Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
34 - Salah Tingkah untuk Pertama Kali



Saat ini, Ye Xuan sedang duduk di sebuah kafe. Apalagi kalau bukan Kafe Mantaph milik Tian. Pria itu membawanya ke kafe miliknya sendiri karena malas jika ke kafe orang lain. Tentu saja, kan? Apalagi ini sudah masuk ke jam makan, walau sudah agak lambat sedikit.


"Pesan apa saja yang kau mau, Fei." Tian menyodorkan buku menu ke Ye Xuan.


Tangan seputih Lily nan lentik itu menerima sodoran dari Tian, meski Ye Xuan bingung, apa yang harus dia pesan? Dia tidak paham makanan-makanan jaman kini. Tak mungkin dia memesan sup akar teratai, atau daging masak jahe.


Apakah itu ada di jaman sekarang Ye Xuan tinggal?


Pandangan mata Ye Xuan terlihat bingung membaca menu-menu yang tertera. Lidah Julid Tetangga, Ayam Kampus Bejek Sambel Iblis, Sup Neraka Ketujuh, Roti Goyang Lidah, Stroberi Tampol, Tonjokan Jeruk, Rogo Sasuke, Steak Mantaph, dan masih banyak lagi yang berlabel aneh.


Jangankan Ye Xuan, orang masa kini pun pasti akan pusing membaca menu di kafe itu karena nama-nama menunya memang tak lazim.


Meski nama-namanya nyeleneh, namun di bawahnya ada keterangan mengenai menu tersebut.


"Lidah Julid Tetangga?" Ye Xuan membaca salah satu menu yang bernama aneh.


Tian yang duduk di depannya pun menyahut, "Ohh... itu lidah sapi masak pedas level tinggi. He he... kau tau sendiri kan namanya tetangga kadang lidahnya julid." Ia menjelaskan asal muasal nama menu tersebut.


Namun, sayang sekali Ye Xuan masih menunjukkan wajah bingungnya. "Julid?" Kata ini yang membuatnya bingung.


Segera, Fei menjelaskan makna kata itu pada Ye Xuan melalui pikiran mereka yang terhubung. Ye Xuan pun manggut-manggut.


"Sup Neraka Ketujuh... ini pasti juga pedas, kan?" tebak Ye Xuan setelah paham sekelumit nama unik Kafe Mantaph.


"Ha ha ha..." Tian tergelak. "Kau ternyata cerdas!"


Wajah Ye Xuan datar saja dipuji cerdas. Dulunya dia sudah kenyang sekali akan pujian serupa. Dia tau dengan jelas dirinya memang cerdas, jadi tak mungkin dia terharu atau tersipu hanya karena pujian yang sangat biasa di telinganya.


"Rogo Sasuke?" Yang ini Ye Xuan agak tak paham apa maksudnya.


"Roti Goreng Sausage Keju. Roti yang diisi sosis dan keju lalu dilumuri tepung panir dan digoreng." Tian menjelaskan lagi sambil tersenyum. "Itu juga ciptaanku." Raut wajahnya terlihat bangga.


"Ohh, bagus." Ye Xuan hanya mengangguk dan kembali menekuni buku menu. "Aku pesan ini dan ini saja." Ia tanpa ragu-ragu menunjuk dua nama menu.


Datang ke kafe ini, dia tidak menolak sama sekali. Ia butuh tau seluk beluk kota ini. Dan ia juga tidak sungkan sama sekali ketika Tian menawarkan mentraktir makan siang. Untuk apa sungkan? Meski perempuan biasanya akan tak enak hati, tapi itu tidak berlaku bagi Ye Xuan.


Jika ada kesempatan baik datang, kenapa harus menolak?


Tian memajukan badannya ke depan untuk melihat menu apa yang ditunjuk Ye Xuan. "Ohh, oke." Dan ia pun memanggil pelayan terdekat.


Pelayan berkostum ala Sailor Moon itu mendekat. "Ya, Bos?"


"Steak Mantaph dan Stroberi Tampol. Oh, satu lagi, Rogo Sasuke." Tian menyebut dua menu dari Ye Xuan dan satu menu tambahan.


Pelayan itu mengangguk dan membuat kuncir dua pirang ala Sailor Moon-nya bergerak-gerak. "Siipp!" Ia pun berlalu untuk meneruskan pesanan ke bagian dapur.


Setelah itu, Tian berucap ke Ye Xuan, "Fei, coba lihat yang tadi diberikan toko perhiasan."


Ye Xuan mengangguk dan mengeluarkan sebuah kotak beludru warna merah. Di dalamnya terdapat sepasang anting dan kalung mutiara hitam yang sebelumnya hampir dibeli olehnya namun urung karena harganya tidak sesuai dengan yang diharapkan Ye Xuan.



Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, Ye Xuan menggagalkan aksi perampokan di toko perhiasan tersebut dengan aksi hebatnya yang bagai heroik, melumpuhkan semua perampok dalam hitungan tak sampai lima menit.


Tian pun dibuat tercengang atas tindakan Ye Xuan. Sebagai pria, Tian pun takkan berani bertingkah demikian menghadapi para perampok bersenjata api. Itu terlalu gila. Tapi, Ye Xuan sebagai Fei begitu mudah menaklukkan semuanya.


Maka dari itu, Ye Xuan menerima satu set perhiasan tadi dari pemilik toko sebagai rasa terima kasih. Mana mungkin Ye Xuan menolak?


"Kau suka?" tanya Tian sambil menunjuk ke kotak perhiasan itu.


Ye Xuan mengangguk. "Bagus."


"Mau pakai? Sini aku bantu pakai untuk tau apakah itu cocok atau tidak padamu." Tian pun beralih tempat duduk di samping Ye Xuan.


Ye Xuan tak menolak, membiarkan tangan Tian melepas anting-anting yang sebelumnya sudah ada di telinganya, dan mengganti dengan mutiara hitam di kotak.


Apa kalian pikir Ye Xuan akan tersipu-sipu atau berlagak malu? Jangan harap. Yang mengisi tubuh itu bukan perempuan asli, maka sentuhan Tian ataupun perhatian lelaki tampan itu sangat tidak memberi efek pengaruh apapun pada Ye Xuan. Wajahnya masih sedatar papan talenan. Tanpa ekspresi.


Mata Tian melirik ke wajah Ye Xuan, wajah Fei maksudnya, namun di sana tidak ada fluktuasi emosi layaknya perempuan pada umumnya, hingga Tian heran.


Jika perempuan lain yang diperlakukan demikian oleh Tian, entah sudah seperti apa wajah perempuan itu. Mungkin semerah pantat kera, atau sibuk menjerit-jerit tertahan bagai orang menahan buang air. Contohnya saja Lan.


Tapi Ye Xuan ini... Tian sampai terheran-heran.


Selesai memasangkan anting di kedua telinga Ye Xuan, kini giliran Tian memasangkan kalung mutiara itu ke leher Ye Xuan.


Ye Xuan masih saja tanpa ekspresi apapun meski dia dan Tian berhadapan cukup dekat sembari Tian sibuk melingkarkan kalung itu ke leher Ye Xuan tanpa Ye Xuan berganti posisi.


Mata bulat Fei menatap Tian tanpa ragu.


Justru kini Tian yang berdebar-debar tak karuan. Dalam benaknya, dia merutuki dirinya sendiri yang malah merasa canggung karena ditatap lekat dan intens oleh gadis di hadapannya.


Jakun Tian naik dan turun sambil mata sesekali melirik ke mata indah Fei.


"Masih lama?" tanya Ye Xuan seraya tetap diam tak bergerak dengan pandangan manik matanya tertuju lurus ke wajah Tian.


"A-ahh, iya nih, sedikit lagi. Ini... agak susah dikaitkannya." Tian terpaksa beralasan karena dia terganggu dengan tatapan Ye Xuan.


"Tidak usah saja kalau susah." Ye Xuan memberi saran.


"Ahh, jangan, jangan, ini sebentar lagi selesai, naahh... sudah..." Tian tersenyum lega karena telah berhasil mengaitkan ujung kalung tadi.


Mata Ye Xuan bergerak ke bawah, tidak lagi pada Tian. Mata bening itu menatap kalung yang menggantung di lehernya. Tidak terlalu panjang, malah hampir melekat ketat di leher. "Terima kasih," ucap Ye Xuan datar sembari melirik sebentar ke Tian.


Tian tersenyum canggung. Dalam hatinya dia berteriak, "Ini cewek kenapa datar sekali? Apa dia tidak tau cara tersenyum?! Bagaimana dia bisa begitu dingin? Atau dia jarang bergaul?"


"Ada apa?" tanya Ye Xuan ketika dirasanya Tian masih memandangi dia.


Pemilik Kafe Mantaph itu lekas menggeleng. "Ahaha! Tidak! Tidak ada apa-apa! Ohh, itu makanannya sudah datang! Oh ya, kau... tampak cantik sekali dengan anting dan kalung itu. Ermm... maksudku bukan berarti kau biasanya jelek! Kau tetap cantik, meski tanpa memakai perhiasan... kau sudah cantik, sih..." Baru kini Tian salah tingkah di hadapan perempuan.


Ye Xuan tak bereaksi apapun sambil menonton tingkah kikuk Tian yang sibuk menggaruk belakang kepalanya.