Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
36 - Bertanya Arah Hutan



Tian agak sedih ditolak, dan bertanya, "Kenapa?"


Ye Xuan menyudahi minumnya dan menatap Tian tanpa ragu-ragu ataupun canggung. "Aku punya acara sendiri malam ini."


"Boleh ikut?"


"Tidak."


Tian mencemberutkan mulutnya dan membiarkan Ye Xuan meneruskan memakan semua steak sampai habis.


"Kau harus mencoba Rogo Sasuke." Tian menunjuk ke piring kecil berisi satu roti gulung goreng yang berukuran lumayan besar.


Ye Xuan dengan sigap menggunakan sumpitnya untuk menjepit roti goreng yang digulung itu dan memasukkan ujungnya ke mulut. Begitu digigit, ia mendapati ada serat keju yang keluar dari dalam roti.


Mata Ye Xuan memandang bingung ke serat keju itu.



Tian berpikir dalam hati, mungkin Fei belum pernah makan makanan yang diberi keju mozarela di dalamnya. Tak heran reaksi wajah Fei seperti itu.


"Itu keju mozarela. Memang seperti itu, seperti karet yang ditarik, hahaha, tapi di situ uniknya. Selain ada keju mozarela, juga ada keju chedar biasa di dalamnya sehingga meningkatkan rasa gurih roti itu." Tian memaparkan snack kafenya.


Ye Xuan pun mencoba merasakan dengan lidahnya. Memang roti ini kaya akan rasa gurih dari keju dan juga dari sosis berbumbu. Belum lagi ada rasa telur secara samar dan ... mentega?


Lidah Ye Xuan adalah lidah seorang alkemis. Tentu saja sangat peka akan rasa. Hidung Ye Xuan juga sama pekanya dengan lidahnya. Dari sekali cium saja dia sudah bisa mengetahui apa saja yang terkandung dalam roti goreng tersebut.


"Enak." Kembali Ye Xuan memuji hidangan Kafe Mantaph. Ia jenis orang yang lugas. Jika bagus, ia katakan bagus, jika buruk, ia juga tak segan katakan itu buruk.


Hidung Tian kembang kempis mendengar pujian tulus Ye Xuan. "Kalau begitu, kau harus sering-sering kemari, oke?"


"Kalau ada waktu," jawab Ye Xuan, singkat. Ia meneruskan memakan roti gorengnya hingga tuntas.


"Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru, nanti tersedak." Tian melambai ke pelayan untuk membawakan segelas Stroberi Tampol lagi karena yang di depan Ye Xuan sudah hampir habis. Ia hanya ingin lebih lama dengan gadis manis itu.


Ya, gadis manis berisi lelaki tulen.


"Tian, aku ingin bertanya suatu hal padamu." Ye Xuan menatap lelaki di sampingnya.


"Tanyalah. Kalau aku tau, pasti akan aku jawab." Tian tersenyum penuh simpatik.


"Apakah hutan dekat dari sini?"


Pertanyaan Ye Xuan cukup mengagetkan Tian. "Hutan?" beo-nya, mengulang kata dari Ye Xuan. Pria jaman kuno itu mengangguk. "Maksudmu... hutan yang... hutan?"


"Iya. Hutan yang benar-benar hutan. Memangnya sekarang hutan sudah berubah seperti apa? Apakah sudah tidak ada pepohonan tinggi dan banyak semak lagi?" Ye Xuan ganti bertanya, siapa tau hutan jaman kini sudah beralih rupa, tidak seperti hutan di jaman dia.


Tian menggaruk belakang kepalanya, agak bingung dengan pertanyaan Ye Xuan. "Emmhh... yang aku tau... hutan lebat sudah tidak ada. Adanya hanya..."


Mata Ye Xuan membola, penasaran.


"... hutan perkebunan. Seperti hutan perkebunan jati, hutan pinus, hutan sawit. Hutan karet. Dan itu... kuanggap sudah bukan merupakan hutan alami lagi, sih. Kenapa, Fei?" tanya Tian.


"Jadi maksudmu... hanya terdapat satu jenis pohon saja di hutan itu?" Ye Xuan mulai bisa paham.


Tian mengangguk menyetujui tebakan Ye Xuan. "Ya betul, biasanya hanya ada satu atau dua jenis tanaman saja karena itu memang sengaja dibudidayakan seseorang atau instansi. Kalau yang kau maksud hutan lebat alami, tentunya itu ada di pegunungan."


"Pegunungan!" Mata Ye Xuan bagai ingin bersinar. "Apakah jauh?"


"Fei, kau... kau ingin ke hutan?" Tian memicingkan matanya, berharap apa yang ada di benaknya keliru.


"Untuk apa? Hutan itu tempat yang berbahaya! Tempat yang mengerikan! Apalagi kau seorang perempuan muda!" Dan cantik, jika boleh Tian menambahkan itu. "Tidak, tidak! Aku sarankan kau jangan ke tempat berbahaya seperti hutan!" Tian menggoyang-goyangkan telunjuknya mengisyaratkan pelarangan.


"Kenapa?" Ye Xuan membalas tatapan tajam Tian. "Aku bisa menjaga diri."


Tian menghela napas. "Meskipun kau jago bela diri macam apapun seperti saat kau merobohkan semua perampok tadi, aku tetap tidak menyarankan kau pergi ke hutan sendirian saja. Oke, aku akan temani kau ke hutan!"


Ye Xuan menggeleng. "Cukup katakan saja padaku arah mana untuk ke hutan alami yang seperti itu."


"Tidak boleh!" teguh Tian.


"Aku tidak perlu mendapatkan ijin darimu, bukan?" tantang Ye Xuan.


Sekali lagi, Tian menghela napas. "Fei, jangan nekat begitu. Aku mana mungkin membiarkan seorang perempuan muda sepertimu datang sendirian ke hutan di pegunungan. Itu sangat berbahaya, Fei."


"Tapi aku ingin ke sana," kukuh Ye Xuan.


"Memangnya apa yang ingin kau cari di hutan? Jangan katakan kau hendak menangkap macan?" Tian membayangkan betapa heroiknya aksi Fei ketika menaklukkan semua parampok tadi dan kini gadis itu beraksi bertarung dengan macan.


"Jika memang ada, aku tak keberatan." Ye Xuan begitu ringan menjawabnya.


Tian mendelik kaget. Gadis di sampingnya ini sungguh-sungguh akan menangkap macan jika nanti memang bertemu? Ia pun lekas membayangkan Fei mengenakan baju ala Tarzan. Tapi, detik berikutnya dia mengganti imajiliar dia dengan Fei berpakaian ala Wonder Woman.


"Katakan padaku, apa yang hendak kau cari di hutan?" Akhirnya Tian mengenyahkan sebentar imajiliar dia akan Fei dan kostum-kostum aneh itu.


"Apakah ada keharusan bagiku untuk memberitahu kamu, Tian?"


Ucapan Ye Xuan terasa menyodok ulu hati Tian.


Memang, Ye Xuan benar juga. Atas dasar apa Tian ingin mengetahui urusan Ye Xuan? Keluarga bukan, teman dekat bukan, pacarpun bukan! Lalu apa hak Tian?


"Aku... aku hanya mengkhawatirkan kamu, Fei..." Tian putus asa. Baru kali ini ada gadis yang keras kepala di depannya. Apakah pesonanya sudah berkarat hingga tidak berhasil meluluhkan Fei?


"Ohh, terima kasih atas kekhawatiran darimu, tapi aku bisa menjaga diriku sendiri tanpa bantuan siapapun, kau tak perlu cemas mengenai itu. Aku takkan mati dengan mudah." Tatapan tajam Ye Xuan penuh aura keyakinan.


Dari situ, Tian percaya, gadis di sebelahnya ini tidak main-main ketika mengatakan ingin pergi ke hutan, entah akan mencari apa.


"Perjalanan dari sini ke pegunungan sangat jauh."


"Seberapa jauh?"


"Sekitar puluhan hingga ratusan kilometer."


Ye Xuan terdiam sejenak. "Oke."


"Oke apa?!"


"Oke, aku tau jaraknya segitu! Apa lagi?"


Tian menghirup napas dalam-dalam. Gadis ini selain keras kepala, juga tidak mudah dibujuk. Dia benar-benar gadis di atas rata-rata bagi Tian.


Anehnya, Tian justru makin penasaran dengan Fei.


"Aku akan mengantarmu dengan mobil ke pegunungan terdekat. Tapi katakan dulu apa yang kau cari agar aku bisa memastikan arah yang benar nantinya." Dengan ucapan ini, Tian berharap Fei bisa mengatakan tujuan utama dia ke hutan.


"Aku ingin tau tanaman herbal apa saja yang ada di sana, siapa tau ada yang tidak aku punya."