Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
37 - Disangka Setan



Ye Xuan sudah sampai di rumah dengan diantar Tian menggunakan si Yellow Ranger, mobil jadul berwarna kuning mencolok. Mobil itu bagai memancarkan karakteristik pemiliknya, nyentrik dan tak takut malu.


Sesampainya di dalam kamar, Ye Xuan baru sadar bahwa dia meninggalkan ponselnya di atas meja kamar tanpa ia sadari.


Melihat layar ponsel itu, sudah penuh akan belasan panggilan tak terjawab dari dua nama, Lan dan Han. Berdecak keheranan, Ye Xuan tak habis pikir apa yang membuat dua teman dari Fei ini menelepon sebanyak itu.


Ia pun men-dial nomor Lan. "Astaga, Lan. Kenapa kau-"


"Fei! Apakah kau tak apa? Apa yang terjadi padamu! Apa kau baik-baik saja di sana? Kenapa rumahmu kosong?" Rombongan pertanyaan dari Lan memutus kalimat Ye Xuan begitu rupa.


Ye Xuan sampai tak tau harus mulai menjawab yang mana. Begitu banyak dan begitu susah diingat. Lan bertanya apa tadi?


"Kenapa, Lan? Ada apa?" Akhirnya karena bingung, ia pun menanya balik ke sahabat Fei.


"Justru aku yang harus bertanya padamu! Ada apa? Dari mana saja? Kenapa-"


"Lan..."


"Ya?" Suara di sana pun berhenti merepet.


"Satu per satu kalau bertanya, oke?" Ye Xuan menarik kursi kamarnya dan mulai duduk.


"Hm... oke," sahut Lan di seberang. "Pertama-tama, kau dari mana?"


"Dari toko perhiasan dan kafenya Tian." Ye Xuan tidak menutupi apapun. Memangnya kenapa harus ditutupi bila hanya mengenai itu saja?


Tapi berbeda dengan reaksi Lan. "APA?! KAU BARU DARI KAFE KAK TIAN?!"


Ye Xuan terpaksa jauhkan telinga dari ponselnya. "Kenapa, Lan?"


"Fei, kau jahaaaattt! Hiks!" Lan berlagak menangis dan melolong pilu. "Tega-teganya kau ke kafenya Kak Tian tanpa mengajak aku~" Lan meraung di sana.


Menarik napas dalam-dalam, Ye Xuan menyahut, "Bukannya aku tak mau mengajakmu, Lan. Aku bertemu secara tidak sengaja dengan Tian di jalan ketika aku ingin ke toko perhiasan. Akhirnya aku diajak Tian ke toko perhiasan langganan ibunya. Kemudian setelah dari sana, dia mengajakku makan siang di kafe dia. Jadi, mana sempat aku mengajak kamu?"


"Tapi kan kau bisa menghubungi akuuu..." Lan masih meraung tak terima. Membayangkan Fei bisa makan siang bersama Tian, membuat Lan ingin makan bantalnya.


"Bagaimana aku bisa menghubungimu kalau ponselku lupa kubawa?" jawab Ye Xuan.


"Hiks, iya juga yah! Tapi.. tapi kau kan bisa mengusulkan ke Kak Tian untuk mampir ke rumahku dan menjemputku~" Ia masih berdalih dengan alasan lain. Intinya, dia ingin ikut diajak ke kafe milik Tian.


"Iya, maaf, aku tidak berpikir ke sana. Lain kali aku akan ajak kau ke sana." Ye Xuan segera mengingat kalau Lan adalah fans garis keras dari Tian. Bodohnya dia melupakan itu.


"Hiks! Janji, loh yah!"


"Iya, iya."


"Awas kalau kencan berduaan lagi kalian, aku bakalan ngambek!"


"Kencan? Haiyaa... kau ini bicara apa, Lan? Jangan ngawur. Kami hanya makan siang saja, kok!"


"Tidak ada acara pegang-pegangan tangan?" Lan masih mengejar.


Ye Xuan berpikir sejenak. Apakah sewaktu Tian memegang tangan dia saat dia hampir menyentuh hot plate itu bisa dikatakan pegang-pegangan tangan?


"Fei?"


"Ungh~ tidak seperti yang kau bayangkan."


"Fei, apa maksudnya itu? Jelaskan!"


"Dia hanya memegang tanganku untuk menyelamatkan aku."


Dan tangisan pilu penuh raungan kembali terdengar dari ponsel Lan.


.


.



Ia menyiapkan beberapa belati untuk berjaga-jaga. Meski dia tidak yakin di jaman kini ada jagoan bela diri seperti di jaman dia dulu, tapi berjaga-jaga itu tetap penting. Semua hal tidak bisa diprediksi seratus persen sesuai yang kita pikirkan.


Setelah menunggu hampir tengah malam, maka Ye Xuan mengendap-endap naik ke atap genteng rumahnya dan mulai meloncat dari satu atap ke atap lainnya hingga tiba di pusat kota.


Sayang sekali dia tidak mempelajari ilmu bela diri bayangan, dimana dia nantinya akan bisa berubah transparan dan bisa lebih nyaman berlarian di malam hari. Dia menyesal dulu menolak mempelajari ilmu tersebut.


Ternyata, ilmu bayangan dibutuhkan di kondisi seperti sekarang ini, ketika sedang ingin mengintai tanpa ketahuan mata telanjang orang lain.


Ya sudah, tak mengapa. Toh begini saja juga sudah cukup menyembunyikan kehadirannya.


Kaki Ye Xuan sudah berpijak ke salah satu atap sebuah gedung yang tidak terlalu tinggi. Dia ada di daerah yang agak sepi, bermaksud untuk berkultivasi menyerap Qi alam yang lebih banyak.


Namun, belum juga dia memantapkan posisi duduknya, dia mendengar jeritan minta tolong tak jauh di bawah sana.


Mata Ye Xuan kembali terbuka dan mencari sumber suara.


Setelah itu, dia menemukan seorang lelaki tua yang memakai setelan pakaian kerja sedang ditodong pria tinggi besar. Pria tinggi besar itu memaksa menarik tas di tangan si lelaki.


Karena lelaki tua itu bersikukuh mempertahankan tasnya, pria tinggi besar menjadi tak sabar dan menyabetkan pisau lipat ke tangan lelaki tua itu. Tak hanya itu saja, pisau itu juga ditancapkan ke perut lelaki tua.


Ye Xuan segera meluncur ke bawah mengetahui keadaan darurat itu.


Dhuakk!


Ia menendang pria tinggi besar hingga pria tinggi besar pun terpental dan menabrak tiang listrik di sana. Setelah itu, Ye Xuan segera memeriksa keadaan si lelaki tua yang berdarah-darah pada pergelangan tangan dan perutnya.


Sekuat tenaga, Ye Xuan menyalurkan energi Qi-nya ke perut lelaki tua itu agar darah tidak terus menyembur keluar. Tangan lainnya juga menekan pergelangan tangan yang disabet pisau tadi. Dua tangan Ye Xuan menyalurkan Qi untuk luka sayat sang lelaki tua.


"Bertahanlah, Pak!" seru Ye Xuan pada lelaki tua yang terbaring lemah di trotoar.


Pria tinggi besar yang tadi terpental, kini mulai sadar dan bangun. Daerah itu termasuk sepi meski dekat dengan perumahan warga. Dan pria tinggi besar tadi gusar karena ditendang oleh Ye Xuan. Dia menatap punggung Ye Xuan yang sedang sibuk mengobati pak tua tadi.


Geram ingin membalas dendam, pria tinggi besar mulai bangun, sempoyongan sebentar dan bersiap hujamkan pisau lipat di tangannya ke punggung Ye Xuan.


Namun, alangkah kagetnya dia ketika tangannya sudah hampir sampai di punggung Ye Xuan, lelaki dari jaman kuno itu berpaling menatap pria tinggi besar itu.


Pria tinggi besar menjerit kaget sekaligus takut. Bagaimana tidak takut jika ia melihat topeng hantu yang dikenakan Ye Xuan? Dia mengira itu wajah asli Ye Xuan. Karuan saja dia berteriak lantang. "HUWAAAA!!! SETAAANN!!!!" Dan ia melupakan acara balas dendamnya, memilih untuk balik badan dan lari, menghilang di kegelapan.


Ye Xuan mendesah, sekaligus lega. Ia tak diganggu lagi. Namun, keadaan pak tua ini kritis. Jika itu adalah seorang pemuda, mungkin masih bisa ada harapan lekas sembuh. Sayangnya, itu seorang tua, dimana daya tahan tubuhnya sudah melemah secara alami.


"AARGGHHH!!!" Terdengar jeritan di belakang Ye Xuan. "Apa yang kau lakukan?! Penjahat! Tolong! Tolong!" Rupanya ada wanita yang tak sengaja lewat di daerah itu menyangka Ye Xuan penjahat yang sedang menyakiti pak tua.


"Bukan! Aku bukan penjahat!" teriak Ye Xuan sambil berpaling ke wanita itu.


"ARRGGHHH!!! SETAANNN!!!" jerit wanita itu lagi ketika menatap topeng Ye Xuan.


"Aku bukan setan! Aku sedang menolong pak tua ini! Dia berdarah banyak!" teriak Ye Xuan kencang karena kesal. Dua kali dia disangka setan. Tidak bisa menyalahkan mereka, karena di gelap malam begini, dia memakai topeng berbentuk menyeramkan. Jangan heran kalau orang salah paham mengira dia setan.


"K-kau... kau yakin kau bukan setan?" Wanita itu bertanya ragu-ragu ke Ye Xuan.


Ye Xuan memutar bola matanya. "Tentu saja bukan! Aku masih punya daging dan darah! Dan aku belum mati!"


Wanita itu maju sedikit untuk mendekat ke Ye Xuan. "Tapi, mana ada setan mengaku dirinya setan?"


Rasanya Ye Xuan ingin menampar dahi wanita itu. "Potong omong kosongmu dan lekas hubungi rumah sakit atau apa! Pak tua ini butuh pertolongan segera!"