
Pagi hari dilalui Ye Xuan dengan rutinitas seperti biasanya, bangun tidur, berkultivasi di atas tempat tidur menyerap Qi alam semampunya, bereskan kasur setelah selesai kultivasi pagi, lalu mandi.
Di kamar mandi, Ye Xuan masih saja merasa canggung. Ini adalah tubuh barunya, dan berlainan gender dengannya. Hal itulah yang membuat Ye Xuan terkadang masih risih jika harus menyentuh tubuh yang sedang ia diami.
"Hnnhh..." Satu lenguh lirih kembali lolos dari bilah bibir Ye Xuan ketika dia sedang memoleskan sabun ke dadanya.
Jika itu adalah dirinya yang biasa, tentu takkan seaneh ini rasanya. Tentu tangannya akan cepat meluncur melewati dada itu dikarenakan hanyalah rata dan tidak banyak lekuk.
Namun kini, setiap dia mengoleskan sabun pada bagian itu, lekukan di sana begitu terasa dan jauh berbeda denga ketika dulu dia memandikan tubuhnya sendiri.
Napas Ye Xuan berhembus singkat ketika menyadari pikiran ngawur dia saat tangan berlumur sabun itu sudah menyentuh di bagian yang tentu diidam-idamkan lelaki manapun.
Ini masih bagian awal. Masih ada bagian lainnya lagi yang tak kalah mendebarkan untuk dilalui tangannya ketika membersihkan tubuh di kamar mandi.
Menahan napas, Ye Xuan menorehkan busa sabun cair ke wilayah paling sensitif dari tubuh Fei. Dua bibir si gadis dia kulum kuat-kuat ketika tangannya menggapai bagian spesial itu. Hm, ini sungguh-sungguh aktivitas yang benar-benar menantang.
Kemudian, usai bagian itu selesai disabuni, ia pun lebih santai menggapai area lainnya, termasuk bagian belakang nan kenyal. Meski itu juga agak membuat dia berdebar-debar, tapi tidak seheboh sewaktu menyentuh dua sebelumnya tadi.
Selesai menyabuni semuanya, ia pun lekas membilas tanpa berlama-lama. Dia sudah mempelajari cara-cara mandi di jaman modern. Mengenai sabun, sampo, sikat gigi, pasta gigi, semuanya sudah dia pelajari dari arahan Fei.
Baru saja dia keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk sebatas dada, ponsel Fei bergetar. Ye Xuan sudah lumayan mahir mengoperasikan ponsel itu jika hanya untuk menelepon, mengangkat panggilan dan chat sederhana.
Anehnya, meskipun Ye Xuan berasal dari Tiongkok kuno dengan bahasa yang sangat berbeda, tetapi dia langsung bisa memahami dan bicara menggunakan bahasa Indonesia tanpa canggung sama sekali. Bagai bahasa itu adalah bahasa ibunya.
"Fei," sapa orang yang meneleponnya.
"Ya. Ada apa, Han?" Ye Xuan tadi sudah melihat siapa pemanggilnya dari layar ponsel.
"Em... apakah kau... emm..." Han agak tersendat di sana.
"Ada apa, Han? Bicara saja, tak apa." Ye Xuan menunggu.
"Bagaimana kalau hari ini kita piknik? Aku akan ke sana sebentar lagi, oke?" Han akhirnya berkata dengan lancar dan cepat bagai membaca saja.
Ye Xuan diam sejenak. Piknik? Ia lekas bertanya pada Fei di ruang jiwa mengenai piknik di jaman modern, apakah sama dengan piknik di jaman dia dulu. Ternyata hampir sama jika menilik dari penjelasan Fei.
"Fei?" Han masih menunggu jawaban Ye Xuan.
"...."
"Fei, kalau kau tidak ingin-"
"Oke, baiklah. Kapan kau kemari?" Akhirnya Ye Xuan memberikan sahutan setelah cukup lama terdiam. Itu karena dia sedang berbincang dengan Fei dan mempertimbangkan ini dan itu dari ajakan Han baru saja.
Han di seberang sana menghela napas lega.
"Apakah boleh mengajak Lan?" tanya Ye Xuan.
Han terdengar kikuk, "Ah, anu... emm... oke, tak apa. Ajaklah Lan kalau dia mau. Umm... oke, aku akan datang ke tempatmu... satu jam dari sekarang. Bye, Fei, sampai jumpa nanti."
"Ya, sampai bertemu nanti," sahut Ye Xuan dan sama-sama menyudahi panggilan. Ia kemudian men-dial nomor telepon Lan.
Tak berapa lama, Lan mengangkat panggilan dari Ye Xuan. "Apa? Piknik? Dengan Han juga?" Sahabat dari Fei terdiam sejenak. "Sepertinya aku tak bisa ikut, Fei. Kau tau sendiri, kemarin saudaraku masuk rumah sakit, aku harus menjaga dia. Kau pergi saja piknik dengan Han. Dia lelaki yang baik, kok! Kau bisa yakin itu."
Ye Xuan kerucutkan bibirnya mendengar jawaban Lan. Apakah dia lebih baik batalkan acara piknik? Tapi... Han sudah akan datang sebentar lagi, tentu tak enak jika membatalkan di menit-menit terakhir, apalagi Ye Xuan sudah menyetujuinya.
"Fei," sambung Lan di seberang. "bersenang-senanglah dengan Han. Kau kan jarang jalan-jalan keluar rumah. Manfaatkan kesempatan ini mumpung keluarga bibimu tidak ada di sana. Oke?" bujuk Lan.
"Hm... baiklah, Lan, aku tau." Ye Xuan tidak memiliki opsi lainnya. "Salam untuk saudaramu, semoga dia lekas sembuh."
"Ya, Lan?"
"Apakah kau sudah mempersiapkan bekal untuk piknik kalian?"
"Bekal?"
"Yah, kau tau, kan... roti? Camilan? Makanan ringan? Jus buah segar?"
Ye Xuan kernyitkan kening. "Aku tak paham itu. Memangnya harus ada itu jika piknik?"
Lan pun mendesah putus asa. "Ya sudah, tak apa kalau kau tidak sempat mempersiapkan itu. Yang penting kalian bersenang-senanglah di sana."
"Oke."
"Bye."
Panggilan pun disudahi.
Kini, Ye Xuan harus segera bersiap-siap sebelum Han datang. Apa yang harus dia kenakan? Baju yang mana? Aduh, ternyata bingung juga jika tidak ada Lan yang membantu mengatur penampilan Fei. Ye Xuan seorang lelaki yang tidak pernah menimbang-nimbang akan memakai baju apa. Bahkan dia tidak pernah berkencan di dunianya dulu sehingga tak pernah mengalami dilema memilih baju.
Tunggu, kenapa dia berpikir ini adalah sebuah kencan?
Oh astaga... Ye Xuan menutupi wajahnya. Sungguh memalukan malah memikirkan ini sebuah kencan. Bagaimana bisa otaknya berlari ke sana?!
Oke, karena Ye Xuan bersikeras ini bukanlah sebuah kencan, maka tak perlu memusingkan pilihan pakaian yang akan dia kenakan. Cukup yang biasa Fei kenakan saja di hari-hari biasa. Ya, begitu saja!
Maka, ketika Han datang, empat puluh menit kemudian, Ye Xuan sudah berdiri di balik pintu dengan busana yang sangat kasual dan... sungguh apa adanya.
Hanya kaos T-shirt putih polos yang dirangkapi dengan kemeja kotak-kotak yang warnanya mulai pudar dan jins yang tak kalah pudar pula. Sepatu kanvas dipilih karena lebih nyaman untuk berjalan. Ye Xuan sudah merasakan semua sepatu yang dia beli dan paling menyukai sepatu kanvas itu. Mungkin nanti dia akan membeli lagi yang seperti itu.
Ketika Ye Xuan melangkah keluar dari rumah, dia heran menatap motor gagah yang terparkir di depan rumah bibi. Dia belum pernah melihat benda seperti itu. Di jalanan kemarin saat dia menuju ke rumah Tuan Yan, dia tidak menemukan kendaraan seperti yang dibawa Han. Bahkan dia tidak memperhatikan kendaraan yang lalu lalang waktu itu.
"Itu..." Ye Xuan tidak paham, itu jenis apa. Kereta? Mobil mini?
"Oh, ini... motorku." Han segera sadar akan pertanyaan Ye Xuan. Dia taunya gadis di depannya bingung karena dia terbiasa membawa mobil beberapa kali dan kali ini malah membawa motor gede. Han tak tau bahwa Ye Xuan bertanya karena dia benar-benar tidak pernah melihat benda seperti motor milik Han.
Ye Xuan mengamati motor yang kini mulai dinaiki Han. Dari suara Fei di ruang jiwa, ia tau bahwa motor bisa dinaiki dua orang dewasa, satu di depan dan satu di belakang.
Namun, ketika Ye Xuan melirik arah belakang, jok di sana terasa...
"Apakah kau yakin ini bisa aku naiki pula?" Ye Xuan bertanya ke Han sambil menunjuk ke bagian jok belakang. "Apakah suatu kemustahilan jika aku duduk di sana?" Ia menyangsikan apa yang dia lihat.
Han menoleh ke belakang dan menepuk jok belakang motornya seakan meyakinkan Ye Xuan. "Tenang saja, ini bisa kau duduki, Fei. Cobalah."
"Aku tak yakin." Ye Xuan menggeleng. Ia bertanya-tanya, bagaimana bagian sekecil itu muat diduduki pantat manusia dewasa?
"Ayo, aku jamin kau bisa duduk di sini." Han mulai menstarter motornya sambil menunggu Ye Xuan.
Meski skeptis, namun Ye Xuan masih juga naik ke jok belakang walau canggung. Terlebih ketika dia harus berdesakan menempel ke Han agar mereka muat duduk bersama di sana. Siapa sebenarnya pembuat motor ini? Ye Xuan mengutuk diam-diam pencipta motor ini dalam hati.
"Fei, berpegangan, yah!" Han menepuk pinggangnya sendiri, mengisyaratkan di sanalah Ye Xuan harus berpegangan.
Ye Xuan mendelik tanpa Han ketahui. Apa-apaan?! Berpegangan pada pinggang Han? Sesama lelaki?! Harus?!