Cupu Fake

Cupu Fake
26, kepanikan



Sementara itu di rumah Dinda semua sudah mulai panik pasalnya sudah siang tapi Dinda belum juga pulang, di telpon pun tidak aktif.


"Aduh kemana lagi tu anak? " panik Adisty sambil berjalan maju mundur di ruang tamu.


"Mah tenang dong, mah ini aku juga berusaha hubungin Bastian, siapa tau aja dia tau si Dinda kemana, " balas Lintang sambil berusaha menghubungi Bastian.


"Iya mamah duduk aja! " Daniel pun mengajak Adisty untuk duduk dan mencoba menenangkan nya dan menyakinkan nya kalau Dinda baik-baik saja.


"Gimana mamah bisa tenang coba? gimana kalau misalkan Dinda di culik atau dia jatuh? " Adisty semakin panik membayangkan apa yang terjadi pada Dinda.


"Halo Bas lu lagi sama si Dinda gak?" tanya Lintang yang sudah berhasil menghubungi Bastian.


"Enggak kok, emangnya dia kemana?"


"Dia itu tadi izinnya mau joging, tapi sampai sekarang dia belum pulang, di hubungi juga tadi gak aktif, " jelas Lintang.


"Apa? yang bener loh? gue ke sana sekarang, "


Setelah Bastian mendengar kabar Dinda yang tidak ada, ia langsung bergegas bangun dari kasurnya, dan pergi ke rumah Dinda.


"Gimana dia tau gak Dinda di mana? " tanya Adisty.


Lintang pun menggeleng lemas.


"Kamu hubungi temen deketnya Dinda coba? siapa kek? "sambung Adisty, yang semakin panik.


"Tadi udah Daniel telpon Sherly, katanya dia juga gak tau, dan dia bentar lagi mau ke sini, " balas Daniel.


"Tadi juga Lintang udah telpon Rere, katanya dia gak liat, " balas Lintang.


Adisty sudah sangat sedih ia benar-benar sudah tidak tau lagi apa yang mesti ia lakukan.


"Mah tenang yah, nanti kita cari Dinda, tapi kita tunggu Bastian sama Sherly dulu yah, " ujar Lintang, berusaha menenangkan Adisty.


Adisty tidak sama sekali menjawab ucapan Lintang, ia hanya menangis dan menundukkan kepalanya frustasi.


Daniel memeluk Adisty, sementara papah nya Dinda tidak tau akan Dinda yang hilang, papahnya sedang ada rapat, jadi mereka tidak mau membuat papah nya khawatir, jadi mereka tidak akan memberi tau papahnya.


Setelah sudah cukup lama mereka menunggu Bastian dan Sherly akhirnya mereka datang, dan kebetulan mereka juga datang bersamaan.


"Tante sabar yah, "Sherly duduk di samping Adisty sambil memeluk Adisty.


Adisty semakin menjadi-jadi di pelukan Sherly, pasalnya Dinda itu adalah anak perempuan satu satunya dia.


"Kita cari Dinda sekarang, " ajak Bastian, yang sudah sangat panik juga.


"Lu duduk dulu! lu tenaga dulu, kita gak bisa cari Dinda dengan keadaan kayak lu," ucap Daniel yang mencoba menenangkan Bastian.


"Gimana gue mau tenang coba? orang ya gue sayang sekarang gak ada, " tegas Bastian.


"Bukan cuman lo, kita di sini juga sayang sama dia, ngerti gak sih, lu mau cari dia kemana, jakarta itu luas gak mungkin kita bisa cari Dinda, kalau kita telusuri semua penjuru jakarta," jelas Daniel.


Bastian mulai menenangkan segala kepanikan nya, karena apa yang di ucapkan Daniel itu benar.


Bastian duduk di samping Lintang, sambil menundukkan kepalanya dan mengacak acak rambut nya.


"Lu sabar aja yah, kita juga sama kok sayang ama Dinda, makannya kita di sini sekarang, " ucap Lintang sambil merangkul Bastian.


Bastian hanya membalas dengan senyuman, ia tidak punya nafsu untuk berbicara apapun dan pada siapa pun.


Bahkan ia sudah pasrah, ia sudah lemas karena belum makan dari tadi pagi.


"Tolong-tolong, " teriak Dinda sambil menangis.


"Berisik, " bentak seseorang yang masuk ke dalam kamar tempat Dinda di sekap.


"Luh, " kaget Dinda.


"Iyah gue Adit, " Adit mulai mendekati Dinda sambil mengambil satu piring makanan.


"Ngapain sih lu nyulik gue? " kesal Dinda, sambil terus memandang Adit tajam.


"Aku kan udah bilang sayang, aku itu cinta sama kamu dan gak ada satu orang pun yang boleh milikin kamu, " tegas Adit yang sudah berada di depan Dinda.


"Kamu tuh jahat, cinta itu gak bisa di paksa, lagi pula kenapa kamu dulu selingkuh coba? " sewot Dinda sambil terus menangis.


"Udah sayang itu masa lalu, sekarang kamu kan udah sama aku," sinis Adit, sambil menyodorkan piring makanan pada Dinda.


"Apaan ini? " ketus Dinda.


"Makan gue tau kok lu pasti laper kan? "


"Gak, gue gak lapar, lagian kalau gue lapar gimana gue makannya coba orang tangan gue lu ikat, " ketus Dinda sambil memutar bola matanya malas.


"Oh lupa, ya udah gue suapin deh, " Adit pun menyuapi Dinda.


Yah karena Dinda saat ini sangat lapar, jadi ia terpaksa memakannya.


Dinda sudah selesai makan dan juga minum.


"Katanya gak mau, tapi abis, " goda Adit sambil mengangkat kedua alisnya.


"Kan lu yang maksa, " ketus Dinda, tak mau di salahkan.


"Enggak tuh gue gak maksa lu, " balas Adit sambil tersenyum .


"ya udah gue muntahin lagi nih. "


"Gak usah, "


"Coba aja lu mau balikan sama gue, gue gak bakal susah-susah nyulik luh tau, " lembut Adit sambil mengacak-acak puncak rambut Dinda.


"Apaan sih berantakan tau? beresin gue gak mau tau cepetan! ngalangin pemandangan gue tau, " kesal Dinda sambil memajukan bibirnya cemberut.


"Iya, iya bawel," balas Adit yang kini membereskan kembali rambut Dinda, senyum Adit berubah menjadi senyum yang biasa dulu ia berikan pada Dinda, yaitu senyuman penuh cinta.


"Kamu itu baik, tapi kenapa sih kamu ngelakuin ini coba, " ujar Dinda yang sudah mulai berhenti menangis ia sudah tenang, karena seperti nya Adit tidak akan melukainya.


"Gue mulai suka sama lu itu akhir-akhir ini Din, gue ngerasa gelisah kalau gak di samping lu, dan gue gak rela kalau misalnya lu sama orang lain. "


"Tapi lu gak bisa kayak gini, lu gak mikirin perasaan gue kayak gimana? gue emang pernah suka sama lu, tapi itu dulu, " jelas Dinda.


"Udah lah gak usah bahas itu, oh iya sebenarnya gue gak berniat buat nyulik loh, tapi ada temen loh yang nyuruh gue nyulik loh, " ucap Adit yang kini berdiri dan pergi membuka pintu kamar.


"Siapa? "


Saat Adit membuka pintu nya, Dinda semakin terkejut melihat siapa yang datang saat ini sampai Dinda membulat kan bola matanya, dan menelan ludahnya sendiri.