Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
41 - Berkeliaran di Hutan



Perjalanan ke hutan memakan waktu kurang lebih satu setengah jam setelah keluar dari kota. Motor dipacu dengan kecepatan sedang, perlahan-lahan menanjak naik ke daerah pegunungan. Jalanan makin naik makin menyempit.


Ye Xuan masih bertahan dengan tidak memeluk pinggang Tian. Yang benar saja! Itu akan menjadi hal pengkhianatan akan harga diri dia sebagai lelaki jika melakukan hal demikian. Maka, sedari awal, dia terus berpegangan pada bahu Tian saja.


Semakin lama, udara semakin terasa sejuk dan meningkat menjadi lumayan dingin seiring dengan naiknya mereka ke sebuah pegunungan dekat kota itu.


Mata Ye Xuan terus menatap sekitarnya, menikmati pemandangan yang makin lama semakin didominasi dengan warna hijau.


Setelah hamper mencapai dua jam, Tian mulai memperlambat jalan motornya dan mulai masuki sebuah pos yang terletak di sudut jalan kecil.


“Inikah hutan alami yang kau bicarakan?” tanya Ye Xuan setelah turun dari boncengan. Matanya berkeliling menapaki hamparan hijau di sekitarnya.


Tian selesai memarkirkan motor dan menitipkannya di pos khusus untuk para pengunjung. “Iya, ini bisa dikatakan hutan kecil yang alami yang paling dekat dengan kota. Kenapa?” Ia mengetatkan jaketnya karena udara terasa dingin meski tidak menggigit tulang.


Ye Xuan masih menatap sekelilingnya. Agak kecewa karena rasanya ini tidak bisa dikatakan hutan alami. Tidak bisa dibandingkan dengan hutan yang ada dalam kehidupan lampaunya. Tapi mau bagaimana lagi kalau


memang hanya ini yang ada yang paling dekat seperti yang Tian katakan?


Kepala itu menoleh sambil menatap Tian dan berkata, “Oh, tidak. Tidak ada apa-apa.” Ye Xuan tidak mungkin mengatakan apa yang ada di benak dia.


“Ayo kita masuk ke kawasan yang khusus untuk para pengunjung.” Tian menggapai pinggang Ye Xuan.


Namun, pria yang menetap di badan wanita muda itu lebih gesit dan berjalan terlebih dahulu sebelum tangan Tian tiba di pinggangnya.


Berjalan beberapa menit dan mereka tiba di sebuah tanah berumput yang agak lapang. Tian rupanya menyewa tikar kecil. Ye Xuan menoleh ke arahnya ketika pria itu menggelar tikar di tanah lapang itu.


“Apakah kita akan piknik?” Ye Xuan mengerutkan kening melihat tikar yang sudah digelar Tian.


Pria modern itu memberikan pandangan tak bersalahnya atas sindiran halus Ye Xuan. “Biasanya di sini orang-orang duduk dan menikmati pemandangan.” Dia tidak mungkin mengatakan bahwa tempat itu biasa digunakan pasangan muda untuk berpacaran di alam bebas.


Tidak. Tian tidak mungkin mengatakan itu di depan Ye Xuan atau dia bisa memaksa minta pulang. Tian mulai paham akan sikap tegas Fei yang sebenarnya itu adalah Ye Xuan.


Ye Xuan menghela napas pelan. Ini bukan seperti yang dia inginkan. Menikmati pemandangan apa? Dia datang ke sini bukan untuk itu.


Beruntung saja saat ini hanya ada mereka berdua di tanah lapang tersebut. Kondisi itu dimanfaatkan oleh Ye Xuan untuk bertindak.


Ketika Tian lengah, Ye Xuan berhasil membuat Tian tertidur dengan hanya menotok salah satu aliran meridian Tian. Pelan-pelan, tubuh Tian yang sudah tertidur lelap dibaringkan Ye Xuan di atas tikar dan diposisikan seolah seperti orang tidur.


Setelah yakin taka da orang dan Tian sudah ‘diamankan’, maka Ye Xuan pun mulai bergerak. Dia dengan ringan mulai melonjak dan terbang menggunakan Qigong dia dan mulai terbang ke area yang lebih tinggi.


Dia dengan licahnya hinggapkan ujung sepatunya ke pucuk dahan demi pucuk dahan seolah sedang menggunakan pucuk itu sebagai tempat berpijak untuk kemudian melonjak kembali.


Sesudah tiba di tempat yang dirasa tepat, Ye Xuan mulai mendarat di tanah. Ia melihat ke kanan dan kiri untuk mencari tanaman yang sekiranya dia kenali sebagai herbal.


Ia berjalan beberapa meter ketika matanya mendapati rumpun tanaman yang tumbuh dekat dengan sebuah pohon besar.


“Rumpun Kaki Dewa!” gumam Ye Xuan sambil menatap rumpun hijau tanpa bunga setinggi pinggangnya. “Hm, tak kusangka di jaman ini masih ada Rumpun Kaki Dewa. Baiklah.”


Rencananya, nanti setelah tiba di rumah, dia akan menanam tanaman yang dia dapatkan di hutan ini ke kebun herbal dia di Pagoda Jiwa.


Puas setelah mendapatkan tanaman pertama di hutan tersebut, Ye Xuan berjalan lagi. Matanya mengawasi sekitar agar tidak ada herbal yang terlewat.


Sekitar dua puluh meter usai dia berjalan dari rumpun tadi, dia sudah menemukan tanaman herbal lainnya.


“Jantung Peri?” Ia menatap ke sebuah rumpun beri hutan. “Ini mirip dengan yang sudah kupunya di Pagoda Jiwa. Tapi sepertinya ini jenis yang lain. Baiklah. Aku ambil.” Dan sekali lagi, tangan Ye Xuan bergerak tanpa menyentuh tanaman itu dan rumpun beri setinggi betis itu pun terangkat secara ajaib beserta akarnya lalu dimasukkan ke dalam cincin ruangnya.


Usai menemukan tanaman keduanya, Ye Xuan berjalan cukup jauh dan lama tidak menemukan tanaman yang dia inginkan. Meskipun dia menemukan herbal lainnya namun dia sudah memiliki itu di kebun Pagoda Jiwanya.


Ia pun terpaksa mulai melonjak dan terbang ke area yang lebih tinggi lagi dan menghindari pemukiman penduduk.


Tanpa dirasa, dia sudah cukup tinggi ‘mendaki’ dan hamper mencapai pertengahan dari gunung tersebut.


“Wah, Kayu Delapan Jelaga.” Maka, ia pun mengelupaskan kulit kayu di depannya dan setelah mendapatkan jumlah yang dia mau, dia menyimpannya ke dalam cincin giok warna biru tuanya di jari kiri.


“Hm, Buah Seribu Warna? Ternyata ada banyak juga di jaman ini.” Lalu, Ye Xuan memetik buah-buah berwarna merah, kuning, jingga dan hijau sebesar telur cicak itu sebanyak empat kepal tangan sebelum menyimpannya


ke cincin dia.


“Rumput Selaras Jiwa?” Matanya menemukan rumpun rumput setinggi pahanya yang berwarna sedikit keunguan dan mulai mencabut beberapa dari itu untuk dimasukkan ke cincin.


Tidak terasa sudah sekitar satu jam lebih Ye Xuan memanen banyak tanaman herbal. Hari mulai berlari ke sore dan untung saja sinar matahari tidak begitu terik hari ini.


Ye Xuan lekas terbang kembali ke tempat Tian tidur di atas tikar. Dilihatnya, lelaki itu masih tenang dalam posisinya. Ia menghela napas lega tidak ada yang mengusik Tian.


Kemudian, Ye Xuan pun duduk di tikar dan menekan sebuah aliran meridian Tian. Pria itu tak lama kemudian mulai terbangun.


“Eh, apakah aku ketiduran?” tanya Tian heran mendapati matanya terasa pedas seperti habis tidur.


Ye Xuan mengangguk. “Tenang saja, aku menjagamu selama kau tidur.” Ia terpaksa berdusta. Ia berpikir, lain kali jika harus pergi lagi dengan Tian di hutan, dia akan membawa Pagoda Jiwa agar bisa menaruh Tian yang dia tidurkan ke dalam pagoda agar tidak terlalu cemas jika meninggalkan lelaki itu beberapa saat.


Untung saja tidak ada hewan buas di area itu.


“Ah, aku jadi malu karena malah tertidur.” Tian menggusak rambut belakangnya sendiri, merasa tak enak.


“Tak apa. Toh hanya beberapa saat.” Ye Xuan berlagak santai. “Sudah sore, ayo pulang.”


“Benarkah?” Tian pun melirik ke jam tangannya, dan mendecak kesal. “Tsk! Tak kusangka aku tidur cukup lama! Ini sudah jam empat lebih!”


Menyesal karena tak bisa menikmati suasana dengan gadis di sebelahnya, Tian menelan kesalnya dan mulai membenahi tikar, melipatnya dan berjalan ke arah pos penjaga untuk mengembalikan tikar sekaligus


mengambil motor.