
Geram, Ye Xuan ingin sekali membunuh lelaki yang dia totok tadi, namun terdengar suara Fei di ruang jiwa yang menyarankan Ye Xuan memanggil polisi saja agar lelaki jahat itu menghabiskan hidup di sel penjara.
Berdebat sebentar dengan Fei, akhirnya Ye Xuan setuju. Dia menelepon kantor polisi terdekat dan melaporkan adanya suasana aneh di sebuah rumah mewah.
Tak berapa lama berselang, datanglah mobil patroli polisi di depan rumah itu.
Karena merasa tugasnya sudah usai, Ye Xuan pun segera melonjak ke atap dengan disaksikan pembunuh itu yang melotot tak percaya akan aksi yang dia lohat di depan mata dia.
Ada orang yang sanggup melonjak naik setinggi 6 meter lebih tanpa bantuan alat apapun, hanya mengandalkan kaki saja. Di jaman ini? Mana ada? Hanya Ye Xuan saja mungkin.
Pembunuh itu masih diam kaku tak bergerak di dekat mayat perempuan malang sambil terus bertanya-tanya, apakah di sebelah rumah sedang diadakan syuting film aksi? Apakah tadi di punggung Ye Xuan tergantung tali kawat baja yang biasa digunakan untuk menaikkan para aktor agar tampak seperti terbang di udara?
Tidak ada!
Maka, setelah polisi mendobrak pintu masuk rumah mewah itu pun, sang pembunuh cuma bisa gagu memikirkan Ye Xuan. Bahkan usai di masukkan ke mobil polisi pun dia masih belum bisa bersuara saking kagetnya.
Akhirnya, pembunuh itupun mendapatkan suatu konklusi, Ye Xuan adalah hantu. Dan karena asumsi sepihak itu, pembunuh itu langsung merasakan merinding di sekujur tubuhnya dan mulai paranoid menoleh ke kanan dan kiri, khawatir hantu Ye Xuan muncul lagi.
.
.
Ye Xuan tidak meneruskan acara jalan-jalannya usai kejadian di rumah mewah itu. Ia memutuskan untuk pulang saja. Meskipun jarak rumah bibi jauh, dia masih bisa melacak dari aura yang dia tinggalkan. Ia hanya tinggal mengikuti aura itu.
Tiba di rumah, dia segera masuk ke kamar setelah mengendap-endap agar tidak terlihat oleh siapapun.
Kemudian, Ye Xuan melepas semua pakaian hitam dia beserta topeng di wajah. Setelah itu, dia duduk di ambang jendela, menatap kelamnya bumantara yang dihiasi kerlipan bintang yang samar terlihat, mendampingi bulan yang terbentuk hanya setengah saja.
Di benak Ye Xuan, terkenang kembali adegan menyedihkan tadi. Andai dia lebih cepat sedikit, tentu saja ia bisa menyelamatkan nyawa perempuan naas tadi.
Lagipula, kenapa lelaki itu membunuh si perempuan? Apakah mereka ada dendam? Atau ingin mengambil barang milik si perempuan?
Menyadari bahwa percuma saja dia bertanya-tanya dalam hening, maka ia memilih untuk berkultivasi di ambang jendela, duduk bersila meski di ambang bawah yang sempit. Itu bukan hal yang susah untuk Ye Xuan.
Tak terasa, Ye Xuan berkultivasi selama semalaman penuh dan mulai membuka matanya begitu merasakan cahaya redup nan hangat yang menerpa wajah cantik Fei.
Tanpa merasakan kesemutan atau pegal, dia berjalan santai turun dari ambang bawah jendela dan bersiap untuk mandi sembari mempersiapkan hatinya. Jujur saja, kegiatan mandi masih merupakan hal yang membuat Ye Xuan berdebar-debar tidak karuan rasanya.
Terlebih bagian menyabuni seluruh jengkal lekuk tubuh Fei.
Berusaha mengabaikan perasaan aneh di hatinya, Ye Xuan lekas mandi secepat yang dia mampu. Kemudian, ia memilih baju untuk dia kenakan.
Hari ini dia ingin berjalan-jalan sendiri menjelajahi kota ini. Ia sudah mengetahui suasana malam kota, dan kini ingin mencoba suasana saat mentari masih ada di langit.
Ye Xuan memilih atasan berbahan rajut model turtle-neck warna kuning cerah dan celana kapri putih dan disempurnakan dengan sepatu kanvas manis.
Dia tidak mengenakan make up berlebihan pada muka manis Fei, hanya cukup bedak biasa serta pulasan sedikit lipbalm. Rambut pun hanya digerai lepas tanpa dibentuk macam-macam.
Ketika Ye Xuan mencari-cari anting-anting untuk menghiasi telinga Fei, Fei bilang bahwa dia selama ini tidak memakai anting-anting. Benda dari emas itu pernah dia punyai dari ibunya dan diminta sang bibi untuk dijual dengan alasan sebagai biaya hidup Fei selama beberapa bulan.
"Ya sudah, nanti kalau ada waktu, aku akan belikan anting-anting untukmu, Nona Fei," janji Ye Xuan, karena dia merasa itu hal yang aneh jika perempuan tidak menghiasi telinganya dengan anting-anting.
Kaki jenjang Fei sudah melangkah keluar dari rumah, ia melangkah gontai menyusuri trotoar kompleks perumahannya dan kini mencapai gerbang utama kompleks, siap menuju ke jalan raya.
Ternyata, jalanan hari ini cukup ramai.
Mata bulat bening Fei mengerjap-kerjap melihat lalu lalang kendaraan yang tiada hentinya. Ini adalah sesuatu yang baru bagi Ye Xuan. Di jaman dia, tidak pernah mendapati hiruk pikuk demikian meski itu di jalanan paling besar di ibukota raja sekalipun. Kereta kuda hanya sesekali saja lewat mengangkut para bangsawan dan tokoh penting. Selebihnya, hanya ada orang berjalan kaki di sana sini.
Jaman ini begitu hiruk pikuk. Ye Xuan harus mempelajari banyak hal mulai sekarang. Kemarin sewaktu dia bepergian dengan Lan dan Han, dia tidak begitu menelusuri kota ramai ini.
Sekarang, karena dia berjalan kaki, maka ia berkesempatan untuk puas memandang segala hal yang ada di sekelilingnya. Pedagang kaki lima, motor yang menyelusup di sela-sela mobil, pejalan kaki sama seperti dia, pertokoan yang berderet penuh warna dan bentuk, serta beberapa orang yang kadang memandangi dia.
Ada yang memandang heran, ada pula yang memandang dengan tatapan ingin menelan Fei bulat-bulat. Ye Xuan hanya bisa memutar bola matanya saja mengetahui itu.
Dinn! Dinnn!
Kaki Ye Xuan segera saja terhenti karena sudah ada mobil yang menjejeri dia, berhenti di samping trotoar. Saat dia menoleh ke mobil yang membunyikan klakson, jendela itu diturunkan pengemudi yang tersenyum lebar.
Sayangnya, Ye Xuan diam saja tidak membalas senyum itu. Yah, senyum adalah hal paling mahal dan spesial dari sosok seperti Ye Xuan. Ia hanya berdiri mematung di samping mobil kuning itu.
Tak mendapatkan respon dari Ye Xuan, pengemudi itu terpaksa keluar dari mobil tuanya. "Ya ampun, kau ini... apakah kau sudah lupa denganku?" Tian seolah ingin protes pada Ye Xuan atas sikap acuh tak acuh yang dia terima.
"Tidak. Aku masih ingat kau siapa. Kakaknya Han, kan? Tian, benar?" Ye Xuan menjawab tanpa beban.
Tian meremas rambutnya seraya tersenyum canggung. Baru kali ini ada perempuan yang tega sekali tidak membalas senyuman dari dia. Apakah gadis di dekatnya itu sudah kehilangan saraf tersenyum?
"Namamu Fei, kan?" tanya Tian memastikan.
Ye Xuan mengangguk. "Kenapa?"
"Justru harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau berjalan sendirian seperti anak hilang saja di sini?"
Ye Xuan belum sempat memberikan jawaban untuk pertanyaan retoris Tian, ketika pria itu membukakan pintu depan mobil tuanya dan berkata, "Ayo, aku antar. Tidak baik gadis muda berjalan sendirian begitu. Terlalu berbahaya."
"Aku..."
"Ayolah! Sesama warna kuning tentu harus berkumpul!" ucap Tian sambil menunjuk ke pakaian Fei, mobilnya, dan bahkan dia memaksakan warna bajunya adalah kuning, meski itu sebenarnya coklat muda. "Ini kuning kusam!"