
Ye Xuan dan Tian sudah kembali berada di atas motor, dan tetap saja Ye Xuan menolak untuk berpegangan pada pinggang Tian meski beribu rayuan pulau kelapa yang Tian ucapkan, tidak menggoyahkan keteguhan sikap Ye Xuan.
Akhirnya Tian hanya membatin bahwa Fei gadis yang benar-benar murni.
Perjalanan turun yang diharapkan Tian akan membuat tubuh Fei menempel mesra pada punggungnya hanya merupakan angan-angan.
Ye Xuan justru menjauhkan tubuhnya dari Tian dan merentangkan tangan lebih ke depan untuk mencengkeram kedua bahu Tian.
Dalam hati Ye Xuan dia bertanya-tanya ada apa dengan lelaki di jaman ini? Kenapa mereka suka sekali meminta pembonceng untuk memeluk atau menempelkan tubuh satu sama lain? Karena ini juga terjadi pada Han sebelumnya.
Tian menoleh ke belakang sambil memegang kemudi motornya. "Apakah kau kedinginan?" tanyanya ke Ye Xuan di belakang.
"Tidak." Ye Xuan menjawab singkat. Dia tidak berpura-pura sok kuat akan udara dingin yang mulai menerpa karena sudah menjelang petang, kabut mulai turun.
Sebagai seorang kultivator, Ye Xuan bisa mengalirkan hawa hangat ke tubuhnya menggunakan tenaga Qi dia sehingga dia takkan terserang dingin. Lagipula, dingin yang seperti ini belum seberapa dibandingkan dengan yang ada di jaman dia.
"Yakin tidak dingin? Ini sepertinya kabut sudah turun, loh!" Tian memastikan sambil pandangannya kembali fokus ke jalanan sempit yang berkelak-kelok.
"Tidak, tak perlu khawatir. Kenapa? Apa kau kedinginan?" Ye Xuan bertanya balik. Ia bersiap menyalurkan hawa hangat dari Qi dia ke tubuh Tian andai lelaki di depannya itu ternyata kedinginan.
"Oh, tidak, tenang saja. Aku sudah biasa menghadapi udara dingin begini." Nada jawaban beraroma tangguh dikeluarkan Tian, padahal hidungnya mulai pedas karena dingin yang menyerbu.
"Pembohong," desis Ye Xuan ketika satu tangannya menyentuh leher Tian dan itu sangat dingin. Maka, sebelum Tian menjawab, Ye Xuan sudah menyalurkan hawa hangat untuk Tian.
Tian agak heran sekaligus bingung bagaimana tubuhnya berangsur-angsur mulai merasakan hangat dan nyaman. Padahal gadis di belakangnya tidak memeluk dia. Tapi dia tidak berpikir jauh dan menganggap ini mungkin memang dari tubuhnya sendiri.
Setelah setengah jam kemudian, Tian menepikan motor di sebuah warung kecil. Ye Xuan diam saja tidak berkata apa-apa. Malah Tian yang memberikan penjelasan akan tindakannya. "Mampir sini dulu, yah! Kita minum yang hangat-hangat dulu biar perut enakan."
Ye Xuan tidak menolak dan mengikuti Tian berjalan memasuki warung itu. Kemudian mereka duduk dan Tian memesan dua mangkok wedang ronde.
Setelah itu terhidang, Ye Xuan menyesap sedikit wedang rondenya. Matanya terbelalak sekejap. Ini mirip dengan sup jahe yang ada di jamannya. Memang sungguh membuat nyaman perut. Ia pun mulai menikmati wedang ronde itu tanpa banyak bicara.
Tian sesekali melirik Ye Xuan di sebelahnya yang tenang menyuapkan sesendok demi sesendok wedang rondenya. "Suka?" Kepalanya dimiringkan ke arah Ye Xuan.
Pria yang menetap di tubuh perempuan muda itu mengangguk tanpa menyahut.
"Bagaimana? Enak, kan di perut?"
Sekali lagi Ye Xuan mengangguk meski dia tidak merasa kedinginan apalagi perutnya. Dia hanya sedang merasakan nostalgia akan sup jahe kacang jamannya.
Kali ini Ye Xuan menggeleng. "Ini saja sudah cukup." Dia mau menyahut.
"Oh, ya sudah." Tian kembali menyuapkan wedang rondenya sendiri, lalu mulai menoleh lagi ke Ye Xuan. "Tadi di hutan, selama aku tidur, apakah kau pergi sana sini?"
Apakah Ye Xuan harus menceritakan dia terbang hingga nyaris ke puncak gunung? Lebih baik tidak perlu. "Hanya berjalan-jalan sendiri sebentar untuk melihat-lihat saja."
"Tidak bertemu orang jahat atau hewan berbahaya, kan?" tanya Tian dengan raut cemas.
Ye Xuan tertawa dalam hatinya. Memangnya siapa yang bisa membahayakan dia di jaman ini? Rasanya tidak ada. Tapi dia masih saja menampilkan wajah datarnya. "Tidak, tidak ada. Tenang saja."
Jangankan orang jahat, bahkan hewan buas pun akan bisa ditaklukkan oleh Ye Xuan dengan tangan kosong saja. Meski begitu, Ye Xuan menghargai perhatian yang diberikan Tian padanya. Meski itu sebenarnya untuk Fei.
Kemudian, perjalanan kembali ke kota dilanjutkan. Ye Xuan sudah dua kali membalas pesan Lan di ponsel, dan dia terpaksa berbohong pada sang sahabat Fei, mengatakan dia sedang berbelanja di pasar.
Tak lupa, Tian mampir ke toko sepatu sebelumnya untuk mengambil sepatu kanvas milik Ye Xuan yang dititipkan di sana.
Hanya setengah jam, motor Tian sudah sampai di depan rumah Fei. Ye Xuan mengucap terima kasih atas bantuan Tian dan langsung masuk ke rumah tanpa menoleh.
Tian hanya bisa melongo dan akhirnya tersenyum kecut, lalu mau tak mau menjalankan motornya untuk pulang.
Usai menaruh topi di kamar Tante Ru, Ye Xuan segera membersihkan badan, kemudian berlanjut dengan memasuki Pagoda Jiwa untuk memindahkan semua tanaman herbal yang dia simpan di cincin ruang dia untuk ditanam di kebun herbal miliknya.
Kegiatan itu berjalan sekitar satu jam lebih sedikit. Setelah semua selesai, Ye Xuan pun keluar dari Pagoda Jiwa dan bersiap-siap untuk melakukan patroli malam. Saat ini, tirai langit sudah berganti menjadi hitam. Ye Xuan sudah memakai pakaian hitam dan topengnya.
Rambut dia kuncir tinggi di puncak kepala. Beberapa belati dia siapkan di cincin ruang untuk berjaga-jaga.
Ini masih jam 7 malam, masih ada beberapa jam sebelum dia benar-benar memulai patroli malamnya. Oleh karena dia tak memiliki pekerjaan lain saat ini, maka dia tetap keluar dari rumah menuju ke pinggir kota, masuk ke area hutan karet.
Ye Xuan berencana ingin berkultivasi menyerap Qi alam di sana karena pasti aliran Qi alam lebih kaya di daerah yang tidak terlalu banyak menuai polusi udara.
Maka, setelah mengendap-endap dan melesat terbang ke arah yang dituju, kini Ye Xuan sudah berada di pucuk pohon karet terbesar di sana. Tentu hal itu tidak sulit bagi Ye Xuan yang bisa meringankan tubuhnya menggunakan Qi untuk duduk tenang di pucuk pohon.
Mata Ye Xuan mulai terpejam sambil merasakan aliran Qi alam yang kental di sekitarnya. Suasana gelap sama sekali tidak membuat Ye Xuan gentar sedikit pun. Setan? Hantu? Dia bahkan pernah melawan iblis di jamannya. Bagi seorang kultivator, setan, hantu atau iblis tidak akan membuat takut.
Kultivator adalah orang yang menentang surga. Mereka mengambil energi alam untuk dijadikan energi diri dan mengubah itu menjadi sebuah kekuatan besar yang di luar logika. Bahkan kultivator terkadang disalah artikan sebagai seorang penyihir karena bisa mengendalikan energi alam.
Yah, misteri di alam ini memang tidak terbatas. Hanya sedikit yang bisa menguak dan menggunakannya.