Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
21 - Mengungkapkan Semuanya



Ye Xuan terdiam beberapa belas detik. ia masih menimbang ini dan itu, apakah perlu mengatakan semuanya kepada sang sahabat dari Fei.


"Fei..." Lan menatap lekat ke wajah gadis ayu di depannya. Ia duduk bersila sambil terus menghadap ke arah Ye Xuan yang memakai tubuh Fei.


Ye Xuan membalas tatapan Lan. "Apakah aku harus ungkap semuanya pada kamu, Lan?" Sinar matanya seolah ragu. Apalagi suara Fei di delam ruang jiwa terus berseru memohon agar Ye Xuan jangan memberitahu Lan.


"Iya, harus dong. Kita kan sudah bersahabat sedari SMP. Kita sudah sering saling tukar cerita. Aku pun sudah sering cerita semua keluh kesah aku ke kamu. Bagaimana bisa kamu tidak mau cerita masalah kamu ke aku? Apa kamu tidak percaya dengan aku, Fei?"


Sorot mata tajam Lan terus menghujam ke manik mata Fei. Ye Xuan sebenarnya tidak keberatan membuka mengenai permasalahan Fei pada Lan. Tapi semua tergantung Fei.


"Nona Fei," kata Ye Xuan ke ruang jiwa dimana Fei bersemayam. "*Aku pikir tidak ada salahnya menceritakan semua permasalahan kamu kepada dia. Dia sahabat kamu. Aku percaya itu hal yang baik membicarakan pada dia."


"Tapi, Tuan Ye. Aku... aku malu. Aku*..." Suara Fei terdengar bimbang.


"Permasalahan-permasalahan Nona Fei selama ini, sampai kapan akan Nona pendam dan rahasiakan dari sahabat Nona? Justru, menurutku, jika Lan mengetahuinya, Lan akan ikut membantu Nona Fei. Yah mungkin bukan bantuan materiil, tapi setidaknya secara emosional. Bagaimana?" Ye Xuan membujuk Fei.


Hening sejenak dari ruang jiwa selama beberapa saat hingga detik kedua belas, Fei mengiyakan dan mengijinkan Ye Xuan bicara semuanya pada Lan.


Dan memang, akhirnya Ye Xuan benar-benar mengungkapkan apa yang terjadi pada Fei ke Lan.


Lan mendengarkan semua tutur Ye Xuan dengan mulut dibekap satu tangan dan mata membelalak. Lalu mata itu basah dan Lan memeluk tubuh Fei sembari terisak sedih.


"Maaf... hiks! Maaf, Fei. Maaf aku tidak tau semua itu. Aku bahkan tidak menolong kamu disaat kamu diperlakukan kejam seperti itu oleh keluarga bibi kamu, hiks!"


Ye Xuan yang tidak menyangka akan mendapatkan pelukan emosional dari Lan, hanya bisa menepuk-nepuk punggung Lan tanpa berani membalas pelukan tersebut.


Itu adalah pertama kali dalam hidup Ye Xuan merasakan pelukan wanita! Maksudnya, wanita selain ibu dan sanak saudara dia di masa lalu.


Lan menangis sesenggukan membayangkan kepahitan hidup Fei, terutama ketika menghadapi pelecehan dari keluarga sang bibi dan kemudian dipaksa aborsi yang pastinya sangat menyakitkan.


Meski Lan heran kenapa malah dia yang menangis tersedu-sedu, tapi dia tepiskan keheranan dia dan memandangi Fei disertai sedotan ingus dan mata meleleh serta pipi basah.


"Fei, hiks! Aku benar-benar tidak mengira kamu bisa sekuat itu. Aku... hiks! Kalau aku jadi kamu... hiks! Mungkin aku sudah..."


Ye Xuan memperlihatkan tangan kiri Fei ke Lan. Di sana terdapat bekas luka samar di pergelangan tangan itu.


Lan menatap terbelalak melihatnya. "Fei... Fei... kamu... kamu... Feeeiii... uhuhuuu..." Dia kembali tersedu-sedu kencang memeluk Fei. "Kasian kamu, Fei, sahabat aku yang malang, uhuhuuu~ hiks!"


Setelah beberapa saat kemudian, Lan sudah tenang. Ia sudah mengeringkan ingusnya dan menyeka semua air matanya. "Bagus kalau keluarga bibimu sudah masuk penjara! Semoga mereka membusuk lama di sana!" ucap Lan penuh emosi.


Ye Xuan hanya bisa mengangguk dan menepuk-nepuk bahu Lan, seakan menenangkan si gadis berkacamata.


"Iya. Ini secara otomatis menjadi rumahku." Ye Xuan mengangguk.


Grepp!


Lan meraih dua tangan Fei dan menggenggam erat menggunakan dua tangannya sendiri. "Fei, janji yah... jangan ada rahasia lagi setelah ini. Dan juga, janji dengan sungguh-sungguh padaku, tidak akan ada lagi percobaan bunuh diri dengan alasan apapun! Setiap kau memiliki masalah atau pikiran berat, kau HARUS menceritakan padaku!"


Ye Xuan membalas tatapan tajam dan serius Lan. Ia tak tau harus menjawab apa. Benarkah tak boleh ada rahasia? Sungguh? Lalu... apakah dia harus menceritakan pada Lan bahwa dia bukan Fei. Sanggupkah Lan menerima itu?


"Lan, aku..."


"Berjanjilah, Fei!"


Ye Xuan menghela napas panjang dan menundukkan kepala. "Akan aku usahakan."


"Benar, yah! Kau harus sangat berusaha untuk menepati janji itu. Kau harus percaya padaku. Meski aku tau aku gadis lemah dan mungkin tak bisa menolong kamu seluruhnya, tapi aku pasti akan bersedia mendengarkan keluh kesah kamu dan kita bisa cari solusi bersama!"


Tatapan tegas dari Lan membuat Ye Xuan terharu. Rupanya begini rasanya memiliki sahabat. Dahulu, Ye Xuan tidak pernah memiliki sahabat. Kalau sekedar teman, dia memiliki banyak, meski mungkin para teman hanya mendekati dia untuk mendapatkan manfaat saja karena status Ye Xuan.


Dan kini, di kehidupan yang baru ini, dia berkesempatan memiliki teman dekat alias sahabat. Meski sebenarnya itu adalah milik Fei.


Dengan ini, Ye Xuan merasakan lebih mengenaskan ketimbang Fei. Setidaknya Fei memiliki Lan yang selalu siap mendengarkan keluh kesah dia. Sedangkan Ye Xuan, jika dia kesal atau sedih, dia hanya bisa melarikan diri ke Pagoda Jiwa dan menenggelamkan diri dalam pemurnian pil di sana atau sekedar berkultivasi beberapa hari.


Apakah langit sengaja melempar jiwanya ke jaman ini agar dia bisa merasakan persahabatan?


"Fei..." Lan menyentuh lembut tangan Ye Xuan. "Jangan pernah mencoba melakukan apapun yang menyakiti diri kamu sendiri, oke? Itu bukan solusi. Sama sekali bukan tindakan baik. Kalau kau melakukan kebodohan itu, kau sama saja menyakiti orang-orang yang menyayangi kamu." Di akhir ucapannya, ia hadirkan senyum hangat.


Ye Xuan tak bisa berkata apa-apa selain mengangguk. Dia berharap perkataan Lan bisa mencapai hati nurani Fei di dalam ruang jiwa sana. Karena sebenarnya Ye Xuan juga menyayangkan tindakan konyol Fei sebelumnya.


Setiap makhluk hidup memiliki persoalan dan permasalahan masing-masing. Namun, manusia diberi otak yang lebih baik dari penciptanya untuk digunakan sebagai sarana berpikir sebagai manusia.


Oleh karena itu, otak harus digunakan untuk mencari solusi, agar tindakan seseorang tidak menjadi kesedihan bagi yang lain.


Segala permasalahan ada solusinya. Kuatkan hati dan teguhkan niat, maka solusi pasti akan terpikirkan.


Itulah manusia. Itulah kodrat manusia. Untuk berpikir dan terus berpikir dengan otaknya agar bisa makin tumbuh berkembang menjadi sosok pribadi yang lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya.


Bahkan binatang hina pun dia tetap berjuang untuk bertahan hidup meski harus terluka dan tercabik-cabik.


Maka, manusia yang dikaruniai otak melebihi kehebatan binatang, TIDAK BOLEH MENYERAH!