Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
33 - Di Toko Perhiasan



Tiba-tiba, di pintu depan toko perhiasan itu, sudah berdiri enam orang berbadan besar memakai topeng dari bahan kaos sambil membawa senjata api. Wajah mereka di balik topeng itu bisa ditebak bukan merupakan wajah ramah lingkungan.


"Jongkok! Atau kalian ingin menjajal peluru di sini?!" Salah satu yang memakai kaos ketat warna hitam berseru gahar ke para pengunjung toko emas.


Sedangkan empat pria besar lainnya sudah meringkus dua penjaga di depan toko. Kedua penjaga sudah dipukul pingsan.


"Jangan ada yang bertingkah macam-macam, yah..." Lelaki kekar lain yang memakai kaos biru tanpa lengan yang memperlihatkan berbagai tatonya berujar dengan kalem. Meski nada suaranya enak, namun senjata api jenis Kalashnikov AK-101 Assault Rifle di tangannya sama sekali bukan barang enak.


Dorr!


Senjata api itu ditembakkan ke atas oleh lelaki yang berkaos merah marun menggunakan pistol Beretta 92FS semi-automatic sebagai peringatan dan juga sebagai bukti bahwa mereka tidak membawa senjata bohongan.


Semua pengunjung wanita dan pelayan wanita berteriak kaget mendengar letusan senjata api tersebut.


Dengan peringatan sekeras itu, mana mungkin mereka tidak tiarap atau berjongkok pasrah di lantai?


Para perampok lekas mengamankan para pelayan toko yang berada di belakang etalase, dikumpulkan di satu tempat di tengah-tengah toko bersama pengunjung lainnya. Mereka tampaknya tidak begitu perduli jika polisi mengepung tempat itu sekalipun.


Pria bertubuh kekar bersuara tenang itu menyerahkan beberapa kantong kain kepada orang di kasir. "Penuhi kantong-kantong itu dengan uang dan berlian. Kuharap kau bergerak cepat karena anak buahku agak tidak sabaran jika menggenggam senjata. Kau paham, kan?" Rupanya dia adalah pemimpin perampok tersebut.


Lelaki penjaga kasir itu mengangguk cepat dengan wajah ketakutan. Ia meraih kantong-kantong kain itu dan melakukan apa yang sudah diperintahkan padanya. Meski dia bisa dipecat bos toko, namun dia lebih memerdulikan nyawanya di atas apapun juga. Pekerjaan bisa dicari, tapi jika nyawa hilang, harus mencari ke mana?!


Belum tentu dia bisa seberuntung Ye Xuan.


Bicara mengenai Ye Xuan, dia berjongkok tenang, mengikuti Tian dan pengunjung lainnya di tengah toko sesuai dengan pengaturan dari gerombolan perampok. Semua tangan ditaruh di atas kepala.


Para perampok itu sungguh berani, merampok di siang bolong. Ohh, tentu saja. Memangnya toko emas masih buka jika tengah malam? Maka, sudah sewajarnya perampokan toko sering terjadi di siang bolong jika itu jenis perampok yang pemberani. Jangan katakan mengenai perampok pengecut yang menggasak toko di malam ketika toko sudah tutup.


Di luar mulai terdengar raungan beberapa mobil polisi. Keadaan sudah kacau di depan sana bagai ini sebuah film aksi sebetulnya. Banyak orang berkerumun di jalan raya ingin tau ada apa.


Polisi berusaha melakukan negoisasi ke para perampok, dan pemimpin perampok memberikan syarat, bahwa dia ingin disediakan mobil van besar berwarna hitam dan berencana akan membawa beberapa sandera sebagai jaminan mereka bisa melenggang bebas nantinya.


Raut wajah Tian terlihat gelisah. Ada aura penyesalan di sana karena sudah membawa Ye Xuan ke toko yang ternyata naas siang ini.


Beringsut mendekat secara perlahan-lahan, Tian mendekati Ye Xuan. "Fei, maaf yah! Gara-gara aku mengajakmu ke sini, kau jadi mengalami hal begini..." bisik Tian agar tidak terdengar salah satu perampok yang menjaga mereka.


Ye Xuan memandangi Tian yang mendekatkan wajah ke arahnya untuk berbisik. "Bicara apa kau ini? Aku sama sekali tidak menyesal datang ke sini."


"Hei kau!" teriak perampok berkaos hitam ketat. Ia menuding ke arah Ye Xuan menggunakan laras AK-74M. "Jangan berisik! Kau mau menjajal senapanku ini, heh?!"


Belum juga tangan berselimut sarung tangan yang sepertinya tidak pernah dicuci, Ye Xuan sudah bergerak secepat kilat memukul kaki pria itu hingga si pria terjatuh di lantai dan segera saja Ye Xuan memukul kuat-kuat dada si lelaki yang langsung pingsan.


Rekannya yang tadi berteriak kaget dan ingin bergerak menolong temannya yang pingsan, namun kalah cepat dengan Ye Xuan yang memukul wajahnya menggunakan senjata laras panjang dari perampok yang pingsan.


DHUAKK!!!


Laras panjang dari senjata itu menghantam keras di wajah si pria berkaos hitam ketat dan pria itu langsung jatuh tersungkur.


Hanya selang dua detik berikutnya, Ye Xuan meraih beberapa kartu nama toko yang ada di meja di dekatnya, dan melemparkan kartu-kartu kecil seukuran kartu nama itu ke beberapa perampok.


Kartu-kartu itu bagai berubah setajam pisau. Ada yang mengiris pergelangan tangan perampok, ada yang menghujam di leher perampok, ada yang menusuk dahi perampok, ataupun juga ada yang mendapatkan kartu itu di dada mereka.


Semuanya serangan cepat dan mematikan, hanya dalam hitungan detik saja. Bahkan Tian pun tidak berhasil mengikuti kecepatan lemparan kartu dari Ye Xuan.


Semua perampok mendadak rubuh ke lantai dengan tubuh berdarah.


Salah satu perampok tak sengaja menekan pelatuk otomatis ketika punggung pergelangan tangannya ditebas kartu dari Ye Xuan. Senapan otomatis itu menyalak tak terkendali ke atas.


Mata Ye Xuan cepat menyadari bahwa peluru yang keluar dari senapan itu pasti berbahaya, maka ia pun lekas menendang senjata itu kuat-kuat hingga terlepas dari tangan perampok itu sebelum larasnya mengarah ke para pengunjung.


Polisi di luar kaget dan mereka berbondong-bondong masuk untuk mengetahui ada kekacauan apa karena mendengar desingan rentetan peluru tajam.


Setelah para polisi masuk ke toko emas itu, mereka hanya menyaksikan keenam perampok sudah tergeletak di lantai. Bahkan ada yang tidak bergerak lagi alias mati.


Serangan Ye Xuan tidak main-main. Tidak mungkin dia memberi ampun pada para perampok jahat itu. Di kehidupan lampau Ye Xuan, membunuh orang jahat adalah sesuatu yang dia sukai.


"Ada apa ini? Bagaimana bisa begini?" Kepala Polisi bertanya ke para pengunjung yang masih dalam keadaan syok. Salah satu pengunjung menuding ke Ye Xuan. "Apa maksudmu?" tanya Kepala Polisi pada orang itu.


"D-dia... dia yang me-melumpuhkan semua pe-perampok, Pak..." ucap orang itu tergagap, belum sirna rasa kagetnya.


Para polisi menoleh ke Ye Xuan yang berdiri tenang tak jauh dari Tian. Rautnya datar tanpa fluktuasi apapun.


Sedangkan Tian, dia merasakan lututnya masih lemas, berusaha bangun dengan berpegangan pada tepian etalase. Ye Xuan melihat itu dan membantu Tian berdiri.


Tatapan mata Tian tidak berkedip memandang Ye Xuan. Dalam hatinya, Tian bertanya, apakah Ye Xuan seorang Wonder Woman?