
Ye Xuan pun keluar dari kamar Bibi Ru dan melangkah gontai ke depan lalu membuka pintu. "Bukankah ini belum satu jam semenjak aku menutup telepon?" tanyanya pada sosok di depan pintu yang terbuka.
Tian meringis santai. "He he... bukankah lebih cepat, lebih baik? Kenapa? Kau belum siap?"
"Aku tinggal memakai sepatu saja." Ye Xuan mengamati penampilan Tian di depannya.
Pria tampan di depan Ye Xuan mengenakan kaos putih sederhana dan dibalut jaket kulit yang cukup tebal dan dipadu dengan jins hitam yang senada dengan warna jaket kulitnya. Itu masih ditambah dengan sepatu gunung khusus yang harganya mencapai kisaran 3 juta rupiah.
Dandanan Tian sangat keren, dan Ye Xuan yakin Lan akan menjerit histeris jika melihat sang idola dengan tampilan demikian.
Memikirkan itu, Ye Xuan agak tak enak hati karena tidak mengajak Lan. Itu karena dia tak mungkin membahayakan keselamatan Lan jika mereka pergi ke hutan alami. Ini saja dia terpaksa mengiyakan kemauan Tian yang memaksa ingin ikut serta.
"Kenapa memandangku seperti itu? Apakah aku terlihat tampan dan memikat jika begini?" Tiba-tiba saja Tian berseloroh ketika menyadari mata gadis di depannya seolah sedang men-scanning dirinya dari atas hingga bawah.
"Tsk!" decak Ye Xuan mendengar kepercayaan diri yang tinggi dari pria di depannya. Ya, dia tidak memungkiri Tian memang tampan, tapi itu takkan membuat Ye Xuan melemparkan dirinya ke dalam pelukan Tian ataupun sekedar memandang Tian dengan mata berbinar. Jangan harap. "Rasa percaya dirimu sungguh sebesar gunung. Harusnya itu kau bagi-bagikan bagi yang membutuhkan, jangan kau telan sendiri."
Seperti biasa, Ye Xuan memberikan sindiran yang hanya akan ditanggapi kekehan biasa dari Tian. Bagi orang yang melihat cara kedua orang itu berkomunikasi, pasti akan mengira keduanya adalah teman lama atau teman akrab. Padahal tidak demikian. Itu karena Tian tergolong sosok yang fleksibel dan bisa lekas mengakrabkan diri pada siapapun.
Mata Ye Xuan melirik benda yang terparkir di depan pintu gerbang sederhana rumah Bibi Ru. "Kau... membawa motor?" Ia masih menatap ke kuda modern warna hitam yang berdiri gagah di depan pagar rumah Bibi Ru.
Tian mengangguk sebelum menjawab, "Yellow Ranger tidak akan kuat jika harus menanjak. Maka, aku bawa Red Ranger. Kenapa? Kau tak suka jagoan merahku?"
Ye Xuan alihkan pandangan ke wajah tampan Tian. "Tidak ada masalah untukku. Sama sekali tidak ada masalah. Oke, kita pergi sekarang." Ye Xuan pun berbalik dan mengambil sepatu yang berada di dekat pintu masuk. Ia memilih memakai sepatu kanvas motif bunga miliknya yang dibeli bersama Lan.
Tian membelalakkan matanya. "Kau yakin kau ingin memakai sepatu seperti itu?" Ia menunjuk ke sepatu yang sudah terpasang di kaki Ye Xuan.
Sepasang mata lentik itu pun mengarahkan pandangannya ke bawah, memeriksa sepatu yang dikenakan. "Memangnya kenapa dengan sepatu ini? Ini sangat nyaman."
Jari telunjuk Tian bergoyang. "Tidak! Tidak! Kusarankan tidak memakai yang begitu jika ke hutan. Apalagi kau tidak memakai kaos kaki, astaga sungguh kau gadis ceroboh."
Ye Xuan heran. Apa yang salah dengan sepatu yang dia pakai? Apakah harus mengenakan sepatu khusus hanya untuk ke hutan?
"Tsk! Sudahlah! Ayo naik!" Tian sudah berada di atas motornya, sementara Ye Xuan menutup pintu dan mengaktifkan array pelindung rumah tanpa Tian tau. Ia sudah membawa ponsel di dalam cincin interspatial dia jika sewaktu-waktu Lan akan menelpon nantinya.
Kaki jenjang Fei melangkah menghampiri Tian yang baru saja menyalakan mesin motor.
"Tuan Ye, tanyakan padanya apakah dia membawa helm untukmu." Suara Fei dari dalam ruang jiwa terdengar di kepala Ye Xuan.
"Ohh, jangan khawatir mengenai itu. Ini." Tian menyodorkan sebuah helm tertutup berwarna merah pada Ye Xuan. Gadis itu melepas topinya untuk memakai helm tersebut. Topi sudah dia lempar ke dalam cincin interspatial-nya tanpa ketahuan Tian.
Ye Xuan mendapati bahwa si kuda modern berlabel Ducati ini tidak sama seperti milik Han. Motor Tian terlihat lebih ramping dibandingkan motor milik Han.
Seperti biasa, Ye Xuan hanya bisa mengutuk dalam hati melihat tempat duduk penumpang yang sangat minimalis. Ini menyebabkan dia harus rela berdesakan dengan Tian meski berusaha tidak menempelkan tubuhnya.
"Kau tidak memakai helm?" tanya Ye Xuan ketika melihat Tian tetap membiarkan kepalanya tidak tertutupi helm.
"Kau saja yang pakai. Toh, kita tidak akan ngebut-ngebut. Medannya juga bukan untuk laju cepat." Tian memasang headphone sembari menyambungkan di ponselnya.
Dari sini, Ye Xuan bisa mengira-ngira bahwa sebenarnya Tian hanya membawa satu helm saja karena mungkin lupa membawa satu lagi untuknya, dan akhirnya dia lebih memilih helm itu dipakai Ye Xuan.
Hm... manis juga tindakannya.
Seperti perlakuan Ye Xuan pada Han, dia juga berpegangan pada bahu Tian, menolak memeluk pinggangnya. Tian mengangkat bahu, bersikap cuek dan membiarkan saja. Pikirnya, mungkin Fei memang lebih nyaman begitu jika membonceng lawan jenis. Yah, itu bagus, menurut Tian.
Motor pun berlari di kecepatan biasa karena Tian memang tidak ingin ngebut buru-buru. Para polisi yang melihat Tian juga hanya melirik dan pura-pura tidak melihat ke arahnya, menyebabkan Ye Xuan heran. Dia tidak tau jika Tian adalah anak seorang petinggi di kepolisian, maka tak heran Tian bisa santai berkendara tanpa helm.
Mungkin itu juga yang membuat Han tidak membawa helm satupun ketika mengajak jalan-jalan Ye Xuan sebelumnya.
Tapi dia tidak segera mengarah ke pinggir kota, melainkan ke sebuah toko sepatu yang sudah buka di pagi itu. Jangan samakan kondisi kota ini dengan yang biasa ada di Indonesia. Toko-toko di kota ini termasuk rajin karena sudah mulai beroperasi di jam 7 pagi.
"Kenapa kita ke sini?" Tanya Ye Xuan ketika motor merah berjulukan Red Ranger diparkir di depan sebuah toko sepatu.
"Aku mana mungkin membiarkan kau hanya memakai sepatu seperti itu. Ayo, kupilihkan yang cocok untuk bermain di hutan!" Tian turun dari si merah dan disusul Ye Xuan, masuk ke dalam toko.
Setelah memilih dan sedikit berdebat dengan Ye Xuan, akhirnya mereka sepakat pada sepasang sepatu gunung khusus untuk wanita berwarna ungu cerah. Ye Xuan menolak yang berwarna merah muda karena dia belum terbiasa dengan warna-warna yang berbau feminim.
Ye Xuan tak tau bahwa di jaman kini, warna sudah menjadi milik unis*x, warna tidak lagi terpaku pada gender. Lelaki masa kini sudah banyak yang memakai warna merah muda pada fashion mereka, dan tetap terlihat maskulin. Apalagi Ye Xuan yang bertubuh wanita tulen! Yah, mungkin nanti akan ada saatnya bagi dia untuk bisa beradaptasi dengan hal-hal berbau wanita.
Selesai dengan masalah sepatu, Tian memilihkan kaos kaki yang pantas juga dan itu semua dipakai Ye Xuan saat itu juga sebelum mereka meninggalkan toko. Sepatu lama Ye Xuan disimpan di kotak sepatu baru dan dititipkan sebentar di toko itu untuk diambil nanti sepulang mereka dari hutan. Untung saja itu dibolehkan pihak toko.
Yah, Tian bukan membawa motor matic yang memiliki bagasi luas. Jadi tak mungkin menaruh sepatu pada salah satu sudut motor prianya.
"Ayo." Tian pun mulai naik ke motor dan menunggu Ye Xuan.
"Kuharap matahari tidak terlalu terik hari ini," gumam Ye Xuan lebih pada dirinya sendiri.