Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
25 - Di Tempat Piknik



Walau dipaksa seperti apapun, Ye Xuan tidak sudi jika harus memeluk pinggang Han meski itu dikatakan untuk keselamatan dia sekalipun! Dia bisa menjaga keselamatan dia menggunakan cara dia sendiri. Dia tidak membutuhkan pinggang seseorang untuk keselamatan dia. Terlebih pinggang sesama lelaki!


Maka, Ye Xuan lebih memilih berpegangan pada pundak Han. Ya, kedua tangannya mencekal mantap dua pundak Han sambil jauhkan tubuh Fei dari punggung Han.


Han yang mengetahui sikap Ye Xuan, hanya bisa naikkan kedua alis sembari mendesah pelan. Rupanya tidak mudah memerangkap Fei dalam sebuah skenario klasik. Lagi-lagi dia merujuk pada cara klasik untuk mendekati perempuan yang dia suka.


Jika dulu, menonton horor di bioskop agar dapat pelukan ketakutan dari Fei, gagal... maka dia berharap cara klasik yang ini berhasil. Memangnya siapa yang tidak takut terjatuh dari motor? Peluk pengendaranya agar kau selamat!


Han sudah mempersiapkan skenario ini matang-matang. Dia sudah menelepon Lan untuk membantunya menolak ajakan Fei jika gadis itu mengajak Lan ikut. Dia juga sengaja memilih pergi menggunakan motornya ketimbang mobil seperti sebelumnya.


Semua begitu mantap dalam perhitungan cermat, seakan-akan ini cara paling jitu, takkan gagal.


Oh Han... sebenarnya dari mana kau dapatkan metode-metode klasik itu, sih?


Kini, Han mulai melajukan motor dengan mendadak. Ye Xuan yang membonceng di belakang pun tersentak kaget namun berhasil menguasai diri dan tidak sampai menempelkan tubuhnya pada punggung Han.


Han mengulum senyum kecilnya dan membatin, 'Mungkin belum. Nanti pasti berhasil, dipeluk dan juga metode rem mendadak pasti akan sukses! Katanya itu pasti terjadi. Tak ada perempuan yang mempunyai imun menghadapi dua cara itu!'. Ia memantapkan keteguhan harapannya.


Sudah terlalu lama dia memendam perasaan untuk Fei. Dan kini, ketika mereka akan mulai menapak kelas 3 SMA, Han bertekad harus bisa menjadikan Fei kekasihnya sebelum mereka akan disibukkan dengan ujian dan tes di kelas 3 nanti.


Ia sudah membayangkan, Fei akan selalu menjadi sumber semangatnya agar dia bisa terus belajar dan Fei bakal bangga jika dia bisa memperoleh nilai yang baik nantinya. Ia juga membayangkan Fei kerap meneleponnya untuk menanyakan apakah sudah makan, sudah belajar, sudah minum multivitamin untuk menjaga kesehatan.


Ahh... itu hal yang sungguh indah jika bisa terjadi.


Oleh karena itu, Han kini memutar setang gas-nya sehingga motor mulai agak menggila di jalanan. Untung saja dia memilih jalan yang tidak terlalu padat, meski harus memutar menghindari jalan yang dijaga polisi. Mereka sama-sama tidak mengenakan helm. Han gila.


Motor yang meliuk-liuk di jalanan tentu saja akan membuat siapapun yang membonceng akan secara otomatis berpegangan erat. Itu sudah hal lumrah dan kewajiban jika tak ingin menggelinding di aspal.


Sayangnya, yang sedang dibonceng ini adalah Ye Xuan. Dia lelaki yang kuat dan seorang kultivator pula. Apakah motor yang meliuk gila di jalanan sanggup menakuti dia? Tidak sama sekali.


Ye Xuan masih teguh seperti sebelumnya, berpegangan pada pundak Han dan menjauhkan tubuhnya dari punggung si pria di depannya yang mengendarai motor secara zig zag gila bagai pembalap. Apakah Han seorang pembalap sungguhan? Fasih sekali dia menerobos kepungan kendaraan lainnya bagai itu hanya sedang meminum air saja.


Ckiiittt!


Motor direm mendadak. Han sengaja. Dia sudah menyiapkan kebahagiian jika Fei akan menubruk punggungnya dan...


Tepp!!!


Han terpaksa menelan kekecewaannya ketika punggungnya malah bertabrakan dengan dua siku Ye Xuan. Tak ada pelukan di pinggang atau manapun. Tak ada dada yang menempel di punggung. Tak ada wajah yang menabrak tengkuknya.


Padahal dia sengaja tidak membawa helm untuk hal ini!


Kau ingin membuat Ye Xuan takluk pada rencanamu, Han? Ohoho... tidak semudah itu, bocah.


Kau harus tau, Ye Xuan sudah biasa melesat di udara. Ye Xuan sudah terbiasa bertarung melawan penjahat dan kejar-kejaran di kota segila kau mengendarai motormu, Han.


Rasanya Han salah memilih target.


Menghembuskan napas kekecewaan, Han melaju lagi dan tak lama kemudian, motor sudah sampai di sebuah tempat wisata yang biasa digunakan untuk santai dan berpiknik.


Ye Xuan mengeluh, "Duh, rambutku rasanya kacau sekali. Ini pasti berantakan menggila. Han, lain kali jangan terlalu ngebut. Rambutku jadi kacau," keluhnya sambil dua tangan berusaha memperbaiki rambut yang sudah mulai acak-acakan.


Han merasa sangat bersalah. Selain dia gagal lagi untuk kian dekat dan intim dengan Fei, dia juga sudah membuat gadis itu kesal.


Oleh sebab itu, Han ulurkan tangannya dan ikut membenahi rambut panjang Fei yang berantakan. Ye Xuan sempat mundurkan kepalanya agar tidak berhasil diraih Han, namun jarak mereka terlalu dekat sehingga tidak bisa mengelak dari tangan Han.


Ye Xuan pun membiarkan Han menyisiri rambut panjang Fei dengan jari-jarinya. Meskipun Ye Xuan lelaki, namun tetap saja berpenampilan rapi itu sebuah keharusan baginya. Apalagi dia yang terlahir di keluarga bangsawan dan seorang alkemis yang dihormati, mana mungkin dia tidak memerdulikan kerapian penampilannya?


"Maaf, yah..." lirih Han sambil menatap Ye Xuan. "Nanti aku akan pelan, dan... membawa helm agar rambutmu tidak seberantakan ini."


"Ya sudah, tak apa." Ye Xuan berusaha mengerti. Ia berprasangka baik, mungkin Han sudah tidak sabar ingin lekas sampai di tempat ini.


Ngomong-ngomong tentang tempat yang dituju Han, ini merupakan tempat yang asri, mirip taman besar dengan suasana yang cukup menyenangkan. Aliran Qi alam juga melimpah di sini karena banyaknya tanaman hijau dan bahkan tidak dikotori banyak polusi dari jalanan kota di dekat sana.


Ye Xuan menatap sekelilingnya. Han pun mengajak masuk ke area taman besar itu. Ada loket masuk yang hanya memungut bayaran yang kecil yang dijaga seorang tua.


Han mengajak Ye Xuan ke sebuah kios kecil di dekat loket masuk untuk membeli dua bungkus roti tawar. Ye Xuan melirik roti itu dan mengira itu adalah bekal piknik untuk mereka karena dia tidak sempat menyiapkan. Bukan saja tidak sempat menyiapkan, dia juga tidak bisa membuat bekal.


Mana mungkin dalam kehidupan lalunya Ye Xuan membuat hal semacam demikian? Ia terlalu sibuk menyuling obat. Bahkan mengurus kehidupan pribadinya seperti melakukan pendekatan lebih intens ke Xiu Ying saja dia tidak sempat, bagaimana mungkin dia tau cara berpiknik, meski itu adalah hal yang juga lumrah di jaman dia.


Dua pasang kaki remaja menapaki paving dan Han menunjuk ke sebuah area hijau tak jauh dari mereka. Rupanya itu sebuah taman rumput dengan adanya danau buatan dihiasi teratai yang belum mengeluarkan bunganya dimana terdapat beberapa bebek lucu mengapung di air danau.



Ketika mereka berdua sudah duduk nyaman di tepi danau, Han meminta ijin akan ke toilet sebentar. Ye Xuan mengangguk. Ia pun duduk sendirian di sana, menatap danau dan para bebek lucu yang berenang dan memainkan air.


Tidak ada banyak orang di dekat Ye Xuan.


Mata Ye Xuan tertumbuk pada dua bungkus roti yang dititipkan Han padanya sebelum lelaki itu pamit ke toilet umum di sana.


Tangan Ye Xuan terjulur meraih satu bungkus roti tawar ukuran besar.


Saat Han kembali dari toilet umum, dia terkejut mendapati Ye Xuan sedang duduk seraya memakan roti tawar dengan tenang sambil menatap danau.


"Astaga, Fei." Han segera duduk di sebelah Ye Xuan.


Ye Xuan menoleh ke arah Han. "Ada apa?"


"Tau begitu, tadi kita bisa mampir dulu ke toko roti."


"Kenapa, Han? Ini juga tidak buruk."


"Tapi itu... itu khusus untuk bebek, ikan, dan burung."


Ye Xuan mematung.