Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle

Crossgender Cultivator: Hero, Please Be Gentle
32 - Anting-Anting untuk Telinga Fei



Ye Xuan menimbang ini dan itu beberapa saat sebelum akhirnya setuju masuk ke dalam mobil tua Tian.


Tak lama, mobil itu pun mulai bergulir kembali ke jalanan denga dibarengi napas tua dari knalpotnya.


"Tenang saja, meski ini mobil tua, tapi aku selalu merawatnya. Dia memang berbunyi seperti itu, tapi kau tak perlu khawatir, Yellow Ranger ini takkan mogok. Kau bisa yakin itu." Tian berceloteh sambil mengemudikan mobil yang dia namai Yellow Ranger.


Karena Ye Xuan sesungguhnya tidak paham mengenai mobil, dia hanya diam dan bersikap biasa. Toh, jikalau memang si Yellow Ranger ini mogok, dia tinggal keluar dari mobil dan meneruskan jalannya.


"Oh ya, Fei, kau ingin pergi ke mana siang ini?" Tian menggenggam setirnya dan menoleh ke Fei karena mereka sedang berada di lampu merah.


Ye Xuan berpikir sejenak. Apakah suatu hal yang nantinya terdengar aneh jika dia mengatakan dia hanya ingin jalan-jalan tak tentu arah untuk menelusuri kota? Pasti aneh.


Maka, Ye Xuan memberikan jawaban, "Aku... ingin membeli anting-anting." Yah, dia merasa itu sebuah jawaban yang tepat. Bukankah dia memang ingin mencarikan Fei anting-anting untuk menghiasi telinga si gadis?


"Anting-anting?" beo Tian.


"Ya, anting-anting. Apakah kau tau tempat yang menjual anting-anting? Yang bagus?" Ye Xuan punya uang banyak pemberian dari Tuan Yan, maka dia ingin membelikan apapun yang bagus bagi Fei. Gadis itu sudah lama hidup dengan barang bekas dan tak layak.


Tian mengangguk dan mulai menjalankan lagi Yellow Ranger setelah lampu di depan berubah hijau. "Oh, kalau urusan seperti itu, kau bisa serahkan padaku. Aku tau banyak tempat yang menyediakan anting-anting cantik yang tepat untukmu."


Ye Xuan hanya mengangguk kecil dan membiarkan Tian membawa dia ke sebuah daerah yang berisi deretan toko emas.


"Kau mau kuajak ke toko langganan mamaku?" tanya Tian sambil menoleh ke Ye Xuan yang ada di sebelahnya.


Ye Xuan membalas tatapan Tian tanpa merasa canggung sedikit pun. "Boleh, jika tidak merepotkan kamu."


Dukk!


Tian memukul setirnya pelan. "Tentu saja itu tidak merepotkan sama sekali, ha ha. Kau ini manis sekali sampai khawatir membuat aku kerepotan." Tian tergelak kecil, merasa Fei kenapa begitu sopan dan manis? Seberapa banyak perempuan jaman kini yang bisa bertutur seperti Fei? Atau Ye Xuan?


Hanya butuh tak lebih dari lima belas menit, mobil tua kuning itu sampai di depan sebuah toko emas besar. Ye Xuan dan Tian turun dari mobil setelah si kuning tua diparkir terlebih dahulu.


Tian membimbing Ye Xuan memasuki toko emas. Pintu depan toko emas itu dijaga dua penjaga yang berdiri diam serius bagai patung. Raut mereka tampak gahar, menandakan siapapun tak boleh macam-macam di sana.


Tangan Tian terulur ke sebuah area di dalam toko emas. Ye Xuan mengikuti arahan Tian dan mereka sampai di area yang khusus menjual anting-anting.


Mata Ye Xuan menyapu deretan anting-anting berbagai model, gaya, dan jenis logam.


"Anting-anting seperti apa yang ingin kau beli? Emas? Emas putih? Berlian? Mutiara? Perak asli? Berbatu spesial? Kristal?" Tian malah menggantikan pelayan toko, memberikan beberapa pilihan pokok mengenai anting-anting yang dikehendaki Ye Xuan.


Lucunya, Ye Xuan tidak paham apapun yang disebutkan Tian. Ia hanya bisa menggeleng. "Aku akan mencari pelan-pelan saja dan akan menemukannya jika memang aku suka."


"Oh, baiklah." Tian tersenyum. Sayang sekali senyumnya lagi-lagi tidak mendapatkan balasan serupa dari Ye Xuan. Tapi, Tian sama sekali tidak tersinggung. Ia berasumsi mungkin Fei memang tipe gadis yang tidak mudah mengumbar senyum. Tipe... misterius?


Mata Ye Xuan mulai menelisik dari satu etalase kaca ke etalase kaca lainnya di area tersebut. Sepertinya itu sebuah toko emas terbesar di kota itu. Tidak heran jika selain tempatnya yang luas, suasana juga nyaman dan sejuk.


"Bagaimana dengan yang itu?" Telunjuk kanan Tian menunjuk ke sebuah anting-anting dari emas putih yang panjangnya sekitar 5 sentimeter.


Tangan semulus marmer milik Fei segera menerima anting-anting cantik itu sambil Ye Xuan berkomunikasi dengan Fei di ruang jiwa sana.



"Boleh aku coba?" tanya Ye Xuan pada pelayan toko. Pelayan itu lekas mengangguk dan mempersilahkan Ye Xuan memakai anting-anting itu pada kedua telinga Fei.


"Bagaimana? Apa kau suka?" Tian penasaran. Itu adalah pilihan dia, jika Ye Xuan menyetujuinya, tentu hal yang menggembirakan, bukan?


Ye Xuan mengangguk. "Tidak buruk." Ia membalas tatapan Tian dengan pandangan datar, tanpa fluktuasi emosi berlebihan. Andai itu adalah perempuan lain, tentu takkan bisa tenang jika disikapi demikian oleh Tian. Sayang sekali itu bukan perempuan yang sedang bersama Tian, walau tubuhnya adalah perempuan.


"Apakah kau ingin memakai itu langsung?" tanya Tian melihat Ye Xuan enggan melepasnya.


Ye Xuan mengangguk. Pelayan cukup membuatkan nota saja dan ternyata harganya tidak setinggi yang Ye Xuan sangka.


"Bagaimana kalau kita cari yang lain lagi. Tentu kau tidak berniat memiliki satu pasang anting-anting saja, kan?" Tian seolah berusaha mengompori Ye Xuan.


Mempertimbangkan harganya yang masih didalam jangkauan keuangan Ye Xuan, maka ia pun mengangguk. Berdasarkan pelayan toko itu mengenal Tian sebagai pelanggan tetap toko tersebut karena pria itu kerap menemani sang ibunda ke toko itu, maka pelayan membolehkan Ye Xuan memakai dan hanya berikan nota saja untuk di bayar nanti di kasir.


Menilik dari Tian sebagai pelanggan tetap, pelayan tidak khawatir Ye Xuan membawa kabur anting-anting berharga sekian juta itu.


"Apakah Nona ingin mencoba yang begini?" Pelayan toko ganti menyodorkan sepasang anting-anting dari mutiara hitam yang sederhana dan cantik beserta kalungnya. Pelayan sepertinya jeli bahwa Ye Xuan memiliki banyak uang. Jikalau Ye Xuan tidak sanggup membayar, masih ada Tian yang diyakini seorang tuan muda keluarga terpandang di kota itu.



Ye Xuan menanyakan harga satu set anting-anting dan juga kalung dari mutiara hitam manis tersebut. Pelayan menyebutkan sekian puluh juta, dan Ye Xuan terdiam. Ia mengembalikan kotak yang disodorkan padanya. "Terlalu mahal."


"Tapi apakah kau menyukainya?" tanya Tian.


Pandangan Ye Xuan lurus ke manik mata gelap Tian. "Meski aku suka pun, itu terlalu mahal dan aku masih harus membeli hal-hal lainnya."


"Baiklah kalau begitu." Tian menyahut. Ye Xuan mengangguk. Tinggal pelayan toko yang ingin melongo jika tidak ingat dia harus menjaga penampilannya. Pelayan toko mengira dengan tidak sanggupnya Ye Xuan membayar, maka Tuan Muda Tian yang akan membelikannya. Namun, ternyata Tian langsung menyerah setelah Ye Xuan menolak membelinya.


Mereka kembali melangkah. Ye Xuan memang ingin membeli beberapa pasang anting-anting yang berharga wajar saja.


"Lihat, itu juga dari mutiara, tapi putih. Cantik, menurutku." Jari telunjuk Tian mengarah ke sebuah anting-anting mutiara putih yang berbentuk manis.



Pelayan itu mengambil anting mutiara yang ditunjuk Tian dan menyodorkan ke tangan Ye Xuan. "Ini adalah mutiara asli dari Pulau Lombok."


Ye Xuan tak paham mengenai Pulau Lombok. Fei menjelaskan sedikit dan Ye Xuan diam-diam paham. Karena harganya juga tidak berlebihan, Ye Xuan pun setuju membeli itu. Kini dia sudah memiliki dua pasang anting-anting.


Sekarang, Ye Xuan dan Tian hendak berjalan ke kasir untuk membayar dua pasang anting tadi, ketika dari arah pintu terdengar teriakan keributan. "ANGKAT TANGAN KALIAN SEMUA! JANGAN ADA YANG BERANI BERGERAK ANEH-ANEH ATAU AKU LUBANGI KEPALA KALIAN!"