Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
30 - Jalan-Jalan Malam



Di pinggir jalan, Han hanya bisa berdiri bingung. Apakah Fei aman setelah dikejar seperti itu? Apakah dia harus meminjam motor penduduk untuk mengejar Fei? Tapi tadi gadis itu memberi ultimatum agar dia tetap menunggu di jalan tersebut.


Benarkah tak mengapa jika Han tetap berdiri seperti orang hilang di pinggir jalan ini?


Belum usai kebimbangan Han, dia sudah mendengar suara motor yang meraung tak jauh dari tempatnya berdiri. Han berdebar-debar, apakah itu Fei atau justru...


Namun, begitu motor itu mulai makin mendekat, senyum Han langsung merekah sempurna layaknya kue bolu yang sukses dipanggang. "Fei!"


Han sudah akan memburaikan banyak kalimat lega, namun Ye Xuan malah berwajah ketus padanya. "Cepat naik!"


Sambil beringsut ke jok belakang, Ye Xuan menatap tajam ke Han. Dikarenakan itu, Han pun paham Ye Xuan marah karena tadi Han sempat melanggar yang diperintahkan Ye Xuan, tak boleh memeluk pinggang. Apalagi menempelkan tubuh.


Mendesah pasrah, Han pun naik ke jok depan dan mulai lajukan motornya tanpa berkata apapun. Sepanjang perjalanan kembali ke kota, hanya ada sunyi saja di antara mereka. Padahal Han ingin sekali menanyakan mengenai dua berandalan mesum tadi, tapi sepertinya suasana hati Ye Xuan sedang buruk.


Maka, Han pun memilih diam mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


Lupakan tentang mengungkapkan isi hati terdalam.


Dikarenakan sikap Ye Xuan yang kesal padanya, Han tak berani mengajak jalan-jalan lebih lama hari ini. Setelah mencapai kota, ia pun terpaksa memulangkan Ye Xuan ke rumahnya dan Han tidak lupa mengucapkan terima kasih dan meminta maaf sebesar-besarnya karena membuat Ye Xuan marah.


Tanpa menyahut ucapan Han, Ye Xuan hanya mengangguk sekali dan balik badan menuju ke rumahnya dan tidak menoleh sekalipun pada Han yang menghela napas putus asa.


Setelah yakin Han berlalu dari depan rumahnya, Ye Xuan pun bernapas lega. Hari ini sebenarnya dia senang bisa melakukan hal-hal asik, meski harus kesal atas ulah para berandalan tak tau adat sebelumnya.


Mengenai Han, sebetulnya Ye Xuan tidak menyalahkan Han sepenuhnya. Apalagi ketika ia mendengar dari Fei sendiri tentang kenapa Han melalukan apa yang dilarang Ye Xuan tadi.


Dari Fei, dia paham bahwa tindakan Han tadi sebenarnya bertujuan baik. Tapi dia sudah terlanjur kesal, maka... biarlah.


Sore ini, Ye Xuan memutuskan akan masuk ke Pagoda Jiwa dan membuat pil. Ia masih punya tugas untuk membuatkan pil bagi Tuan Yan.


Setelah berkutat di Pagoda Jiwa selama dua jam lebih, dia berhasil membuat banyak pil, tidak hanya untuk penyakit Tuan Yan saja, namun juga pil-pil jenis lain sebagai persediaan.


Begitu keluar dari Pagoda Jiwa, hari sudah menjelang petang. Tirai langit telah berwarna jingga dan begitu indah, mempesonakan perasaan Ye Xuan.


Dia duduk di teras depan rumah sembari menikmati suasana sore yang teduh. Anak-anak kompleks mulai masuk ke rumah orang tua masing-masing. Para ibu-ibu yang tadinya bergosip di luar rumah pun mulai ikut sang anak memasuki rumah mereka sendiri-sendiri.


Suasana ini agak berbeda dengan jaman Ye Xuan tinggal sebelumnya. Di jamannya, tidak ada ibu-ibu yang menggosip di depan rumah atau anak-anak yang berkeliaran di jalan kompleks. Itu karena Ye Xuan tinggal di kompleks para bangsawan, dimana mereka akan tenang di dalam rumah yang besar dan tidak seenaknya berkeliaran di luar, atau nyawa akan dalam bahaya.


Di jaman Ye Xuan, menganut hukum besi, yang kuat yang menang. Yang kuat yang berkuasa. Maka tak heran ada banyak pembunuhan terjadi. Dan orang-orang di jaman itu harus bisa melindungi dirinya sendiri dengan ilmu bela diri ataupun kepandaian lainnya agar bisa terus menyimpan nyawa di badan.


Selesai bernostalgia akan kehidupan lampaunya, Ye Xuan ingin berjalan-jalan sebentar. Ia ingin tau apakah di jaman ini juga ada hukum besi? Apakah pembunuhan dan pemusnahan sebuah keluarga juga biasa terjadi?


Beruntung, di Pagoda Jiwa ada seperangkat pakaian yang sengaja ditaruh Ye Xuan di sana untuk berjaga-jaga. Rupanya itu menguntungkan dia dalam keadaan ini. Karena dia menemukan pakaian mengintai dia yang serba hitam dari atas sampai bawah.


Meski agak sempit di bagian dada, itu masih bisa ditoleransi oleh Ye Xuan.


Dia ingin berjalan-jalan tanpa menarik perhatian siapapun. Oleh karena itu, pakaian hitam sangat diperlukan.


Tepat ketika horison berwarna hitam, Ye Xuan pun mulai keluar dari rumah. Berbekal pakaian serba hitam dan topeng hitam pula, takkan ada yang bisa mengetahui sosok di balik baju itu. Orang hanya akan mengetahui bahwa itu adalah perempuan karena dadanya membusung.


Meloncat menggunakan ilmu meringankan tubuh dengan lincah (ginkang), Ye Xuan tanpa kesulitan melewati genteng satu ke genteng lainnya tanpa menimbulkan suara berarti yang mencurigakan.


Ye Xuan sesekali berhenti di bubungan genteng, duduk beberapa menit menikmati suasana dan sedikit megambil Qi alam. Kemudian, dia akan melonjak lagi dan melewati genteng satu ke genteng lainnya, bahkan yang berjarak belasan meter pun sanggup dia gapai.


Orang hanya akan merasa itu seperti kucing yang menapak saja di genteng mereka saat Ye Xuan menggunakan ginkang-nya. Begitu halus dan ringan.


Tak terasa, Ye Xuan sudah cukup jauh dari rumahnya, namun dia tidak khawatir sama sekali. Toh, di jaman ini tidak ada kultivator jahat seperti di jaman dia. Ia yakin, dia mampu menghadapi situasi apapun.


Kini, dia ada di sebuah perumahan mewah. Atap rumah yang ditapaki kaki Ye Xuan lebih kokoh dan keras, serta berkilat indah. Msaing-masing rumah juga berukuran besar.


Ketika Ye Xuan sedang menikmati suasana malam di atas bubungan genteng salah satu rumah besar, dia tidak sengaja melihat seorang yang berkelakuan ganjil berada di dalam sebuah rumah.


Insting Ye Xuan berkobar. Dia pun mengamati orang di rumah yang tampak sepi itu.


Tak dinyana, dari dalam sebuah ruangan rumah sepi itu, muncul perempuan muda. Si perempuan itu lekas berteriak kaget melihat adanya lelaki tadi. Dan dengan gerakan cepat, lelaki itu mengeluarkan sesuatu yang dia tebaskan ke leher si perempuan.


Ye Xuan terkejut dan dia segera meluncur ke bawah ke mereka. Perempuan itu memegangi lehernya yang bersimbah darah. Rupanya lelaki tadi menebaskan pisau lipat pada perempuan muda itu.


Lelaki jahat tadi terkejut mendapati kehadiran Ye Xuan yang berpakaian serba hitam dan bertopeng hitam pula. Ia tak menyangka ada orang lain selain mereka berdua di sana.


Dengan gerakan cepat, Ye Xuan lekas menotok jalan darah lelaki itu sehingga si lelaki jahat tak bisa bergerak.


Berkejaran dengan waktu, Ye Xuan segera memeriksa kondisi perempuan tadi.


Perempuan muda itu sudah tergeletak di lantai dengan bermandikan darahnya sendiri yang mulai menggenang di area leher hingga mewarnai daster biru mudanya dengan warna merah pekat.


Terlambat. Ternyata Ye Xuan terlambat menyelamatkan nyawa perempuan muda itu.