Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
35 - Mengenal Steak dan Punch



Setelah makanan datang, Ye Xuan menatap daging yang mendesis di atas hot plate di depannya. Dia sudah akan memegang lempengan hitam itu jika tidak segera dicegah Tian yang memegangi tangannya.


"Jangan. Itu sangat panas. Tanganmu bisa terbakar." Tian sampai was-was.


Ye Xuan lekas menarik tangannya kembali dari genggaman Tian. Sedangkan Tian, dia sibuk bertanya-tanya apakah gadis di hadapannya ini belum pernah sekalipun makan steak dari hot plate? Atau jangan-jangan malah belum pernah melihat hidangan jenis itu!


Tak berapa lama kemudian, Ye Xuan memandangi garpu dan pisau panjang yang ditata di sebelah hot plate tersebut. Tadi pelayan memberikan itu padanya.


Terakhir dia makan di Kafe Mantaph, dia makan burger jengkol dan itu langsung memakai tangan kosong. Dan kini, ada dua benda berbeda bentuk diletakkan pelayan usai memberinya steak hot plate. Benda macam apa itu?


Fei dari ruang jiwa memberi tahu pada Ye Xuan bahwa itu disebut garpu dan pisau.


Ketika Ye Xuan bertanya ke Fei bagaimana menggunakan garpu, Fei tidak menjawab. Ye Xuan tambah heran dengan adanya pisau di sana. Bukankah pisau itu senjata bertarung? Kenapa bisa ikut disajikan waktu makan?


Apakah Ye Xuan harus bertarung menggunakan itu? Bertarung melawan siapa? Atau... apa? Melawan daging di depannya? Atau... pisau itu disediakan pelayan agar dia bisa berjaga-jaga jika ada musuh yang tiba-tiba menyerang mereka?


Astaga... memangnya segawat apa tempat kafe itu hingga pelayan menyediakan pisau pada para pelanggannya untuk bersiaga!


Ye Xuan pun berasumsi pisau memang untuk dia bersiaga penuh jika ada serangan musuh tanpa diduga. Dia sudah terbiasa waspada di dunia lamanya, maka itu bukan hal aneh jika kini dia juga musti waspada pula.


Tangan mulus seputih lili milik Fei menjangkau garpu di depannya. Kata Fei tadi, garpu adalah alat bantu makan. Lalu, harus bagaimana? Kenapa tidak ada sumpit?


Menatap garpu, Ye Xuan jadi teringat dengan kepala tombak beberapa klan di jaman kehidupannya yang lampau. Apakah garpu ini bentuk mini dari tombak itu? Bagaimana bisa tombak kini justru menjadi alat makan di jaman kini?! Otak Ye Xuan sampai lelah memikirkannya.


Garpu masih berada di tangan kanan Ye Xuan tanpa dia paham harus bagaimana cara menggunakannya. Dia menusuk steak itu dengan garpu dan mengangkatnya.


Tadi sewaktu Ye Xuan dijelaskan bahwa steak adalah masakan daging panggang, dia membayangkan daging yang sudah diiris kecil-kecil atau segelondong daging yang bisa dimakan menggunakan tangan kosong seperti di jamannya dulu.


Tapi karena ini disediakan garpu, mana mungkin Ye Xuan menggunakan tangan kosong? Bukankah nanti dia akan dipandang aneh?


Tian yang mengamati Ye Xuan dari tadi hanya diam dan terkesan ragu-ragu dengan garpu di tangannya, segera bertanya, "Kenapa, Fei?"


Ye Xuan menengadah ke Tian dan menjawab, "Bisakah aku mendapatkan sumpit saja daripada ini?" Ia menaikkan garpu yang sudah tidak lagi menusuk daging.


"Sumpit?" beo Tian. "Bukankah akan sulit jika makan steak menggunakan sumpit? Atau... kau terbiasa makan steak memakai sumpit? Oke." Tian tidak banyak bicara dan memanggil pelayan untuk mengambilkan sumpit.


Setelah sepasang sumpit hadir di depan Ye Xuan, dia pun mulai menggunakannya. Ia menjepit potongan besar steak itu dengan sumpit dan hendak mengarahkan semuanya ke mulut, ketika Tian lekas menahannya.


"Hei, hei, jangan begitu. Bisa belepotan nanti pipimu. Apalagi itu masih panas." Tian menurunkan tangan kanan Ye Xuan yang sedang memegang daging dalam jepitan sumpit.


Terpaksa, Ye Xuan pun patuh dan meletakkan kembali daging besar tadi ke hot plate semula.


Tian akhirnya sadar apa yang harus dia lakukan. "Sini aku potong-potongkan."


Tanpa menunggu respon jawaban dari Ye Xuan, Tian yang duduk di samping kanan Ye Xuan pun cekatan menggerakkan garpu dan pisau untuk memotong daging steak hingga menjadi potongan-potongan kecil yang bisa muat untuk sekali makan.


Ye Xuan menggeser kursinya agar tidak perlu bersentuhan dengan Tian sembari dia mengamati aksi dari Tian dengan seksama. Kini dia paham bagaimana makan menggunakan dua alat itu. Astaga, ternyata pisau di jaman kini bisa digunakan untuk makan juga!


"Nah, silahkan." Tian sudah selesai memotong seluruh daging dan mengembalikan garpu dan pisau ke Ye Xuan.


Ye Xuan menerima dua benda tersebut. Namun, karena ragu, ia pun meraih sumpit setelah meletakkan garpu dan pisau di samping, dan memakai sumpit untuk mengambil potongan-potongan daging yang baru saja diiris oleh Tian.


Ye Xuan mengunyah dagingnya dan mengangguk. "Sangat enak. Lebih enak dibandingkan daging bakar di jamanku."


"Jamanmu?" Tian heran.


Seketika, Ye Xuan sadar dia salah memilih kata. "Maksudku... jaman aku kecil." Matanya sampai bergerak-gerak gelisah karena harus memberikan alasan.


"Ohh... oke, aku anggap itu sebuah pujian untuk kafeku, hehe. Terima kasih." Tian pun terkekeh senang.


"Sama-sama." Ye Xuan kembali mengambil potongan daging lainnya.


Ye Xuan tidak berlebihan ketika dia memuji bahwa daging buatan kafe milik Tian memang sangat enak, karena daging panggang di jaman Ye Xuan hanyalah daging yang dipanggang begitu saja tanpa diberi bumbu. kalaupun ada, hanyalah bumbu sederhana seperti garam saja. Maka, tentu rasanya tidak bisa dibandingkan dengan steak masa kini.


"Kau tak ingin mencoba minumanmu? Stroberi Tampol." Tian menunjuk ke gelas tinggi berisi cairan berwarna merah muda.


Ye Xuan melirik ke gelas tinggi itu dan di sana ada semacam tongkat kecil aneh berwarna hitam dengan lubang mirip terowongan. Apa pula itu? Kenapa mirip senjata rahasia?



Tuan Ye, itu namanya sedotan.


Tangan Ye Xuan pun meletakkan sumpit dan ingin menjajal minuman berwarna merah muda tersebut. Di jaman dia, tidak ada minuman berwarna seperti itu, kecuali itu adalah ramuan obat atau bisa jadi racun. Ia tidak percaya Tian akan memberikan racun padanya. Maka, ia pun mengambil gelas itu, bersiap mengangkat untuk meminumnya.


Tian diam saja melihat Ye Xuan mengabaikan sedotan yang tersedia di gelas tersebut dan malah akan minum secara langsung. Ia beranggapan, mungkin itu memang kebiasaan dari si gadis. Toh namanya sedotan itu kan opsional, tidak wajib jika tidak terbiasa.


Ketika Ye Xuan hampir menyentuhkan bibirnya pada tepi gelas tinggi, dia tak sengaja melirik ke meja lain dan mendapati seorang wanita muda yang meminum minumannya menggunakan sedotan.


'Ternyata benda yang mirip senjata rahasia berlubang itu digunakan untuk minum!' benak Ye Xuan berteriak. Segera, ia turunkan lagi gelas di tangannya dan meraih ragu-ragu ke sedotan hitam di depannya.


Fei dari dalam ruang jiwa menginstruksikan agar Ye Xuan menyedot benda itu. Ye Xuan patuh dan mencobanya.


Sluurrrpphh!


Mata Ye Xuan segera terbelalak. Antara kaget dan takjub. Jadi begini!


Tian bingung kenapa tadi Ye Xuan sempat berhenti ketika akan meminum dari gelas dan kemudian menggunakan sedotan. Tapi, dia tidak keberatan. Makin diamati, sikap Ye Xuan sungguh unik dan tidak membosankan.


Sluuurrpphh!


Ye Xuan menyedot Stroberi Tampol a.k.a Stroberi Punch sembari melirik ke Tian yang terus saja memandanginya. Sikapnya tenang, tidak grogi sama sekali, bagai tatapan Tian tidak berefek apapun padanya.


"Enak?" Tian kembali bertanya.


"Ye Xuan mengangguk sembari terus menyedot minumannya hingga nyaris habis. Ia menyukai Stroberi Tampol ini. Sungguh pengalaman pertama bagi lidahnya merasakan minuman aneh yang seolah menggelitik lidah dan tenggorokannya.


"Nanti malam aku jemput lagi untuk makan di sini, yah!" Tian mencoba membujuk halus.


Ye Xuan menggeleng.