Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
27 - Insiden Kuda



Author cuap2: Oh ya, sebelumnya... gw mo ucapin banyak makasih teruntuk my dearest sweet best friend gw, Nixx, yang udah bersedia banget meminjamkan muka dia untuk dijadikan visual Fei.


Sori gw bilang muka Fei muka masokis (haha, not gomen sebenernya sih!). Kamu kan emang masokis, Nixx, haha!


Tapi gw gak nyangka begitu gw minta tolong minjem mukamu, kamu langsung kasi BEJIBUN foto2mu pake apk PITU (haha). Gapapa, yang penting itu mukamu asli.


En Nixx itu... dia juga sesama author walo ini dia lagi jadi pemalas (pake banget!), haha.. plus dia juga teman / partner main roleplay anime di FB gw dari tahun... duh jadul pokoknya, haha! Thx, dear friend. Thx atas muka masokismu, hehe....


============================


Duduk di samping Ye Xuan yang sedang disibukkan dengan burung merpati yang tiba-tiba saja hinggap di pangkuan, Han hanya bisa mengulum senyum canggung dia seraya mengutuk burung merpati tak tau waktu itu.


Padahal, Han sudah susah payah mempersiapkan hatinya untuk momen penting dalam hidupnya ini. Dia telah mempersiapkan kata-kata pembukaan yang brilian yang akan bisa menggiring mood Fei nantinya sesuai dengan yang diinginkan Han.


Sayangnya, itu semua direnggut secara kejam dengan si burung merpati. Jika Han tidak ingin menjaga imej dia di depan Fei, dia takkan sungkan-sungkan untuk meneriaki burung merpati itu keras-keras. Sukur-sukur jika burung itu kaget, terkena serangan jantung lalu mati mengenaskan.


Ohh, Han... tak baik. Jangan begitu dengan sesama makhluk hidup.


Tak berdaya karena telah kehilangan kesempatan emas untuk mengalunkan kata hatinya ke Fei, ia pun menghela napas.


"Kenapa, Han?" tanya Ye Xuan setelah selesai memberikan semua roti ke burung merpati itu sebelum si burung mengundang teman-temannya dan dia akan menjadi king of birds dadakan.


Menoleh kaget, Han hanya sanggup berikan senyum canggung penuh basa-basi pada Ye Xuan yang sedang membersihkan pangkuannya dari remah-remah roti. Dia tidak menyangka helaan napas dia tadi bisa diketahui Ye Xuan. Padahal dia sudah berusaha selirih mungkin mendekati suara infrasonik yang sekiranya hanya bisa didengar oleh beberapa hewan saja seperti gajah, badak atau cumi-cumi.


"Anu..." Haruskah Han mengatakan keluhannya? Sekarang?


"Ya?" Ye Xuan terus memandangi Han yang gugup.


Tidak mungkin Han tidak gugup dipandang selekat itu, tanpa kedip pula. Ohh andaikan Han tau sebenarnya siapa yang memandangi dia.


"Aku... tadi... hanya..."


Sedang susah payah bagi Han untuk mengatur kalimat alasan terbaik, dari arah tak jauh tempat mereka duduk santai, terdengar bunyi derap kuda.


Tidak hanya itu saja. Bunyi tapal kuda yang beradu dengan paving taman juga dibarengi dengan jeritan seorang perempuan.


"Anakku! Anakku! Tolong anakku!"


Ye Xuan segera memahami apa yang sedang terjadi. Kuda itu tengah dalam keadaan tidak terkontrol berlari, sedangkan di punggungnya ada anak kecil yang sepertinya berusia sepuluh tahun, menangis keras sembari memegangi erat tali kekang kuda yang masih lari.


Mengetahui keadaan darurat, Ye Xuan tidak bisa berdiam diri begitu saja. Ia secepat kilat bangkit berdiri dan lari mengejar kuda itu.


Han terperangah menatap kepergian Ye Xuan yang bagai kilat.


Di pandangan mata Han, Fei sedang berlari kencang mengejar kuda yang menggila tak mau berhenti. Fei? Seorang gadis yang selama ini selalu dia bela di sekolah jika digertak siswa lain atau diganggu preman-preman sekolah? Fei yang kerap menundukkan kepalanya jika berbicara dengan siapapun kecuali pada Lan?


Fei yang itu?


Tersadar bahwa Fei bisa saja dalam bahaya besar karena mengejar kuda, Han segera menyusul dengan lari paling cepat yang dia sanggup.


Ye Xuan terus berlari menggunakan kemampuan terbaiknya untuk menjajari kecepatan kuda itu. Ia mulai khawatir ketika melihat tak jauh di sana ada keramaian manusia. Ia harus lekas bertindak!


Tak ingin menyia-nyiakan waktu lagi, Ye Xuan menambah kecepatannya dengan tenaga Qi dia sehingga akhirnya dia berhasil menjajari kuda itu dan ia ambil tali kekang kuda sembari dia melonjak naik ke punggung kuda dan buru-buru mendekap bocah di atas kuda yang menangis keras.


Dalam waktu sekian detik berikutnya, Ye Xuan berhasil mengendalikan kuda tersebut sebelum lari ke kerumunan manusia.


Han dan pemilik kuda sewa menyusul dengan napas nyaris putus dari tubuh.


Mata Han yang menyipit kini melebar menyaksikan gadis pujaannya telah berada di punggung kuda dan mendekap bocah sepuluh tahun itu. Bahkan kudanya pun sudah tenang dan berhenti.


Sembari berjalan memegangi perutnya yang sakit karena terlalu memaksakan diri berlari kencang, Han mendekat ke kuda. Maksudnya, ke Ye Xuan. "F-Fei... kau.. hghh... tak.. apaahh?" Ia bertanya dengan napas tersengal-sengal.


Ye Xuan pun menyerahkan bocah itu ke Han untuk diterima, sedangkan dia akhirnya turun dari kuda. "Aku baik-baik saja. Justru sepertinya kau yang kurang baik." Matanya menyelidik ke wajah merah padam Han.


Menyusul di belakangnya, pemilik kuda sewa berhasil mendekat tepat ketika ketika Ye Xuan sudah turun dari kuda yang telah tenang. Kemudian, ibu dari si bocah juga mulai datang dengan dibonceng motor seorang penjaga taman.


Pemilik kuda itu sudah akan memukul kudanya yang membuat masalah dan juga membuat dia malu, jika tangannya tidak lekas ditahan Ye Xuan.


"Tuan, jangan pukul kudamu. Kau tidak bisa menyalahkan dia," ujar Ye Xuan pada pemilik kuda yang geram.


"Tapi dia membuat masalah! Hampir mencelakai anak dari ibu itu." Pemilik kuda itu menunjuk ke bocah yang kini telah dalam dekapan ibunya yang menangis lega.


"Hampir, kan? Buktinya, tidak ada yang celaka, kan?" sahut Ye Xuan, mengakibatkan pemilik kuda susah berdalih lagi. "Kudamu sakit, makanya dia bertindak diluar kendali begitu."


"Sakit?" Pemilik kuda terperangah. "Tau dari mana kau?"


Ye Xuan menekan sedikit paha kiri si kuda. Kuda itu segera meringkik gelisah. Hal itu membuat pemilik kuda, penjaga taman, sekaligus Han, mendelik tak percaya. Kenapa Ye Xuan bisa langsung tau?


"Bagaimana kau-"


"Suhu tubuhnya tidak normal." Ye Xuan menyahut, memotong ucapan pemilik kuda sewa. Ia buru-buru menepuk lembut kuda itu untuk menenangkannya.


"Omong kosong!" Pemilik kuda itu tak mau disalahkan sebagai orang yang lalai menjaga kesehatan kudanya. Itu karena dia sudah bertahun-tahun menyewakan kuda-kudanya di taman ini untuk dinaiki para pengunjung yang ingin bersantai sembari naik kuda mengelilingi taman. Tadi kuda yang biasanya jinak, mendadak lepas kendali meski dia ada di sisi si kuda ketika membawanya berjalan di taman.


"Cobalah pegang saja tubuh kudamu, terutama di area paha, di sana lebih panas." Ye Xuan menatap tajam ke pemilik kuda.


Pemilik kuda itu terpaksa melakukan apa yang diminta Ye Xuan. Tangannya menempel di paha kuda. Agak terasa hangat. "Kurasa ini suhu biasa dia." Ia tak ingin dianggap salah.


Lelaki dari masa lampau itu mendesah mendengar keras kepala dari pemilik kuda. "Suhu tubuhnya tinggi, matanya berwarna merah muda, berair, dan dia gelisah yang mengakibatkan dia tidak terkendali. Sepertinya ada yang salah dengan pencernaan dia."


Sebelum pemilik kuda memprotes, Ye Xuan sudah mengelus kuda itu dan tiba-tiba saja si kuda berbaring patuh di rumput sehingga Ye Xuan bisa memeriksa melalui rabaan tangannya.


Pemilik kuda sudah akan berbicara ketika penjaga taman menyuruh diam dan memberi kesempatan pada Ye Xuan untuk membuktikan ucapannya. Mereka pun diam menyaksikan aksi Ye Xuan pada si kuda.


Tak berapa lama sesudah memeriksa denyut nadi kuda di leher, Ye Xuan mengeluarkan sebuah wadah kecil dari kotak giok. Ia membuka wadah itu dan isinya banyak jarum berbagai ukuran. Semua orang yang menyaksikannya membelalakkan mata.


"Kau! Mau kau apakan kudaku?!"