Cupu Fake

Cupu Fake
33,pertemuan kembali



Selamat membaca😘😍


Lima tahun berlalu setelah kepergian Bastian, selama lima tahun ini juga membuat hari-hari Dinda menjadi tidak semangat, apalagi dua tahun ini Bastian tidak pernah menghubungi nya lagi.


Awalnya Dinda akan menyerah dan melupakan semua kenangan yang pernah terjadi di antara mereka, namun semakin ia berusaha melupakan ia akan selalu mengingat nya.


Dinda menjadi sering sekali menulis curahan hatinya di dalam buku diary yang selalu ia bawa kemana-mana, Dinda masih kuliah.


Ia memang memiliki banyak teman baru, dan ia juga satu kuliah dengan Sherly, sedangkan Daniel semarang ia telah meneruskan perusahaan papahnya, bahkan Sherly dan Daniel juga sudah bertunangan.


Sedangkan Lintang ia malah berpacaran dengan Della entah apa yang membuat mereka berpacaran, mereka juga sudah 3 tahun menjalin hubungan itu.


Hari masih pagi dan dinda masih asik menuliskan sebuah curahan hatinya di dalam buku diary.


12:01:2020


Sebenarnya apa yang harus ku nanti dari seseorang yang pergi tanpa kepastian akan kembali.


Dinda kembali menutup bukunya dan mencoba tersenyum, kini ia harus bangkit tidak mungkin ia harus terpuruk selamanya.


Dinda berjalan keluar kamarnya, saat ia keluar kamar ia mendapati kedua kakaknya tengah sarapan, karena kak Daniel akan pergi kerja sedangkan Lintang akan kuliah karena Lintang ada kelas pagi hari ini.


Sedangkan Dinda tidak ada kelas pagi ini, tetapi nanti siang, iya juga sudah lama pindah dari rumah lamanya, ia pindah karena ayahnya ingin rumah mereka dekat dengan kantor barunya.


"Pagi kakak-kakak ku? " sapa Dinda yang turun dari tangga rumahnya, sambil tersenyum.


"Udah bangun lu?" tanya Lintang sambil tersenyum.


"Udah dong kak, " ucap Dinda sambil duduk di samping mereka.


"Belum siap-siap kamu Din?" tanya Daniel.


"Aku gak ada kelas pagi ini kak, nanti siang ada nya juga, " ucap Dinda santai sambil mengambil roti.


"Mamah sama papah belum pulang kak? " sambung Dinda.


"Belum, " datar Daniel.


Orang tua mereka sedang ada tugas di Inggris untuk mengurus perusahaan yang ada di sana, mereka di sana sudah hampir satu minggu.


"Kamu ikut aja sama kakak ke kantor? "ajak Daniel.


"Boleh tuh kak. "


setelah mereka selesai sarapan Lintang pergi ke kampus nya, sementara Dinda dan Daniel sedang mengendarai mobilnya menuju kantor.


Namun tiba-tiba, mobil yang di kendarai Daniel mendadak kehilangan kendali, membuat Daniel dan Dinda panik setengah mati, ternyata benar saja mobil Daniel menabrak pohon saat akan menghindari mobil lain yang berada di depannya.


Mereka tidak sadarkan diri, mereka di bawa oleh warga ke rumah sakit terdekat, Dinda tengah berbaring lemah di kasur rumah sakit.


Sementara Daniel seperti nya tidak separah Dinda, bahkan Daniel sudah bangun dari pingsan nya.


Daniel tengah menunggu Dinda di ruangan Dinda, di temani oleh Lintang juga, karena tadi Lintang buru-buru pulang setelah menerima telpon dari Daniel.


"Dia gak papa kan dok?" tanya Daniel cemas.


"Tidak papah, dia juga sudah melewati masa kritis nya tadi, " ucap dokter yang memeriksa Dinda.


"Din kamu harus kuat yah!" ucap Lintang pelan.


Tak lama kemudian Sherly datang bersama Della.


"Si Dinda udah gak papah? " tanya Sherly dan Della berbarengan.


"Katanya sih udah gak papah, " balas Lintang.


Setelah kedatangan Sherly dan Della ternyata dokter baru itu datang untuk mengganti infusan di tangan Dinda.


Namun alangkah mengagetkan nya ketika dokter itu masuk, membuat semua orang yang berada di sana membulatkan matanya dengan sempurna, menatap tak percaya sosok yang kini berada di hadapan mereka.


Begitu pula dengan dokter nya, ia bahkan menjatuhkan tas yang ia bawa, ia juga menangis.


Dokter itu berjalan menuju ranjang dinda, sedangkan yang lainnya bergeser memberikan jalan untuk sang dokter itu.


Ia mengelus pipi mulus Dinda sambil terus menangis.


"Lu kemana aja?" tanya Daniel datar, sambil terus menatap dokter itu


"Ceritanya panjang, " balas dokter itu tanpa membalas tatapannya, tatapan dokter itu masih tertuju pada Dinda.


"Lu gak tau apa? adik gue terus nyariin loh, " sinis Lintang.


"Gue juga nyariin dia kok, bahkan gue kembali ke Indonesia hanya karena ingin bertemu dengan dia, " balas dokter itu.


"Terus kemana aja selamat ini? " ketus Daniel.


"Gue bakal cerita semuanya, tapi nanti setelah gue selesai ganti infusan nya. "


"Udah dong yang, " ucap Sherly mencoba menenangkan Daniel, sembari memegang tangan Daniel.


Begitu juga dengan Della ia mencoba menenangkan Lintang, sementara Lintang dan Daniel menatap dokternya itu seakan mereka meminta penjelasan.


Dokter itu langsung mengganti infusan di tangan Dinda, setelah selesai ia langsung duduk di sana, duduk di kursi samping Dinda.


Sedangkan yang lainnya terus saja menatap dokter itu dengan tatapan tidak sabar.


Dokter itu menarik nafasnya terlebih dahulu.


"Dua tahun yang lalu, ibu meninggal, membuat ku di landa kesedihan," jelas dokter itu yang tak lain adalah Bastian.


"Aku waktu itu ingin sekali menghubungi Dinda, namun musibah ku tidak sampai di sana, rumah yang ku tempati malah kebakaran, aku tidak sempat membereskan semua barang-barang ku, dan juga ponsel ku, semua hangus terbakar. "


"Membuat aku dan ayahku pergi mencari rumah baru, aku terpaksa harus membeli ponsel baru, karena nomor kalian ada di ponsel itu, membuat aku tak bisa menghubungi kalian. "


"Awalnya aku juga akan pulang ke Indonesia, namun ayah ku bangkrut membuat aku terpaksa mencari pekerjaan untuk meneruskan kuliah dan makan ku sehari haridi sana."


"Akhirnya aku sudah sukses menjadi dokter di Amerika, namun aku meminta pulang saja ke Indonesia, karena aku sudah janji untuk menikah dengan Dinda, sebulan yang lalu aku pergi ke rumah kalian, namun kalian katanya pindah. "


"Dan aku berniat mencari Dinda, pada akhirnya aku menemukan dia di sini, di rumah sakit aku bekerja, aku sangat bahagia, namun aku juga sedih melihat kondisi ia seperti ini," jelas bastian sambil menunduk.


Mereka bisa mengerti kenapa ia seperti itu, dan memaafkan Bastian.


Namun sekarang mereka tertuju pada Dinda yang matanya sudah mulai terbuka, membuat Bastian berdiri dan menanti kembali senyum gadisnya itu.