
BRAAKK!!!
"Apa itu?!" Salah satu penjahat yang ada di mobil berseru kaget ketika mendengar bunyi keras di atas kap mobil.
"Jangan bilang itu polisi yang berada di atas mobil kita, bro!" Penjahat lainnya menyahut.
"Tembak saja kalau begitu! Cepat!" perintah yang sedang menyetir.
Ye Xuan yang berada di atas mobil, bisa mendengar percakapan di dalam, di bawahnya. Dengan menggunakan kekuatan mental yang dia punyai, dia bisa merasakan suatu benda yang diarahkan ke arahnya.
Dorrr!
Ye Xuan berhasil mengelak tembakan untuknya. Maka, tanpa berlama-lama menunggu serangan berikutnya, dia segera meloncat ke depan kaca mobil, mengagetkan sopir karena topeng setannya belum dia lepas.
"HUWAAAAHHHH!!!" teriak sopir yang disusul oleh rekan-rekannya.
Mobil berputar tanpa bisa dikendalikan oleh sopir yang terkejut dan ketakutan, mengira dia melihat setan sungguhan. Ia sampai tidak sadar tangannya sudah memutar setir ke arah acak. Untung saja jalan itu sepi atau bisa mencelakai orang lain.
Mobil yang berputar menggila pun menabrak dinding mulut terowongan. Benturan terdengar cukup keras.
Orang-orang di dalam mobil berusaha susah payah merangkak keluar dari mobil yang penyok di bagian depan. Mereka mengabaikan sopir yang tergencet setir dan pintu mobil. Kini mereka telah meyakinkan diri bahwa sosok di depan mobil mereka sebelumnya bukan hantu.
Mereka segera paham bahwa itu hanyalah orang yang memakai topeng setan, topeng khas yang banyak ditemui di Jepang atau Cina untuk keperluan festival tertentu.
Namun, sebelum mereka sempat mengacungkan pistol mereka ke Ye Xuan, lelaki jaman lampau itu sudah maju cepat dan memukul semua pergelangan tangan mereka, kemudian, menotok beberapa titik meridian mereka sehingga mereka semua tidak bisa bergerak. Tak usah menghitung sopir yang sedang sekarat tergencet di dalam sana.
Selang beberapa menit, raungan sirene mobil polisi lainnya sudah mendekat.
Ye Xuan tak berkata apapun dan hanya melonjak ke atas, menghilang begitu saja dari pandangan siapapun, mengakibatkan para penjahat meragukan mengenai keyakinan mereka awalnya mengenai Ye Xuan.
Para polisi dengan mudah meringkus mereka semua yang sudah dilumpuhkan Ye Xuan.
Dari atas jalan layang, Ye Xuan menatap dengan puas ketika polisi memasukkan semua penjahat satu demi satu ke dalam mobil polisi.
Setelah itu, Ye Xuan berjalan-jalan sebentar sebelum akhirnya dia yakin tak ada lagi kejadian di dekatnya. Ia pun terbang pulang ke rumah Fei.
Di rumah Fei, Ye Xuan masuk ke Pagoda Jiwa dan mulai menyuling pil obat. Dia masih memiliki hutang pil obat untuk Tuan Yan.
.
.
Setelah membuat beberapa puluh pil obat untuk Tuan Yan, Ye Xuan pun keluar dari Pagoda Jiwa dan mendapati adanya sinar mentari yang malu-malu menyemburat ke bumi. Sudah jam setengah enam pagi rupanya.
Padahal Ye Xuan berada di Pagoda Jiwa selama dua hari untuk membuat pil obat roh. Tapi di luar, itu hanyalah sektar dua jam saja.
Memang begitu aliran waktu yang ada di Pagoda Jiwa dibandingkan waktu asli di dunia. Satu hari di Pagoda Jiwa, sama dengan satu jam saja di bumi.
Ia pun segera menyimpan semua pil obat yang tadi ia buat ke dalam cincin ruang di jari tengah tangan kirinya. Cincin giok biru gelap itu berpendar sebentar ketika pil obat masuk ke dalam.
Setelah itu, ia teringat akan keinginannya untuk pergi ke hutan mencari tanaman herbal di dunia baru ini.
Ye Xuan mengambil ponselnya dan men-dial sebuah nomor melalui fast call. Itu segera terhubung ke ponsel seseorang. Ia harus menunggu beberapa saat karena itu tak juga diangkat pemiliknya.
Ketika dia akan menyerah dan mematikan panggilan, seketika orang di seberang sana mengangkat panggilan darinya dengan suara serak. "Halo?"
"Oh, rupanya kau sedang asik tidur. Kalau begitu, aku takkan mengganggumu. Silahkan lanjutkan tidurmu," ucap Ye Xuan tegas.
"Hei! Hei! Hei!" teriak suara di seberang sana. "Jangan ditutup! Oke, aku bangun! Ini aku sudah bangun!" Orang itu lantas berteriak begitu dia mendengar siapa yang meneleponnya sepagi ini. Ia segera membuka matanya selebar mungkin dan meloncat dari tempat tidurnya.
"Kau yakin sudah bangun? Bukan sedang mengigau?" tanya Ye Xuan sedikit menyindir.
"Ayolah... aku serius berkata aku sudah bangun." Orang itu mengerang mendengar sindiran halus Ye Xuan. "Jam berapa aku menjemputmu? Sekarang?"
"Hmph!" Ye Xuan mendengus. "Kalau sekarang, hidungku hanya akan tercemar bau badan dan bau mulutmu."
Sadar akan sindiran lain dari Ye Xuan, orang itu pun terkekeh. "Oke, satu jam lagi aku akan sudah berada di depan rumahmu!"
Ye Xuan tidak menjawab lagi dan langsung mematikan panggilan.
Orang di seberang sana mendecak sebal. "Hiss... gadis ini..." Tapi dia tak mau berlama-lama merutuki Ye Xuan. Dia lekas menyeret langkahnya ke kamar mandi.
Langsung skip saja ketika dia sudah mulai berpakaian dan menyisir rambut panjang Fei.
Ia memilih kaos putih bergaris-garis biru horisontal berlengan 3/4 sesiku, dan dipadu dengan overall dari bahan jins warna biru.
Fei menganjurkan agar rambutnya di kuncir dua rendah di bawah telinga karena mereka akan beraktifitas yang mungkin saja melelahkan. Rambut panjang tergerai nampaknya bukan pilihan yang tepat untuk kegiatan tersebut.
Ye Xuan tidak menampik saran Fei dan melakukan apa yang diminta si gadis malang pada rambutnya.
Setelah itu, Fei menyarankan Ye Xuan juga mencari topi karena siapa tau matahari akan bersinar terik nantinya. Ye Xuan setuju. Karena ini adalah tubuh 'pinjaman', maka menjaga agar tetap baik adalah sesuatu yang musti dia perbuat.
Setelah mencari topi di kamarnya, Ye Xuan tidak merasakan itu nyaman dipakai. Maka, ia pun melenggang ke dalam kamar sang bibi. Fei sudah ketakutan dan berseru agar Ye Xuan segera keluar dari sana.
Ye Xuan heran akan ketakutan Fei yang masih saja ada dengan bayang-bayang sang bibi, menandakan betapa kuatnya pengaruh bibinya di jiwa gadis malang itu.
"Tenang saja, Nona Fei. Dia takkan tau jika kita menggunakan barang-barangnya. Toh, dia juga akan lama di dalam pengasingan terbaik dia di sana." Ye Xuan tidak menggubris seruan Fei dan tetap mencari, lalu menemukan sebuah topi yang sepertinya jarang dipakai sang bibi karena masih bersih bagai baru.
"Sepertinya ini lebih nyaman dipakai untuk pergi ke hutan." Ye Xuan datang di depan kaca cermin besar di kamar Bibi Ru dan mematut penampilannya mengenakan topi jenis bucket hat warna krem. Sesuai dengan kaos yang dipakai Ye Xuan. "Nah, begini lebih pas."
"Tuan Ye..." panggil Fei dari ruang jiwa.
"Ada apa, Nona Fei?" Ye Xuan masih di depan kaca cermin di kamar Bibi Ru.
"Apakah Tuan Ye tidak suka tersenyum?" tanya Fei.
Senyap berlangsung beberapa belas detik sebelum akhirnya muncul sebuah senyum dari Ye Xuan. Meski dia tersenyum, yang nampak di cermin adalah Fei yang menyunggingkan senyum lembut.
"Nona Fei, tak kusangka... senyummu begitu manis." Ye Xuan memuji apa adanya ketika menatap senyum Fei pada cermin yang dia gerakkan.
"Terima kasih atas pujian Tuan Ye," balas Fei. "Aku juga yakin senyum Tuan Ye tidak mengecewakan."
"Entahlah. Aku tidak pernah bertanya pada orang-orang apakah mereka suka pada senyumku atau tidak."
"Itu karena Tuan Ye tidak mau tersenyum, betul bukan?"
Ye Xuan terdiam lagi mendengar kalimat telak dari Fei. Ia pun menyahut, "Aku tidak suka sembarangan mempertontonkan senyum, Nona Fei."
"Senyum bukan untuk dipertontonkan, Tuan Ye. Senyum itu keluar dari ketulusan hati, dan itu akan menjadi senyum yang menyenangkan."
"Apakah Nona Fei sering tersenyum?" Memikirkan ini, Ye Xuan jadi tak enak hati sendiri jika ternyata Fei adalah gadis yang suka tersenyum, sementara dia kini membuat Fei menjadi sosok gadis yang muram tanpa senyum.
"Aku... aku hanya tersenyum ketika hatiku senang, dan ketika aku penuh rasa haru pada apapun yang kulihat. Ohh, aku juga sering tersenyum ketika mengobrol dengan Lan. Yah, itu karena dia adalah satu-satunya temanku. Aku... aku tak yakin orang lain mau berteman denganku yang serba kekurangan ini." Suara Fei melemah di akhir kalimat panjangnya.
"Nona Fei..." Ye Xuan sedih mendengar betapa rendahnya rasa percaya diri dari Fei. "Nona ini sangat cantik dan tabiat Nona juga tidak buruk. Mana mungkin ada orang yang tidak ingin menjadi temanmu? Kau lupa bagaimana akhirnya Han dan juga Tian bisa mengobrol denganmu?"
"Tuan Ye... itu adalah kau yang mengobrol dengan mereka, bukan aku."
"Oh, benar juga. Aku lupa itu. Tsk!" Ye Xuan mengusap dahinya. "Memangnya... sebelum ini... Nona Fei tidak pernah mengobrol dengan mereka? Maksudku... Han dan Tian?"
"Umm... tidak, seingatku tidak. Apalagi Kak Tian. Aku belum pernah bertemu dengannya ketika aku hidup. Tapi aku pernah mendengar dia sering disebut oleh Lan karena Lan mengidolakannya."
"Nona Fei, kenapa kau tidak mengobrol dengan Han? Lupakan mengenai Tian yang tidak pernah kau temui sebelumnya. Tapi Han, bukankah dia teman sekelasmu?" Ye Xuan jadi penasaran.
"Memang. Han memang teman sekelasku, tapi... aku selalu merasa malu jika berhadapan dengan dia. Aku... rasanya tak pantas jika mengobrol dengan Han yang menjadi salah satu idola sekolahku. Aku tak mau banyak terlibat dengan siapapun kecuali Lan."
Dari sini, Ye Xuan pun tau seberapa rendah rasa percaya diri Fei pada lingkungan sekitarnya. Dan dia bisa membayangkan Fei yang pasti akan tertunduk tak berani menatap Han jika lelaki itu mengajak dia bicara.
"Nona Fei, apakah kau ingin aku lebih sering tersenyum?" Ini adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan kebiasaan Ye Xuan. Tapi jika memang Fei mengharapkan demikian, ia akan belajar untuk melakukannya.
"Aku... aku tidak punya hak untuk memerintah ini dan itu pada Tuan Ye. Aku hanya... hanya berharap Tuan Ye bisa tersenyum di saat Tuan Ye merasa bahagia atau mengalami hal yang menggerakkan perasaan Tuan Ye."
Ye Xuan mengangguk beberapa kali, paham akan keinginan Fei.
Tokk! Tokk! Tokk!
Pintu depan rumah sudah diketuk. Tanpa Ye Xuan melongok keluar pun dia sudah tau siapa yang berdiri di depan pintu.