
"Ya udah sana! kita mau balik ke kelas dulu, " ucap Lintang sambil mengacak-acak rambut Dinda.
"Apaan sih kak berantakan tau? " kesal Dinda, sambil merapihkan rambut nya kembali.
"Ya udah bay, " Lintang dan Bastian pun meninggalkan Dinda di depan pintu kelasnya.
Saat Dinda berbalik badan, semua orang tengah menatap nya, namun Dinda tidak peduli dengan tatapan mereka.
"Lu siapa? murid baru? " tanya salah satu murid perempuan, yang penasaran dengan Dinda.
"Enggak kok iya kak Sherly? " ucap Dinda dengan santai sambil duduk di bangkunya.
Semua orang semakin bingung, sebenarnya dia itu siapa?.
Sementara Sherly hanya mengangguk lemas, pasalnya hari ini dia sangat mengantuk.
"Sherly dia itu siapa sih? ko duduk di bangku si cupu ?" tanya salah satu siswa, yang juga penasaran.
"Tanyain aja langsung sama orangnya, gue ngantuk, " malas Sherly sambil kembali menundukkan kepalanya di meja.
"Gue Dinda, kenapa sih kaya pada aneh gitu? gak boleh gue jadi cantik? " ketus Dinda, yang sudah mulai panas telinga mendengar pertanyaan dari mereka.
Mereka benar-benar kaget dengan ucapan Dinda, mereka bahkan tidak mempercayai ucapan Dinda, dan malah tertawa geli.
"Ah lu bercanda kali? " ucap mila tidak percaya.
"Ya udah sih kalau gak percaya mah, " pasrah Dinda, ia malas menjelaskan nya.
Sementara itu ada yang percaya dan ada juga yang tidak percaya dengan ucapan Dinda, pasalnya perubahannya itu berbeda jauh.
Namun akhirnya guru yang akan mengajar pun masuk kedalam kelas, membuat semua orang yang tengah mengerumuni bangku Dinda kembali ke bangku nya masing-masing.
Dan pelajaran pun berjalan dengan lancar. Sudah 4 jam akhirnya kelas pun selesai, bel pulang sudah berbunyi, membuat pelajaran di hentikan.
"Anak-anak, sampai di sini dulu yah pelajaran kita hari ini, " ucap seorang guru yang mengajar sambil meninggalkan kelas.
"Iya ibu, " jawab serentak semua murid.
"Sherly ayok pulang tidur mulu, " ajak Dinda dan membangunkan Sherly, yang sedari tadi kerjaanya hanya tidur.
"Iyah, " jawab Sherly sembari bangun dan mengumpulkan nyawanya yang masih berkeliaran.
"Hay sayang, " lebay Bastian, yang sudah di depan pintu kelas, menunggu Dinda.
"Apaan sih lebay, " ketus Dinda, sambil menghampiri Bastian.
"Bay hati-hati nanti nabrak orang, " goda Dinda yang melihat Sherly berjalan sempoyongan karena masih ngantuk seperti nya.
"Pulang yuk, " ajak Bastian sambil merangkul pundak Dinda.
"Yuk, " Dinda pun menyetujui ajakan kekasih nya itu.
Sambil berjalan mereka tak henti-hentinya mengobrol dan tertawa.
"Nanti malam ada acara gak? " tanya Bastian sambil terus berjalan.
"Kayaknya sih gak ada acara apa-apa, emangnya ada apa? " balas Dinda sambil tersenyum lebar.
"Main yuk nanti aku jemput, " ajak Bastian.
"Woy, pasangan baru bermesraan mulu dah, " ledek Lintang yang sudah berada di belakang mereka, Lintang juga di temani Daniel.
"Biarin, " ketus Dinda, yang kesal karena kedua kakanya selalu saja mengganggu dirinya.
"Tau nih ganggu aja, " sambung Bastian.
"Gak ada yang boleh peluk-pelukan, belum muhrim, lu rangkul gue aja Din," ledek Lintang sambil melepas tangan Bastian yang tengah merangkul Dinda, Lintang berbalik merangkul Dinda.
"Apaan sih? dia punya gue, " geram Bastian sambil kembali melepaskan tangan Lintang di pundak Dinda.
"Napa sih kalian itu kayak anak kecil, mending gue sama kak Daniel aja, yah kak? " balas Dinda sambil mundur dan memegang tangan Daniel.
"Ah pelit masa dia yang menang sih, " kesal Bastian sambil melipat tangannya di dada.
"Makannya lebih baik diem daripada ribut, kan yang menang terbukti yang diem, bay, " ledek Daniel sambil berjalan menggandeng Dinda dan mendului langkah Bastian dan Lintang.
Dinda pun menjulurkan lidahnya, kepada dua lelaki yang masih memandang Daniel dengan tatapan kesal, Bastian dan Lintang berlari mengejar Dinda dan Daniel, yang lumayan sudah jauh.
Tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata yang menatap mereka iri, dan juga kebencian.
"Liat aja gue bakal rebut kebahagiaan itu dari lo Dinda," sinis Della sambil tersenyum sinis melihat kepergian mereka.
"Tenang aja gue juga risih liat itu, gue gak peduli dia adiknya Lintang sekalipun, karena menurut gue dia gak berhak bahagia seperti itu, apalagi selama ini dia kan orang yang mempermainkan kita semua dengan berpura-pura cupu, pengen banget kayaknya dia di perhatiin banyak orang, jadi deh dia pura-pura lemah, " ketus Rere sambil melipat tangan di dada, dan tersenyum meremehkan Dinda.
"Pergi yuk" ajak Della pada ketiga temannya itu.
Sementara itu Dinda dengan pacar dan kedua kakaknya kini tengah berada di dalam mobil milik Lintang, mereka berniat untuk main di rumah Dinda .