainnya.
Ternyata benar saja hanya Bastian yang baru datang, sedangkan yang lainnya sudah sedari tadi datang ke rumah Dinda, dan mereka tengah menonton film, karena Dinda memasang layar di halaman rumah.
Bastian di ajak duduk oleh Dinda di samping nya, Bastian mencoba bersikap biasa saja, karena ia tidak mau merusak malam ini, biarkan saja Dinda bahagia terlebih dahulu, hingga waktu nya nanti ia harus pamit.
"Kenapa sih yang kok bengong mulu? " tanya Dinda heran sambil memakan cemilan, dan menatap ke arah bastian.
"Gak papa kok, " lagi-lagi ia bersikap seolah tidak akan ada yang terjadi.
Daniel bangkit dari duduk nya, dan berjalan ke depan, membuat semua orang yang sibuk menonton film horor beralih menatap Daniel.
Sebelum memulai berbicara Daniel menarik nafas terlebih dahulu, dan ia juga mematikakan film nya, semakin membuat semua orang penasaran akan apa yang membuat Daniel melakukan itu.
"Mungkin kalian bingung dengan apa yang akan gue lakukan saat ini, maka gue akan menjelaskannya, " ucapnya lembut sambil memandang Sherly, sedangkan Sherly yang di pandangnya hanya bisa membalas senyuman pada Daniel.
Bahkan kini Sherly benar-benar tidak tau harus bersikap seperti apa ketika di padang hangat oleh Daniel, tak seperti biasa nya, Daniel hanya akan menatap orang dengan tatapan dingin, selain pada Dinda adiknya.
"Awalnya gue berusaha keras menyangkal hati gue, namun seberapa keras gue menyangkal nya itu malah buat gue tersiksa, " Daniel menggantungkan ucapnya, sambil tak lepas nya ia bertatapan dengan Sherly.
Membuat semua yang ada di sana saling bertatapan tidak percaya, apakah yang kini ada di pikiran mereka itu benar, seorang Daniel si kulkas akan menembak Sherly.
"Sherly gue bukan penyair jadi gue gak bisa bikin kata-kata yang menyentuh, gue kali ini mau nembak lo, lo mau kan jadi pacar gue?" ucap Daniel penuh penghayatan, sambil terus menatap Sherly, yang kini Sherly kebingungan harus bereaksi seperti apa.
Suasana malam yang sepi, seakan-akan malam ini di ciptakan hanya untuk mereka, Daniel pun berjalan menghampiri Sherly yang masih membeku di tempatnya.
Setelah sampai ia mengulurkan tangannya untuk membantu Sherly berdiri, Sherly pun menerima uluran tangan Daniel dan berdiri.
Mereka yang melihat itu hanya bisa tersenyum bahagia, yah walau pun ada di antara mereka yang merasa tersakiti, siapa lagi kalau bukan Della, namun Della sekarang juga sadar walau bagaimana pun ia memang tidak di takdir kan bersama Daniel.
"Lu mau kan jadi pacar gu" tanya Daniel sekali lagi sambil masih memegang tangan Sherly.
"Aku mau kak, " ucap Sherly sambil tersenyum, ya pasti ia tidak akan menolaknya, ia kan memang sudah suka sama Daniel sejak dulu.
Daniel bisa bernafas lega, Daniel memeluknya penuh kasih sayang, dan Sherly pun berbalik memeluknya, bahkan mereka sampai tidak sadar jika di sana masih banyak orang yang tengah menatap mereka.
"Gue pikir si Daniel gak bisa romantis, " ucap Rian pelan, ia tidak ingin merusak suasana Daniel dan Sherly.
"Gue juga sama, " balas Lintang, mereka masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat barusan.
Hati Della memang sekarang sedang hancur ia tidak percaya akan secepat ini ia kehilangan Daniel, walau pun hatinya sudah mengikhlaskan namun tetap saja hatinya sakit, walau bagaimana pun ia kan mencintai Daniel tulus tidak seperti Rere.
Namun ia mencoba tersenyum, mencoba menikmati malam ini.
"Lu gak papa kan de?" tanya Lintang, Lintang tau jika Della menyukai Daniel.
"Yah bagaimana pun gue harus relain mereka, cinta itu gak bisa di paksa, secinta apapun kita sama seseorang tapi kita gak boleh egois kan, Daniel juga berhak bahagia, " jelas Della sambil terus menatap ke arah Daniel dan Sherly yang masih berpelukan.
Setelah beberapa lama berpelukan Daniel pun melepaskan pelukannya, lalu ia mencium rambut Sherly, yang begitu wangi menusuk hidungnya.
"Yang, aku pikir kak Daniel gak bisa nembak cewek, " ucap Dinda yang tengah menyenderkan kepalanya, di dada bindang milik Bastian, rupanya ia meragukan kakaknya.
"Yah Sherly emang pantas untuk di miliki Daniel, begitu pula sebaliknya," balas Bastian sambil mengelus lembut rambut Dinda.
"Sekarang tinggal kak Lintang yang belum punya pacar, " ucap Dinda sambil berbalik memandang Lintang yang tengah mengobrol dengan Della.
"Yang? kamu yakin kalau si Della udah berubah?" tanya Bastian yang juga tengah menatap Lintang dan Della.
"Aku yakin kok yang, dari tatapan nya aku bisa lihat kalau ia tulus, " balas Dinda yakin.
Jarak mereka dengan Lintang cukup jauh, karena tadi Bastian meminta duduk berdua saja, jujur ia sebenarnya hanya ingin berdua bersama Dinda, karena ini adalah malam terakhir, untuk beberapa tahun kedepan bersama Dinda sebelum akhirnya ia harus pergi bersama orang tuanya.
"Kamu gak bakal ninggalin aku kan? " tanya Dinda entah kenapa ia merasa seperti akan di tinggal jauh oleh Bastian, Dinda menegakkan duduk nya sambil menatap ke arah Bastian.
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Bastian membeku tidak bisa berkata-kata, bagaimana bisa Dinda tau jika ia akan meninggalkan nya, itu yang sekarang ada di pikiran Bastian.
"Ah kamu mah malah bengong, aku yakin kok kamu gak bakal ninggalin aku, " ucapnya percaya diri sambil memeluk Bastian.
Bastian semakin bingung bagaimana cara ia berbicara pada Dinda kalau misalnya ia akan pergi bersama orang tuanya.