
Ye Xuan tidak banyak merespon dengan kata-kata. Ia patuh saja di bawa Han menuju ke tempat duduk mereka di dalam teater utama.
Dari judulnya saja orang pasti tau itu adalah film horor dan konon adalah film paling menyeramkan tahun ini.
Han sengaja memilih film itu dengan harapan Fei akan menjerit takut lalu memeluk dia nantinya di adegan-adegan menyeramkan.
Sungguh metode yang terlalu klasik da klise sekali dari lelaki yang sedang mengadakan pendekatan. Ia diberitau cara ini dari beberapa temannya yang katanya sukses membuat para gadis mereka memeluk erat mereka.
Meski itu cara klasik, nyatanya masih banyak gadis yang jatuh dalam metode itu. Han ingin menjajalnya. Ia sungguh berharap mengalami kesuksesan seperti teman-temannya.
Film pun berjalan sudah setengah jam lebih. Sudah banyak adegan-adegan seram dari semenjak menit pertama. Sudah banyak penonton wanita yang berseru akibat ngeri dan takut.
Han menoleh ke Ye Xuan di sebelahnya dan heran gadis itu masih saja tenang dan terus menatap ke layar tanpa takut sedikitpun. Bahkan sudah hamper satu jam berlalu dan Fei di sisinya masih bersikap tenang dan memakan camilan yang dibeli Han sebelum masuk ke teater.
Lelaki muda itu bertanya-tanya, apakah Fei gadis yang sangat pemberani, sedangkan gadis lainnya di ruangan itu sudah sibuk menjerit ketakutan. Bahkan terdengar beberapa kali jeritan dari lelaki entah siapa.
Ye Xuan menoleh ke samping. Han tengah menatapnya lekat dengan mulut agak ternganga bingung. "Ada apa, Han?" tanyanya.
Han tersadar dan cepat mencari kata-kata. "Anu... aku... aku hanya... hanya heran... kau... kau tidak takut?"
Ye Xuan miringkan kepala, heran. "Takut? Pada apa? Itu?" Telunjuknya mengarah ke layar teater dimana sedang menampilkan setan berwujud mengerikan yang sedang merangkak mendekati tokoh utama.
Han menoleh ke layar dan ia mengakui filmnya memang menyeramkan meski dia bertahan tidak ikut menjerit. Ia mengangguk ke Ye Xuan.
Ye Xuan tertawa dalam hati. Baginya, wujud setan di layar itu biasa saja. Di jaman dia, siluman dan iblis yang terkadang muncul bisa lebih menyeramkan dari pada yang terpampang di layar. Tapi dia tak mungkin mengatakan itu.
"Ohh, aku tidak begitu takut dengan hal-hal seperti itu." Ye Xuan menjawab dengan wajah datar seolah itu tidak ada apa-apanya, dan memang demikian adanya.
Han menghela napas pelan-pelan mendengar jawaban Ye Xuan. Lan pernah mengatakan padanya bahwa Fei itu tergolong penakut dan gampang terkejut. Tapi, sepertinya Lan salah.
Bukan, Han. Bukan Lan yang salah, namun memang yang sedang kau hadapi itu bukan Fei sesungguhnya.
Metode Han pun... gagal!
Keluar dari bioskop, banyak orang-orang yang wajahnya masih dipenuhi terror akan film yang baru mereka tonton. Namun, wajah Fei biasa saja. Dia adalah satu-satunyaperempuan yang tidak menjerit di teater tadi.
Han belum ingin pulang dan masih ingin bersama dengan Fei.
Brukk!
Tiba-tiba, ketika mereka akan melangkah keluar dari gedung bioskop, tak jauh di depan sana ada orang yang tiba-tiba ambruk.
Orang-orang menjerit kaget.
Ye Xuan segera memburu ke sosok yang jatuh itu. Dia seorang perempuan berusia tiga puluh keatas.
"Permisi, permisi..." Ye Xuan menyeruak di antara kerumunan untuk mencapai ke perempuan yang kolaps tersebut.
Sementara, rekan si perempuan hanya bisa menangis sambil menggoyang-goyangkan tubuh perempuan kolaps itu. "Tin! Tin, bangun Tin! Tolong, tolong seseorang panggilkan ambulans atau apa!" teriaknya panic.
"Kau siapa? Hiks! Kau sedang apa?" tanya rekan perempuan kolaps itu pada Ye Xuan.
"Aku akan menolong temanmu. Tolong beri aku ruang." Ye Xuan segera berkonsentrasi memeriksa denyut nadi perempuan kolaps dan mendapati itu adalah serangan jantung.
Han sudah tiba di depan Ye Xuan dan heran melihat Ye Xuan sedang mengurus perempuan kolaps tadi. Perempuan itu sepertinya keluar bersama dengan mereka dari pintu teater yang sama. Jangan-jangan dia mengalami serangan jantung usai menonton film horor tadi.
Ye Xuan sudah mengetahui pusat masalah dari perempuan kolaps dan ia mengalirkan tenaga Qi dia ke beberapa meridian perempuan kolaps, menekan titik-titik akupunktur perempuan kolaps dan tidak sampai dua menit, perempuan itu sadar kembali.
Semua orang terperangah akan kejadian itu. Mereka takjub dengan kemampuan Ye Xuan yang bagai pesulap saja, cukup menyentuh beberapa tempat dan perempuan itu langsung tersadar.
"Terima kasih, Nona! Terima kasih sudah menolong temanku!" ucap rekan dari perempuan yang tadi kolaps penuh syukur pada Ye Xuan.
Ye Xuan mengangguk kecil. "Tidak masalah. Tapi temanmu masih sedikit pucat. Tunggu sebentar, aku akan benarkan aliran darahnya dulu."
Orang-orang di situ hanya bisa melongo mendengar perkataan Ye Xuan. Membenarkan aliran darah? Pakai apa?
Namun, akhirnya pertanyaan mereka terjawab ketika Ye Xuan menyentuh punggung perempuan itu dan terus menekan di sana selama tiga menit. Setelah itu, menekan beberapa titik di lengan dan leher perempuan itu.
"Baiklah, sudah." Ye Xuan mengusap punggung perempuan itu dan membantu perempuan itu berdiri. "Dia sudah baik-baik saja. Lain kali lebih jaga kesehatan dan makan yang banyak mengandung sayuran, jangan selalu makan jeroan, itu kurang menyehatkan, tidak baik. Kasihan tubuhmu."
Perempuan itu melongo. Kenapa Ye Xuan bisa mengetahui kebiasaan dia makan jeroan? Bagaimana mungkin Ye Xuan tau dia tidak suka makan sayur?
Setelah mengucap terima kasih sekali lagi pada Ye Xuan, perempuan itu dan rekannya pun pergi. Orang-orang juga membubarkan diri meski masih bertanya-tanya akan kehebatan Ye Xuan.
Han lebih heran lagi. Dia sangat takjub pada ilmu penyembuhan dari Ye Xuan. Setahu dia, Fei tidak pernah bergelut dengan dunia medis atau penyembuhan apapun. Bagaimana mungkin gadis itu tiba-tiba memiliki kemampuan bagai tabib kuno?
"Fei..." Han menghentikan langkahnya ketika mereka sudah mencapai mobil Han di area parkir.
"Ada apa, Han?" Ye Xuan berbalik menghadap Han.
"Kau tau metode medis? Atau... akupunktur?" tanya Han.
Ye Xuan mengangguk, tidak ingin menyembunyikannya. Meski dia tidak akan mengungkapkan asal usul ilmu medis yang dia miliki. Han tak mungkin bisa mencernanya jika dia beritau.
"Bagaimana kau bisa..."
"Aku kebetulan belajar sedikit mengenai akupunktur," jawab Ye Xuan. "Kenapa, Han?" Ia bertanya balik.
"O-ohh, tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya sekedar ingin tau saja." Han tergagap sejenak. "Ayo, kita cari makan. Ini sudah jam makan siang."
"Baiklah." Ye Xuan pun masuk ke mobil, diikuti Han.
Mereka makan siang di sebuah kafe kecil, namun bukan kafe milik kakak Han, Tian. Han kapok membawa Fei ke sana.
Usai makan siang, Ye Xuan sebenarnya ingin pulang tapi Han masih mengajak dia ke tempat lain, dan memulangkan Ye Xuan menjelang petang.
Hari ini, Han mendapatkan banyak kejutan mengenai Fei.