Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
22 - Akhirnya Berduaan Saja



“Apa kau akan pakai yang ini? Atau yang itu?” tanya Lan pada Ye Xuan sambil menunjuk dua kaos yang diletakkan di atas kasur. Semalam setelah dia mengetahui bahwa keluarga dari bibinya Fei dipenjara, dia memutuskan menginap di rumah Fei.


Keduanya sudah mandi dan bersiap untuk pergi. Ye Xuan sudah mengatakan pada Lan mengenai ajakan Han untuk jalan-jalan lagi.


Lan tentu saja tidak akan menolak hal tersebut. Sebagai gadis enerjik yang pandai memanfaatkan kesempatan baik, dia pasti mengiyakan.


Ye Xuan mengamati dua macam kaos yang dipilihkan Lan. “Yang itu saja.” Telunjuknya mengarah ke kaos lengan tiga perempat berwarna hijau neon bermotif garis membentuk V di sekitar dada. Potongannya juga penuh gaya.


Lalu Ye Xuan pun masuk ke kamar mandi untuk berganti baju dengan kaos yang sudah dia pilih. Untuk bawahan, dia sudah memilih celana model kapri berwarna putih bersih.


Hari ini dia memakai sepatu kanvas untuk menyempurnakan penampilannya. Tak lupa rambut dikepang temple dan diberi sisa sedikit pada kanan kiri pipinya. Lan yang mengatur itu semua.


Ketika Lan ingin mendandani wajah Fei dengan make up, Ye Xuan menggeleng. Namun, Lan


bersikeras dan akhirnya tawar-menawar berujung dengan kesepakatan hanya membubuhkan bedak saja.


Sungguh beruntung bahwa Fei memiliki bibir merah muda alami sehingga dia tidak memerlukan lipstick ataupun lipgloss.


Tak sampai satu jam berikutnya, Han sudah datang dengan mobilnya. Sebenarnya Han sangat berharap dia bisa berdua saja dengan Fei tanpa Lan. Tapi, dia mencoba paham bahwa mungkin Lan akan membuat Fei lebih nyaman, makanya dia tidak bisa berkata tidak ketika Ye Xuan membalas chat-nya mengatakan Lan akan ikut serta.


Hari ini mereka menuju ke sebuah taman bermain besar. Mereka bertiga naik berbagai wahana di sana.


Ini adalah hal yang sangat baru bagi Ye Xuan. Namun, dia sama sekali tidak menjerit atau ketakutan seperti gadis lainnya saat naik roller coaster atau pun perahu ayun.


Mana mungkin seorang cultivator hebat seperti Ye Xuan ketakutan dengan ayunan maut atau pun roller coaster? Dalam kehidupan masa lalunya, dia tidak sekedar jungkir balik dan berayun dalam sebuah wadah saja namun juga terbang meliuk bagai roller coaster di udara.


Sedangkan Lan, dia sudah menjerit-jerit heboh bersama gadis-gadis lainnya di wahana-wahana yang memacu adrenalin.


Han menoleh ke Ye Xuan di sampingnya dan merasa kagum pada ketenangan Fei.


Ketika mereka hendak berganti mencoba kincir raksasa, tiba-tiba Lan menerima telepon dan berkata pada Ye Xuan dan Han. “Wah, maaf yah, saudaraku mendadak masuk rumah sakit. Aku harus buru-buru ke sana!”


“Apakah perlu kami antar kamu ke sana, Lan?” tanya Han.


Lan segera goyang-goyangkan dua tangan di depan. “Tidak usah! Tidak usah! Kalian teruskan bermain saja. Aku pergi dulu, dag!” Tanpa menunggu sahutan dari kedua temannya, Lan sudah berlari begitu saja.


Ye Xuan sampai melongo tak sempat menahan sang sahabat. Ia menoleh ke Han dengan wajah


bingung.


Han tersenyum, apakah Lan sengaja meninggalkan mereka berdua? Apakah ini kesempatan yang diberikan Lan padanya? Baiklah, jika memang demikian, maka Han tidak boleh menyia-nyiakan ini! “Ayo kita coba kincir raksasa.”


Ye Xuan tak berdaya dan mengangguk setuju.


Mereka mulai antri untuk membeli tiketnya.


“Apakah kau biasa ke sini, Han?” tanya Ye Xuan.


“Tidak, tidak begitu sering. Terakhir… mungkin sewaktu lulus SD. Bagaimana denganmu, Fei?” Han bertanya balik.


Ye Xuan angkat bahunya. “Aku belum pernah ke sini. Ini… hal yang baru untukku.” Ia sudah menanyakan pada Fei tentang tempat rekreasi ini dan Fei di ruang jiwa mengatakan belum pernah datang ke tempat seperti itu.


Jadi, dua-duanya memang belum pernah ke sini.


Akhirnya mereka selesai membeli tiket dan mulai masuk ke salah satu bola di kincir raksasa. Ye Xuan duduk di depan Han.


Kincir pun melaju perlahan-lahan, naik membumbung tinggi dengan ritme pelan.


Ye Xuan memandang pemandangan kota dari kincir ketika bola tempat mereka duduk berada cukup tinggi.


Han tanpa jeda mengamati gadis di depannya. Cantik, tenang, dan penuh pesona tersendiri. Meski dia cukup heran dengan perubahan sikap Fei, namun dia hanya berbaik sangka bahwa itu sebuah kemajuan yang baik untuk Fei.


Fei yang Han kenal selama ini adalah sosok yang sangat pemalu dan sering menundukkan kepala,


menghindari tatapan lawan bicaranya bagai orang yang rendah diri.


Tapi Fei yang Han temui selama masa liburan ini cukup jauh berbeda. Fei yang kini tampak tegar, kuat, dan tidak lagi menghindari tatapan mata lawan bicaranya. Bahkan, kemarin saja Fei bisa melumpuhkan beberapa preman yang menyerang dia.


Oke, Han anggap itu sebagai kemajuan Fei yang bagus.


Ye Xuan yang merasa dirinya terus ditatap, akhirnya menoleh ke arah Han. “Ada apa? Apakah ada yang salah padaku? Ada sesuatu di mukaku?” Ia segera menyentuh wajahnya dan memeriksa pakaiannya, siapa tau ada yang aneh atau terbuka.


Han tersenyum sembari menggeleng. “Tidak ada yang salah dan aneh. Aku hanya…” Ia menggantung kalimatnya. Padahal ingin sekali dia berucap bahwa dia terlalu terpukau pada pesona Fei, tapi mulutnya seolah berhenti bergerak.


Ye Xuan menaikkan sedikit kedua alisnya dengan wajah penuh tanya. “Hanya apa?” Ia menunggu kelanjutan dari ucapan Han.


Han salah tingkah dan gelagapan sejenak mencari kata yang tepat secepatnya. “Hanya… hanya… senang karena bisa jalan-jalan bersamamu, Fei.”


“Oh. Baiklah.” Ye Xuan hanya mengangguk kecil sambil kembali layangkan pandangan ke pemandangan kota dari titik tertinggi dari bola kincir raksasa yang mereka naiki.


Gadis lain mungkin akan memberikan senyum manis sebagai tanggapan, namun Ye Xuan adalah Ye Xuan. Dia tetap berwajah datar. Senyum adalah hal langka yang muncul di wajahnya.


“Fei…”


Ye Xuan menoleh lagi ke Han. “Ya? Ada apa?”


“Sesudah ini… boleh mengajak kamu ke bioskop? Menonton film.” Han bertanya dengan wajah penuh harap. Hatinya berdebar-debar menunggu jawaban Fei.


“Bioskop? Ohh, seperti yang kemarin aku datangi dengan Lan. Baiklah. Tidak masalah.” Ye Xuan mengangguk singkat dan kembali pandangi segala sesuatu di luar jendela.


Setelah bola mereka mencapai bawah, mereka pun keluar begitu pekerja membukakan pintu untuk


mereka.


Han membimbing Ye Xuan ke pelataran parkir mobil, dan mereka pun melaju ke bioskop.


Beberapa pasang mata lelaki di ruang tunggu bioskop menatap Ye Xuan. Itu karena sosok Fei yang sederhana namun menawan, susah membuat mereka tidak berpaling dari Fei.


Han agak kesal juga karena gadisnya malah dipandangi banyak lelaki di sana. Tapi terselip juga rasa bangga, meski dia bukan siapa-siapa bagi Fei. Namun, setidaknya dia bersama Fei, dan para lelaki itu hanya bisa memandang iri ke dirinya.


Han membeli tiket ke salah satu loket, memilih tempat duduk yang paling tinggi dan paling sudut. Strategi lama.


“Kita nonton apa, Han?” tanya Ye Xuan.


“Pendamba Setan.” Han menjawab tenang sambil membawa Ye Xuan masuk ke area utama bioskop.