
Ye Xuan berasa ingin mengeluarkan roti yang ada di dalam mulut, tapi... tak sampai hati. Susah payah dia menelan roti tawar yang rasanya memang begitu tawar dan agak kasar serat-seratnya. Pantas saja. Ternyata bukan ditujukan untuk manusia!
"O-ohh... aku hanya ingin membandingkan roti ini dengan yang biasa aku makan. Dan, yah... tidak terlalu buruk. Rasanya mereka mulai memperhatikan cita rasa untuk para hewan jaman kini." Ye Xuan dengan lancar beralasan untuk menutupi rasa malunya. "Kau mau coba?" Ia menyodorkan roti itu pada Han.
Han menggeleng. "Tidak, terima kasih. Nanti saja jika aku mulai lapar." Ia tersenyum kecut, menolak. Ia pun mengambil bungkusan roti yang masih utuh dan membukanya. Kemudian, dia mulai menyobek roti dalam potongan kecil-kecil dan melemparkan ke arah danau.
Para bebek dan ikan pun saling berebutan. Bahkan beberapa burung juga mulai singgah di dekat mereka, mengharapkan diberi juga serpihan roti.
Ye Xuan mengamati itu dan mulai paham. Dia pun mulai melakukan apa yang dilakukan Han. Ia senang menyaksikan bebek-bebek yang mendekat ke mereka di tepi danau meski tidak sampai naik dari danau. Ikan-ikan pun berkecipak riang menyambut lemparan serpihan roti dari Ye Xuan.
Rupanya, memberi makan hewan liar begini saja bisa memberikan kesenangan hati. Tidak heran dulu banyak bangsawan dan penghuni istana senang berpesta dan melakukan kegiatan piknik di tepi danau. Ternyata memang ada keasikan tersendiri.
Ia menghitung, kapan terakhir dia berpiknik di kehidupan lampaunya. Sepertinya itu adalah ketika dia berusia sepuluh tahun ketika diajak ayah dan ibunya ikut piknik di area kerajaan yang memiliki danau besar dalam salah satu perayaan festival.
Setelah roti di tangan Ye Xuan tinggal sedikit, dia mulai diam tenang, menikmati suasana nyaman di taman itu. Sambil duduk santai, Ye Xuan mulai mengatur jalur napasnya. Udara bersih ini bagus untuk membersihkan aliran meridiannya.
Ye Xuan berandai-andai jika dia memiliki rumah di tempat yang asri dengan udara yang masih bersih agar dia bisa berkultvasi dengan lebih baik. Di lingkungan rumah Bibi Ru terlalu padat dan penuh polusi karena dekat dengan jalan besar.
Han menoleh ke Ye Xuan yang duduk diam di sampingnya. "Fei..."
Ye Xuan balas menatap Han. "Ya?"
Han memandangi wajah cantik Fei yang begitu meneduhkan jiwanya, menentramkan hatinya. Sungguh beruntung jika ada pria yang memiliki Fei. Apakah dia bisa seberuntung itu?
Karena dia melamun terlalu lama, Han sampai tersadar dan merasa kikuk saat mata cemerlang Fei masih terus menatapnya, menunggu kalimat selanjutnya dari dia. "Ohh, anu... itu... aku... aku ingin bertanya."
Ye Xuan masih menatap Han. "Bertanya mengenai apa, Han? Hal penting kah?"
"Umm... yah, untukku sih itu termasuk penting. Entah bagi kamu, Fei." Han menunduk sebentar sambil mengelus tengkuknya. Dia berusaha setenang mungkin, meredakan kegugupannya.
"Ohh, kalau begitu katakan saja. Siapa tau itu memang penting juga untukku," sahut Ye Xuan.
Han kembali pandangi wajah teduh Fei. "Umm... Fei... apakah... kau... kau pernah... menyukai seseorang?" Ia meneguk salivanya untuk mengurangi kegugupannya.
Ye Xuan pun terdiam sejenak atas pertanyaan dari Han. Itu merupakan pertanyaan yang bersifat pribadi. Dia bisa saja mengabaikan dan tidak menjawab itu. Namun, dia teringat ucapan Lan kemarin sewaktu Lan menginap di rumahnya.
"Fei, cobalah untuk membuka diri. Jangan terlalu tertutup seperti sebelumnya. Siapa tau dengan membuka diri, kau akan menemukan banyak hal baru dan kebahagiaan baru." Begitu nasehat Lan. Dan Ye Xuan juga tidak menyanggah saran bagus itu. Dia dan Fei sama-sama introvert. Namun sepertinya Fei lebih parah.
Di kehidupan baru ini, Ye Xuan ingin 'memperbaiki' Fei, sekaligus itu juga akan memperbaiki diri dia sendiri. Dia juga harus mulai bisa bersosialisasi dengan siapapun mulai sekarang. Kini, dia tidak lagi anak seorang bangsawan. Dia bukan lagi alkemis yang dihormati banyak kalangan. Dia hanya Fei, gadis remaja yang tidak memiliki sanak saudara kecuali keluarga bibinya saja.
Ia harus membangun hubungannya dengan orang di sekitar dia atau dia tidak akan berkembang di kehidupan kedua ini.
Han yang mendengar jawaban dari Ye Xuan, hatinya bagai meloncat tak karuan. "Boleh tau?" Ia berdebar-debar. Bagaimana jika jawaban selanjutnya dari gadis pujaannya itu justru hal yang menyurutkan semangat Han? Bagaimana bila gadis itu menyebutkan nama yang sama sekali tidak dia harapkan? Ohh, Han berasa bodoh sudah memberikan pertanyaan konyol begitu. Sudah tidak bisa ditarik lagi.
"Namanya Xi-" Mulut Ye Xuan segera berhenti, nyaris mengucap nama dari gadis jaman lampau yang dia sukai. Untung saja dia lekas mengerem lidahnya dari bergerak dan hanya sampai pada kata itu.
"Si? Si... siapa, Fei?" Karena X dalam pelafalan Cina dibaca S, maka Han taunya itu nama berawalan Si.
Ye Xuan segera beralasan. "Xi... maksudku, namanya xi-apa aku lupa." Wajahnya datar bagai tanpa dosa ketika menjawab demikian.
"Lupa?" Han miringkan kepala, keheranan melanda otaknya. Bagaimana bisa kita melupakan seseorang yang pernah kita sukai? Logika Han tidak mencapai itu.
Ye Xuan mengedikkan bahu, acuh tak acuh. "Yah, aku memang lupa nama dia. Karena... itu sudah terlalu lama."
"Terlalu lama?" Han terkejut. "Apakah di masa kau kecil? SD?"
Ye Xuan menyesal memberikan alasan seperti tadi. Ia pun lekas bertanya ke Fei di ruang jiwa mengenai apa itu SD. Fei menjelaskan secara singkat dan jelas. Ye Xuan kembali menatap Han yang menanti jawaban. "Ohh, iya. Sepertinya di masa itu. Hah, aku bahkan sudah sangat lupa wajahnya."
Han termangu, terus manatap Fei.
"Ohh, sudahlah Han. Bisakah kita tidak membicarakan mengenai itu?" Ye Xuan menyadarkan Han.
"Eh, ohh, oke. Maaf, Fei. Maaf bila aku terlalu lancang bertanya hal sepribadi itu padamu." Han tak enak hati sendiri.
"Tak apa, Han. Memangnya kau pernah menyukai seseorang?" Kini Ye Xuan malah balik bertanya mengenai itu, padahal tadi dia tidak ingin membicarakan itu. Ohh, mungkin maksudnya, dia tidak suka jika dirinya dikorek.
Han mengulum bibirnya sehingga menghasilkan garis horisontal tipis pada mulutnya. "Umm..." Ia melirik Fei sekejap. Lalu pandangannya ia lempar ke danau. "Ada. Aku memang menyukai seorang gadis. Dan itu sudah lama. Sudah sejak aku SMP."
Ye Xuan segera menanya ke Fei apa itu SMP, dan kembali bicara pada Han, "Sejak SMP! Itu lama. Bagaimana bisa kau menyukai dia? Kalian satu sekolah di SMP?"
Han menggeleng. "Kami berbeda sekolah. Kami bertemu sewaktu sekolah kami mengadakan pertandingan persahabatan bola basket. Dan aku bertemu dia sedang duduk di bangku penonton bersama temannya."
"Temannya?"
"Ya, temannya berkacamata dan mungil."
"Seperti Lan?"
"Ya, Fei. Seperti Lan."
"Ohh astaga!" seru Ye Xuan ketika ada burung merpati besar yang tiba-tiba hinggap di pangkuannya untuk mematuk roti yang ada di sana.