
Tak sampai setengah jam, Ye Xuan sudah memahami cara mengendalikan motor. Ia juga sudah bisa melepaskan pegangan dari tangan Han agar tidak merasa risih lagi.
"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan keluar dari sini dengan Fei yang mengendarai motor ini?" saran Han ketika dirasa bahwa gadis itu telah mahir mengemudikan motor besarnya. Dia sebetulnya kagum dengan cepatnya Ye Xuan memahami sesuatu.
Han tidak menyangka, gadis pemalu dan rendah diri di sekolahnya yang kerap dia lindungi itu kini mulai berani mencoba hal-hal yang di luar imajinasi Han. Jika Lan mengetahui ini, pasti Lan juga akan kaget. Atau mungkin Lan sudah tau? Nanti akan Han coba tanya ke gadis kacamata itu.
Mendengar saran Han, Ye Xuan tertarik juga. Bagaimana pun, jiwanya adalah jiwa lelaki, jiwa yang tidak kenal takut mencoba apapun. "Aku? Mengendarai ini? Hm, mana mungkin aku gentar?" Tanpa menoleh, dia menjawab Han.
Maka, sesuai arahan Han untuk memilih jalan-jalan kecil yang tidak dijaga polisi lalu lintas, Ye Xuan mulai mempraktekkan ilmu yang dia dapat dari Han.
Hati Ye Xuan membuncah senang karena dia telah menguasai cara mengemudikan motor dalam waktu singkat. Ternyata, belajar naik kuda modern tidak sesulit apa yang dia bayangkan. Dulu saja dia belajar naik kuda cukup dengan melihat pamannya sebentar dan ia leka paham.
Bahkan menurut Ye Xuan, belajar naik kuda modern lebih mudah ketimbang naik kuda sungguhan, karena kuda sungguhan berkaitan dengan makhluk hidup asli yang terkadang memiliki emosi dan temperamen tidak terduga. Berbeda dengan motor yang sepenuhnya dalam kendali kita.
Mereka pun mulai menyusuri jalan-jalan kecil biasa. Terkadang beberapa pengemudi lainnya menoleh ke Ye Xuan dengan raut heran, ada pula yang memberikan raut kagum ke Ye Xuan. Mungkin mereka takjub ada wanita cantik yang mengendarai motor.
Bagi Ye Xuan, pandangan orang-orang itu cukup mengganggu. Dia lupa bahwa dia sedang berada di tubuh Fei, seorang gadis cantik dan menawan. Tak heran banyak mata nakal lelaki yang menatap penuh arti ke Fei meski ada Han di jok belakang.
Ye Xuan hanya menjalankan motor dengan kecepatan biasa saja dan dia sudah meminta Han untuk jangan sekali-kali memegangi pinggangnya.
Han yang tidak ingin membuat Fei marah, terpaksa berpegangan pada pundak Fei dan menjauhkan tubuhnya dari Fei sebisa mungkin daripada mendapatkan ucapan protes Ye Xuan.
"Waow..." Seorang lelaki yang naik motor pria menjajari Ye Xuan yang sedang santai menjalankan motornya. Motor Han, maksudnya.
Melirik tak suka, Ye Xuan memberikan pandangan kesal ke lelaki itu.
"Nona, siapa namamu? Kau cantik sekali. Aku tau tempat karaoke yang bagus. Mau ke sana?" Lelaki itu tak segan-segan mengajak Ye Xuan pergi bersama.
Han memutar bola matanya, kesal. Memangnya dia ini angin sepoi-sepoi saja kah di mata lelaki itu? "Tolong sopan pada temanku, Bung!" Ia tak bisa menahan kesalnya.
Lelaki lain yang di boncengan tergelak mendengar ucapan protes Han. "Hahah! Kalau temanmu mau, kenapa kau yang repot begitu? Nona, kau mau, kan?" tanya lelaki itu dan ditimpali kekehan temannya yang ada di jok depan.
Ye Xuan menatap ketus ke mereka yang kian menempelkan motornya ke motor Han. "Aku tidak minat pergi dengan lelaki tak sopan seperti kalian."
Kedua lelaki itu malah bersiul-siul gila lalu terbahak. Tangan kiri lelaki yang di depan berusaha menggapai Ye Xuan.
Sebelum tangan itu berhasil menjangkau dada Ye Xuan, dia sudah menjauhkan motornya dari motor lelaki mesum itu. "Kalian benar-benar sampah yang memalukan!"
Ye Xuan pun memutar gas motornya sehingga motor melaju cepat secara tiba-tiba. Han nyaris saja terjengkang jatuh di aspal jika tidak lekas berpegangan kuat-kuat pada bahu Ye Xuan.
Tak dinyana, motor lelaki mesum itu mengejar Ye Xuan.
Terjadilah aksi kejar-kejaran bagai sedang ada di film action. Ye Xuan mengendarai motor Han secara menggila, zig zag kanan kiri bagai dia adalah pembalap profesional yang sudah terbiasa berlaga di arena balap. Padahal dia hanya satu jam lalu saja belajar naik motor.
Motor dilarikan pada kecepatan tinggi tanpa keraguan sedikitpun dari Ye Xuan. Dia sudah terbiasa naik kuda yang berlari sangat kencang, maka mengoperasikan motor seperti itu hanyalah remeh bagi Ye Xuan.
Motor pihak lawan juga tak kalah sengit mengejar Ye Xuan. Mereka saling memacu kecepatan. Ye Xuan juga berusaha menghindar dari motor lawan yang ingin mendekat. Setiap lelaki mesum itu mulai mendekat ingin menyentuh Ye Xuan, maka Ye Xuan melaju lebih kencang atau cukup mengelak dengan masuk ke sela-sela deretan mobil.
Han ingin berteriak ketakutan dan ngeri karena dia hanya bisa memegang bahu Ye Xuan. Dalam keadaan ngebut gila seperti itu, justru Han harusnya ikut merundukkan tubuh menempel ke punggung Ye Xuan agar laju motor lebih cepat dan stabil.
Sayangnya, niat baik Han yang memeluk pinggang Ye Xuan sambil menempelkan tubuh ke punggung Ye Xuan, mendapat reaksi tak terduga dari Ye Xuan.
CKIIITTT!
Motor besar milik Han itu lekas direm oleh Ye Xuan hingga menimbulkan bunyi keras. Menggunakan tenaga Qi-nya, Ye Xuan berhasil menstabilkan motor sehingga tidak sampai terguling di aspal. Mereka sudah mencapai pinggir kota yang agak sepi.
Ekspresi Han menampilkan kebingungan, kenapa Ye Xuan tiba-tiba menghentikan motor?
Belum sempat menanyakan itu pada Ye Xuan, lelaki jaman lampau itu berseru pada Han, "Turun!"
Makin bingung, Han tak menjawab, bahkan dia terdiam mematung di jok belakang.
"Turun, kataku!" teriak Ye Xuan tak sabar.
Kaget, Han pun menuruti ucapan Ye Xuan dan turun dari jok motor. Ketika dia ingin bertanya, terdengar suara raungan motor tak jauh dari mereka.
"Tetaplah di sini dan tunggu aku, mengerti?! Awas kalau aku kembali, kau tak ada!" Usai mengucapkan itu, Ye Xuan pun menggeber motor Han lagi dan melesat sebelum motor lawan berhasil mencapai dia.
Kembali terjadi kejar-kejaran di jalanan tepi kota yang sepi. Dua lelaki mesum kurang ajar itu berteriak-teriak kegirangan ketika melihat Han diturunkan dari motornya sehingga hanya tinggal Ye Xuan saja di motor. Bagi mereka, itu lebih memudahkan mereka jika ingin meringkus Ye Xuan.
Keduanya sudah gemas pada Ye Xuan yang bertubuh Fei.
Tidak kurang akal, Ye Xuan melajukan motor ke arah untuk menemukan tempat yang sepi. Setelah dia menemukan tempat tersebut, motor pun dia arahkan ke sebuah jalanan setapak yang menuju ke perkebunan karet. Kemudian, motor dia hentikan di jalan setapak itu dan lekas turun dari sana.
Ia menunggu dua lelaki mesum tadi.
Kedua lelaki kurang ajar yang mengejar Ye Xuan begitu mengetahui Ye Xuan menunggu mereka di dalam perkebunan karet, mereka makin girang tak tentu.
"Wuaahhh! Nona, kau ternyata sangat agresif, menurunkan temanmu di pinggir jalan agar dia tidak mengganggu keasikan kita! Ha ha ha!" Salah satu lelaki berandalan itu tertawa gila sembari menatap mesum ke Ye Xuan.
Mereka berdua tak sabar ingin mencapai ke Ye Xuan.